
“Ada apa, Fro?” tanya Ditya, bersandar memejamkan mata. Menikmati perjalanan nyaman menggunakan mobil mewahnya menuju bandara.
Ditya keluar dari penthouse saat hari masih remang-remang, bahkan mentari saja belum berani muncul terang-terangan. Merona kemerahan bersembunyi di balik pekat di ufuk timur. Sesekali mengintip embun yang sedang beradu di pucuk dedaunan.
“Koko sedang dipijat?” tanya Frolline dengan polos. Cemburu membuat akal sehatnya sudah tidak berjalan di alurnya. Terkadang karena cinta, logika menjadi terbuang sia-sia.
“Siapa yang dipijat, Fro? Tukang pijatnya saja tidak dibawa, tertinggal di kamar,” sahut Ditya dengan santai. Masih sempat melempar gombalan yang diselipkan di dalam jawaban sederhananya.
Matt menggaruk kepala, rencana yang sudah disusun matang jadi gagal total karena Ditya tidak mau bekerja sama. Kalau saja sedang tidak di dalam mobil, sudah pasti ia akan membisikan rencana-rencana indahnya di telinga kanan Ditya yang tidak ditempeli gawai.
Menceritakan rancangan yang disusunnya demi kebaikan bersama. Ditya akan mendapatkan kecemburuan istri yang dinantikan selama ini. Dan ia, tentu saja akan mendapatkan bonus berkali lipat, menambah isi ayam jago gerabahnya yang menunggu detik-detik dipecahkan.
“Serius? Tidak berbohong?” todong Frolline, masih menolak percaya. Meminta kepastian yang sangat dibutuhkannya untuk penyemangat hari.
“Serius, Sayang. Kamu bisa menghubungiku melalui video call,” usul Ditya.
Belum selesai pria itu menelan saliva setelah menyelesaikan kalimatnya, sang istri sudah memutuskan panggilan tanpa kata-kata penutup.
Ditya menjauhkan ponselnya dari gendang telinga, menatap heran. Belum paham maksud Frolline yang tiba-tiba menghilang tanpa pesan.
Sedetik kemudian panggilan video menyapa gawai mahalnya. Pria tampan itu tersenyum menatap layar berkedip meminta disentuh lagi.
“Dia benar-benar mencurigaiku, Matt. Kamu membuat istri gila sepagi ini,” ungkap Ditya tersenyum usil.
“Biarkan saja, Bos. Biarkan Nyonya menggila, setidaknya sampai kita tiba di Semarang,” usul Matt, mengulum senyuman.
“Ya, setelah itu aku ditendang dari kamarku.” Ditya tersenyum kecut, membayangkan amarah Frolline.
Menyentuh layar ponsel, Ditya tersenyum lebar menatap wajah bantal istrinya memenuhi layar.
“Ya ... sudah melihatku? Sudah yakin dengan suamimu?” tanya Ditya. Mengarahkan kamera ponselnya ke luar jendela mobil. Menunjukan jalanan yang mereka lewati.
“Koko di mana?” tanya Frolline.
“Masih di perjalanan. Mau ke bandara, Fro.”
“Kenapa tidak berpamitan denganku, Ko?”.
“Kamu tidur lelap, Fro. Aku tidak bisa menganggu istriku yang terlihat lelah.” Ditya beralasan.
“Serius, Ko? Bukan karena masalah pil KB itu.”
Ditya menghela napas dalam. “Koko sudah melupakannya, Fro. Tidak perlu dimasukan di dalam hati. Fokus dengan pekerjaanmu.”
__ADS_1
“Maafkan aku, Ko.”
“Sudah lupakan, Fro. Bersiaplah, bukannya kamu harus ke kantor hari ini.” Ditya mengingatkan.
“Ya, nanti kabari aku kalau Koko sudah tiba di Semarang,” ucap Froline sebelum memutuskan panggilannya.
***
Memutuskan panggilan videonya, Frolline tersenyum. Lega, tentu saja saat mengetahui semua tidak seperti yang diceritakan Matt. Semua hanya akal-akalan asisten yang tidak tahu aturan itu. Sengaja memancing emosinya.
Melepas beban di hatinya, Frolline bisa bernapas lega. Melangkah menuju ke kamar mandi, memulai hari dengan senyuman. Dia harus ke kantor hari ini. Hampir satu jam merias diri, Frolline memilih langsung ke kantor tanpa sarapan. Toh, Ditya juga sedang tidak ada di rumah.
Langkah kaki Frolline terhenti saat melihat mama mertuanya sedang sibuk di dapur. Mengenakan celemek miliknya, sibuk menyiapkan sarapan pagi.
“Fro, kamu sudah siap ke kantor?” tanya Mama Ditya, mengocok telur di mangkok kaca.
“Ya, Ma.”
“Temani aku sarapan sebentar, baru ke kantor. Koko sudah keluar pagi-pagi sekali. Tidak ada teman berdebat pagi ini.” Mama Ditya berkata. Santai tanpa beban sama sekali, padahal semalam baru saja membuat masalah.
“Aku ....”
“Sudah, duduk di sana!” pinta Mama Ditya. Menunjuk kursi di seberangnya. Ada beberapa piring berisi makanan khas nusantara tersaji di atas meja island.
“Ya, tetapi Koko tidak sarapan di rumah. Pagi-pagi sekali sudah berangkat kerja. Kamu saja yang membantu menghabiskannya, Fro!” pinta Mama Ditya, terlihat sedang memasukan adonan telur ke dalam wajan panas.
“Apa ini, Ma?” tanya Frolline heran.
“Tahu telur, Fro. Dicoba, itu makanan khas kampungku,” jelas Mama Ditya, pandangannya terlihat menerawang.
Frolline mengambil sebagian dan mengisinya ke piring kosong. “Mama, asli mana?” Tiba-tiba dia bertanya, sembari mengaduk makanan di hadapannya.
“Surabaya.”
Frolline mengangguk. “Mama tidak merindukan Surabaya?” tanya Frolline, mulai berbasa-basi.
“Tentu rindu, Fro ... tetapi tidak ada siapa-siapa lagi yang tertinggal di sana.”
“Mama tidak memiliki keluarga di sana?” tanya Frolline memberanikan diri.
Mama Ditya mengalihkan pandangannya dari kompor, menatap lekat menantunya. Lama memandang hingga Frolline jengah.
“Semua keluargaku sudah tidak ada, sudah meninggal semua,” ucapnya pelan. Terdengar helaan napas, seakan ada beban berat yang sedang dipikulnya.
__ADS_1
“Aku memiliki dua saudara perempuan. Kami besar bersama, berbagi bersama karena memang kami sama-sama yatim piatu. Sebenarnya kami bukan saudara sedarah, tetapi menjadi saudara saat aku menikah dengan kakak laki-lakinya,” cerita Mama ditya.
Frolline terkejut, tidak jadi memasukan makanan ke dalam mulutnya. Memilih menyimak kisah yang entah kenapa begitu menarik perhatiannya.
“Bagaimana bisa? Mama bukannya menikah dengan Daddy?” tanya Frolline.
“Aku dijual suamiku sendiri pada si tua bangka Halim. Di hari pernikahan, dia menjualku pada si tua Halim untuk hamil Koko.”
“Bagaimana bisa?”
Mama Ditya mengangkat kedua bahunya. “Kami hanya menikah siri.”
“Mantan suami mama?” tanya Frolline, penasarannya butuh jawaban.
“Aku tidak tahu, dia di mana. Aku berharap dia masih hidup, jadi aku bisa membunuhnya dengan kedua tangannya sendiri. Membalaskan dendamku dan dendam dua saudari kembarku.”
Kisah mertuanya benar-benar mengejutkan. Frolline hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Aku kira, hidup keduanya tidak jauh lebih baik dariku. Mereka juga berakhir sama sepertiku. Mereka memiliki kakak yang mengerikan.” Mama Ditya menatap lekat Frolline, ada sesuatu yang ingin disampaikannya. Puluhan tahun tidak bertemu, tentu saja merindukan keduanya yang sekarang sudah tiada.
“Mama tidak mencintai daddy, kenapa bertahan selama ini?” tanya Frolline memberanikan diri.
“Demi memastikan Koko mendapatkan haknya. Koko bukan putra biologis Nyonya Meliana Hadinata, tentu saja cinta yang ditunjukan ke Koko belum tentu sepenuhnya dari hati,” sahut Mama Ditya.
“Aku mohon padamu, Fro. Aku tidak mempermasalahkan Koko memperistrimu, bahkan daddy juga tidak mempermasalahkan. Halim Hadinata mengakui keberadaanmu, tetapi jangan mempersulit Koko. Jangan membuat Koko harus memilih antara keluarganya atau dirimu. Jangan memaksa Koko memilih antara daddy atau istri,” pinta Mama Ditya.
Froliine tertunduk tentu saja dia paham apa yang dimaksud mama mertuanya. Tangannya menggenggam erat sendok, menahan rasa yang menghantamnya tiba-tiba.
“Koko bukan hanya milikmu. Dia juga milikku, milik mommy dan daddy. Koko juga milik Halim Group,” lanjut Mama Ditya.
“Belajarlah dari hubunganku, Nyonya Meliana dan Halim Hadinata. Bukan hanya aku satu-satunya yang berkorban di sini, Nyonya Meliana Hadinata juga berkorban.”
“Maaf, aku tidak bisa membagi suamiku dengan wanita lain.” Frolline menjawab pelan dengan penuh ketegasan.
Wanita yang terlihat cantik dengan celemek hitam putih itu tersenyum. “Mundurlah dengan caramu sendiri kalau memang tidak bisa, menghilanglah dengan caramu sendiri, tetapi jangan membawa Koko menghilang bersamamu.”
Deg— Frolline mengangkat pandangannya.
“Aku akan menganggapmu putriku. Kembali bersamaku ke Jerman. Kamu tidak akan kehilangan Koko, aku berani jamin kamu akan tetap menjadi satu-satunya di dalam hati putraku, tetapi aku tidak bisa menjamin kamu akan menjadi satu-satunya di dalam hidupnya.”
**
TBC
__ADS_1