Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 51 : Tidak ada lagi yang tersisa


__ADS_3

Setelah memastikan Frolline sudah tidak ada di Surabaya, Ditya bergegas terbang ke Jakarta. Informasi dari orangnya Halim, istrinya itu naik kereta api menuju ke Jakarta pukul 08.00 pagi tadi. Diperkirakan tiba di Stasiun Gambir pukul 17.00 sore nanti.


Mendengar informasi itu, Ditya tercekat. Sedikit lega, karena istrinya baik-baik saja. Disisi lain, dia sedih membayangkan bagaimana istrinya sepanjang malam di luaran, sendirian dan kedinginan.


“Dad, aku pamit,” ucap Ditya sesaat sebelum meninggalkan rumah mewah mereka.


Halim mengangguk, duduk santai menikmati rumput hijau di taman belakang.


“Jangan lupa pernikahanmu!” ujar Halim mengingatkan.


“Sudah kukatakan berulang kali, aku tidak mau menikah. Jangan menungguku!” sahut Ditya.


“Aku tidak akan datang,” ancam Ditya, melenggang meninggalkan sang daddy tertegun ditemani asistennya, Joe.


***


Cuaca Surabaya siang itu terbilang panas. Iringan mobil Ditya dan para asistennya terlihat masuk ke area bandara, tempat dimana jet pribadi keluarga terparkir sejak beberapa hari yang lalu. Masih dengan setelah mahalnya, lelaki itu melangkah keluar dari mobil sedan hitamnya.


Saat hendak masuk ke dalam bandara, terdengar suara feminim menyapa dari belakang.


“Honey!” sapa perempuan berambut pendek diwarnai pirang. Senyum merekah, seperti biasa. Elegan dan tampil cantik dengan outfit simplenya.


Ditya menghentikan langkahnya, menoleh pada sumber suara.


“Sandra,” sahut Ditya memastikan penglihatannya tidak salah.


Gadis itu mengulas senyum, dan Ditya berjalan menghampiri. “Apa kabarmu? Maaf untuk pertemuan terakhir kita,” sapa Ditya, membalas pelukan Sandra, sekaligus berbasa basi menjaga sopan dengan mencium pipi kiri dan kanan gadis itu.


“Baik. Dimana istrimu?” tanya Sandra, melepas pelukannya. Mengedar pandangan, mencari sosok Frolline di sekitar lelaki tampan itu.


Ditya tersenyum. “Istriku ada keperluan mendadak. Semalam, dia sudah kembali duluan ke Jakarta,” sahut Ditya santai.


“Coffee?” tawar Ditya, melihat sebuah gerai starbucks’ tidak terlalu jauh dari tempat mereka.


“Oke!”


***


Keduanya sudah duduk berhadapan dengan gelas kopi tersedia di atas meja. Hiruk-pikuk aktivitas di bandara, sedikit membuat suasan tidak nyaman untuk berbincang pribadi. Matt dan Zoe, asisten Ditya terlihat mengambil kursi yang tidak terlalu jauh majikannya, bergabung dengan asisten Sandra yang sejak tadi juga mengekor atasannya.


“Mau pulang ke Bangka Belitung?” tanya Ditya, memulai pembicaraan. Mengangkat gelas kopi dan menyesapnya dengan penuh kenikmatan.


Sandra menggeleng. “Aku akan lama di Jakarta. Mau belajar bisnis dengan koko. Setelah itu baru kembali ke Pangkalpinang,” sahut Sandra.

__ADS_1


“Mau membuka perusahaan baru?” tanya Ditya, heran.


“Belum tahu, Honey. Papi memintaku mengurus bisnis pertambangannya di Bangka, tetapi aku tidak berminat. Ingin mencoba bisnis baru yang mendekati passionku,” jelas Sandra ikut menyeruput kopi di tangannya.


“I know. Seperti yang aku rasakan. Lebih enak memulai bisnis dari nol dengan usaha sendiri. Dibanding meneruskan perusahaan keluarga. Benar bukan?” tanya Ditya terkekeh.


Sandra mengangguk. “Ada beban ketika kita meneruskan apa yang sudah dibangun orang tua. Kalau kita sukses, orang-orang akan mengatakan. Wajar saja sukses, kita tinggal meneruskan apa yang sudah ada,” ujar Sandra menirukan.


“Namun, saat kita gagal, kita akan menjadi sorotan dunia,” lanjut Sandra.


“Yup, dan beban terberat. Kita seperti menargetkan diri kita sendiri, harus bisa lebih hebat dari pencapaian yang sudah diraih orang tua kita sebelumnya.” Ditya menambahkan.


Sandra mengangguk. “Ya, dan itulah alasan kedua kokoku memilih membangun usahanya sendiri. Terbukti mereka tidak terbebani.”


“By the way, kapan-kapan kenalkan istrimu padaku. Siapa tahu kami berdua cocok,” ujar Sandra.


“Sebelumnya. Congratulation untuk pernikahanmu,” ucap Sandra, menyodorkan tangannya.


“Terimakasih,” sahut Ditya menyambut uluran tangan gadis manis di depannya.


Terlihat Ditya terdiam sejenak. “Bagaimana pertunangan kita?” tanya Ditya akhirnya. Setidaknya dia harus membahasnya berdua.


Sandra tertawa. “Batalkan saja, Honey. Aku tidak keberatan. Sebenarnya aku sudah memiliki calon di Amerika. Sama sepertimu, untuk mendapatkan restu itu tidak semudah membalik telapak tangan,” jelas Sandra.


“Oh ya?” Ditya tidak menyangka.


“Iya, sekarang dia sedang belajar bisnis,” sahut Sandra meyakinkan.


“Oh ya, komunitasku akan mengadakan charity. Mau ikut bergabung. Kamu bisa mengajak istrimu,” cerita Sandra.


“Kamu bisa menyumbang apapun. Dana, buku-buku, atau alat sekolah. Sasaran kita itu untuk sekolah-sekolah di daerah tertinggal. Khususnya Indonesia Timur, yang tidak terjangkau oleh program pemerintah,” lanjut Sandra.


“Pribadi atau perusahaan?” tanya Ditya.


“Pribadi. Ini bukan ajang pencitraan seperti komunitasmu baru-baru ini mengadakan charity dan touring di Bali,” sindir Sandra, tertawa.


“Bukan pencitraan, Dear. Saling menguntungkan,” sahut Ditya, tawanya pecah.


“Oke, aku harus terbang,” pamit Ditya, berdiri dan memeluk Sandra.


“Bye, sampaikan salamku untuk istrimu.”


***

__ADS_1


Frolline baru saja turun dari stasiun Gambir saat hari mulai petang. Ada keterlambatan, sehingga sedikit mundur dari jadwal yang seharusnya. Melangkah pasti mencari taksi, dia berencana kembali pulang ke rumah lamanya.


Tidak mau bergantung lagi pada Ditya. Lelaki yang berstatus suaminya itu terlampau menyakiti perasaannya. Melukai hatinya begitu dalam.


Ingin rasanya menangis, di kala tidak memiliki siapa siapa tempat bersandar, berharap Ditya akan menjaga dan melindunginya, tetapi yang terjadi sebaliknya. Bahkan lelaki itu yang membuatnya terpuruk dan terhina.


Sampai di dalam taksi, Frolline masih meratapi nasibnya. Tidak berani menangis, hanya memendam semua luka di dalam hati.


Saat taksi yang ditumpanginya berhenti di rumah lama mereka, Frolline terkejut. Rumah itu gelap pekat, tidak ada cahaya kehidupan disana. Ketika berdiri di gerbang pagar, lagi-lagi Bella terperanjat. Bahkan pagar rumah digembok dengan rantai.


“Apa Kak Angell sudah tidak berkunjung kesini,” tanya Frolline, berucap sendiri. Menarik rantai besi yang melingkar, mengunci pagar dengan gembok baja berukuran raksasa. Usahanya sia-sia, rantai itu tidak bergerak sedikitpun, bahkan tangannya yang kotor dan memerah.


Merasa tidak bisa masuk ke dalam, Frolline memutuskan menemui Marisa, di rumah. Lagi-lagi harus menyetop taksi, dengan sisa uang yang dijarahnya dari dompet Ditya. Membayangkan bagaimana nasibnya ke depan. Selama ini dia hanya memiliki keluarganya, tetapi sekarang semua keluarganya sudah pergi. Tidak ada yang tersisa.


***


Frolline berdiri menahan gugup, menekan bel pintu rumah Marisa. Banyak rasa berkecambuk di dalam hatinya. Pasti Marisa heran dengan kehadirannya yang tiba-tiba di rumah.


Bel pertama tidak mendapat respon, Frolline baru akan menekan kembali. Namun kali ini nasibnya cukup beruntung. Telunjuknya masih mengambang saat daun pintu jati itu membuka lebar.


“Fro..?” sapa Firstan heran dengan kehadiran Frolline yang tiba-tiba.


“Mami ada?” tanya Frolline, menerobos masuk tanpa permisi.


“Mami sedang keluar. Ada apa?” tanya Firstan bingung dan heran. Apalagi begitu masuk ke dalam rumah, dia bisa melihat jelas tampilan Frolline. Lusuh dan berantakan.


“Kak Angell?” tanya Frolline kembali.


Firstan mengerutkan dahinya. “Kamu tidak tahu? Kak Angell tadi siang sudah terbang ke Inggris, melanjutkan kuliahnya,” sahut Firstan, membuat Frolline melongo.


“Lalu, kunci rumah lama kami dibawa Kak Angell? Atau dititipkan pada mami?” tanya Frolline.


“Perusahaan bagaimana?” tanya Frolline lagi.


“Semua dijual Angell, tidak ada lagi yang tersisa,” sahut Firstan.


***


T b c


Love You all


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2