Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 98 : Telat seminggu


__ADS_3

“Aku akan menganggapmu putriku. Kembali bersamaku ke Jerman. Kamu tidak akan kehilangan Koko, aku berani jamin kamu akan tetap menjadi satu-satunya di dalam hati putraku, tetapi aku tidak bisa menjamin kamu akan menjadi satu-satunya di dalam hidupnya.”


Frolline tertegun. Ucapan mertuanya meruntuhkan sebagian kepercayaannya pada Ditya, yang dipupuk selama ini. Menelan potongan tahu telur yang sudah ditusuknya dengan garpu sejak tadi. Menikmati masakan buatan mama mertuanya itu tanpa ekspresi.


Datar, tanpa sanggup menikmati kelezatan makanan khas Surabaya itu, pikiran Frolline mengembara. Tepat saat serpihan makanan itu menyentuh lambung, tubuhnya protes. Mengaduk-aduk perut dan menciptakan sensasi tersendiri.


“Kamu kenapa, Fro?” tanya mama mertua, perhatiannya terbagi antara sang menantu dengan masakan di atas penggorengan. Terkejut dengan reaksi Frolline yang menutup mulut menahan mual.


“Tidak ada ... apa-apa, Ma.” Frolline menghambur ke powder room. Menumpahkan semua isi perutnya ke dalam wastafel. Rasa masakannya sesuai di lidah, tetapi perutnya tidak bisa kompromi. Mual menyerang tanpa bisa ditahan.


“Fro, kamu baik-baik saja?” tanya Mama Ditya, setengah berteriak. Masih setia di depan kompor menyala.


“Ya, Ma.” Frolline menjawab dengan teriakan yang hampir sama kencangnya.


Lima menit menguras habis isi lambung, membenahi lagi dandanannya. Ia keluar sembari menyambar tas tangan yang diletakannya di atas meja konsul.


“Ma, aku langsung berangkat saja.” Frolline meraih segelas air putih di meja dan meneguk habis.


“Ya, tetapi kamu yakin baik-baik saja?” Mama Ditya mengerutkan dahi. Menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki penampakan sang menantu. Terselip khawatir, terjadi sesuatu pada Frolline, Ditya akan mengamuk padanya.


Semua akan berantakan, ia akan diusir dari kediaman putranya. Gagal mengemban misi rahasia Halim yang menugaskannya untuk menjaga menantu perempuan satu-satunya demi membuat Ditya tetap berada di keluarga Halim dan tidak mengekor jejak kakaknya, Marisa yang memilih keluar dari keluarga Halim demi cinta.


“Ya, Ma.”


“Kamu tidak sedang menyembunyikan kehamilanmu dariku, kan?” todong Mama Ditya lagi. Curiga akan tanda-tanda yang ditunjukan Frolline seperti perempuan yang sedang hamil muda.


“Frolline menggeleng. “Tidak, Ma.”


“Aku tidak hamil ....” tegas Frolline. Meskipun begitu otaknya sedang menghitung tanggal terakhir menstruasinya. Was-was menyerang, terlewat seminggu dari jadwal seharusnya.


“Ah, mungkin terlambat biasa, dulu-dulu juga begitu, kan,” tegasnya dalam hati, menenangkan diri.


“Aku berangkat sekarang, Ma,” pamit Frolline, melangkah keluar tanpa menunggu reaksi mama mertuanya.


***


Siang itu, cuaca kota Jakarta begitu terik. Hembusan angin tidak sanggup meredam serangan matahari yang begitu mendominasi. Menyengat kulit, membuat suasana hati yang panas menjadi semakin membara.


Setelah menyelesaikan makan siangnya di sebuah restoran Jepang, Frolline memutuskan tidak kembali ke kantor. Penat dan keruwetan di perusahaan, memaksanya menjernihkan pikiran. Apalagi ucapan mama mertuanya selalu terngiang-ngiang di pikiran. Bayangan kehamilan yang mungkin saja terjadi seperti momok untuknya, terus menghantui sepanjang hari.


“Zoe, kita ke tempat mami.” Frolline memberi perintah. Duduk di kursi belakang, bersandar dengan mata terpejam.

__ADS_1


“Siap Nyonya.” Zoe yang sudah paham kata Mami, tidak banyak bertany lebih detail lagi.


“Bos sudah tahu ... kalau Nyonya ... pergi ke tempat ... kakaknya?” tanya asisten dengan nama lengkap Zoelkifli Hanafi itu.


“Nanti aku akan mengabari Koko,” sahut Frolline, terlihat santai.


Menatap dari kaca spion, Zoe menyimpan khawatir. Bukannya ia tidak tahu kalau selama ini Ditya tidak mengizinkan sang Nyonya berkunjung ke tempat kakaknya. Apalagi, kalau sampai bertemu Firstan, masalah akan semakin runyam.


Memberanikan diri, Zoe mengirim pesan melalui whatsApp ke majikannya. Tentu saja asisten itu tidak mau dijadikan kambing hitam andai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya.


Bos, Nyonya dalam perjalanan ke rumah Marisa.


Pesan itu terkirim dengan conteng dua berwarna keabuan. Zoe menghela napas saat menunggu hingga lima menit, conteng keabuan yang tak kunjung berubah menjadi biru. Sedangkan mereka sebentar lagi akan tiba di kediaman Marisa.


Asisten itu bisa bernapas lega setelah setengah jam kemudian, ponsel Frolline berdering seiring pesannya yang sudah dibaca tanpa ada balasan.


“Koko?” bisik Frolline, menatap layar gawai. Mengerutkan dahi, keheranan sebelum akhirnya mengusap lembut layar dan menempelkan benda pipih persegi itu di telinga.


“Kamu di mana sekarang? Jangan katakan kamu ke tempat Marisa!” cerocos Ditya. Belum sempat Frolline menyapa, suaminya sudah menyalip terlebih dulu.


“Ko ....”


“Kamu di mana, Fro? Untuk apa ke tempat Marisa. Kamu tahu Koko tidak suka kamu ke sana!” lanjut Ditya, berbicara panjang. Terdengar keriuhan di sela pembicaraan. Sepertinya Ditya masih di tempat acara.


Terdengar tawa kecil Ditya, berulang kali meminta Frolline mengganti nama panggilan, tetap saja istrinya memanggil seperti biasa.


“Sebentar lagi Koko kembali ke Jakarta. Cepat pulang ke rumah, Fro!” pinta Ditya.


“Ya, setelah bertemu Mami, aku akan segera pulang,” putus Frolline.


“Pulang sekarang, Fro. Tunggu Koko pulang baru ke tempat Marisa,” tegas Ditya.


“Aku sudah di hampir sampai ke tempat Mami, nanti aku hubungi lagi Ko,” putus Frolline, mematikan sambungan teleponnya. Tanpa memikirkan perasaan Ditya yang kalang kabut saat mendapati istrinya masuk ke rumah sang mantan pacar.


***


Siang terlewati, petang pun menjemput. Waktu sudah menunjukan pukul 17.40, tetapi Frolline masih betah bercengkerama dengan Marisa di tepi kolam renang. Menikmati hembusan angin senja, menentramkan hati yang berantakan. Rasanya sudah lama sekali tidak berbincang, berkeluh kesah pada sosok yang sudah dianggap mamanya sendiri.


“Mi ....” Frolline membuka pembicaraan. Terlihat serius, berbeda dengan obrolan mereka sepanjang sore. Hanya membahas hal-hal tidak penting. Ia menengakan duduk, memandang riak kecil air kolam renang.


“Ada apa, Fro?” Marisa ikut menyimak, menyeruput jus jeruk yang tertinggal setengah gelas.

__ADS_1


“Mamanya Koko pulang ke Indonesia ... dan tinggal bersama kami di penthouse.” Frolline memulai cerita. Kedua tangannya saling meremas di pangkuan, tertunduk menyembunyikan raut wajah sedih dan tertekan.


“Astaga. Bagaimana bisa? Bukannya daddy tidak mengizinkan Tante Lily menginjakan kaki ke Indonesia,” ucap Marisa, kebingungan. Ia tahu jelas keberatan sang daddy.


“Mami mengenal mama mertuaku?” tanya Frolline mengangkat pandanganya. Seolah lupa, kalau Marisa adalah putri kandung Halim Hadinata. Tentu saja ia tahu banyak.


“Kenal. Sewaktu Tante Lily masuk ke keluargaku, aku baru berumur 12 tahun. Ia diantar seorang pria menemui daddy. Saat itu, aku tidak tahu maksud kedatangannya.” Marisa bercerita.


Terdengar helaan napas, Marisa terlihat berat membuka kembali cerita masa lalu keluarganya.


“Tante Lily dulu masih sederhana, rambut dikuncir dua. Umurnya hanya terpaut lima tahun lebih tua dariku,” lanjut Marisa.


“Apa dia baik, Mi?” tanya Frolline dengan polos.


“Sepertinya baik. Kalau bukan wanita baik-baik, tidak mungkin dinikahi daddy. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana sifat aslinya. Hanya bertemu sekali saja, setelah itu Tante Lily tinggal di Australia sampai melahirkan Ditya.”


Frolline menyimak. Cerita tentang mama mertuanya sangat penting untuknya. Ia jadi tahu bagaimana harus bersikap nantinya.


“Kalau mamanya Koko baik ... kenapa tidak mengizinkanku hamil,” cerita Frolline pelan.


Deg —


“Kamu tidak sedang hamil, kan?” tanya Marisa, menebak.


“Aku tidak tahu, Mi.” Frolline menggeleng. Wajahnya datar dan kaku tanpa ekspresi apa-apa.


“Ini serius, Fro? Hamil itu bukan main-main.”


“Aku tidak tahu, Mi. Aku tidak merasa ada yang berubah. Hanya saja haidku sudah terlambat seminggu,” jelas Frolline.


“Kamu sudah mengeceknya?” tanya Marisa lagi.


“Belum, Mi. Aku sudah biasa terlambat. Jadwalku memang tidak selalu tepat.”


“Fro, kalau masih perawan, tidak masalah mau telat seminggu, sebulan. Kalau sudah menikah, telat haid itu bisa saja hamil,” cerocos Marisa.


Ditya sudah tahu?” tanya Marisa lagi.


“Belum ....”


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2