
Pagi menjemput, rembulan malam pun kembali ke peraduannya. Mentari pagi, sudah muncul malu-malu bersembunyi di balik pekatnya kabut. Titik-titik embun berlarian di atas dedauan, siap menyongsong semburat cahaya menyengat kulit.
Di kamar presidential suite, salah satu hotel mewah di Surabaya, pengantin baru masih saling memeluk dalam mimpinya. Sesekali mengulas senyum, dalam tidur dan terpejamnya. Sampai semburat surya menerobos melalui celah jendela.
Ketukan lembut di pintu, berusaha membangunkan sepasang suami istri yang terlelap, kelelahan karena menghabiskan malamnya dengan olahraga khas pasangan baru.
Ketika ketukan sudah tidak sanggup membuat penghuni kamar terjaga, Matt sang asisten tidak kehilangan akal. Membangunkan melalui gawai, berteriak nyaring, berderit hebat, memaksa Ditya terbangun.
“Siapa yang mencari masalah denganku sepagi ini?” gumamnya dengan suara serak, meraba-raba di atas nakas, berusaha menemukan asal suara berisik yang membangunkan lelapnya.
“Iya..,” sapa Ditya dengan mata terpejam. Frolline yang masih betah bermimpi, tidak terusik sama sekali. Masih tidur dengan nafas yang teratur dan dalam.
“Bos, secepatnya keluar. Bodyguard daddymu makin bertambah banyak. Pagi ini bertambah dua orang lagi, menunggu di lobi dan parkiran. Sepertinya dari kemarin ada media gosip online yang mengikutimu,” jelas Matt panjang.
Mata mengantuk itu terbuka lebar. Terpaku beberapa detik dengan wanita telanjang yang menempel lekat di tubuhnya. Akhirnya Ditya tersenyum, begitu otak mengingat kembali apa yang baru dilewatkannya dengan sang istri semalam. Peresmian dan perayaan status mereka sebagai sepasang suami istri tentunya.
“Orangku dimana? Bagaimana bisa kecolongan?” tanya Ditya.
“Minta mereka pastikan tidak ada foto istriku yang diambil. Aku tidak mau Fro terganggu,” perintah Ditya.
“Baik Bos,” sahut Matt, menurut.
“Setelah sarapan, bersiaplah! Aku akan menemui daddy,” lanjut Ditya lagi, mematikan sambungan dan melempar ponsel mahalnya kembali ke atas nakas.
Sorot mata Ditya yang sebelumnya terlihat berbinar kesal, meredup saat menangkap pemandangan menenangkan wanita di sampingnya. Frolline menyadarkannya, bahwa sekarang dia tidak sendiri lagi.
Ada seseorang yang akan menemani hidupnya, berbagi kebahagiaan, berbagi senyuman, berbagi kehidupan, bahkan berbagi masalah dan duka. Dia tidak bisa lagi menjadi seorang yang egois, yang bisa mengambil keputusan sepihak, mengambil keputusan tanpa diskusi seperti sebelumnya, pasti akan ada sosok mungil yang protes, kalau dia berani melakukannya.
Kecupan selamat pagi mendarat mulus di kening Frolline, mengusik lelap.
“Good morning, Schatzi,” bisik Ditya.
“Hmmmm,” gumam Frolline, membuka mata. Sosok yang pertama dilihatnya adalah Ditya. Bahkan wajah lelaki yang sudah menjadi suaminya itu hanya berjarak beberapa senti dari pandangannya.
Mengumpulkan kembali kepingan cerita semalam yang tercerai berai, saat sudah menyatu sempurna, Frolline langsung membenamkan wajahnya dibalik bantal. Menutupi rona merah di kedua pipinya, menahan malu. Apalagi menyadari mereka masih sama-sama polos, bersembunyi di balik selimut.
“Ayo bangun! Kita harus menemui mertuamu,” ujar Ditya, meraih tubuh mungil Frolline, mendekapnya erat. Dengan sekali sentak, Ditya mengubah posisi. Menindih Frolline dan mengurung di bawah tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu di tempat tidur.
“Masih sakit?” tanya Ditya, menempelkan kening pada kening istrinya.
“Jangan mengingatkanku lagi,” cicit Frolline, membuang pandangannya. Rasanya memalukan setiap diingatkan apa yang sudah mereka lewatkan tadi malam.
“Aku mencintaimu. Terimakasih,” ucap Ditya, menghujani ciuman dan kecupan di seluruh wajah Frolline, seketika terdengar jeritan protes Frolline yang begitu menggemaskan.
“Aku atau kamu yang mandi duluan?” tanya Ditya, bangkit duduk.
__ADS_1
“Atau mau mandi bersama supaya menghemat waktu,” tawar Ditya, menaik turunkan kedua alisnya menggoda sang istri.
“Aku tidak mau,” tolak Frolline, menarik selimut ke atas, mendekap erat menutupi tubuh telanjangnya.
“Tidak perlu ditutup juga. Aku sudah menghafal setiap jengkalnya,” goda Ditya.
“Ahhhh, jangan menggodaku lagi,” pekik Frolline, menarik selimut untuk menutup seluruh wajahnya.
Ditya hanya tersenyum, menatap istrinya. Pagi pertama mereka, menapaki hari baru dengan status baru mereka. Semoga jalan yang akan mereka lalui tidak sesulit yang dibayangkan. Semoga restu itu bisa mereka dapatkan tanpa banyak drama dan cerita, meskipun Ditya pesimis.
***
Setelah menyelesaikan sarapan, Ditya menggandeng Frolline menuju ke mobil dalam pengawalan ketat dua orang asisten dan bodyguardnya.
Tidak butuh waktu lama, iringan mobil keluar dari pelataran hotel, tanpa mereka sadari ada dua mobil lainya yang ikut mengekor di belakang. Jalanan Surabaya yang masih lenggang, membuat mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba di kediaman Halim Hadinata.
Frolline meremas kencang tangan Ditya saat kendaraan mereka masuk ke gerbang megah bercat putih. Begitu pintu membuka otomatis, mereka disambut oleh beberapa security yang berdiri berjajar di sisi jalanan panjang dengan pohon tinggi menjulang di kiri kanan jalan. Tidak tampak ada bangunan apapun di sana, kecuali pos security di samping gerbang. Sepanjang mata memandang hanya rumput hijau dengan beberapa pohon besar dan danau buatan di beberapa titik.
“Daddy biasa main golf disini,” jelas Ditya melihat keheranan istrinya.
“Daddy sudah mulai sakit-sakitan, jadi sudah jarang keluar rumah. Lebih banyak beraktivitas di rumah,” jelas Ditya.
Mobil mereka masih bergerak maju, menyusuri jalanan. Tidak lama mereka bertemu dengan pos security kedua. Matt yang memegang kemudi tampak memperlambat laju mobil dan membuka kaca jendela, melambaikan tangan dan tersenyum pada dua orang lelaki tegap berpakaian hitam lengkap dengan portofon alias walkie talkie di pinggang.
Melanjutkan, menyusuri jalan berliku, tidak lama mereka disambut gerbang putih kembali. Tetapi tidak setinggi di depan. Kembali ada pos security, tetapi terlihat disini jauh lebih ketat. Matt menghentikan mobilnya dan berjalan keluar.
Sebuah bangunan mewah lima lantai bergaya klasik modern menyambut mereka. Di depan rumah ada kolam air mancur yang luas seraya mengucapan selamat datang. Tidak sampai disitu, Frolline terkejut memandang salah satu bangunan tertinggi yang masih menjadi bagian dari rumah, lebih tepatnya mungkin disebut istana. Di puncak bangunan, ada sebuah helikopter terparkir rapi.
Matt menghentikan mobilnya tepat di depan pintu utama yang dijaga dua orang lelaki berbadan tegap, yang segera menyambut kedatangan mereka. Terlihat keduanya berebut membuka pintu mobil, seperti sudah mengerti siapa yang berkunjung sepagi ini.
“Selamat datang di istana Halim Hadinata,” bisik Ditya mengulurkan tangannya, bersiap membantu Frolline turun dari mobil,
Frolline benar-benar tidak percaya dengan apa yang dialaminya.
“Di depan daddy dan mommy, jangan memanggilku dengan nama,” pinta Ditya, berbisik.
“Hah!?” Frolline terkejut sekaligus bingung.
“Aku harus memanggil apa?” tanya Frolline kebingungan.
“Panggil sama seperti mommy memanggiku. Panggil aku Koko,” sahut Ditya dengan santai.
“Ko..ko,” Frolline mengulang kembali. Rasanya aneh di lidahnya, belum familiar.
Ditya mengangguk.
__ADS_1
“Selamat pagi, Tuan muda Halim,” sapa kedua orang security, sembari membungkuk.
“Selamat pagi... Nona.”
“Panggil dia nyonya muda Halim,” potong Ditya memberitahu. Tanpa menunggu, Ditya sudah melenggang masuk sambil mengandeng tangan Frolline yang mendingin seketika.
***
Begitu pintu rumah terbuka, keduanya terkejut. Bahkan Matt dan Zoe yang mengekor di belakang sampai menghentikan langkahnya. Halim Hadinata sudah berdiri meyambut mereka.
“Akhirnya kamu membawa pe”lacur kecil ini pulang menemuiku juga!” ucap Halim dengan suara menggelegar. Semua yang berada di ruangan itu seketika menunduk.
Pria tua, pemegang tampuk kepemimpinan Halim Group itu berdiri dengan sebuah tongkat menyanggah tubuh di tangan kanannya. Di sebelahnya, terlihat seorang ajudan berdiri tegap sambil berjaga-jaga, khawatir pria tua yang sebenarnya sudah sakit-sakitan itu terjatuh.
“Dad, dia istriku, bukan pe”lacur,” ucap Ditya dengan penuh ketegasan, menggengam erat tangan Frolline yang menahan gugup dan takutnya.
Pandangan Halim beralih, menelanjangi Frolline yang mengenakan gaun putih sederhananya. Meneliti dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Dia sedikit lebih cantik dari foto yang dikirimkan orangku,” komentar Halim.
“Berapa banyak yang diberikan putraku padamu? Aku akan memberimu dua kaki lipat lebih banyak dari yang diberikannya padamu!” ucap Halim, tanpa basa basi.
“Joe! Bawa kesini!” Halim menyodorkan tangannya. Terlihat sang ajudan mengambil tas hitam berukuran besar dan menyerahkannya ke tangan Halim.
Hening sesaat.
“Tinggalkan putraku dan kamu bisa menikmati semuanya tanpa perlu berakting dan berpura-pura mencintai putraku,” tegas Halim, menatap tajam Frolline. Dalam sekejap, melempar tas itu tepat ke hadapan putra dan menantu yang tidak mau diakuinya.
Uang kertas pecahan seratus ribu rupiah yang masih tersusun rapi dalam tumpukan seratus lembar diikat dengan logo dari Bank keluar dari dalam tas. Bukah hanya segepok, tumpukan uang merah itu memenuhi isi tas. Halim sengaja mempermalukan Frolline dengan cara seperti itu.
“Dad, jangan seperti ini,” pinta Ditya, berusaha menenangkan ayahnya. Tidak jauh dari sang ayah berdiri, tampak mommynya yang menunduk. Tidak berani berpendapat, hanya diam-diam mendengar. Dan Ditya, tidak bisa berharap banyak pada wanita tua yang setia mendampingi daddynya selama ini.
“Berhenti bermain-main. Tinggalkan dia, menikahlah dengan Sandra!” perintah Halim.
Kepala mulai berdenyut, dadanya juga mulai sesak. Tampak sang ajudan segera merengkuh tubuh tua itu dan membawanya duduk kembali. Tidak lama, berlari masuk seorang pria dengan blazer putih khas dokter, ikut memantau dari kejauhan kondisi Halim.
“Aku sudah menikah, Dad. Lupakan saja ide perjodohan dengan keluarga Sandra. Aku tidak akan menikahinya,” tegas Ditya.
Halim berusaha mengatur nafasnya. “Aku mohon tinggalkan putraku,” pinta Halim pada Frolline dengan nada jauh lebih lembut.
***
T b c
Love you all
__ADS_1
Terima kasih