
Masuk ke dalam kantor, kembali Frolline diingatkan pada sosok papanya. Walaupun sudah diambil alih Ditya, aktivitas di kantor tetap biasa, tidak ada perubahan. Karyawan pun masih diisi oleh orang-wajah-wajah lama. Sebagian Frolline masih mengenali, tetapi yang membuat Ditya maupun Frolline terperanjat adalah kehadiran Firstan di antara staff yang menyambut mereka.
Ditya berbalik menatap Matt yang mengawal di belakangnya. “Bagaimana bisa?” ucap Ditya, dengan bahasa bibir.
Matt hanya bisa menaikan bahunya, pertanda dia juga belum paham apa yang terjadi. Melihat kehadiran Firstan di tengah staff, Ditya segera mengeratkan gengaman tangan Frolline, seolah takut terlepas.
“Ko..” bisik Frolline, menyentak tangan Ditya. Merasa gengaman tangan suaminya itu terlampau erat.
“Sudah, kita langsung menuju ke ruanganmu saja.” Ditya bergegas membawa Frolline masuk ke dalam lift, hanya menebar senyuman untuk membalas sapaan para staff.
Sesaat setelah menginjakan kaki di dalam lift. Ditya berbalik, menyorot tajam pada Matt.
“Bagaimana kamu sampai tidak tahu?” tanya Ditya tanpa memperjelas pertanyaannya.
“Maaf Bos, aku tidak mengecek lagi. Aku juga sama terkejutnya, Bos,” sahut Matt tertunduk. Kali ini dia gagal menjalankan tugasnya sebagai asisten.
“Singkirkan!!” pinta Ditya, dengan wajah kaku. Netranya mengarah pada Frolline, istrinya tidak ambil pusing, sibuk dengan pikirannya sendiri.
Bunyi denting lift menandakan kalau mereka sudah sampai di lantai yang dituju. Ditya dengan buru-buru mengandeng istrinya keluar, mungkin lebih tepatnya menyeret dengan langkah yang lebar-lebar.
Masuk ke dalam ruangan, Ditya membawa Frolline duduk di kursi kebesaran yang dulunya sering digunakan papanya.
“Ini ruanganmu, ruangan yang biasa digunakan papamu. Belajarlah apa yang ingin kamu pelajari. Matt akan menyeleksi beberapa tenaga ahli yang akan membantumu.”
Frolline mengangguk, mengedarkan pandangan. Menyusuri tiap sudut ruangan yang tidak terlalu besar itu. Aroma papanya bahkan masih tertinggal disana.
“Aku memberimu satu proyek kecil. Dan ini kontrak yang harus kita tandatangani,” ucap Ditya mengejutkan.
“Hah? Maksudmu, Ko?” tanya Frolline, heran. Menarik berkas di atas meja, membuka dan membacanya.
“Apa ini?” tanya Frolline heran, tidak mengerti apa maksud dari kata-kata yang tertera di atas kertas yang terdiri dari beberapa lembar.
“Pelajari sekarang, sebelum aku kembali ke kantorku, kita harus menandatanganinya,” jelas Ditya semakin membuat Frolline bingung.
“Aku tentu tidak mau rugi dengan kedatanganku ke sini,” lanjut Ditya tersenyum.
Lelaki itu memutar kursi kebesaran yang sedang diduduki istrinya supaya mengarah padanya. Sedikit membungkuk, memposisikan diri mengunci di pegangan kursi dengan kedua tangannya. Menatap istrinya yang duduk, sembari membolak balikan berkas di pangkuan.
__ADS_1
“Sepuluh menit, apa yang kamu tidak paham, kamu bisa bertanya padaku,” ujar Ditya, tersenyum, menempelkan bibir di dahi berkerut Frolline tiba-tiba.
Cup!!
“Ko, jangan menganggu. Aku sedang serius,” protes Frolline.
“Bukankah ini bagian dari korupsi kolusi dan nepotisme,” lanjut Frolline, menunjukan berkas di tangannya.
“Ini perusahaanku juga, hanya kamu yang mengelola. Dan kontrak kerjasama yang aku tawarkan itu adalah dengan salah satu anak perusahan Halim Group, yang kebetulan aku kelola sekarang. Jadi, kita bisa sering-sering bertemu dan aku juga bisa memantaumu, Sayang,” jelas Ditya.
“Kontrak apa ini? HVAC? Bukankah perusahaan papa bergerak di bidang properti,” tanya Frolline.
“Yang aku tawarkan padamu itu, proyek pemasangan AC sentral untuk operation room di rumah sakit yang sedang aku bangun di bawah bendera Halim Group.
“Lalu?” Frolline masih saja protes.
“Halim Group itu bergerak di bidang farmasi, obat-obatan, suplemen, alat-alat kesehatan dan rumah sakit. Suatu saat nanti perusahaan ini akan menjadi salah anak perusahaan Halim Group saat aku menduduki tampuk kepemimpinan tertinggi di sana. Dan perusahaan ini akan memperkuat kerajaan bisnis keluarga kita. Perusahaan yang kamu pegang ini sekarang bergerak di bidang HVAC khususnya untuk, rumah sakit, pabrik makanan dan minuman, mall, restoran dll.
“Ya sudah, koko boleh keluar sekarang!” usir Frolline, sontak membuat Ditya terbelalak.
“Astaga Nyonya, kamu mengusirku?” tanya Ditya nyaris tidak percaya.
Ditya masih dengan pose membungkuknya, mensejajarkan wajahnya supaya bisa memandang Frolline lebih dekat. Perlahan memiringkan wajahnya, mengecup bibir tipis istrinya perlahan. Setelah sekian lama, dia kembali bisa menikmati sikap manis Frolline.
“Aku ke kantor dulu. Matt dan Zoe akan tetap disini untuk membantumu,” ujar Ditya berpamitan, menepuk pelan pipi istrinya.
“Belajar yang rajin, supaya nanti orang tidak hanya mengenalmu sebagai istri dari Ditya Halim Hadinata, tetapi sebagai salah satu wanita hebat.
***
Sesampai di lobi, Ditya berpapasan kembali dengan Firstan. Kekesalan yang ditahannya sejak tadi kembali muncul ke permukaan.
“Apa maumu?” tanya Ditya, menahan Firstan yang hendak berjalan menuju lift.
“Aku bekerja di sini,” sahut Firstan dengan santai.
“Selain membantu mengurus perusahaan papiku, aku juga konsultan disini,” jelas Firstan lagi.
__ADS_1
“Baiklah, aku tidak terlalu peduli dengan tujuanmu berada disini, tetapi aku peringatkan untuk tidak melampaui batasanmu. Jangan menganggu istriku,” tegas Ditya, mengarahkan telunjuknya pada Firstan, meskipun suaranya terdengar pelan, tetapi ada nada ancaman yang cukup mengerikan di dalamnya.
“Aku tidak sebejat dirimu, Om Ditya,” tegas Firstan.
“Fro hanya belum tahu seperti apa suaminya ini. Aku yakin, kalau dia tahu seperti apa dirimu, dengan sendirinya dia akan datang padaku,” lanjut Firstan, dengan penuh percaya diri.
“Jauhi Fro! Dia tantemu sekarang. Ingat itu!”
Sepanjang perjalanan, perasaan Ditya tidak tenang. Kenyataan, Firstan yang bisa keluar masuk seenaknya ke perusahaan membuat hatinya ketar-ketir. Bukannya dia tidak tahu bagaimana perasaan Frolline pada keponakannya ini. Kalau bukan demi Frolline, dia lebih memilih mengurung istrinya seharian di rumah. Menikmati hobi memasakny atau mengikuti kursus memasak. Menjadi ibu rumah tangga seutuhnya dan mengurus keluarga.
Namun dia tidak bisa egois, di keluarga mereka tentu tidak ada istilah seperti itu. Semua anak muda harus terlibat di perusahaan, harus berkarir. Bahkan Marisa sewaktu muda sudah memimpin salah satu anak perusahaan dan berakhir di tangan salah satu karyawan kantornya. Yang akhirnya membuat keduanya terusir dari keluarga Halim.
***
Saat jam makan siang, Ditya kembali mengunjungi istrinya. Sepanjang hari ini pikirannya bercabang. Raganya di kantor tetapi hati bersama sang istri. Berjalan dengan terburu-buru menuju ruangan Frolline, hatinya semakin gusar kala membuka pintu tidak mendapati istrinya di dalam.
“Kemana lagi dia?” bisik Ditya pelan. Han, sang sopir yang mengekor dengan menenteng bungkusan berisi makan siang hanya bisa berdecak kesal. Harus setengah berlari mengikuti pergerakan Ditya.
Baru saja mengeluarkan ponselnya, hendak menghubungi Zoe atau Matt, tampak dari kejauhan dua asisten itu baru keluar dari suatu ruangan. Dengan setengah berlari, Ditya mengejar keduanya.
“Matt, mana Fro?” tanya Ditya.
“Tadi di ruang rapat, Bos.”
“Lalu, kalian mau kemana?” tanya Ditya lagi.
“Makan siang sebentar, Bos.”
Ditya mengangguk. Tanpa bertanya lebih jauh lagi, lelaki itu segera menuju ruang rapat yang bahkan dia tidak tahu dimana letaknya. Setelah bertanya dengan staff, barulah alkhirnya dia berhasil menemukan ruang rapat yang ternyata terletak tidak jauh dari ruangan Frolline.
Tepat saat membuka pintu, wajah cerah Ditya tiba-tiba berubah menyeramkan begitu mendapati pemandangan yang menyambutnya di dalam ruang rapat.
Frolline yang tidak menyadari kalau suaminya yang datang, tadinya sudah tersenyum cerah. Tetapi senyum itu juga ikut meredup kala mendapati Ditya yang membuka pintu, masuk dengan tangan terkepal menahan gejolak yang tiba-tiba memancing emosinya.
Istrinya sedang bersama Firstan, entah apa yang dibicarakan keduanya. Tertawa bersama.
__ADS_1
***
TBC