
Halim berusaha mengatur napasnya. “Aku mohon tinggalkan putraku,” pinta Halim pada Frolline dengan nada jauh lebih lembut.
Setelah sejak tadi menutup mulutnya, Frolline bersuara.
“Aku memang tidak mencintai putramu, tetapi aku juga tidak bisa meninggalkannya, DADDY,” ucap Frolline sengaja menekankan kata daddy di kalimatnya, meskipun begitu dia berusaha bersikap tenang.
“Tuan muda Ditya!!” panggil Hali, setengah berteriak.
“Wanitamu tolong diajari bagaiaman bicara denganku!” tegas Halim, menatap tajam pada putranya.
Ditya terlihat maju beberapa langkah, mendekati daddynya sembari membungkuk untuk mensejajarkan tingginya dengan sang daddy.
“Dad, aku bukan anak kecil. Bahkan sejak umur 17 tahun seharusnya aku sudah bisa memiliki hak berpendapat dan menentukan jalan hidupku sendiri,” ucap Ditya.
“Fro itu istriku, bukan wanitaku. Dia wanita baik-ba...”
Ditya tidak bisa melanjutkan kalimatnya, Halim sudah memintanya berhenti dengan mengangkat tangan.
“Wanita baik-baik tidak akan mau menikah tanpa restu dari orang tua,” tuding Halim, masih saja berdebat dengan putra semata wayangnya.
“Dad, aku menemuimu, bukan untuk meminta restu, tetapi hanya mengenalkan istriku,” tegas Ditya.
“Aku sudah dewasa, Fro juga bukan anak kecil lagi. Restu itu hanya formalitas. Pada akhirnya kami yang menjalani dan bertanggung jawab untuk apa yang menjadi pilihan kami,” lanjut Ditya.
Halim hanya bisa mengeratkan gengaman tangan pada tongkatnya, berusaha menahan kesal.
“Kalau sudah tidak ada lagi yang dibahas, aku permisi Dad,” pamit Ditya.
Bergegas menemui Frolline, mengenggam tangan istrinya dan mendekat pada sang mommy yang sejak tadi hanya mematung diam. Tidak berani bersuara atau berpendapat.
“Fro, ini mommy.” Ditya mengenalkan.
Wanita tua itu menatap dengan binar kesedihan. Ingin rasanya memeluk menantunya, tetapi dia tidak memiliki cukup keberanian melawan keputusan suaminya. Saat Frolline memaksa memeluknya, dua tetes bening mengalir turun meninggalkan jejak di pipi keriputnya. Air mata yang berusaha ditahannya, terjatuh sudah. Tanpa suara, Nyonya Halim berharap putra dan menantunya paham, isi hatinya.
Masih dengan mengenggam tangan istrinya, Ditya melewati daddy yang masih menyimpan murkanya. Tepat saat akan melewati pintu keluar, terdengar suara menggelegar.
__ADS_1
“Berani melangkah keluar, selangkah lagi. Kamu tidak berhak kembali ke rumah ini, meski hanya sekedar melihat jasadku!” teriak Halim, meremas dadanya yang sakit karena terlampau kesal.
Deg— Ditya tertegun. Teringat dengan pesan kakaknya, Marisa.
Terdengar tawa sinis Halim, terbahak dan sangat menyebalkan saat tertangkap indra pendengaran.
“Semua yang kamu miliki, semua yang melekat di tubuhmu, semua yang ada dirimu. Bahkan orang-orang yang berjaga di sisimu, semua itu milikku! Kamu lupa? Apa yang mau kamu sombongkan Tuan muda Ditya?!” tegas Halim.
Mendengar semua itu, Ditya mulai terpancing emosi. Berjalan kembali mendekat pada lelaki tua yang tersenyum padanya.
“Aku tidak membutuhkan semua ini. Daddy lupa, aku masih memiliki bisnisku sendiri di London. Aku masih sanggup memghidupi anak dan istriku tanpa uang-uangmu, tanpa fasilitas darimu!” ujar Ditya, tidak mau kalah.
Dengan menghela nafas berulang kali, Ditya berusaha untuk meradang. Walau bagaimana pun, dia ada di dunia ini, karena laki-laki tua arogan di hadapannya adalah sang daddy. Tanpa lelaki ini, dia tidak akan pernah ada di dunia.
“Dad, kamu harus tau, aku kembali ke Indonesia bukan untuk mengambil hakku, tetapi hanya memenuhi kewajibanku. Aku tidak peduli seberapa banyak hartamu. Aku hanya melaksanakan tugasku sebagai putramu. Mengurus perusahaan keluarga yang namanya begitu kamu banggakan dan agungkan, Dad.”
Halim tampak berpikir keras, berusaha menggunakan segala cara untuk bisa menahan putranya. Saat ini dia hanya memiliki Ditya, tidak mungkin mencoret putra satu-satunya keluar dari nama keluarganya, seperti yang pernah dilakukannya dulu pada Marisa.
“Aku permisi, Dad, Tempatku bukan di sini. Aku akan mengembalikan semua fasilitas yang kamu berikan padaku!”
“Sejak awal, tempatku di sisi mama, bukan bersamamu!” tegas Ditya. Dengan penuh keyakinan, menggengam tangan Frolline, melenggang keluar kediaman daddynya yang bak istana, siap meninggalkan semua kemewahan yang sebentar lagi seharusnya menjadi miliknya.
Halim memandang punggung putranya menjauh, dengan tatapan kesedihan. Dadanya semakin nyeri, bibirnya memucat. Tenaganya hilang, tubuhnya merosot. Matt dan Joe langsung berlari meraih tubuh renta itu supaya tidak ambruk. Lelaki yang berseragam dokter juga ikut menghampiri. Bersamaan dengan itu, sang nyonya juga turut mendekati, dibantu oleh seorang asisten wanita.
“Bos!” teriak Matt, seketika membuat Ditya berbalik. Melihat daddynya ambruk, lelaki itu berlari masuk dan bersimpuh di lantai ikut menahan tubuh renta yang masih bisa membuka mata tetapi sudah sangat lemah sekali.
“Jangan pergi.., tetap disini,” ucap Halim, terbata. Berusaha menggapai tangan putranya. Matanya sudah hampir terpejam. Kesadarannya nyaris hilang.
“Dia mungkin istrimu, tetapi dia.. bukan..menantuku,” lanjut Halim, seketika tidak sadarkan diri.
***
Frolline masih menatap heran sekaligus kagum dengan kamar yang akan ditempatinya bersama Ditya. Kamar mewah dengan luas 8 x 15 meter itu adalah kamar suaminya.
Begitu melangkah masuk, Frolline disambut ranjang mewah berukir keemasan terletak di tengah ruangan dengan gorden menutupi dinding bagian belakangnya. Tidak ditemukan apapun disana, selain nakas di kiri dan kanan tempat tidur dengan lampu duduk di atasnya.
__ADS_1
Beralih ke ruangan sebelah kiri kamar yang tidak disekat dengan pintu, itu adalah ruang kerja. Dan di sebelah kanan kamar, terdapat home theater dengan satu set sofa empuk yang bisa memijat. Yang membuat Frolline terngaga adalah saat membuka pintu putih yang berhadapan dengan tempat tidur, yang ternyata di dalamnya adalah walk in closet berukuran luas.
Frolline seperti ditarik ke dunia lain. Lemari kaca yang setinggi langit-langit rumah, tergantung rapi pakaian suaminya di dalam sana dari berbagai merk terkenal. Di salah satu lemari, Frolline bisa melihat ikat pinggang tersusun rapi. Di bagian tengah, Frolline bisa melihat koleksi jam tangan mewah Ditya dari Rolex, Patex Philippe sampai Piguet tertata di etalase kaca. Frolline sempat terpana dengan sebuah jam tangan mewah yang bertabur berlian.
Tidak jauh dari jejeran jam, terdapat koleksi kacamata Ditya yang tidak kalah fantastisnya. Barang-barang mewah yang hanya bisa Frolline lihat dari media ataupun televisi, sekarang nyata di depan matanya.
Baru saja Frolline hendak menyisir ruangan yang tersisa, sebuah pintu kayu bercat putih terhubung dengan walk in closet, tetapi samar terdengar suara Ditya memanggil namanya. Sejak tadi lelaki itu keluar menemani daddnya. Dan meninggalkannya sendirian di dalam kamar.
“Fro, kamu dimana?” panggil Ditya, menyisir ruangan demi ruangan di dalam kamarnya mencari keberadaan sang istri.
“Kamu di sini,” ujar Ditya, setelah menemukan istri berada di ruangan penyimpanan barang-barang pribadinya.
“Kenapa tidak istirahat?” tanya Ditya, meraih tangan Frolline dan mengajak istrinya ke ruangan utama kamar ini, tempat dimana tempat tidur berada.
“Daddy sudah baikan?” tanya Frolline.
“Baru saja sadar,” sahut Ditya, meraih salah satu remote yang berjejer rapi di atas meja kecil, di samping tempat tidur.
Dengan menekan salah satu tombol, sebidang dinding yang tadinya menggantung gorden berwana krem menjulang tinggi, membuka otomatis. Cahaya matahari langsung memenuhi ruangan, menembus dinding kaca.
Kalau kamar Ditya di Jakarta, dinding kaca memamerkan pemandangan gedung pencakar langit, di sini menampilkan pemandangan asri, pepohonan dan rumput menghijau dengan danau buatan.
“Cantiknya Dit!” seru Frolline, langsung mendekati dinding kaca.
“Dat Dit Dat Dit!” gerutu Ditya kesal.
“Jangan melakukannya di depan kedua orang tuaku. Bagi mereka terdengar tidak sopan saat kamu memanggil suamimu dengan namanya saja,” lanjut Ditya mengingatkan, sembari membelitkan memeluk pinggang istrinya dari belakang.
“Bersiaplah, aku akan mengajakmu menemui mommy secara pribadi,” bisik Ditya, pelan.
Jantung Frolline bergemuruh, berdetak kencang. Belum bisa menebak, apa yang akan terjadi selanjutnya.
***
T b c
__ADS_1
Love You all
Terima kasih.