Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 58 : Laki-laki seperti apa yang aku nikahi


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan siang, Frolline bermaksud membereskan kembali semua piring makanan yang memenuhi meja rapat. Setelah menumpuk piring kosong miliknya dan sang suami, direktur baru perusahaan itu bermaksud membawanya keluar. Namun, langkahnya terhenti, Ditya mencekal pelan tangannya.


“Fro, mulai sekarang, jangan melakukan pekerjaan ini di kantor. Cukup di rumah kita saja. Ketika di perusahaan serahkan kepada orang yang ahli di bidangnya. Yang memang digaji untuk melakukan pekerjaan ini. Jangan membuang waktumu untuk hal yang tidak penting, apalagi itu bukan tugasmu,” tegas Ditya.


Kedua alis Frolline saling bertemu, mencerna kata-kata suaminya. Menurutnya hal sepele seperti ini, andai dia bisa melakukannya juga, tidak akan rugi apa-apa.


“Kemarilah, letakan piring-piring itu kembali ke atas meja. Ketika di perusahaan, kamu adalah pimpinan. Kamu harus memberi arahan dan contoh untuk para karyawanmu. Bukan berarti kamu tidak boleh melakukannya, tetapi tidak harus seperti saat kamu berada di rumah, berstatus istriku.”


“Jangan membuang-buang waktu untuk hal yang tidak penting. Bagi seorang pebisnis, waktu itu sang berharga. Waktu adalah uang,” lanjut Ditya.


Melihat raut kebingungan istrinya, Ditya tersenyum.


“Jangan protes dan mengatakan kamu tidak cocok berada di dunia ini.” Lelaki itu sudah bangkit dari posisi duduknya. Melirik sekilas rolex di pergelangan tangannya.


“Schatzi, kamu masih membutuhkan Matt?” tanya Ditya, menatap lekat ke manik mata istrinya.


Kalau boleh jujur, saat ini dia ingin menghabiskan waktu berduaan dengan istrinya. Namun, saat ini di harus membereskan pekerjaannya yang menumpuk akibat ditinggal beberapa hari ke Surabaya. Belum lagi minggu depan mereka berencana terbang ke Jerman. Setidaknya dia harus memastikan perusahaan sudah aman. Apalagi Frolline masih harus banyak belajar.


“Koko membutuhkannya?” tanya Frolline.


“Aku tidak keberatan. Koko bisa membawanya sekarang. Aku bisa mempelajari semuanya sendiri,” sahut Frolline.


“Oke, aku akan menjemputmu nanti sore. Kebetulan kantorku tidak terlalu jauh dari sini,” pamit Ditya. Lelaki itu masih mematung, menunggu inisiatif istrinya. Dia sengaja tidak memberi tanda apapun, berharap Frolline cukup mengerti.


Keduanya saling menatap. Frolline menatap suaminya kebingungan dan Ditya memandang istrinya dengn senyuman penuh makna.


“Lah, bukannya mau kembali ke kantor?” tanya Froline membuka suara.


Ditya masih berdiri mematung dengan tangan terlipat di dada. Memainkan alisnya, sembari tersenyum. Cukup lama, Frolline mencoba membaca apa yang diinginkan sang suami. Hingga akhirnya gadis itu menghampiri. Sedikit berjinjit mengecup pipi kiri dan kanan Ditya.

__ADS_1


“Sudah. Kamu bisa pergi sekarang, Ko.” Frolline membalikan tubuh kekar itu supaya segera keluar dari ruangan.


“Hahaha..!” Tawa lelaki itu pecah. Semuanya terlihat manis, hanya dengan hal sederhana. Meski tidak seintim pasangan lainnya yang selalu memberi kecupan basah di bibir, tetapi kemajuan ini sudah jauh lebih baik.


Memang butuh waktu, perjuangan dan kesabaran, seperti kesabaran dan perjuangannya mengikis karang kokoh Halim Hadinata. Ya, dia sedang memperjuangkan hak Frolline saat ini. Memperjuangkan tempat istrinya di keluarga Halim Hadinata.


***


Sepeninggalan Ditya, Frolline kembali fokus mempelajari banyak hal mengenai perusahaannya. Mencoba mempelajari proyek-proyek yang sekarang masih berjalan, sisa dari peninggalan papanya. Ada banyak hal yang harus dia pelajari. Berbeda dengan Angella yang sudah sejak awal berada perusahaan.


“Kak Angell?” bisik Frolline, menatap di beberapa berkas yang ditandatangani kakaknya. Senyum kecut mengukir di bibir tipisnya.


“Bahkan di saat tertinggal kita berdua, kamu melupakanku, Kak. Kamu menjual semuanya tanpa berkompromi denganku.” lanjut Frolline.


“Apa karena aku menikah, tanpa memberitahumu. Ah, aku yakin kamu juga tahu semuanya, terbukti yang membeli rumah dan perusahaan adalah suamiku sendiri. Pasti Kak Angell cerita banyak pada koko.” Frolline terseret ke pikirannya sendiri.


Lamunan Frolline terhenti, saat terdengar suara Zoe yang mengetuk pintu ruangannya.


“Ada apa Zoe?” tanya Frolline ketika wajah asistennya muncul dari balik pintu.


Asisten itu tidak mengatakan apapun, hanya mengambil sebuah remote tv dan menekan tombol on. Begitu televisi itu menyala, Zoe memindahkan channel dan mencari berita yang dimaksud. Acara gosip yang menayangkan berita Ditya dengan para wanita cantik.


Frolline terbelalak, saat melihat berita tentang suaminya dan seorang wanita. Banyak foto-foto suaminya tersebar di media. “Ya Tuhan, apalagi ini?” ucap Frolline, menatap suaminya berpelukan dan berciuman dengan seorang gadis yang hanya mengenakan bikini . Sedang berpesta dengan para gadis di pinggir kolam renang.


Frolline hanya bisa mengelus dada, saat matanya dipaksa melihat pemandangan menyesakan itu. Meskipun sebelumnya dia sudah pernah diperlihatkan foto sejenis, tetapi saat menjadi istri ada rasa berbeda diperlihatkan foto-foto suaminya yang bermain gila dengan banyak perempuan berbeda.


“Maaf Bu, saya tidak bermaksud menyakiti perasaan Ibu, tetapi kenyataannya seperti ini,” ucap Zoe, tesenyum. Belum juga Zoe keluar dari ruangan Frolline, tiba-tiba ponsel di sakunya berdering. Menatap nama Ditya yang muncul di layar, Zoe segera meminta izin keluar.


“Maaf Bu, saya izin keluar. Bos menelepon” pamit Zoe.

__ADS_1


“Tidak perlu keluar, aku mau mendengar apa yang ingin dibicarakan laki-laki brengsek itu denganmu!” perintah Frolline, menahan kesal dan amarahnya. Dia sudah ingin melempar televisi di hadapannya saat dipaksa melihat berita tentang suaminya.


“Siap Bu,” ucap Zoe. Menggeser tanda hijau di layar ponselnya, kemudia menempelkan gawai hitam itu di telinganya.


“Nyalakan speakernya, aku ingin mendengar apa yang suamiku bicarakan denganmu,” perintah Frolline, dengan ketus.


“Baik, Bu.” Zoe menurut. Meletakan ponselnya di atas meja tepat di depan Frolline.


“Iya Bos.” Zoe membuka pembicaraan setelah ponselnya tersambung.


“Jangan biarkan istriku melihat pemberitaan di media. Aku tidak mau...” Ditya tidak bisa melanjutkan kalimatnya


“Aku sudah melihatnya!” potong Frolline.


“Apalagi yang ingin kamu katakan lagi? Aku sedang mendengarkan semuanya!” ucap Frolline, menahan amarahnya.


“Fro, kamu kah itu?” tanya Ditya dari seberang.


“Memang istrimu ada berapa orang? Sampai kamu harus memastikan!” gerutu Frolline, mengetuk meja kayu di depannya dengan pena.


“Fro, aku akan menemuimu sekarang. Aku akan menjelaskan langsung padamu. Kamu jangan kemana-mana,” jelas Ditya.


“Aku sedang sibuk. Tidak sempat menerima kunjungan siapa pun saat ini.” Frolline menolak, dan memutuskan sambunga telepon, tanpa memberi kesempatan suaminya bicara lebih jauh lagi.


“Kamu boleh keluar, Zoe!” pinta Frolline, menahan rasa yang, memenuhi dadanya.


Netra matanya masih mengikuti pergerakan asistennya yang keluar dari ruangan. Begitu pintu itu tertutup rapat, bulir airmata itu pun terjatuh.


“Laki-laki seperti apa yang aku nikahi. Laki-laki seperti apa yang aku jadikan suami,” ucap Frolline pelan. Mungkin belum ada cinta, tetapi sebagai seorang istri ada rasa sakit yang sulit diungkapkan ketika dipaksa melihat foto-foto tidak senonoh sang suami bersama wanita lain.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2