
Matt masih memaksimalkan fungsi otaknya guna menemukan ide-ide brilian untuk mendukung niat tersembunyi Bos-nya. Pesan yang baru diterimanya memaksa asisten kesayangan Ditya itu mencari cara terbaik untuk menciptakan kesempatan berdua antara Pak Bos dan Nyonya Bos-nya.
Lima belas menit berputar-putar dengan ide-ide gila yang belum teruji klinis keberhasilannya, akhirnya Matt menjatuhkan pilihan pada ide tersederhana dengan resiko terkecil.
Sebuah pesan teks dikirimnya pada Zoe, rekan sepforesinya yang saat ini sedang fokus dengan kemudi.
Zoe, tolong cari jalanan macet. Semakin macet, semakin baik. Kalau bisa yang mobil tidak bisa bergerak. Kalau tidak, buat drama kehabisan bensin atau mobil mogok. Tertanda : Pak Bos!!!
Suara dentingan pelan pesan teks masuk terdengar dari dashboard mobil, menandakan kalau pesan penting itu sudah tiba ke tujuan.
Menatap Zoe yang terlihat santai, seolah tidak terganggu dengan bunyi pesan di ponselnya.
“Zoe, ada pesan di ponselmu,” celetuk Matt mengingatkan.
“Biarkan saja Matt, paling penipu lagi. Biasanya nomor ponselku itu sering menang undian,” sahut Zoe tidak peduli.
Mendengar jawaban Zoe, Matt hanya bisa menahan kesal. Rencana awal saja sudah menemui kendala, bagaimana selanjutnya. Terpaksa lelaki itu, menghubungi ponsel Zoe, sembari mengedipkan mata. Meminta Zoe bekerja sama setelah membaca pesannya.
Sebuah anggukan persetujuan melambungkan asa di benak Matt. Optimis yang tadi sudah ditepisnya jauh-jauh kembali datang dengan sekelebat bayangan bukti transfer susulan dengan nominal dua kali lipat dari sebelumnya.
Berharap kali ini juga akan mendapat bonus yang hampir sama besarnya seperti saat Ditya berhasil menjadikan Frolline kekasih atau sukses menggandeng gadis itu ke altar pernikahan.
Setengah jam berputar-putar, mobil mereka pun akhirnya ikut antrian mobil berderet di jalan raya. Ikut menikmati jalanan tersendat, bergabung dengan kendaraan lainnya. Bibir Matt tersenyum manis, berbeda dengan Zoe, perasaan sopir itu berubah menjadi was-was.
Sebuah pesan dikirim Matt pada Ditya.
Bos, waktu dan tempat dipersilakan.
Begitu mendapat pesan masuk dari Matt, Ditya mengerutkan dahinya. Bingung dengan jalan pikiran Matt yang belum terbaca olehnya. Hampir satu jam kendaraan merayap tak tentu arah, mengikuti pergerakan mobil di depannya, akhirnya Matt bersuara.
__ADS_1
“Boss, di depan ada mall, ada hotel juga di atasnya. Apa sebaikanya Bos mampir saja. Kelihatannya macetnya parah,” ucap Matt, memberi kode pada Ditya.
“Matt!! Aku masih ada rapat. Ini rapat pertamaku,” keluh Frolline. Sejak tadi dia hanya diam karena kesal. Mendengar saran Matt, kesalnya semakin menjadi.
“Ko, asistenmu itu kelewatan. Aku mendengar sendiri, sejak tadi dia sengaja mengarahkan jalan ke sini. Supaya kita terjebak macet,” adu Frolline pada suaminya.
“Sudahlah Fro, sudah begini. Nanti aku akan memotong gajinya karena sudah membuat istriku kecewa,” sahut Ditya, berusaha menenangkan. Lengan kekar itu sudah merengkuh pundak istrinya, membawa tubuh mungil Frolline bersandar di bahunya.
Ada rasa membuncah, saat Frolline menganggap keberadaannya. Cukup dengan mengadu kekesalan karena ulah Matt, Ditya sudah merasa bahagia. Setidaknya Frolline sudah sedikit melunak dan mau berbagi dengannya.
***
Beberapa hari kemudian.
Sejak sore Frolline sudah bersiap, berdandan cantik untuk menemani Ditya di acara ulang tahun perusahaan. Mematut diri di depan cermin, berputar-putar mengagumi gaun mahal yang dihadiahkan Ditya itu dari segala sisi.
Sejak tadi, dia memperhatikan istrinya. Berlenggak- lenggok bak model kenamaan, sesekali waktu tersenyum sendiri menatap cermin. Dia yang berdiri tidak terlalu jauh, hanya bisa geleng-geleng kepala dibuatnya.
“Ko, apakah aku cantik?” tanya Frolline. Pandangannya tak lepas dari cermin, tersenyum simpul memandang pantulan dirinya.
“Cantik! Tidak cantik, tidak akan aku nikahi,” sahut Ditya santai.
Lelaki dengan setelan tuxedo hitam itu sudah berjalan mendekat, menghentikan gerakan memutar Frolline dan mendekap istrinya dari belakang.
“Kamu tidak pusing berputar-putar seperti gasing sejak tadi?” tanya Ditya tersenyum. Ikut memandang ke arah cermin. Mengagumi istrinya yang benar-benar tampak berbeda dari biasanya.
“Gaun hadiah darimu ini cantik, Ko.”
__ADS_1
“Benarkah? Aku akan membelikan gaun lagi kalau kamu menyukainya. Nanti kamu bisa memakainya saat menghadiri undangan bersamaku.”
Frolline tersenyum.
“Schatzi Sayang, kita akan bertemu dengan daddy dan mommy di sana. Sejauh ini kamu sudah paham, kan?” tanya Ditya, menjatuhkan dagu lancipnya di pundak terbuka Frolline.
Gadis manis dengan gaun putih itu mengangguk, pertanda mengerti semua ucapan suaminya.
“Kalau bertemu daddy dan mommy, sempatkan minta maaf pada mereka. Kamu sudah berani kabur dari rumah, bukankah harus mengakui kesalahanmu,” ucap Ditya lagi.
“Daddy akan memarahiku lagi, kah?” tanya Frolline, tertunduk. Beberapa hari ini, dia mulai memahami kehidupan suaminya. Apalagi sejak bekerja dan bertemu dengan banyak orang hebat, dia seperti tertampar. Malu sendiri dengan sikap bodoh dan tanpa perhitungannya selama ini.
“Daddy tidak akan mempermalukanmu di depan umum. Sama saja menampar wajahnya sendiri. Kalau kamu merasa terinjak, cukup tarik nafas hembuskan saja. Ada banyak cara membalasnya, tetapi cari cara yang paling cantik. Tetap berdiri dan tersenyum di sisiku, itu sudah cukup untuk membuat daddy terkena serangan jantung. Tidak perlu melawan secara berlebihan.”
Frolline berbalik menatap suaminya. “Apa maksudmu, Ko?”
Tetap bersamaku, daddy juga tidak bisa apa-apa. Daddy meyakitimu, karena dia merasa keberadaanmu di sisiku itu mengancamnya. Jadi jangan menjauh lagi. Cukup berdiri di sampingku. Genggam tanganku,” jelas Ditya.
Belitan tangan di pinggang ramping Frolline semakin erat, seiring dengan itu sebuah kecupan manis mendarat di pundak mulus Frolline.
“Percayakan semua padaku. Mungkin di sana kamu akan bertemu Sandra dan orang tuanya. Bersikap baiklah pada mereka. Sandra bukan sainganmu. Kami hanya bertunangan di atas kesepakatan para orang tua. Pada kenyataannya, kamu lah istriku satu-satunya. Wanita yang akan melahirkan pewaris Halim Hadinata selanjutnya.”
Frolline mengangguk pertanda mengerti.
“Dari sini akan lahir anak-anakku. Bukan dari rahim wanita mana pun,” ucap Ditya, mengusap perut rata Frolline.
Malu merayap kala Frolline mendengar ucapan terakhir suaminya. Ada rasa berbeda dari biasanya. Ucapan terakhir Ditya terdengar sangat manis.
“Sudah siap sekarang?” tanya Ditya, menyodorkan tangannya bersiap menyambut uluran tangan Frolline.
__ADS_1
***
TBC