
Frolline sedang mencerna kalimat demi kalimat yang ditujukan padanya. Wanita itu menatap ke arah suaminya. Lelaki yang selama dua hari menjadi tempatnya berlindung, diam seribu bahasa. Tidak membelanya sama sekali di tengah hinaan dan permintaan tidak masuk akal sang ayah mertua, sontak memancing kecewanya.
Brakkk!! Frolline mengebrak meja tiba-tiba, dengan wajah penuh amarah tertahan.
Bunyi berdenting, cangkir, piring dan sendok keemasan meloncat lalu membentur ke meja kayu. Sebagian teh tertumpah mengotori taplak putih yang mengalasi meja jati. Wajah-wajah renta yang terkejut, tertegun menatap wajah beraninya.
“Anak ini sungguh tidak tahu sopan santun!” umpat Halim dalam hati.
Berbeda dengan laki-laki tua itu, istrinya Nyonya Halim mengulum senyuman tertahan. Untuk pertama kali melihat suaminya ditentang seperti ini. Bahkan selama ini Ditya dan Marisa menggunakan jalan damai dan bernegosiasi setiap terbentur dengan perdebatan. Tidak pernah seterus terang ini.
Entah dari mana datang keberanian itu. Tapi Frolline cukup bahagia, masih bisa menyelamatkan harga dirinya yang sudah dicabik-cabik Halim Hadinata sejak pertama kali menginjakan kaki di kediaman mewah itu.
Sejak kemarin hati kecilnya ingin sekali mendapatkan pembelaan dari suaminya, tetapi Ditya bergeming. Memilih diam dan memintanya mengerti akan sikap kelewatan laki-laki tua yang arogan. Tidak lain mertuanya sendiri.
Dari sudut matanya, Frolline sempat menangkap raut wajah Sandra yang tidak biasa, ikut menatap aneh ke arahnya. Dengan mengerutkan dahi, berpikir. Frolline yakin Sandra sedang menertawainya. Mengejek dan bahagia saat dirinya dipermalukan.
“Jangan khawatir. Aku tidak akan merepotkan. Aku akan pulang ke Jakarta malam ini,” ucap Frolline, melanjutkan kata hati dan perasaannya yang belum tersampaikan.
Kemudian, pergi tanpa permisi dari acara minum teh keluarga setelah menghempas kasar gengaman tangan suaminya. Persetan dengan tata krama, sopan santun atau etika. Dia tidak dalam posisi menjaga image baik di tengah keluarga Halim Hadinata.
“Schatzi.., please jangan seperti ini,” ucap Ditya berdiri, meraih tangan istrinya berusaha menahan.
“Tempatku bukan di sini,” tegas Frolline.
“Silahkan dilanjutkan, Tuan Muda Ditya! Aku permisi,” lanjut Frolline.
Terselip kesal dan kecewa di dalam kalimat pamitnya. Bergegas kembali ke kamar sambil mengingat rute yang baru saja dilewatinya saat menuju ke taman belakang kediaman Halim.
Melihat Frolline pergi, Ditya bermaksud mengejar. Namun, baru saja lelaki itu hendak menyusul, sang mommy menahannya.
__ADS_1
“Koko!” panggil sang mommy.
Nyonya Gunawan memberi kode dengan kerlingan mata dan sedikit mengangguk. Dia sadar, kepergian Frolline yang tidak tahu aturan pasti akan membuat suaminya murka. Ditambah dengan kepergian Ditya yang ikut meninggalkan meja pasti akan membuat kemarahan Halim semakin menjadi.
Saat alunan nada tegas yang keras menyebut namanya, Ditya mengerti dan menghentikan langkahnya. Berbalik menemui sang daddy, si pembuat runyam hubungan dengan istrinya sendiri. Sejak tadi, lelaki itu memilih diam hanya karena memberi ruang dan kesempatan daddynya berbicara. Tidak sedikit pun menyetujui atau mengikuti kemauan sang daddy.
***
“Silakan mencoret namaku dari daftar ahli warismu!” tekan Ditya. Ujung matanya masih menatap punggung istrinya dari kejauhan. Tak lama, bayangan istrinya itu menghilang dari balik pintu.
Mendengar permintaan putranya, tentu saja Halim menolak. Tidak bisa dibayangkan seberapa besar dia meletakan beban di punggung putranya. Ditya adalah penerusnya. Satu-satunya yang akan melanjutkan tongkat kepemimpinannya,
“Tidak. Kamu tidak bisa seperti ini, Ditya!” tegas Halim, menoleh ke arah Sandra.
Tidak mungkin membahas masalah keluarga mereka di tengah kehadiran orang luar. Meskipun, Sandra bukanlah orang lain dan Sandra adalah jodoh yang dipilihnya untuk sang putra. Namun untuk saat ini, Sandra belum berhak mendengar semua pembahasan masalah keluarga mereka.
“San, bisa tinggalkan kami,” pinta Halim.
Bahkan kalau boleh jujur, dia sedikit kesal diminta menyaksikan anak kecil yang sedang merengek atau mencari perhatian dengan menggebrak meja. Ada banyak cara elegan menunjukan protes.
“Aku tidak memintamu meninggalkannya, Dit!” tegas Halim. Duduk, mengenggam cangkir tehnya dengan kencang.
“Aku mencintai istriku,” bisik Ditya pelan.
Laki-laki tua itu menghela nafas, berusaha tidak terpancing emosi yang akan berujunb fatal pada kesehatannya.
“Daddy tidak memintamu untuk berhenti mencintainya,” ujarnya pelan. Mengangkat cangkir teh, menyesapnya perlahan. Menikmati sensasi teh hijau kesukaannya yang di datangkan langsung dari daratan Tiongkok.
“Aku tidak bisa menikahi Sandra. Aku tidak mencintainya, Dad,” jelas Ditya. Berusaha bersikap tenang, sebisa mungkin tidak memancing emosi sang daddy.
__ADS_1
“Aku tidak memintamu mencintainya, hanya menikahinya. Hanya itu saja. Kamu bebas mencintai istrimu,” sahut Halim.
“Ini tidak adil untuk Sandra, begitu juga untuk Fro. Aku tegaskan, aku tidak bisa menikahi Sandra,” tegas Ditya, bangkit dari duduknya. Memutuskan perdebatan tidak berujung. Selama ini sudah seringkali dia melakukan penolakan. Meskipun dia tidak bisa memaksa daddynya mundur setidaknya sang daddy juga tidak bisa memaksa perjodohan yang tidak dikehendakinya.
“Apa yang daddy butuhkan? Penerus? Aku akan meminta Fro hamil secepatnya,” ucap Ditya, sebelum meninggalkan laki-laki yang tertunduk mengatur nafas.
“Aku hanya memintamu menikahi Sandra dan ambil alih perusahaan, tidak ada kewajiban lain yang harus kamu lakukan untuk keluarga Halim.”
Langkah kaki Itu terhenti. Pikiran yang selama bertahun-tahun ini berkecambuk, memaksa keluar. Mungkin ini saatnya Ditya meminta keadilan untuk mamanya.
Berbalik menatap Halim. “Aku tidak mau ada wanita lain bernasib buruk seperti mamaku, apalagi wanita itu istriku.”
“Mama tidak bisa mengungkapkan perasaannya, hanya menangis diam-diam di salah sudut dunia ini. Pernahkah, sekali saja daddy memikirkan bagaimana perasaan mamaku. Adilkah untuk mama dan mommy,” todong Ditya.
“Mama memang tidak pernah kekurangan. Semua kebutuhannya tercukupi, tetapi harus dipenjara seumur hidup dalam ikatan yang dinamakan suami istri.”
Ditya tersenyum kaku. “Suami istri...,” cicitnya pelan. Ingin tertawa dengan kata suami istri yang terdengar begitu indah tetapi tidak untuk mamanya. Gambaran suami istri dalam kehidupan mamanya bagaikan sampah di mata Ditya.
“Bahkan kamu menyembunyikannya status pernikahanmu begitu rapat sampai-sampai mama hampir mati sesak nafas,” sindir Ditya
“Begitu mahal harga yang harus dibayar mama hanya untuk semua kemewahan ini, sampai mama tidak bisa mengakuiku sebagai putranya di depan semua orang,” ucap Ditya pelan.
Laki-laki tua itu hanya tertunduk tanpa bicara. Meremas erat gagang cangkir keramik mahalnya.
“Cukup mama saja. Aku tidak mengizinkan istriku juga mengalami hal yang sama,” tegas Ditya. Bergegas pergi meninggalkan Halim.
***
T b c
__ADS_1
Love You all
Terima kasih