
Ditya mengurai dekapan pada istrinya, berjalan mendekati pria asing yang sudah berani masuk ke kediamannya tanpa permisi. Langkahnya lebar-lebar dan berat, menyiratkan amarah yang tidak biasa.
“Ko ....”
Panggilan pelan sang istri seolah terhempas dan tak terdengar, tertutup kemarahan yang sudah menguasai pria tampan dengan tampilan casual. Sorot mata memerah tanpa banyak bicara, Ditya mencekal lengan si pria asing sebelum menghempaskannya hingga jatuh tersungkur.
“Siapa kamu? Apa maumu? Bagaimana bisa masuk ke rumahku?”
Tiga pertanyaan sekaligus, Ditya bahkan tidak memberi lawannya kesempatan menjawab. Kepalan sarat tenaga itu sudah berlabuh tepat di rahang kanan pemuda tampan, pemilik postur sempurna.
Brukkk!
Pukulan kedua masih mengenai titik yang sama, bahkan Ditya tidak memberi jeda. Selanjutnya memukul memba’bi buta, mengabaikan pekikan Frolline yang tak sanggup menerima kebrutalan Ditya.
“Matt, Zoe!” Frolline berteriak, setelah melihat dua asisten itu hanya menonton suaminya bergumul. Apalagi saat ia melihat suaminya tertarik ke bawah, buah perlawanan dari seterunya. Setelah lama menguasai keadaan, kini Ditya berada di posisi lemah. Dua pukulan mendarat di wajah tampan Ditya berakhir dengan sobekan di sudut bibir.
“Maaf Nyonya, bukan tidak mau membantu. Aturan mainnya memang begitu. Kami tidak berani membantah.” Matt menjelaskan.
“Aduh! Aturan main apa lagi sih, Matt. Ini bukan lagi main-main. Suamiku itu serius sedang berkelahi di sana!” sahut Frolline setengah mengomel. Panik sudah menguasainya, apa lagi saat melihat darah mengucur di wajah Ditya.
“Ya, Nyonya. Memang begitu aturannya. Kalau Bos turun tangan sendiri artinya dia mau menangani pecundang itu sendiri. Itu artinya, pria itu sudah menginjak harga diri, Bos. Sama seperti dengan keponakannya, Bos tidak mengizinkan kami memukul Firstan.”
Mendengar penjelasan Matt, Frolline sudah tidak bisa tinggal diam. Melangkah mendekat demi menyudahi pergumulan dua laki-laki yang berguling-guling di lantai.
“Koko, stop!” pekik Frolline. Baru saja hendak menarik musuh yang sedang menduduki tubuh suaminya dengan nyaman, terdengar suara Ditya meneriakinya.
“Sayang, jangan mendekat!” pekik Ditya, di tengah hujan pukulan yang diterimanya.
Namun buka Frolline namanya kalau tidak membantah. Bermodal sebuah guci antik dari dinasti Ming seharga ratusan juta, yang terpajang indah di sudut ruang tamu. Frolline melempar pria yang memukul suaminya hingga babak belur.
Praaaang!!
Guci keramik itu membentur tubuh kekar lawan seteru Ditya, kemudian terjatuh ke lantai. Pecah berhamburan. Frolline hanya sanggup menyembunyikan wajah dengan kedua telapak tangannya. Ketakutan dan panik menguasainya seketika. Beruntung, pria itu tidak cedera parah, hanya menjerit kesakitan saat terkena lemparan guci.
Dari dalam kamar, muncul mama Ditya dengan tampilan acak-acakan. Rambutnya tergerai berantakan dengan gaun tidur seksi yang hampir transparan. Sungguh pemandangan yang tidak pantas di tengah beberapa pasang mata lelaki. Frolline yakin kalau dia berani melakukannya, Ditya akan mengamuk padanya.
__ADS_1
“Apa-apan ini?” teriak mama Ditya, memandang kekacauan yang terjadi di depan mata.
“Apa yang you lakukan, Ko?” Mama Ditya, menarik putra kesayangannya. Memaksa Ditya melepaskan pria yang sengaja diundangnya ke rumah itu supaya terlepas dari cekalan Ditya.
Melihat kekacauan yang sedang terjadi, emosi perempuan itu terpancing. “Ko, apa-apaan ini?” tanya Mama Ditya setelah kedua pria dewasa itu berhasil dilerai.
“MATT, ZOE! USIR PRIA MENJIJIKAN INI DARI RUMAHKU! SAMPAI DIA MENGINJAKAN KAKI DI RUMAHKU, NYAWA KALIAN TARUHANNYA!” teriak Ditya dengan suara menggelegar. Tangannya terarah ke pintu, dengan sorot mata memerah. Wajah babak belur itu, begitu mengerikan.
“Ko, jangan begini.” Frolline berucap pelan, memeluk lengan Ditya ketakutan.
Tentu saja Frolline ketakutan, baru kali ini melihat sisi lain Ditya yang mengerikan. Sekesal-kesalnya Ditya pada Firstan, pria itu masih berusaha bersikap tenang. Meskipun bertengkar dan saling memukul, tetapi tidak seperti yang baru saja terjadi.
***
“Fro, ke kamar sekarang. Koko perlu bicara dengan mama,” perintah Ditya setelah tertinggal mereka bertiga. Asisten rumah yang biasanya datang setiap hari untuk membereskan hunian mewah itu sudah pulang sejak tadi sore.
Ragu-ragu, Frolline berjalan menuju ke kamarnya. Terselip tanya dan penasaran di dalam hatinya. Apa yang membuat suaminya begitu marah sampai melakukan semua ini.
“You kelewatan sekali, Mam!” Ditya duduk di sofa, menatap tajam mamanya yang duduk di seberang. Pria itu baru berani bersuara saat pintu kamar tidur menutup rapat.
“Ingat umur, bukan muda lagi. Memalukan!”
Mama Ditya diam saja, menanggapi omelan putranya dengan santai.
“Pantas saja daddy tidak mengizinkanmu kembali ke Indonesia. Kelakuan you benar-benar memalukan! Seperti perempuan di pinggir jalan.”
“Ko, you jangan kelewatan!” Mama Ditya tidak terima.
“Keluar dari rumahku atau aku akan membawa istriku keluar dari rumah ini. You bisa bersenang-senang dengan banyak laki-laki sampai Daddy mengirimmu kembali ke Jerman.” Ditya bangkit dari duduknya. Baru melangkah beberapa langkah, ia berbalik.
“Aku baru tahu, ternyata ini alasan daddy menyembunyikanmu begitu lama di Jerman. Aku baru tahu kenapa aku tidak diizinkan mengakuimu mamaku di depan semua orang. You memang keterlaluan. Memalukan. Aku tidak tahu, bagaimana menjelaskannya pada istriku,” ucap Ditya berlalu pergi, meninggalkan mamanya yang masih membeku di tempat. Tidak menjawab, tidak membantah dan tidak menyanggah semua ucapan putranya.
Masuk ke dalam kamarnya, Ditya sudah disambut dengan istri yang duduk di sisi tempat tidur, menunggu penjelasannya. Ya, dia paham kalau saat ini Frolline sedang dilanda kebingungan, ketakutan dan penasaran dengan apa yang terjadi.
“Fro ....” Pria dengan wajah babak belur itu bergegas membungkuk dan mendekap istrinya.
__ADS_1
“Ko, apa yang terjadi? Kenapa kamu harus semarah itu?” tanya Frolline.
Ditya tidak menjawab, hanya mengeratkan pelukannya. Pria dengan tampilan kusam setelah bergumul di lantai itu sedang mencari ketenangan melalui kehangatan tubuh istrinya.
Hampir lima menit menutup mulut, Ditya baru melepaskan pelukannya saat Frolline terus-terusan memanggil namanya dan meminta jawaban.
Berlutut tepat di depan Frolline, menggenggam kedua tangan halus mulus itu dengan tertunduk.
“Koko mohon, lupakan apa yang sudah kamu lihat hari ini. Ini memalukan. Koko malu, Fro. Tanpa harus Koko menjawab pun, seharusnya kamu tahu sudah jawabannya. Siapa pria asing itu? Kenapa dia bisa keluar dari kamar mama. Koko tidak sanggup menjelaskan apa yang terjadi.” Ditya hampir menangis. Terduduk di lantai, meremas rambutnya.
“Fro, kalau suatu saat kita harus keluar dari Indonesia ... kamu tidak akan keberatan ikut denganku, kan?” tanya Ditya.
Frolline tertegun dengan pertanyaan suaminya.
Perlahan ikut turun dan duduk di ubin kamar, bersama suaminya. “Kamu kenapa, Ko? Lihat wajah tampanmu babak belur.” Frolline mengusap sudut bibir Ditya yang berdarah.
“Aku akan mengobatinya dulu, Ko. Robeknya lumayan parah,” ucap Frolline.
Frolline hendak berdiri, mengambil handuk basah di kamar mandi. Namun, Ditya menarik pergelangan tangannya untuk duduk di pangkuan.
“Fro, jawab Koko. Kamu tidak keberatan, kan?” tanya Ditya, menatap lekat wajah cantik di dalam dekapannya.
“Ya.”
“Andai kita tidak bisa kembali ke Indonesia, apa kamu juga tidak keberatan?” tanya Ditya lagi.
Frolline mengangkat pandangannya. Menatap manik mata suaminya yang menyimpan kesedihan.
“Koko sudah menyiapkan semuanya, seandainya kita harus pergi tiba tiba. Matt sudah mengurus visa schengen untukmu. Suatu saat kalau kita harus pergi mendadak, kita bisa pergi ke Belanda, Belgia, Austria atau negara di Eropa lainnya. Kita akan menetap di sana sampai kita bisa mendapatkan visa untuk masuk ke Inggris.”
Frolline masih membeku, menyusuri lekuk wajah suaminya dengan tatapan teduh.
"Kalau tidak bisa bersama di sini ... Koko mohon, tinggal bersama Koko di Inggris."
***
__ADS_1
TBC