
Ditya melangkah masuk setelah melewati dua orang security. Tanpa menunjuk undangan, ia bisa melenggang masuk ke dalam. Selain karena sudah sering keluar masuk ke tempat itu, para pekerja di sana sudah sangat hafal hubungan Ditya yang adalah teman baik pemilik tempat itu.
Dentuman musik terdengar begitu kencang, seorang disc jokey cantik dengan pakaian seksi berdiri di tengah podium dengan perlengkapan perangnya. Suasana tidak terlalu ramai, karena memang acara tertutup untuk umum.
Ditya bisa mengenali wajah-wajah familiar yang tak lain adalah rekan dan sahabatnya. Sebagian juga teman sesama pebisnis yang tergabung di klub motor gede dan mobil sport. Ada juga sesama rekan di klub golf. Ah, ia baru menyadari kalau terlalu lama menarik diri pergaulannya sejak bersama Frolline. Biasanya waktu malam dihabiskan bersama mereka, sekarang dihabiskan berdua dengan istrinya.
Ada yang datang sendiri, ada juga ditemani wanita cantik yang khusus dibawa mereka dari luar. Sebagian adalah kekasih, teman dekat dan sahabat.
“Bro!” seru Ditya, menepuk pundak rekannya sekaligus pemilik tempat. Selain itu temannya ini juga si pemilik acara malam ini. "
“Wow, Mr. Lim. Apa kabar? Kamu datang juga. Aku sudah pesimis tadinya saat mengirim undangan.”
“Baik. Aku kebetulan ada waktu.” Ditya menjatuhkan tubuhnya di atas kursi bar, menemani temannya yang sedang menikmati segelas wiski.
“Kebanggaan untukku, Bro.” Sang teman ikut menepuk bahu yang terbungkus kaos putih.
“Martini or bloody mary?” tawarnya lagi pada Ditya, menyebut dua minuman kesukaan Ditya
Ditya terkekeh. Sejak menikah dengan Frolline, ia meninggalkan semua minuman. Sudah berjanji pada istrinya, di depan atau di belakang tetap saja ia tidak akan mencurangi Frolline.
“Orange juice em ... potatoes and fries!” seru Ditya, membuat temannya terbahak seketika.
“Kamu serius? Ya Tuhan, aku seperti melihat orang lain. Bukan Ditya Lim yang duduk di sini,” ucapnya menempelkan punggung tangan di kening sahabatnya.
Meskipun begitu, ia tetap meminta seorang pelayan untuk menyiapkan pesanan yang disebutkan Ditya. Beberapa bulan tidak bertemu, banyak perubahan yang terlihat jelas dari rekannya ini.
“Dalam rangka apa?” tanya Ditya, mengedarkan pandangan ke sekeliling.
“Tidak ada. Sebentar lagi kita akan touring lagi ke Sumatera. Kamu sudah lama tidak aktif, tentunya ketinggalan banyak berita. Bagaimana kabar Sandra? Kalian jadi menikah, kan?”
Ditya menggeleng.
“Aku sudah menikah, Bro. Bukan dengan Sandra,” tegas Ditya. Sontak membuat teman bicaranya terbelalak.
“Serius?” tanyanya tidak percaya. Selama ini tidak ada kabar berita, tiba-tiba menyimpan kabar gembira diam-diam.
__ADS_1
“Congratulation! Aku harus mengumumkannya pada mereka semua,” ucapnya memeluk Ditya. Kebahagiaan terpancar jelas, sembari menunjuk ke beberapa rekan lain yang sedang mengobrol.
Baru saja hendak berdiri, ujung mata teman Ditya itu menangkap kehadiran Sandra yang melangkah masuk ditemani seorang gadis cantik dengan sejuta pesona. Ketenaran yang membuatnya melanglang buana di media.
“Sandra!” sapanya setengah berteriak. Melambaikan tangan meminta gadis itu mendekat.
“Apa kabar? Aku kira kamu tidak datang,” ucapnya, segera memeluk dan melabuhkan kecupan di pipi kiri dan kanan. Selanjutnya melakukan hal yang sama pada rekan Sandra.
“Honey, kamu datang juga?” tanya Sandra, mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Frolline.
“Ya, Frolline sedang ada urusan. Jadi tidak menemani.” Ditya ikut berdiri, memeluk gadis berambut pendek itu tanpa canggung. Seakan tahu arti sorot mata Sandra yang menyapu seluruh sudut ruangan.
“Hai, saya Vica,” sapa teman Sandra memperkenalkan diri. Menyodorkan tangannya sembari tersenyum manis.
“Hai, Ditya Halim Hadinata,” ucap Ditya, ikut memperkenalkan diri, menyambut tangan menggantung di depannya.
“Yang ini sudah sold out, Vic. Jangan didekati. Sudah ada yang punya,” seloroh Sandra, setengah bercanda. Menunjuk ke arah Ditya, mengulum senyuman.
“Kenapa tidak diajak ke sini? Paling tidak, istrimu tahu kehidupanmu sebenarnya seperti apa. Bukankah dia jadi bisa belajar, memahami dan beradaptasi,” jelas Sandra.
“Baiklah aku tinggal dulu. Titip salam untuk Om dan Tante,” ucap Sandra sebelum menggandeng temannya pergi.
Setelah menghabiskan segelas jus jeruknya, Ditya lebih banyak mengobrol dengan para sahabat. Ada banyak gadis cantik dan berkelas menemani mereka. Dari model papan atas sampai putri konglomerat dan sosialita kelas atas.
Tidak banyak pembicaraan serius, hanya membahas tipis tentang bisnis dan kegiatan di klub mobil sport. Sebagian bersenang-senang dengan para gadis yang dibawanya. Sebagian lagi memilih menghabiskan waktu bermesraan dengan kekasih atau teman wanitanya.
Mengobrol dengan teman-temannya, Ditya bisa melupakan sejenak masalahnya dengan Frolline. Bahkan ia menonaktifkan ponselnya, tidak mau diganggu oleh hal-hal yang bisa membuat kepala pusing. Bahkan ia berpesan pada Matt untuk tidak mengganggunya dengan alasan apa pun.
Obrolan santai itu baru berakhir setelah hari berganti. Tepat pukul 02.10, Ditya memutuskan pulang. Begitu keluar dari pintu, Ditya terkejut dengan kehadiran Matt yang nyaris tertidur menunggunya.
“Ada apa Matt?” tanya Ditya, heran.
“Em ... Nyonya menunggu di bawah. Menelepon berulang kali, aku tidak berani mengganggumu, Bos.” Matt mengadu.
“Kenapa tidak mengabariku? Di mana Fro sekarang?” cerca Ditya. Matanya membulat, menahan kesal begitu mengetahui kalau istrinya menyusul.
__ADS_1
“Menunggu di mobil. Di parkiran bersama Zoe,” jelas Matt.
“B’rengsek kamu, Matt! Harusnya katakan padaku sejak awal,” omel Ditya. Tanpa bertanya lebih jauh lagi, berlari menuju parkiran untuk menemui istrinya. .
Di belakangan, mengekor Matt sambil mengumpat dalam hati. Kesal saat Ditya melempar amarah padanya. Sebelum masuk ke dalam, ia mendengar jelas perintah atasannya itu.
“Kalau sudah begini, semua orang disalahkan!” gerutu Matt dalam hati. Ingin rasanya mengamuk, tetapi tidak berani karena apa pun yang terjadi atasan selalu benar dan bawahan tidak pernah salah.
***
Frolline sudah tertidur di kursi belakang saat seseorang membuka pintu mobil tanpa permisi. Kantuk sudah terlalu mendominasi, ia tidak memiliki semangat untuk membuka mata. Zoe, sang sopir sedang mengobrol dengan Han tak jauh dari mobil mereka terparkir.
“Fro, kenapa tidak memberitahu Koko kalau kamu menunggu di sini?” tanya Ditya, merengkuh pundak istrinya. Terselip rasa bersalah di nada bicaranya. Apa lagi saat melihat wanita yang dicintainya kelelahan dan terlelap.
“Hmmmm.”
“Kenapa tidak masuk ke dalam, Fro?” tanya Ditya, menatap lekat wajah mengantuk istrinya. Hilang sudah kesalnya, lenyap sudah kecewanya. Berganti rasa iba yang menyelimut relung hatinya. Menghantam egi yang dipupuknya beberapa jam yang lalu.
“Koko sudah selesai?” tanya Frolline, dengan suara serak. Matanya mengerjap beberapa kali, kemudian terpejam lagi. Berjam -jam menahan kantuknya, ia menyerah setengah jam yang lalu. Dan meminta Zoe untuk menunggu sang suami.
“Ya, maafkan Koko. Harusnya menunggu di rumah saja. Kamu sudah makan?” tanya Ditya lagi.
Bukan mendapat jawaban, Frolline membelitkan tangannya ke pinggang suami, merebahkan tubuhnya di dalam pelukan Ditya.
“Fro ....”
“Aku mengantuk. Mau tidur,” sahutnya, mengulum senyuman. Tampak nyaman dan tenang, menikmati aroma parfum lelakinya. Mendengar alunan detak jantung Ditya yang teratur, membuat tidurnya semakin dalam dan lelap.
“Fro, maafkan Koko,” bisik Ditya, mengecup pelan puncak kepala istrinya.
***
TBC
Love you all
__ADS_1
Terima kasih.