
Frolline berdiri di depan cermin kamarnya, menatap gaun keemasan rancangan salah satu desainer ternama Indonesia yang mempertontonkan lekuk tubuh indahnya. Belahan bibir merahnya merekah, memamerkan deretan gigi putih yang baru saja mendapatkan perawatan kemarin sore.
Selama menikah dengan Ditya, baru beberapa hari ini ia merasakan masuk ke dunia suaminya. Semenjak berumah tangga, Ditya banyak mengalah dan mencoba mengikuti kehidupannya. Dan sekarang, ia ditarik masuk ke dimensi yang berbeda.
Menikmati fasilitas kelas atas, dari pelayanan, perawatan, sampai semua yang melekat di tubuhnya bernilai fantastis. Bermimpi pun, ia tidak pernah menyangka akan masuk ke kehidupan seperti ini.
"Schatzi, kamu cantik hari ini." Ditya tiba-tiba masuk ke dalam kamar dengan jas hitam pekat lengkap dengan dasi kupu-kupu. Menggenggam kotak perhiasan merah hati berukuran lumayan besar.
Hari ini adalah hari pernikahan Firstan. Setelah pemberkatan pernikahan, akan ada acara keluarga dan Tea Pai kemudian disusul resepsi di malam harinya. Acara puncak yang akan digelar di salah satu hotel bintang lima, terletak di Jakarta Pusat.
"Terima kasih." Frolline tertunduk malu-malu, setelah sempat beradu pandang dengan sang suami melalui pantulan cermin.
"Kita menikah sudah 1.5 tahun, kenapa pipimu masih memerah, Fro," tanya Ditya sembari memeluk pinggang ramping Frolline dari belakang.
Pria itu sempat protes saat melihat gaun terbuka dibagian atas yang memamerkan pundak telanjang dan tidak tertutup apa pun.
"Gaun apa ini?" protes Ditya, mendekap pundak Frolline dengan posesif.
"Apa tidak cantik, Ko?" tanya Frolline, bingung akan reaksi suaminya.
"Kalau perempuan lain yang mengenakannya ... ini terlihat cantik. Semakin kurang bahan, semakin menarik ... tetapi saat gaun ini melekat di tubuhmu, Koko jadi tidak rela. Semua ini milik Koko, kenapa harus diumbar-umbar," keluh Ditya.
"Jangan banyak protes, Ko. Ini sudah seragam keluarga." Frolline menjelaskan.
"Seragam bahannya, bukan modelnya. Mommy tidak seperti ini," protes Ditya.
"Jangan mengomel, Ko. Aku bahkan melihat gadis-gadis yang berfoto denganmu nyaris polos. Kenapa Koko tidak protes?" Frolline kesal.
"Karena mereka bukan istri Koko. Untuk apa protes, Sayang."
"Sudahlah, jangan diperpanjang. Nanti ada kain tipis yang menutupi bagian atasnya, Ko." Frolline menjelaskan.
Mendengar kalimat terakhir Frolline, barulah Ditya melunak. Ia tidak ingin tubuh indah istrinya menjadi tontonan semua orang. Ia ingin menikmatinya seorang diri.
Terlihat Frolline membuka laci teratas meja rias, meraih kotak perhiasan hadiah dari Meliana Halim.
"Ko tolong pakaikan untukku," pinta Frolline, menjatuhkan bokongnya di kursi dan membelakangi Ditya.
__ADS_1
Kotak beludru biru berisi satu set perhiasan bertabur berlian. Ada kalung, giwang, gelang dan cincin dengan model yang sama. Kilauannya terlihat begitu mahal.
"Cantik sekali, Ko," ungkap Frolline saat melihat perhiasaan yang tersusun di dalam kotak.
"Sepertinya ini salah satu koleksi Mommy. Ia mengerti kalau istriku belum paham dengan semua ini, jadi meminjamkannya padamu."
"Mommy menghadiahkannya untukku, Ko."
Deg — Ditya bagai tertampar. Selama ini, ia tidak pernah membelikan Frolline gaun dan perhiasan. Padahal itu salah satu hal terpenting di dalam kehidupan mereka. Begitu masuk ke keluarga Halim, Frolline akan sering menghadiri berbagai acara dan pertemuan yang mengharuskannya tampil cantik di setiap kesempatan.
"Maafkan Koko, Fro. Koko belum sempat memenuhi kotak perhiasan dan lemari pakaianmu. Beberapa hari ini ... Koko sibuk dengan perusahaan. Jadi tidak ada waktu untukmu dan Dragon. Untuk Tea Pai saja ... Koko meminta sekretaris membelinya." Ditya menunjuk pada kotak beludru merah yang diletakannya di atas meja rias.
“Ya, itu apa, Ko?”
“Itu yang akan kamu berikan pada istri Firstan saat acara Tea Pai nanti. Isinya perhiasan.”
“Lalu Koko akan memberikan apa?” tanya Frolline bingung.
Tampak Ditya mengeluarkan kotak perhiasan berukuran lebih kecil dari saku celana. Sebuah cincin terselip di dalamnya. “Formalitas saja untuk acara Tea Pai. Koko sudah menghadiahkan apartemen untuk Firstan dan Cia-cia, tetapi sepertinya Firstan akan tinggal di rumah yang dihadiahkan Daddy dan Mommy.”
“Kenapa lagi?” tanya Ditya mengecup pipi Frolline.
"Aku ... merindukan Dragon." Frolline menyibak rambut panjangnya dan membawanya ke sisi kiri tubuhnya. Memberi akses untuk Ditya memakaikan kalung untuknya.
"Oh ya? Apa anak kita rewel?" tanya Ditya. Mengurus perusahaan, membuat pria itu tidak memiliki waktu untuk anak dan istrinya. Setahun pergi, ia harus mempelajari banyak hal di perusahaan.
"Awal-awal, Dragon mengamuk saat dipegang pengasuhnya, tetapi sekarang sudah mulai terbiasa. Hanya saja ... aku yang belum terbiasa, Ko. Selama ini kita merawatnya sendiri dan sekarang harus dipegang orang lain. Rasanya ada yang hilang.” Frolline berkeluh kesah.
"Ya, itu hidup yang kita jalani. Mau tidak mau, kita harus menerimanya. Daddy mencarikan Dragon babysitter yang menguasai beberapa bahasa. Daddy menginginkan cucunya menguasai banyak bahasa." Ditya menjelaskan, membantu Frolline mengenakan giwangnya.
"Dragon masih kecil, Ko. Kita masih punya banyak waktu untuk mengajarinya."
"Anak kita akan ditemani oleh beberapa guru yang akan menemaninya. Ada banyak hal yang mulai diajarkan sejak dini, Fro."
"Aku merasa ini berlebihan, tetapi aku tidak bisa protes, Ko. Dragon membutuhkan sentuhan kita, bukan orang lain."
Ditya tersenyum. Ia sangat paham akan apa yang menjadi keberatan istrinya.
__ADS_1
"Aku mohon ... mengertilah. Dragon tidak akan kekurangan kasih sayang kita berdua." Ditya berusaha menjelaskan.
"Semakin ke sini, aku merasa Dragon itu bukan anak kita lagi. Hak-ku sebagai ibu seperti dirampok." Frolline kembali mengeluh.
"Maafkan Koko, Fro. Dragon adalah pemimpin masa depan Halim Group, Daddy menginginkan yang terbaik untuknya."
"Tetap saja, Ko. Anak kita itu masih enam bulan. Belum mengerti apa pun. Dia juga ingin menentukan pilihannya nanti." Frolline protes.
"Koko tidak mau berdebat untuk ini, Fro. Setelah Firstan menikah, Daddy memintamu kembali memimpin perusahaan papamu yang kini berada di bawah bendera Halim Group. Dan kalau kamu sudah aktif di perusahaan, Dragon harus mulai terbiasa dengan pengasuh-pengasuhnya." Ditya menjelaskan.
"Aku lelah tinggal di sini dengan Daddy dan Mommy. Aku merasa hidupku seperti robot. Satu-satunya tempat yang membuatku nyaman hanya kamar ini. Aku bisa menjadi diri sendiri. Mau tidur, jungkir balik, mau bernapas, aku bebas. Kalau keluar dari kamar kita, aku merasa terbebani.”
"Aku juga ingin menikmati masa-masa mengurus Dragon, Ko. Tidak mau bekerja dulu. Aku mau pulang ke apartemen kita saja, menjadi ibu rumah tangga. Di sini ... aku merasa tidak seperti manusia normal," protes Frolline.
Ditya tergelak saat wajah cantik dengan penampilan anggun itu protes padanya dengan wajah cemberut, menumpahkan keluh kesah yang menumpuk selama beberapa hari tinggal bersama mertua. Sewaktu mengunjungi Halim di Surabaya, Frolline tidak terlalu dilibatkan untuk setiap acara keluarga. Ia merasa diterima sebagai tamu. Dan saat ia diperlakukan layaknya bagian dari keluarga besar Halim, ia merasa tidak nyaman.
"Jangan banyak protes, Fro. Menikah dengan siapa pun, kamu harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang mungkin jauh berbeda dengan lingkunganmu sebelumnya. Selama ini, Koko mencoba mengikutimu. Koko mohon, kali ini mengalah untuk Koko. Suatu saat kamu akan terbiasa."
Terdengar helaan napas dalam dan dengusan kasar. Frolline kembali melayangkan protes.
"Aku hanya ingin kita tinggal sendiri dan pindah ke apartemen."
"Daddy tidak mengizinkan, Fro. Daddy meminta kita tinggal di sini. Tempat ini lebih baik untuk Dragon dibanding apartemen kita yang di atas awan."
"Jadi aku harus tinggal dengan Daddy dan Mommy seumur hidup?" Frolline terbelalak, menepuk keningnya.
"Tidak, setelah urusan perusahaan dan pernikahan Firstan selesai, Daddy dan Mommy akan kembali ke Surabaya. Hanya sesekali ke Jakarta saat merindukan Dragon."
Frolline bernapas lega, menyunggingkan senyuman. "Baiklah, aku tidak masalah bersabar sedikit lagi," ucapnya sumringah, berbalik dan mengecup bibir Ditya sekilas.
"Setelah semuanya selesai, kita ke dokter untuk memastikan isi perutmu. Aku berharap ada duplikat dirimu di dalamnya. Aku menginginkan anak perempuan untuk menemani masa tua kita." Ditya melabuhkan kecupan di pucuk kepala istrinya.
“Kalau laki-laki lagi?” tanya Frolline.
“Hahaha! Setelah mendapatkan anak perempuan, kita baru bisa berhenti produksi.” Ditya tergelak.
***
__ADS_1