
Dekapan itu semakin erat, pelukan pun kian menghangat. Raut cemberut yang menghias wajah Frolline perlahan menguap tersapu bayu. Cemburu yang tadi tercetak jelas, perlahan memudar. Seulas senyum secerah cakrawala, seindah bianglala terukir di wajah cantik wanita dengan setelan kerja biru muda.
Rambut pirang keemasan itu tergerai indah, melambai tertiup semilir angin musim kemarau. Ditya bisa mencium aroma menyegarkan bagai candu. Berbeda dengan parfum yang mengisi indra penciumannya sepanjang hari ini.
Membenamakan wajahnya, menikmati lebih dalam. “Fro, ada banyak rinduku untukmu hari ini.” Ditya melempar kata -kata indah itu begitu lancar. Merayu, menggoda berharap meruntuhkan sukma sang wanitanya.
“Jangan marah-marah lagi. Tidak ada wanita manapun, kemarin, hari ini atau esok hari. Hanya kamu, cuma kamu, selalu kamu.” Ditya mengurai kata demi kata itu dengan hembusan napas dalam dan berat.
Kecupan pun berlabuh tak henti di pundak dan pipi merona tersengat hawa panas.
Wajah meredup beberapa menit yang lalu, sekarang sudah berbinar cerah. Frolline membalikan tubuhnya bersiap melontarkan serangan.
“Kenapa Koko menipuku?” tanya Frolline, sisa-sisa kesal masih terlihat di manik mata bening itu.
“Surprise!” Ditya menarik Frolline dan mempersilakan istrinya duduk di kursi yang sudah ditata Matt.
Hanya makan siang sederhana di atas rooftop tetapi pemandangannya sungguh indah luar biasa sepadan dengan sengatan sang surya yang tetap menembus payung biru tempat mereka berteduh.
Sepertiga Jakarta terlihat dari empat penjuru. Sejauh mata memandang, gedung-gedung pencakar langit tanpa penghalang. Salah satu puncak tertinggi di pusat kota, tempat mereka berpijak sekarang benar-benar mempertontonkan seberapa hebatnya kota metropolitan di kala siang.
“Aku ingin melihat sendiri bagaimana istriku saat cemburu.” Ditya berterus terang.
“Manis sekali,” sambung Ditya, ikut duduk di seberang. Tak jauh dari meja mereka sekarang, terparkir helikopter Halim Grup yang biasa digunakan pemiliknya di saat darurat. Ya, rooftop ini juga dilengkapi dengan helipad.
“Koko membuatku berlari menyebrang dari utara ke pusat kota hanya demi cemburu dan makan siang ini?” Kesal berbalut bahagia. Frolline tidak sesungguhnya marah setelah melihat kejujuran Ditya.
“Demi Koko, Fro,” ralat Ditya, menyodorkan buket mawar merah dengan senyuman.
Pandangan beralih pada makanan kesukaan istrinya yang sudah tersaji di atas meja.
“Habiskan makan siangmu, Fro.” Ditya mengisi lauk menutupi nasi putih di atas piring istrinya, kemudian membuka penutup botol air mineral supaya Frolline tidak perlu bersusah payah.
“Bagaimana pekerjaanmu?” tanyanya. Ditya memilih bersandar menatap wanita yang mengisi penuh mulutnya dengan nasi dan lauk.
“Ada sedikit masalah di proyek, Ko. Aku belum begitu paham masalah elektronik. Pekerjaan Koko itu benar-benar membuat aku kewalahan. Sama sekali bukan bidangku,” keluh Frolline.
Memasukan sesendok demi sesendok makanan ke dalam mulut, Frolline begitu menikmati makan siang bersama suaminya.
“Di sini juga bukan bidangku, Fro. Koko juga masih belajar, Sayang.” Menyunggingkan senyuman hangat, berusaha menyemangati.
__ADS_1
“Koko tidak makan?” tanya Frolline heran.
Ditya menggeleng. “Sejak pagi perut Koko protes. Tidak bisa makan apa pun, hanya makan sepotong roti tadi. Mual.”
“Kenapa?” Frolline mengangkat pandangannya.
“Aku suapi?” tawar Frolline lagi.
“Sedikit saja.” Ditya buru-buru membuka mulutnya. Bahagia membuncah, tentu saja dia bahagia saat mendapat perhatian kecil dari wanita yang dicintainya.
Namun kebahagiaan Ditya tak berlangsung lama. Belum juga makanan di mulutnya itu ditelan, perutnya kembali bergejolak.
Berlari menuju toilet, laki-laki itu kembali menumpahkan isi perutnya sampai tak bersisa, sehingga terasa nyeri menusuk ulu hati.
“Ko, kamu baik-baik saja?” tanya Frolline mengekor. Khawatir terpatri di wajah cantiknya. Bagaimana tidak, suaminya tiba-tiba berlari tanpa bicara sepatah kata pun.
“Ko ....” Frolline ikut masuk ke dalam toilet sempit berdua, menepuk punggung kekar yang membungkuk ke arah wastafel bersamaan dengan kucuran air kran.
“Koko baik-baik saja?” ulang Frolline.
“Ya, Koko baik-baik saja. Hanya ada sedikit masalah di lambung,” ucap Ditya pelan. Sedikit lega setelah berhasil menumpahkan semua isi perutnya.
Masih mengusap wajah basahnya dengan sapu tangan merah maroon, laki-laki itu menggeleng.
“Koko cuma membutuhkan pelukanmu.” Tiba-tiba merengkuh erat tubuh Frolline dan mengecup lembut bibir dengan lisptik merah muda itu tanpa permisi. Laki-laki itu mencari tempatnya bermanja.
Hampir lima menit keduanya berbagi rasa, saling membelit lidah. Napas keduanya memburu, dengan tangan saling mengusap dan mendekap erat. Frolline yang mulai terbiasa, sekarang tidak pernah protes atau ragu- ragu setiap sang suami meminta lebih.
Keintiman itu terhenti saat Matt tiba-tiba bersuara, kemudian melempar kata maaf setelahnya.
“Maaf Bos. Aku tidak tahu kalau ....” Asisten itu bergegas menjauh. Menunggu di tempat yang tak terlihat. Berjongkok menunggu sang majikan dengan sekantong rujak buah pesanan Ditya.
“Ko, Matt mencarimu.” Frolline mendorong pelan tubuh kekar suaminya.
“Biarkan saja, memang tugasnya menunggu. Selalu begitu."
"Ko ...."
"Ya, pekerjaannya memang menungguku, Sayang. Apa kamu tidak ingat, malam pertama kita, Matt menunggu di depan kamar dengan beberapa bodyguard.” Ucapan Ditya sontak membuat Frolline merona malu.
__ADS_1
“Harus seperti itu?” tanyanya dengan polos.
“Tidak selalu, hanya saja ke depan kamu harus siap kalau ada yang mengikutimu ke mana-mana, selain Zoe tentunya."
“Maksud Koko?” tanya Frolline.
“Kemari. Ikut Koko, kita bicarakan di luar, jangan di toilet seperti ini. Nanti orang-orang berpikir Presdir Halim Group sedang berbuat mesum di toilet."
"Saat rapat pemegang saham, Koko bisa jadi bahan gosip para Komisaris.” Ditya mengenggam tangan Frolline dan membawanya kembali duduk.
“Daddy masih belum merestuimu.” Ditya memulai pembicaraan setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman.
“Dan ... daddy masih ingin meneruskan perjodohan Koko dengan Sandra,” lanjut Ditya lagi.
“Lalu, aku harus bagaimana lagi supaya daddy mau menerimaku?” tanya Frolline dengan pasrah.
“Tetap di samping Koko, tetap percaya pada Koko, tetap genggam tangan Koko,” tegas Ditya.
Frolline menghela napas kasar. Terik matahari mengalahkan panas hatinya saat ini, apalagi saat kata perjodohan itu terucap kembali.
“Kalau ... seandainya ... daddy memaksa. Koko bagaimana?” Memberanikan diri bertanya, Frolline sudah tertunduk dengan kedua tangan saling meremas di atas pangkuan.
Mungkin ini saatnya berterus terang pada sang istri akan rencananya dan Sandra. Setelah melihat wajah memelas Frolline rasanya tak tega kalau harus menutupi semua dan menggali luka lama di hati Frolline yang sampai sekarang belum sembuh benar. Setelah Firstan mengecewakannya, Ditya benar-benar ingin menjaganya. Ditya tidak ingin membuat luka itu kembali menganga.
Laki-laki tampan itu terlihat berlutut di depan Frolline. Merengkuh tangan yang sejak tadi meremas dan menggengamnya erat.
“Fro ... Koko. akan membuat surat nikah palsu dengan Sandra. Dan ....”
“Aku tidak mau, Ko,” tolak Frolline dengan manjanya.
"Nyata atau pura-pura, aku tidak mau Koko menikah lagi." Frolline merengkuh erat leher sang suami yang sedang berlutut di hadapannya.
Matt yang duduk di lantai dengan sekantong rujak buah di tangan hanya menggelengkan kepala.
"Wanita memang sulit ditebak. Saat kita mendekat dia menjauh, saat kita menjauh dia mengikat leher begitu erat, sampai kesulitan bernapas.
"Semoga Ran-Ran tidak menyusahkan Aa Teo, cukup ayah daddy mertua saja yang menyulitkan. Minta dihadiahkan batu akik merah delima yang warnanya hitam kebiru-biruan. Di mana calon menantumu ini bisa menemukannya untukmu, ayahanda tercinta."
***
__ADS_1
TBC