Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 105 : Menemui dokter kandungan


__ADS_3

“Aku janji tidak akan mengulangi. Tidak akan membantah semua ucapanmu. Aku berjanji akan mencintaimu dan menjadikanmu satu-satunya,” lanjut Frolline lagi.


Terlihat Ditya melepaskan sikat gigi dari tangannya. Beralih menggenggam kuncian tangan Frolline pada perutnya.


“Koko sudah melupakannya. Maafkan Koko juga. Semalam Koko membuatmu menunggu sampai kelelahan,” ucapnya pelan. Ia menoleh ke belakang, berharap bisa memandang istrinya lebih jelas.


“Kemarilah,” pinta Ditya sambil menarik Frolline berdiri di sebelahnya. Ada banyak kata ingin diucapkan, ada banyak cerita ingin dibaginya. Ada banyak kata cinta ingin diteriakannya.


“Jangan dipikirkan lagi. Anggap kejadian kemarin itu sisi kekanak-kanakanku. Terima kasih, Fro. Sampai sejauh ini kamu masih memilih mengalah di saat Koko sedang emosi. Terima kasih untuk semua pengertianmu, Fro.” Ditya mengusap pelan puncak kepala istrinya.


“Koko akan lama pergi ke tempat daddy?” tanya Frolline membuka suara.


“Koko usahakan secepatnya kembali ke Jakarta. Untuk sementara ada mama menemanimu. Aku akan mengancam mama sebelum pergi. Aku jamin, mama tidak akan menyusahkanmu,” ucap Ditya mengedipkan mata kirinya.


“Ko ....” Frolline memeluk erat pinggang Ditya dengan tangan kanannya. Berita yang ingin disampaikannya terpaksa ditunda. Mungkin sebaiknya ia memastikan semuanya terlebih dulu. Setelah yakin dengan kehamilannya, barulah membagi kabar bahagia ini pada Ditya.


“Hmmm ... ada apa?”


“Pulang secepatnya, Ko.” Frolline berjinjit dan mencium pipi kiri Ditya.


“Koko mencintaimu, Fro. Setelah memastikan kondisi daddy baik-baik saja, Koko pulang secepatnya.”


***


“Ma, aku harus ke Surabaya sekarang.” Ditya keluar kamar dengan menggenggam tangan istrinya. Ia berpamitan sekaligus menitipkan Frolline.


“Hah? Kenapa mendadak seperti ini?” Mama Ditya sedang berdiri di atas matras, melakukan tree pose. Salah satu gerakan yoga yang berguna untuk melatih keseimbangan.


Wanita paruh baya itu hampir tumbang, memilih menyudahi semuanya. Informasi yang putranya bagi lebih penting di atas segalanya. Bahkan menyangkut hidup dan matinya.


“Apa yang terjadi?”


“Daddy sakit,” sahut Ditya.

__ADS_1


“Hah! Secepat itu? Aku masih ingin melihatnya sekarat!” gerutu Mama Ditya pelan. Tidak ingin ucapanya didengar sang putra.


“Ma! Daddy sakit bukan meninggal.”


“Maaf, Ko. Aku hanya mengungkapkan isi hatiku saja,” sahut Mama Ditya terkekeh.


“You jangan kelewatan selama aku tidak ada di sini! Jangan coba-coba membawa mainanmu lagi!” ancam Ditya. Ia mengingat bagaimana kelakuan mamanya yang tiba-tiba membawa pria asing masuk ke kediamannya.


“Ya. You tidak perlu khawatir, Ko.” Mama Ditya tersenyum. Beralih menatap Frolline yang sejak tadi membeku dan diam seribu bahasa.


“Istrimu ... istrimu ikut?” tanya wanita dengan pakaian ketat berwarna hitam itu. Menatap lekat menantunya yang sudah rapi dengan setelan kerja.


Khawatir tiba-tiba singgah saat membayangkan Frolline yang ikut diboyong Ditya ke Surabaya. Pasti ia akan kena omelan sang suami lagi. Dianggap tidak becus mengurus seorang gadis muda yang minim pengalaman dan masih polos.


“Tidak, Frolline akan tetap di sini. You jangan sampai membuat istriku menangis!” ancam Ditya lagi.


“Jangan khawatir, aku akan menjaga istrimu melebihi nyawaku sendiri.” Mama Ditya berkata dengan yakin, sengaja melebihkan kata-katanya. Ia juga tidak ingin sampai terjadi sesuatu pada menantunya. Bahkan kalau boleh jujur, Halim sendiri sebenarnya ketakutan pada Frolline.


Kalau Halim benar-benar bisa, pasti sudah lama mendepak Frolline. Sekelas Halim Hadinata tidak mungkin tidak sanggup melakukan apa pun. Namun sampai sejauh ini, pria itu tidak melakukan apa pun artinya Frolline bukanlah gadis sembarangan yang bisa dilenyapkannya begitu saja dari kehidupan sang putra mahkota.


“Hahaha.” Tawa terdengar menggema. Mama Ditya terbahak saat mendengar ucapan terakhir putranya.


“You pikir, daddymu sebodoh itu. Tidak tahu apa-apa. Aku yakin kalau ia sudah mengetahuinya sejak jauh-jauh hari,” ucap Mama Ditya sambil berjalan menuju ke dapur. Meninggalkan putra dan menantunya melongo keheranan.


***


Siang itu, Frolline memutuskan mengunjungi dokter kandungannya sendirian. Dengan dibantu sekretarisnya, ia mendaftar online ke salah satu dokter obstetri dan ginekologi ( SpOG ) yang praktek di sebuah rumah sakit ibu dan anak, di dekat kantornya. Ia yang masih tidak tahu apa-apa dalam hal ini, tentu saja tidak bisa berbuat banyak, selain memohon bantuan sekretarisnya yang sudah jauh lebih berpengalaman.


Setelah makan siang di sebuah restoran Sunda, Frolline memerintahkan Zoe mengantarnya ke rumah sakit yang dimaksud.


“Nyonya sakit?” tanya Zoe. Asisten itu tentu saja bingung saat majikannya meminta diantar ke dokter.


“Tidak, aku baik-baik saja.” Frolline menjawab. Khawatir asistennya akan mengadu lagi pada sang suami, otomatis akan membuat Ditya menggila karena panik.

__ADS_1


“Tidak perlu melapor yang aneh-aneh pada bosmu. Aku baik-baik saja!” ancam Frolline.


Asisten itu mengangguk pertanda mengerti. Apalagi saat melihat sendiri rumah sakit yang didatangi sang nyonya bukanlah rumah sakit pada umumnya. Ia menyunggingkan senyumnya.


Tak sampai satu jam, mobil yang dikendari Zoe sudah terparkir rapi di basement rumah sakit. Dengan ragu, Frolline melangkahkan kakinya menuju bagian informasi sekaligus mendaftar ulang untuk prosedur selanjutnya.


Ini benar-benar kali pertamanya mengunjungi dokter kandungan. Berbekal cerita dari sekretarisnya, Frolline menanti dokter yang masih belum kembali dari makan siang di ruang tunggu.


Suasana siang itu lumayan ramai. Selain pasien hamil yang menunggu, terdapat juga pasien anak-anak menunggu di sisi lainnya. Menghilangkan jenuhnya dengan berselancar di dunia maya, Frolline memilih mencari nama Sandra Wangsa di kolom pencarian googlenya.


Sejak melihat Sandra lebih dekat, ia jadi tertarik dengan calon istri yang disiapkan sang mertua untuk suaminya. Matanya kian terbuka saat mendapati fakta-fakta yang belum diketahuinya dibalik tampilan mahal Sandra.


"Wah! Dia lulusan luar negri." Frolline mengucapkannya dengan penuh kekaguman setelah membaca riwayat pendidikan Sandra yang menyelesaikan SMA, S1 dan S2 di Amerika Serikat. Bahkan Sandra menempuh pendidikan dasarnya di Singapura.


Kekagumannya semakin bertambah saat melihat bisnis fashion yang digeluti Sandra di Amerika. "Ya Tuhan, dia hebat sekali. Bukan hanya sekolahnya saja yang wow, tetapi dia masih memiliki usaha sendiri. Padahal kekayaan orang tuanya cukup untuknya jalan-jalan seumur hidup," ungkap Frolline.


Ditengah kekaguman yang tidak berkesudahan pada sosok Sandra, tiba-tiba seorang perawat memanggil namanya, berdiri di depan ruang prakter dokter.


"Ibu Frolline Gunawan ...." panggil perawat sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling


"Ibu Frolline ...." serunya kedua kali setelah tidak mendengar ada yang menjawab.


"Ya, Sus."Frolline mengangkat tangan kanannya, sebelum akhirnya mengekori langkah perawar masuk ke dalam ruangan.


Di dalam ruangan dokter, telapak tangan Frolline dingin dan basah seketika. Saling meremas di atas pangkuan menyembunyikan gugupnya. Beberapa menit setelah perkenalan, sempat terjadi tanya jawab di sesi awal sampai akhirnya Frolline diminta berbaring di atas brankar dibantu seorang perawat yang lain.


"Maaf, Bu," ucap dokter paruh baya yang duduk di sisi brankar meletakan alat usg di atas perut rata Frolline yang sudah tersingkap dan diolesi gel. Tersenyum sembari menggeser dan sesekali menekan ke bagian perut bawah Frolline.


"Bagaimana, Dok?" tanya Frolline. Dari posisi berbaring seperti ini, ia bisa melihat layar hitam putih yang tergantung di hadapannya.


"Selamat, Bu," ucap sang dokter tersenyum.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2