Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 131 : Perjuangan melahirkan 2


__ADS_3

“Dad, Fro mau melahirkan. Kami sudah di rumah sakit sekarang.” Ditya berbicara pada sang ayah melalui ponselnya. Suaranya melemas, hampir putus asa. Selisih waktu London - Jakarta terpaut tujuh jam di saat musim gugur dan winter, berarti di Indonesia saat ini pukul 15.00 sore. Halim masih beristirahat di kamarnya saat Joe membangunkannya.


“Hah!” Halim yang masih setengah sadar, tiba-tiba tersentak.


Asisten Halim itu terpaksa membangunkan majikannya saat mendengar suara Ditya.


“Bagaimana keadaannya? Apa semua baik-baik saja?” tanya Halim, memijat pelipis. Kepalanya berdenyut saat memaksa diri untuk duduk tiba-tiba.


“Tidak, Dad.” Ditya menumpahkan perasaannya. Sejak tadi berusaha memendamnya seorang diri demi terlihat kuat dan baik-baik saja di depan Frolline.


“Mamamu sudah tiba di sana?” tanya Halim, suaranya terdengar panik.


“Belum. Masih mengurus dokumennya. Kemungkinan setelah Frolline melahirkan, mama baru bisa datang ke London.”


“Si Lily ... sudah diingatkan jauh-jauh hari. Dikiranya ke London itu sama seperti saat dia pulang ke Mulyorejo, tinggal angkat koper!” omel Halim.


“Daddy dan mommy-mu tidak bisa ke London. Umur dan kondisi fisik sudah tidak memungkinkan untuk duduk di pesawat selama belasan jam.” Halim menjelaskan.


“Ya, Dad. Aku mengerti.”


“Lalu bagaimana dengan Frolline?” tanya Halim mencari tahu.


“Dari pukul 04.00 kemarin pagi, Fro sudah merasakan sakit perut. Hanya saja, kita baru bisa masuk ke rumah sakit itu sekitar pukul 21.00 malam. Pukul 04.00 pagi tadi, ketubannya dipecahkan dokter ....” Jeda sejenak, Ditya menghela napas.


“Sampai sekarang pembukaan masih tetap, belum bertambah. Masih pembukaan enam.” Ditya menjelaskan.


“Terus harus bagaimana ini? Jangan pikirkan uang, yang penting istri dan anakmu selamat. Ikuti saran dokternya.” Halim menegaskan.


“Kondisi Fro sudah mulai drop. Sempat diberikan painkiller yang menggunakan gas, tetapi tidak mempan. Jadi dokter menyarankan suntik epidural. Kalau sampai jam satu siang ini masih tetap tidak ada penambahan bukaan, Fro harus caesar. Kalau sebelum jam satu ini bisa mencapai pembukaan delapan, kemungkinan bisa melahirkan normal.” Ditya bercerita.

__ADS_1


“Ya sudah, aku tidak bisa apa-apa. Hanya bisa membantu lewat doa. Nanti aku akan ke rumah abu kakek dan nenekmu, mengabarkan kelahiran cicitnya dan meminta kelancaran proses kelahiran Frolline.” Halim tertegun sejenak. Kalau boleh jujur perasaannya juga tidak tenang. Saat ini keduanya sedang di negeri orang, tidak ada siapa-siapa yang membantu.


“Sampaikan ke istrimu, doaku selalu menyertainya.” Halim menyadari sesuatu. Di tradisi mereka, saat ada anggota keluarga yang melahirkan, tidak boleh ada sesuatu yang mengganjal. Yang bisa saja menghambat proses kelahiran. Akhirnya sebagai orang tua, ia memutuskan mengurai simpulan yang dibuatnya sendiri. Semoga dengan restunya, proses kelahiran itu akan berjalan lancar.


Teringat dulu saat Meliana melahirkan Marisa, kedua orang tuanya membuka pintu dan jendela rumah lebar-lebar, bahkan termasuk pintu lemari di rumah. Entah apa maksud dan tujuannya, Halim hanya mengikuti pendahulunya. Kali ini, ia mencoba membuka pintu hatinya untuk sang menantu.


“Baiklah, Dad. Maaf mengganggu istirahatmu.”


“Ya sudah. Kabari aku kalau terjadi sesuatu.” Halim berpesan sebelum mematikan sambungan telepon.


***


Masuk kembali ke dalam ruangan setelah menghubungi Halim, mamanya dan Marisa untuk berbagi kabar, Ditya kembali berdebar saat melihat wajah kesakitan istrinya. Frolline berbaring menyamping dengan berbagai selang dan alat medis menempel di tubuhnya.


Di punggung istrinya ada selang kecil menempel dan tersambung ke punggung bagian bawah, tempat menyalurkan obat-obatan yang membuat rasa sakit sedikit berkurang. Di lengan Frolline juga terlilit tensimeter. Belum obat-obatan dan infus yang disalurkan melalu jarum yang tertancap di punggung tangan. Di ujung jari tengahnya pun terjepit alat yang terhubung dengan monitor.


“Hmmm.” Frolline bergumam sambil membuka matanya.


“Are you okay?” tanya Ditya, mengusap lembut tangan istrinya.


“Perutnya sudah tidak terlalu, tetapi walaupun sudah diberi suntikan tetap masih berasa. Ini sedang kontraksi lagi,” adu Frolline dengan napas pendek.


“Ya, kontraksinya sedang tinggi,” ucap Ditya menunjuk alat medis yang berbentuk persegi kecil dengan layar menampilkan angka.


“Ya. Rasanya luar biasa, Ko.” Frolline berusaha tersenyum. Ia sudah memasrahkan diri. Tidak memiliki tenaga lagi untuk berbicara. Ia memilih memejamkan mata, menikmati sakit yang datang dan pergi setiap saat. Kulit tubuhnya yang tertusuk jarum berdenyut saat obat-obatan ditransfer ke dalam dirinya melalui selang-selang kecil.


“Sabar, Schatzi. Perjuanganmu tinggal sebentar lagi.” Ditya memandang ke sekeliling ruangan, menikmati bunyi alat medis yang bersahutan menciptakan harmoni.


“Ya, Ko. Tidak ada yang lebih sakit, dibandingkan suntikan di punggung tadi.” Frolline meringis menahan sakit perut yang datang sembari membayangkan suntikan epidural di punggungnya.

__ADS_1


“Maaf, Sayang.” Ditya berbisik di telinga Frolline sembari merapikan anak rambut yang tergerai menutupi sebagian wajah.


***


Detik demi detik berlalu begitu lambat. Jam di dinding seakan mempermainkan pasangan suami istri itu. Berulang kali memandang benda bulat tergantung, jarum jam seakan membeku di titik yang sama. Setelah diperiksa oleh beberapa midwife dan dokter, akhirnya Frolline bisa tersenyum. Sekitar pukul 12.00 siang, pembukannya naik menjadi delapan. Itu artinya, ia bisa melahirkan normal.


Kembali Frolline harus bersabar bersama Ditya menunggu detik-detik kelahiran jagoan keluarga Lim. Kurang lebih pukul empat sore, akhirnya Frolline diminta untuk mendorong bayinya keluar setelah pembukaannya sempurna.


Perjuangan Frolline yang begitu berat untuk melahirkan anak pertama mereka. Dan Ditya berkesempatan menyaksikannya sendiri. Setelah berulang kali mendorong dan selalu gagal. Akhirnya diputuskan menggunakan forceps, semacam alat untuk membantu menarik kepala bayinya keluar ketika Frolline mendorong.


“Ayo, Sayang. Sedikit lagi.” Ditya menyemangati di sela-sela perjuangan istrinya. Kata-kata cinta berulang dibisikannya di telinga Frolline.


“Yes ... Schatzi.” Tangan keduanya saling menggenggam. Ditya merelakan kuku-kuku Frolline menancap di punggung tangannya saat jemari mereka saling menaut.


Tangis Frolline pecah saat mendengar suara tangis bayinya. Ia sudah tidak sanggup berkata-kata lebih banyak lagi.


“Ko ....”


“Ya, Fro. Anak kita laki-laki ....” sahut Ditya tersenyum. Matanya pria itu berkaca-kaca setelah melihat sendiri perjuangan istrinya melahirkan. Selama ini ia dan Frolline sudah membekali diri dengan beberapa bacaan. Mereka juga sudah mengikuti semua arahan midwife dan dokter. Dan pada kenyataannya, proses kelahiran putranya tidak sama persis dengan teori yang selama ini dipelajarinya. Walau ada sebagian ilmu yang bisa diterapkannya.


“Sudah, jangan menangis lagi. Jagoan kita sehat. Terima kasih, Fro.” Ditya mengusap air mata yang luruh dan membasahi pipi Frolline. Dikecupnya dalam dan hangat kening istrinya.


Setelah melewati rasa sakit selama 36 jam, berjuang mendorong bayinya dengan tenaga yang tersisa, Frolline bisa bernapas lega dengan kebahagiaan sempurna saat bayi telanjang itu ditelungkupkan di dada polosnya untuk pertama kali. Bayi pucat keriput itu terlihat mengecap kulit Frolline, matanya terpejam sesekali membuka.


Ditya terlihat membungkuk, menyejajarkan tingginya dengan si buah hati. Kedua sudut bibir pria itu tertarik ke atas.


“Dia tampan sekali.”


***

__ADS_1


__ADS_2