
Ditya berjalan lemas, menyusuri koridor yang menghubungkan kamarnya dengan kamar sang mommy. Matt dan Zoe bersama orang suruhan daddynya sudah menyisir kota Surabaya. Matt juga meminta bantuan orangnya untuk mencari di kota kota terdekat termasuk Jakarta.
Ratusan sambungan teleponnya selalu berakhir dengan mailbox. Frolline bagai hilang di telan bumi. Ada kemarahan tertahan di dalam benak Ditya, sekaligus khawatir yang membuncah di dalam dadanya.
Marah karena sikap kekanak-kanakan Frolline, khawatir akan keadaan istrinya yang kabur tengah malam. Takut Frolline dalam bahaya.
Ditya mengetuk pintu kamar mommy, sembari memanggil pelan. Tidak lama, muncul wanita dengan senyum hangat dibalik pintu, mempersilahkan dirinya masuk.
“Mommy tidak bisa membantumu, Ko. Istrimu sudah menghancurkan semuanya,” ucap Nyonya Halim, duduk di kursi malasnya yang menghadap ke jendela kaca besar, menikmati matahari pagi.
Dua patah kalimat itu, cukup mewakili apa yang ingin diketahui Ditya. Mommynya sudah tahu mengenai kepergian istrinya. Ditya tahu, kepergian Frolline di tengah malam bukan hanya memberi kesan buruk di depan sang daddy, tetapi di depan mommynya juga.
“Mamamu juga berasal dari keluarga sederhana, tetapi dia dihormati dan dihargai oleh daddymu. Bahkan mommy juga tidak berani menyentuhnya meskipun keberadaannya disembunyikan. Dibalik semua itu, dia mendapatkan hak yang sama seperti mommy,” ucap Nyonya Halim.
“Maafkan Fro, Mom. Dia terlalu kekanak-kanakan.”
“Terlepas dari keluarga mana istrimu berasal. Kesalahan terbesar Fro adalah berani kabur tengah malam buta seperti seorang pencuri.”
Ditya kembali tertunduk. Dia tahu kesalahan istrinya. Itu juga yang membuatnya tidak berkutik dan berani keras di depan daddynya tadi. Andai saja Frolline bisa sedikit mengalah dan bersabar, bukan tidak mungkin suatu saat mereka akan mendapatkan restu.
“Daddy tidak bisa memaksamu menikahi Sandra, demikian juga kamu tidak bisa memaksa daddy menyukai istrimu,” jelas sang mommy.
“Kalian datang kesini meminta restu, seandainya tidak mendapatkannya apakah harus seperti ini. Tidak bisakah bersikap selayaknya orang meminta,” ucap wanita tua itu lagi.
Ingatan wanita itu kembali pada sikap Frolline kemarin sore, yang berani menggebrak meja di tengah kumpul keluarga saat minum teh. Tidak terbayang malunya Halim pada Sandra saat itu. Halim sampai meminta maaf pada Sandra atas tindakan kasar Frolline di depannya.
Dan Ditya, bahkan putranya itu tidak menegur istrinya sama sekali. Seolah membenarkan apa yang dilakukan Frolline. Terlepas, apa yang disampaikan Halim sore itu, menyakitkan atau apapun, harusnya Frolline bisa menggunakan cara berkelas menghadapi sikap keras mertuanya. Apalagi hanya bentuk penawaran, bahkan Ditya sendiri belum mengambil sikapnya.
“Kembalilah ke Jakarta, didik istrimu etika menghadapi orang tua. Ajarkan dia cara bersikap yang baik. Ajar dia berbisnis, bangun perusahaanmu sendiri. Kalau memang dia bukan dari keluarga setara dengan kita, setidaknya sikap dan otaknya bisa menambah nilai lebihnya di mata daddymu.
“Maafkan Fro, Mom. Semua bermula dari kesalahanku. Aku yang mencintainya, dia tidak mencintaiku. Aku yang memaksanya untuk menikah,” jelas Ditya.
__ADS_1
“Apa yang tidak kami ketahui. Semuanya, bahkan daddy tahu banyak tentang Frolline sebelum kamu membawanya kesini.”
“Daddy bahkan menghadiri pernikahanmu melalui sambungan ponsel. Apa yang daddy tidak tahu. Kamu tidak tahu seberapa hancurnya daddy saat kamu menikah tanpa meminta restunya.”
“Itu bukan berarti daddy harus mempermalukan istriku di pertemuan pertamanya. Mom melihat sendiri bagaimana daddy melempar Fro dengan uang.”
“Setidaknya daddy masih menghargai istrimu, masih memberi tempat untuknya di rumah ini. Masih mau semeja dengannya. Bandingkan dengan suami kakakmu, yang diusir, bahkan tidak diberi kesempatan sama sekali.”
Senyum terukir di bibir Nyonya Halim. “Dengan begitu Marisa jadi mandiri dan tidak manja. Dia belajar banyak hal di luar sana. Dia jadi wanita tangguh sekarang. Benar-benar keturunan Halim.”
“Sekarang Cicimu berdiri di atas kedua kakinya sendiri, menunjukan taringnya sendiri. Kamu tahu, kalau dia tetap bersamaku. Mungkin dia hanya akan jadi anak manja. Namun, ada harga yang harus mommy bayar untuk itu. Mommy dan daddy hanya bisa merindukannya.”
Nyonya Halim masih duduk sambil menggerakan kedua kakinya, menikmati sinar matahari pagi.
“Aku belum bisa menerima sikap daddy,” tegas Ditya.
“Bayangkan, bagaimana daddy harus bersikap saat tahu putranya tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan dengan seorang wanita.”
“Kamu pikirkan sendiri, perempuan seperti apa yang ada dibayangan kami saat tahu apa yang kamu lakukan di luar sana. Bukan masalah uangnya,” jelas Nyonya Halim.
“Maaf, aku tidak berpikir sampai sejauh itu.”
“Perempuan baik-baik akan berpikir dua kali menerima pemberian laki-laki yang bukan siapa-siapanya, apalagi nilainya bukan sedikit. Perempuan baik-baik, tidak akan mau tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan. Jangan mengelak, daddymu punya buktinya. Fro tinggal di tempatmu setelah papanya meninggal.”
“Perempuan baik-baik, tentu saja tidak mau dinikahi tanpa dikenalkan terlebih dulu pada keluarga calon suaminya. Tanpa tahu akan mendapat restu atau tidak.”
“Jadi kalau daddy menganggap Fro bukan perempuan yang baik untuk putranya setelah melihat berbagai macam fakta itu, apakah salah? Ini tidak ada hubungannyan dengan Sandra. Masalah Sandra itu kesalahanmu, bukan Fro,” tegas Nyonya Halim.
Ditya terdiam. “Sebagian besar kesalahan itu bermula dariku,” cicit Ditya tertunduk.
“Aku mencintainya, aku berusaha memperjuangkannya,” lanjut Ditya.
__ADS_1
Nyonya Halim tersenyum. “Dan inilah perempuan yang kamu perjuangkan. Dia menghancurkan perjuanganmu bahkan tanpa memikirkan apa yang selama ini kamu lakukan untuknya.”
“Dia mempermalukanmu di depan kedua orang tuamu sendiri,”
“Apa pantas perempuan seperti itu masih diperjuangkan.”
“Mom, ini semua bukan hanya karena kesalahan Fro. Aku juga bersalah,” sahut Ditya, membela istrinya.
“Mommy tidak tahu atas dasar apa pernikahan kalian ini terjadi, terpaksa atau saling cinta. Semua menjadi tidak penting, ketika keduanya secara sadar, menerima pernikahan dan siap berkomitmen.”
“Cari istrimu sampai ketemu. Ajarkan dia aturan keluarga kita. Cara bersikap sopan pada orang tua. Cara bersikap terhadap orang lain. Setelah menikah denganmu, otomatis dia akan masuk ke pergaulan yang jauh berbeda dengan kehidupannya sekarang. Dia tidak bisa sembarangan bersikap.”
“Ajarkan dia banyak hal, kenalkan dia dengan pekerjaanmu. Perempuan itu harus pintar. Bukan hanya bisa mengurus rumah tangga, tetapi harus bisa menguasai semua hal, termasuk mengurus perusahaan. Bahkan mommy saat muda juga ikut berjuang membesarkan kerajaan bisnis keluarga kita bersama daddymu.”
Ditya mengangguk. “Perempuan keluarga Halim harus pintar dan berkelas dan tentunya tangguh.”
Lelaki itu baru saja menggapai gagang pintu kamar saat mommynya kembali berkata.
“Hati-hati dengan Zoelkifli Hanafi. Dia orang daddymu. Sama seperti Rahmat Hidayat,” jelas Nyonya Halim.
Langkah kaki Ditya terhenti, berbalik manatap mommynya. “Zoe?”
Nyonya Halim mengangguk.
***
T b c
Love You all
Terimakasih
__ADS_1