Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 126 : Paula


__ADS_3

Ditya mengedarkan pandangan ke sekitar parkiran. Searah jam tiga, ia melihat perempuan pirang dengan postur tinggi bermata biru berjalan menghampirinya.


“Bist du Paula ( Apa kamu Paula)?” tanya Ditya dalam bahasa Jerman setelah berhasil menemukan si pemilik suara yang ternyata adalah teman sekolahnya.


"Ja. Ich bin Paula ( Ya. Aku Paula ),” sahut gadis manis dengan freckles di area hidung dan pipi. Kulitnya merah, khas gadis Eropa.


Pelukan Ditya dan sang gadis tak terelakan. Ditya melupakan istrinya yang seorang perempuan timur. Di mana kesopanan yang sedang mereka tunjukan merupakan hal tak biasa di Indonesia. Bahkan Ditya tak segan-segan mengecup pipi sang gadis. Kebiasaan yang mereka lakukan setiap bertemu. Namun menjadi tanda tanya bagi ibu hamil yang pikirannya sudah bertamasya ke mana-mana. Ditambah tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Ditya dan sang gadis dipahaminya. Frolline merasa sedang terdampar di planet lain.


“Wie geht es dir ( Bagaimana kabarmu)?” tanya Ditya setelah melepas pelukannya.


“Gut, und dir ( Baik, dan kamu)?” Paula menjawab sembari memamerkan deretan giginya yang berbaris rapi.


“Sehr gut ( Sangat baik ).”


Frolline berdiri mematung di belakang Ditya dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuhnya. Bola matanya membulat menahan amarah dan cemburu yang menguasai hatinya.


“Ehm ... ehm ....” Frolline berdeham. Sengaja menyadarkan sang suami akan kehadirannya.


“Maafkan Koko, Fro ....” Ditya tersadar. Buru-buru menghampiri istrinya. Ia tahu saat ini Frolline sedang menahan kesal.


“Siapa?” tanya Frolline ketus dengan wajah asam kecut.


Deg—


Ditya menelan saliva. Ia sadar kalau saat ini istrinya sedang murka. Andai mereka sedang di rumah, pria itu yakin tubuhnya akan dicabik-cabik hingga tidak tersisa. Frolline bak singa betina yang sedang kelaparan.


“Dia teman sekolah Koko dulu. Koko besar di sini, Sayang.” Ditya menjawab sembari menggandeng tangan istrinya mendekat.


“Fro, kenalkan ini Paula.”


“Paula, das ist meine frau. Sie heißt Frolline ( Paula, ini istriku. Namanya Frolline ).”


Keduanya bersalaman. Paula mencoba tersenyum dan Frolline tetap dengan raut tidak mengenakannya.


“Frolline Ditya Halim Hadinata.” Frolline memperkenalkan dirinya dengan menambah nama lengkap suaminya di belakang namanya.


“Paula.” Teman Ditya itu memperkenalkan diri secara singkat. Sebagai sesama perempuan, ia bisa membaca sorot cemburu di mata Frolline.


Ditya yang mendengar cara Frolline memperkenalkan diri sudah ingin tertawa lepas. Pria itu menutup mulutnya supaya suara tawa tidak berontak keluar. Cemburu sang istri begitu terlihat nyata. Sorot mata Frolline tidak bisa berdusta.

__ADS_1


Paula yang merasa tidak enak hati, buru-buru berpamitan. Ia tidak ingin terjadi menjadi masalah di hubungan rumah tangga temannya.


“Schönen tag. Tschüss ( Semoga harimu menyenangkan. Bye).” Paula melambaikan tangan. Ingin segera pergi secepatnya.


“Auf wiedersehen ( sampai jumpa lagi ),” ucap Ditya ikut melambaikan tangan.


Keduanya berdiri menatap punggung Paula menghilang. Ragu-ragu, Ditya memasang wajah memelasnya. Ia tahu Frolline sedang marah besar padanya.


“Sayang, ayo kita cari mi goreng sekarang.” Ditya meraih tangan istrinya.


“Anakmu berubah pikiran, Ko.” Frolline menjawab ketus, berjalan ke arah mobil mereka.


“Fro ... Fro ... jangan marah, Sayang. Jangan salah paham. Koko tidak ada hubungan apa-apa dengannya,” jelas Ditya setengah berlari untuk menyejajarkan langkahnya.


“Fro, jalannya pelan-pelan saja. Kasihan bayi Koko. Dia belum sanggup berlari cepat.” Ditya segera memeluk pinggang Frolline yang mulai berisi. Mengunci erat di perut besar sang istri yang tertutup baju hangat.


“Jangan marah, Sayang. Koko bersumpah, dia hanya teman lama. Koko tidak ada hubungan apa-apa dengannya.” Ditya menjelaskan. Dagunya dijatuhkan di pundak Frolline dengan manja.


“Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Gat gut gat gut. Cas cus cas cus,” omel Frolline menirukan bahasa asing yang digunakan Ditya saat berkomunikasi dengan Paula.


“Koko tidak berbohong, Sayang.” Ditya berusaja menahan tawanya.


“Bohong pun aku tidak akan tahu, Ko. Aku tidak tahu apa yang Koko bicarakan berdua dengannya. Bisa saja Koko bilang ... aku mencintaimu. Aku menyayangimu. Bagaimana aku tahu Koko bicara apa dengannya. Aku hanya melihat Koko memeluknya. Lalu menciumnya,” potong Frolline berkata panjang lebar tanpa jeda seperti sepur.


“Bukankah selama ini Koko memang memeluk setiap bertemu dengan kenalan atau teman Koko. Dengan Sandra pun begitu. Bahkan Daddy pun melakukan hal yang sama,” jelas Ditya.


“Aku tidak suka suamiku dipeluk dan dikecup wanita lain. Kalau memang boleh begitu, besok-besok aku juga akan melakukan hal yang sama. Boleh, kan?” tanya Frolline.


“Tidak,” tegas Ditya.


“Koko boleh. Kenapa aku tidak boleh? Tunggu perutku mengecil kembali. Aku berjanji akan belajar membiasakan diri dengan kehidupanmu juga, Ko.” Frolline mengancam.


“Tidak boleh. Jangan marah lagi Fro, Koko minta maaf.” Kecupan permintaan maaf mendarat di pipi kanan Frolline.


“Jangan menciumku. Bibirmu itu bekas mencium perempuan lain, Ko,” ungkap Frolline, mengusap kasar pipinya yang basah.


“Fro ....”


“Pulang sekarang!” perintah Frolline.

__ADS_1


***


Sepanjang perjalanan Frolline tidak mau bicara. Semua ucapan Ditya tidak satu pun ditanggapinya. Berusaha membujuk, merayu, menggoda, tetapi Frolline bergeming. Bahkan setiap Ditya menggengam tangannya, Frolline akan menghempas kasar.


Perang dingin itu masih berlanjut sampai ke rumah. Bahkan Mama Lily terheran-heran saat melihat keduanya berkejar-kejaran dengan Ditya terus menyerukan nama sang istri.


"Fro ... Sayang ... Schatzi ...." panggil Ditya berulang-ulang.


Frolline masuk ke kamar, menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Andai ini rumahnya, sudah dipastikan ia akan mengunci pintu kamar sehingga Ditya tidak akan bisa masuk.


"Fro, jangan bertengkar seperti ini. Malu pada Mama," bujuk Ditya.


"Biarkan saja. Biar mama tahu kelakuan putra kesayangannya," omel Frolline.


"Kamu cemburu, Fro?" tanya Ditya tersenyum licik.


"Tidak."


"Kalau tidak cemburu tidak perlu marah, Fro. Kami hanya berteman. Koko tidak menyukai perempuan Eropa. Koko suka perempuan Asia."


"Kalau sedang cemburu terlihat menggemaskan."


"Diam!" perintah Frolline dari balik selimut.


"Kalau marah, mengambek artinya cemburu. Kalau cemburu itu tandanya cinta, Fro. Jangan katakan sekarang kamu sudah mencintai, Koko." Ditya mulai melancarkan aksinya. Mencium bagian wajah Frolline yang tertutup selimut, bahkan Ditya mendekap erat tubuh ibu hamil itu.


"Fro, ayo mengaku. Jangan malu-malu. Kamu cemburu pada Koko, kan?" goda Ditya masih mendekap erat istrinya.


"Tidak. Aku tidak cinta."


"Ya sudah. Jangan marah lagi kalau tidak cinta. Yang boleh marah dan ngambek itu kalau istri mencintai suaminya. Kalau tidak cinta, harusnya biasa-biasa saja. Ayo keluar dari persembunyianmu," bujuk Ditya sembari menarik selimut dan menghempaskan dari atas ranjang.


"Aku tidak mau melihat Koko," omel Frolline.


"Kalau tidak mau melihat ... sebaiknya tutup mata, Fro" Ditya tertawa saat disuguhkan wajah menggemaskan sang istri yang sedang cemburu buta.


"Koko janji, kalau kamu sudah mencintai Koko ... em ... Koko tidak akan memeluk perempuan lain lagi selain dirimu, Fro."


"Kalau sekarang?" Frolline mulai terpancing.

__ADS_1


"Tergantung jawabanmu ...." Ditya tersenyum licik saat berhasil memanfaatkan keadaan.


***


__ADS_2