Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 63 : Perayaan ulang tahun perusahaan


__ADS_3

Bertempat di salah satu hotel bintang lima, di Jakarta, perayaan ulang tahun Halim Group itu digelar. Sejak sore, EO berkoordinasi dengan tim yang di bentuk khusus oleh pihak perusahaan sudah berada d tempat acara untuk memastikan acara tahunan yang biasanya dhadiri oleh pemilik, para petinggi perusahaan serta kolega dan kerabat itu berjalan lancar.



Seluruh direktur anak perusahaan yang bernaung di bawah bendera Halim Group hadir, baik yang di Jakarta maupun di luar Jakarta. Gelaran perusahaan yang biasanya dilakukan setiap tahun ini menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Halim menggelontorkan dana mencapai ratusan juta hingga milyaran untuk pesta dan akomodasi termasuk hotel dan lain-lainnya.


Sore itu, Ditya memilih hadir lebih cepat untuk menyapa kedua orang tuanya yang sejak tadi siang sudah tiba di hotel yang sama.


Masih dengan menggengam tangan Frolline, Ditya sudah berdiri di depan kamar tempat daddynya beristirahat. Dua orang pria berbadan kekar dengan kaos hitam menunggu di pinggir pintu kamar, sembari membungkuk.


“Tuan muda,” sapa keduanya bersamaan.


“Daddy ada?”


Salah satu bodyguard Halim tampak mengetuk pintu kamar perlahan. Tidak butuh waktu lama, Joe muncul dari balik pintu dan tersenyum menatap sepasang suami istri yang saling mengenggam tangan di depannya.


“Tuan muda.” Senyum manis sembari mempersilakan tamu majikannya masuk. Tamu yang sejak siang sudah ditunggu Halim.


Frolline berjalan perlahan, mengeratkan genggaman tangannya yang basah. Ditya tahu, saat ini istrinya sedang gugup dan ketakutan. Dia bisa merasakan genggaman tangan yang basah dan berkeringat.


“Dad ....” Ditya menyapa terlebih dahulu. Pria tua itu sedang duduk dengan tuxedo yang belum terpasang sempurna.


“Kamu sudah datang, Tuan muda Halim.” Menyeringai tipis menatap Frolline yang mengkerut, menyembunyikan sebagian tubuhnya di belakang sang suami.


“Dad ....” Frolline ikut menyapa. Suaranya terdengar gemetar, ada aura ketakutan tersimpan di sudut hatinya.


“Kamu datang juga, Gadis tidak tahu aturan!” Halim mengalihkan pandangannya pada sang putra.


“Dad, Fro ingin menyampaikan sesuatu.” Ragu-ragu, Ditya bersuara mengedar pandangan, menyapu kamar mewah tempat daddynya menginap. Di sudut ruangan terlihat dokter pribadi Halim, sudah rapi dengan setelan jas formalnya.


“Dad ... aku minta maaf untuk sikapku tempo hari. Aku tahu aku salah, sudah bertindak tidak sopan.” Kalimat itu meluncur juga, meski dengan susah payah.


“Baguslah kalau kamu tahu.” Halim mengibaskan tangannya, pertanda mengusir.


Perilaku Halim, sontak membuat Ditya meradang. “Dad!!” Ditya memanggil dengan intonasi cukup keras.


“Dia istriku! Apa maksud daddy mengusirnya?” tanya Ditya, tidak terima.


“Sudah aku jelaskan berulang kali, dia istrimu tetapi dia bukan menantu keluarga Halim. Kalian boleh keluar sekarang,” usir Halim, berbalik dan meminta Joe membantunya kembali berpakaian.


***


“Ko ....” Frolline mengantungkan ucapannya, menatap Ditya sembari menarik gaun panjangnya dengan kedua tangan, kerepotan dengan hak tinggi yang sebentar-sebentar menginjak ujung gaunnya.

__ADS_1


“Kenapa Schatzi Sayang.” Ditya tersenyum. Berlutut merapikan ujung gaun istrinya yang menjuntai. Tanpa diminta, lelaki itu membantu Frolline mengangkat gaun putihnya.


“Bagaimana kalau daddy mempermalukanku di tengah keramaian?” tanya Frolline, menyimpan kekhawatiran.


Senyum menenangkan terukir di bibir Ditya, lelaki itu merengkuh lengan istrinya dan membawa Frolline ke kamar di sebelah kamar daddynya. Mengetuk pelan, sambil menyapa ringan.


“Mom, ini Koko,” ucapnya memberitahu di depan pintu.


Tak lama muncul seoarang wanita muda tersenyum dan membungkuk pada keduanya.


“Nyonya sudah menunggu di dalam.” Wanita yang tak lain asisten Nyonya Halim mempersilahkan.


Begitu masuk ke dalam, keduanya sudah disambut senyuman hangat sang mommy dalam balutan cheongsam mahal, yang sudah didandan cantik oleh tim MUA.


“Mom, apa kabar?” sapa Ditya, memeluk dan mengecup kedua pipi Nyonya Halim. Perlakuan serupa juga dilakukan Frolline yang mengekor suaminya.


“Mommy baik-baik saja.”


“Apa kabarmu?” tanya Nyonya Halim, meraih tangan Frolline dan mengajaknya duduk di sisi tempat tidur.


Baik, Mom.”


“Sudah berapa lama kalian menikah? Mommy lupa,” ucapnya tersenyum menatap Frolline yang terlihat cantik saat ini.


“Baru mau bertanya, sudah ada tanda-tanda cucuku belum di dalam sini,” ujarnya mengusap perut rata Frolline.


“Belum Mom. Mommy tolong ajarkan pada istriku bagaimana caranya supaya bisa cepat hamil,” sahut Ditya dengan santai, tanpa malu-malu sedikitpun. Mendengar ucapan suaminya Frolline merona malu., seperti ditelanjangi.


Nyonya Halim terbahak, bukannya dia tidak tahu bagaimana kelakuan Ditya saat bersamanya. Perempuan dengan cheongsam merah menyala itu terlihat memanggil asistennya. Meminta wanita yang tadi membukakan pintu itu mengambil sesuatu di dalam koper.


Sebuah kotak perhiasan berlapis beludru merah berukuran besar disodorkan sang asisten pada majikannya.


“Ini untukmu.” Nyonya Halim membuka kotak perhiasan itu dan menunjukannya untuk Frolline.


Satu set perhiasan berlian yang berkilauan, yang Frolline tahu pasti harganya tidak murah. “Apa ini, Mom?” tanya Frolline kebingungan.


“Ini hadiah pernikahanku untukmu. Pakaikan untuk istrimu, Ko.”


Nyonya Halim memerintahkan Ditya membantu Frolline melepas perhiasan sederhana yang melekat di tubuh menantunya dan mengganti dengan perhiasan yang baru saja dihadiahkannya.


“Cantik sekali. Cocok untukmu.” Nyonya Halim memberi komentar.


“Ini pasti mahal,” ucap Frolline, mengusap liontin yang baru saja menggantung di lehernya.

__ADS_1


“Menantu Halim sangat berharga, satu set perhiasan ini masih belum ada apa-apanya,” bisik Ditya pelan di telinga sang istri saat baru selesai memasangkan pengait di leher Frolline.


Nyonya Halim terlihat memegang sebuah map, kemudian menyerahkannya pada Frolline.


“Ini apa Mom?” tanya Frolline, membuka map hitam yang baru diserahkan mama mertuanya.


“Aku menghadiahkanmu saham milikku sebesar sepuluh sepuluh persen di Halim Group,” jelas wanita tua itu lagi.


Ditya terkejut. Segera memeluk sang mommy dengan penuh haru. Dengan memiliki saham di Halim Group secara otomatis daddynya tidak bisa mengusir Frolline begitu saja. Kecupan beruntun dihadiahkan Ditya di pipi wanita yang 35 tahun ini menjadi mommynya.


“Jangan nakal lagi. Sudah menikah, sudah harus serius mengurus perusahaan. Jangan main perempuan di luar sana,” ucap Nyonya Halim, menepuk lembut tangan Ditya yang merangkul pundaknya.


“Mommy tidak memberitahu daddymu. Biarkan saja, nanti di rapat pemegang saham, semuanya akan terbuka.”


Nyonya Halim beralih menatap Frolline, mengenggam tangan menantunya. “Masuk di keluarga ini tidak mudah, belajarlah Fro.”


“Ya, Mom.”


“Kapan kalian akan ke Jerman? Bukankah seharusnya kalian juga meminta restu secara langsung pada mamamu, Ko.”


“Dalam minggu ini, Mom.”


“Titip salamku untuk mamamu, Ko. Mommy berharap suatu saat kami bisa bertemu dan mengasuh cucu kami bersama.”


***


Tepat pukul tujuh malam, ballroom tempat acara ulang tahun perusahaan itu sudah dipenuhi tamu undangan dan karyawan perusahaan. Alunan musik mengiringi perhelatan akbar Halim Group, yang dipenuhi dengan para tamu pria berjas hitam dan para wanita bergaun malam.


Halim yang sudah datang terlebih dulu, tampak berbincang dengan beberapa rekan bisnis dan koleganya, didampingi asisten dan dokter pribadinya. Sang nyonya sendiri terlihat duduk di meja utama tepat di depan mimbar.


Frolline masih mengandeng lengan Ditya dengan erat, sembari berkenalan dengan rekan-rekan bisnis Ditya yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Baru saja Ditya selesai mengenalkan Frolline pada salah satu direktur rumah sakit yang bernaung di Halim Group, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara manja memanggil.


Sontak keduanya berbalik.


“Honey, apa kabarmu?” tanya gadis cantik bak model papan atas, terlihat anggun dan seksi dengan gaun malam hitam menjuntai. Belahan dada rendah seakan gundukan kembar di dalamnya akan berontak keluar dan tumpah.


Ditya menelan ludah. Bersusah payah dia menyingkirkan gadis ini beberapa hari yang lalu. Meminta Matt membungkam media supaya foto-foto ciumannya tidak tersebar lagi, tetapi saat ini gadis itu sudah berada di depan matanya.


“Schatzi ....” panggil Ditya, mengkerut ketakutan saat melihat tatapan Frolline yang mematikan. Bola mata istrinya hampir melompat keluar, menatap sinis padanya.


Matt dan Zoe yang berdiri tidak jauh dari majikannya hanya bisa tertunduk. Tidak sanggup melakukan apa pun. Kedua asisten itu tidak memiliki wewenang apa pun di sini.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2