Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 59 : Membalaskan dendam


__ADS_3

Ditya menerobos masuk ke ruang kerja istrinya. Nafasnya naik turun karena berlari menyusuri tangga sebanyak empat lantai, setelah lama menunggu lift yang dipenuhi karyawan kantor.


Begitu pintu itu terbuka lebar tanpa mengetuk terlebih dulu, Ditya membungkuk dengan tangan menyentuh kedua lutut. Berusaha mengembalikan nafasnya yang tersengal hebat.


“Fro, maafkan aku.” Lima menit berusaha mengatur kembali jantungnya yang berdetak kencang.


Lelaki itu sudah berjalan mendekat, mengikis jarak yang tercipta sebelumnya. Istri dengan wajah kaku dan mata sembab, membuang pandangan. Tidak mau beradu tatap dengannya.


“Fro, kita harus bicara.” Memutar kursi kerja yang diduduki Frolline. Kedua lengan kekar itu bertumpu di pegangan kursi kebesaran, mengunci istrinya disana.


“Tatap aku sekarang, Fro. Please,” pinta Ditya, dengan raut memelas. Frolline sedang marah, tentu dia paham sekali apa yang dirasakan istrinya saat ini.


“Sebelum aku menikahimu, aku memiliki masa lalu dengan para wanita. Sama seperti kamu memiliki masa lalu dengan First.” Laki-laki itu mulai merangkai kata untuk membujuk istrinya, memberi pemahaman sederhana yang diyakini Ditya, harusnya istrinya cukup mengerti.


“Maafkan aku untuk semua masa laluku yang buruk, tetapi tolong mengerti. Sejak menikah denganmu aku sudah meninggalkan semuanya. Aku bahkan sudah tidak menyentuh minuman lagi,” bujuk Ditya, masih berusaha merayu dengan berbagai cara.


Kecupan mendarat di kening Frolline, sebagai upaya mencari jalan damai dalam hubungan suami istri yang sedang memanas.


“Ayolah Fro, kamu tahu jelas bukan kalau aku tidak bisa menghapus masa laluku dengan para wanita itu, tetapi sekarang yang bisa aku lakukan adalah memperjuangkan masa depanku bersamamu,” bujuk Ditya, berusaha memberi pengertian.


Disisi lain, Frolline masih mencerna kalimat demi kalimat yang disampai suaminya dalam diam.


“Entah foto kapan itu, aku juga sudah lupa. Bagaimana bisa bocor keluar kalau bukan karena ada seseorang yang membocorkannya untuk tujuang tertentu,” bisik Ditya, mengedarkan pandangan ke sekeliling.


“Dengar Fro, ada yang menginginkan rumah tangga kita berantakan dengan semua pemberitaan ini,” bisik Ditya perlahan.


“Kalau kamu terpancing bukankah orang-orang ini akan tersenyum puas,” jelas Ditya, tersenyum menatap wajah cemberut istrinya.


Kalimat terakhir Ditya cukup membuat Frolline paham, terbukti gadis itu langsung mengalihkan pandangannya. Menatap manik mata suaminya mencari jawaban.


Anggukan diiringi senyuman, Ditya masih berusaha memberi keyakinan. “Aku sudah meminta Matt mengurusnya untukmu. Tidak akan ada lagi pemandangan menyakitkan itu berseliweran di media. Aku janji,” lanjutnya.


Frolline melunak, amarah yang tadinya terlihat di matanya sekarang menghilang perlahan. Menguap entah kemana.


“Jangan katakan kamu menangis Fro?” tiba -tiba Ditya bertanya, setelah melihat jejak-jejak sembab di wajah cantik istrinya.


Telapak tangan itu sudah membingkai indah di wajah Frolline, menatap seksama untuk memastikan kalau dugannya tidak salah.

__ADS_1


“Fro, jangan katakan kalau kamu menangis karena berita di media itu?” tanya Ditya, mengulum senyuman.


Frolline bergeming. Menatap nanar ke sembarang arah. Memalukan kalau sampai tertangkap basah menangisi foto suaminya yang sedang berciuman dengan seorang wanita.


Tawa Ditya pecah, tanpa menunggu jawaban laki-laki itu tersenyum bahagia. Ditya langsung merengkuh tubuh istrinya. Menghujami wajah Frolline dengan kecupan demi kecupan.


“Aku menyukainya. Aku suka kalau kamu marah, menangis melihat semua itu, Fro.” Ditya berkata.


“Aku menyukainya Fro,” ulang Ditya lagi, mengulum senyuman.


Pukulan menghantam bahu Ditya, tetapi lelaki itu bergeming. Dia sedang menikmati rasanya ditangisi oleh wanita yang dicintainya. Merasakan bulir-bulir cemburu yang sedang berkembang di hati istrinya.


“Fro, aku merasa berharga kalau kamu menangisiku. Artinya.. em..” Ditya menggigit, mendekati wajah Frolline yang merona merah, menutupi malunya karena ketahuan telah menangisi Ditya dengan wanita lain.


“Artinya kamu mulai ada rasa pada Koko,” lanjut Ditya, menempelkan wajahnya pada wajah Frolline. Menggesek-gesek manja, membuat istrinya kelimpungan. Sensasi geli bercampur dengan hembusan nafas Ditya yang berasa nyata.


“Sudah sana. Aku tidak akan menangisimu lagi, Ko!” gerutu Frolline, mendorong tubuh Ditya supaya menjauh.


Lelaki itu menarik kursi di seberang meja Frolline. Dengan santainya mengangkat kaki ke atas meja, seperti ruangannya sendiri. Tak lama, terdengar bunyi ketukan di pintu berbarengan dengan teriakan pelan Matt.


Dalam sekejap Matt sudah mendorong pintu dengan kedua tangan penuh dengan berkas. Meletakannya dengan kasar ke atas meja. Sontak mengalihkan perhatian Frolline.


“Apa-apaan ini, Ko?” tanya Frolline, menutup kasar layar laptopnya. Menatap pemandangan aneh di hadapannya.


“Aku akan bekerja dari sini. Sudah capek bolak-balik ke kantor.” Ditya beralasan, meraih berkas paling atas dan mulai membacanya.


“Ko, aku serius. Apa tidak salah?” tanya Frolline.


“Tidak, urusi saja pekerjaanmu. Aku juga akan mengurusi pekerjaan, Fro,” sahut Ditya mulai berkonsentrasi dengan pekerjaannya.


***


Siang berlalu, sore pun menjemput. Di ruang direktur, sepasang suami istri itu masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, Ditya dengan setumpuk berkas yang dibawa dari kantornya sedangkan Frolline sibuk mempelajari kontrak-kontrak kerja perusahaan yang sedang berjalan.


“Ko, kepalaku pusing,” keluh Frolline. Sejak tadi melihat layar laptop, matanya berkunang-kunang. Yang ditanya bukan menjawab, malah sibuk sendiri memeriksa laporan keuangan yang sudah disusun bawahannya.


“Ko, pekerjaanmu sudah selesai? Kita pulang saja,” ajak Frolline, matanya mulai perih dipaksa melihat huruf dan angka sejak tadi.

__ADS_1


“Sebentar lagi, Sayang.” Ditya masih mencoret-coret dengan penanya. Melingkari angka yang dianggapnya tidak wajar.


“Ko, aku tidak memasak malam ini, kita makan di luar saja, ya,” saran Frolline. Dia sudah berdiri, merenggangkan otot-ototnya yang kaku, memandang jauh keluar jendela.


“Hmmm,” gumam Ditya masih saja serius dengan pekerjaannya.


“Ko, aku sejak tadi bicara, tetapi jawabanmu hanya ha he ha he!” gerutu Frolline, mengambil alih berkas dari tangan Ditya.


“Sebentar lagi Fro, tinggal sedikit lagi,” protes Ditya.


“Ayo pulang saja, besok baru melanjutkannya lagi,” perintah Frolline tanpa kompromi. Gadis itu sudah menuju ke arah pintu, memanggil Matt untuk membereskan berkas-berkas suaminya.


“Matt, tolong bereskan berkas koko yang di atas meja!” pinta sang nyonya. Frolline tidak mempedulikan tatapan tajam suami yang keberatan.


Tak lama Matt sudah muncul di ambang pintu, mengikuti instruksi. Membereskan semua berkas-berkas tanpa terkecuali. Sedikit bergidik dengan tatapan mengerikan Ditya. Bukannya Matt tidak tahu, saat ini Ditya sedang kesal.


Kebiasaan majikannya, tidak pernah menunda pekerjaan. “Bos, belum selesai?” bisik Matt, pelan. Takut suaranya akan memancing kericuhan sepasang suami istri.


Ditya menggeleng.


“Maaf Bos, aku bisa apa. Bos saja tidak berkutik dengan nyonya, apalagi aku yang hanya asisten rendahan ini.” Matt berbicara pelan, sambil merapikan map-map yang menumpuk di atas meja.


“Tolak angin masih banyak stoknya, Bos. Sepertinya, untuk ke depan, Bos lebih membutuhkannya. Ini memang resiko yang harus ditanggung oleh semua lelaki yang sudah berani berkomitmen dengan pernikahan.”


Ditya melotot mendengar ucapan Matt, beralih melirik istrinya yang sedang berdiri di depan jendela, menatap pemandangan jalanan ibukota.


“Sabar Bos, kalau sudah menikah memang begitu. Suami itu seperti raja, istri layaknya menteri. Tapi ya begitu. Kalau raja jalannya selangkah-selangkah, dibatasi. Malah menteri yang bebas menguasai papan catur,” bisik Matt, menutup mulutnya. Ingin menertawai, tetapi tidak tega melihat wajah tertekan Ditya.


“Nikmati saja Bos! Nanti malam Bos bisa membalaskan dendam pada Nyonya. Buat Nyonya tidak berkutik!” goda Matt, tersenyum.


Kali ini konsentrasi Ditya teralihkan. Sedikit terhibur dengan kata-kata Matt.


“Nyonya boleh memegang kendali sepanjang hari, tetapi kalau tengah malam Bos bisa mengambil alih kendalinya,” ucap Matt, memainkan alisnya.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2