
“Ko ....”
Ditya berbalik, genggaman tangan pada istrinya terlepas saat mendapati pemilik suara lembut yang memanggil begitu manis. Rindu itu terbayar setelah sekian lama tidak bisa memeluk wanita terpenting dalam hidupnya.
Wanita yang membuatnya memilih Frolline sebagai istri. Di dalam Frolline, Ditya melihat sikap kukuh sang mama, yang kuat menghadapi hidup. Yang berjuang untuk tetap bertahan di tengah kesendirian di negeri orang.
Wanita yang menjaga hatinya untuk satu laki-laki, meski tidak pernah dianggap. Wanita sederhana dan keibuan dibalik kesukaannya dengan barang branded dan trend fashion terbaru. Bedak mahal dan parfum kelas dunia. Itulah mamanya, mama dari seorang Ditya Halim Hadinata.
Ditya tersenyum, mendapati suara yang sejak kecil menyenandungkan nina bobok sebelum tidur malamnya. Suara yang menenangkan di saat kerinduan akan sosok daddy yang tak dimilikinya, saat anak-anak lain bisa berangkat dan pulang sekolah diantar jemput daddy, Ditya harus puas dengan bodyguard dan asistennya.
Suara mama yang selama ini hanya bisa dipeluk, tanpa bisa diakuinya kepada dunia. Entah harus bersyukur atau menangis, kala daddy mengatakan dia memiliki dua orang mama.
“Mama ....” Ada haru menyelinap ketika melihat mamanya berdiri di tempat ini lagi. Setelah 35 tahun lebih, mamanya harus bersembunyi dari dunia, meninggalkan Indonesia. Demi sesuatu yang dia sendiri tidak paham untuk apa itu. Apa yang dikejar mamanya sampai rela berkorban sebesar ini.
Pelukan mama dan anak itu begitu erat, hangat. Untuk pertama kalinya, Frolline melihat seberapa manja sang suami saat bersama mamanya. Sikap berbeda yang ditunjukan Ditya saat bersama mommy atau daddy. Di dalam pelukan mamanya, Ditya tampak seperti orang biasa. Aura Halim Hadinata lenyap, Frolline merasa Ditya sama seperti dirinya.
Pelukan itu terurai sementara, Ditya berbalik dan meraih tangan Frolline yang dibebaskan sebelumnya. Merengkuh gadis manis yang kini menjadi bagian penting dalam hidupnya.
“Fro, ini mama.” Ditya masih sempat memamerkan senyuman hangat sebelum membawa istrinya mendekat, mengenalkan kedua wanita penting dalam hidupnya itu satu sama lain.
Terpaku di tempat, Frolline merasa ada sorot berbeda yang ditunjukan mama Ditya. Binar mata itu berbeda dengan yang ditunjukan mommy Ditya di pertemuan pertama mereka. Tidak ada senyuman hangat layaknya seorang ibu, tidak juga ada kelembutan di raut wajah yang tiba-tiba membeku.
“Ma ....” Frolline memberanikan diri menyapa, tersenyum tulus sebelum memeluk tubuh wanita dengan setelan blazer coklat dan celana hitam.
Mama Ditya terlihat jauh lebih muda dibanding mommy. Diperkirakan, hanya lebih tua beberapa tahun dari Marisa. Penampilan masih kekinian, dengan rambut dicat pirang tergerai indah.
Kuku-kuku lancipnya berkutek merah delima dengan jemari panjang mulus, seperti tidak pernah menyentuh peralatan dapur. Dan Frolline yakin, rutin melakukan perawatan.
Bentuk tubuhnya bak gitar spanyol tanpa dawai meskipun ukurannya lebih jumbo dari normal. Tidak tampak kerutan di wajah cantiknya, entah karena tertutup make-up tebal atau karena perawatan kelas atas yang rutin dijalani.
“Pantas saja daddy memilihnya. Mama sangat cantik. Bahkan di usia setengah abad, sisa-sisa kecantikan itu masih tampak nyata.” Frolline membatin, mengagumi kecantikan mama mertuanya.
“Menantuku, kah?” tanyanya setelah pelukan itu usai. Pertanyaan yang lebih ditujukan pada Ditya. Itu jelas dari sorot mata yang mengarah pada sang putra kesayangan.
“Ya, Ma. Dia lebih cantik dari fotonya, kan?” Ditya merengkuh erat pinggang Frolline.
__ADS_1
Mama Ditya mengangguk.
“Secantik dirimu malam ini, Ma.” Ditya hampir tidak mengenali sosok wanita anggun di depannya.
Penampilan mamanya berbeda 180 derajat dibanding saat di Jerman. Di sana mamanya tampak biasa dan sederhana. Meskipun tetap perawatan dan menggunakan barang-barang branded. Namun, saat ini mamanya berbeda jauh. Dari bahasa tubuh pun terlihat jelas.
Sisi keibuan dan sederhana sang mama lenyap dalam semalam. Ditya nyaris tak berkedip, memerhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Mama cantik malam ini.” Ditya memuji lagi, sebelum akhirnya merengkuh tubuh sang mama dengan tangan yang tersisa.
***
Masuk ke dalam penthouse mewah dengan fasilitas kelas atas, Mama Ditya terperangah dengan semua kemewahan yang terpampang di depan mata. Kehidupannya di Jerman memang tercukupi, tetapi tidak semewah ini.
Wanita itu menatap Frolline, gadis yang diakui Ditya sebagai istri itu seperti cerminan dirinya saat di Jerman. Sederhana dan apa adanya. Ekor matanya tak lepas dari pergerakan sang menantu. Bahkan dia bisa melihat putranya bisa bermanja-manja dengan sang istri, kemanjaan yang sama seperti saat bersamanya.
“Schatzi, jangan lupa buatkan aku salad.” Ditya merengkuh pinggang sang istri yang sedang berjalan menuju ke dapur. Membuat langkah itu terhenti. Pelukan hangat dari belakang, Frolline bisa merasakan Ditya sedang melabuhkan tubuh padanya.
“Ya, Ko. Temani mama saja, aku bisa sendiri,” ucap Frolline, sambil mengikat tinggi rambutnya.
Sempat terkejut, mama Ditya terperanjat saat mendengar Frolline memanggil Ditya. Panggilan langka, di saat gadis lain hanya bisa memanggil Ditya dengan Sayang, Honey, Dear, Love atau Babe, tetapi Frolline memanggil dengan cara berbeda.
“Begitu mencintainya?” tanya Mama Ditya, sesaat setelah putranya membantu melepas blazer tebal yang melekat di tubuhnya.
“Sangat.” Ditya menjawab singkat. Menyerahkan blazer coklat itu pada pemiliknya.
“Minum?” tawar Ditya, berjalan menuju minibar. Meraih sebotol anggur merah kesukaan mamanya, menuangkannya di atas gelas kristal berkaki 7 cm.
“Hanya satu, Ko?” Wanita itu sudah menjatuhkan tubuhnya di atas kursi bar tinggi, yang bisa berputar-putar. Menyelipkan tangkai gelas di antara telunjuk dan jari tengahnya. Jemari itu begitu lentik, seolah sudah terbiasa memainkan gelas kristal setiap harinya.
“Istriku bisa mengomel kalau aku minum lagi,Ma.” Ditya terkekeh. Laki-laki itu memilih air es dari kulkas dan menuangkannya ke dalam gelas tinggi.
“Hahaha ... kamu banyak berubah, Ko.” Mama Ditya memutar kursi, mengarahkannya ke area dapur, di mana menantunya sedang sibuk dengan pisau dan talenan.
Kediaman Ditya yang terbuka, membuat semua area bisa dipandang dari semua sisi.
__ADS_1
“Daddy tahu mama kembali ke Indonesia?” Ditya memulai pembicaraan.
“Tentu. Mama tidak mungkin bisa kembali tanpa izin daddymu. Daddy yang meminta.” Menyesap anggur merah dengan ujung bibirnya, wanita itu terkekeh.
“Kamu tidak melihat siapa yang mengawal mama?”
Deg—
Ditya baru sadar, tadi mamanya ditemani Joe, asisten setia daddynya.
“Bagaimana bisa? Daddy bukannya sudah kembali ke Surabaya?” tanya Ditya.
“Ya, si tua bangka itu hanya mengirim asistennya, Ko. Dia sedang menunggu mautnya menjemput di Surabaya.” Gelak tawa mama Ditya begitu membahana.
“Ma, kenapa mama banyak berubah? Aku seperti tidak mengenalimu, Ma.” Ditya mengerutkan dahi. Sejak awal melihat mamanya di parkiran, Ditya sudah melihat perubahan itu.
“Kamu sudah menduduki puncak tertinggi Halim Group, tentu mama sudah bisa bernapas lega dan jadi diri mama sendiri. Tidak perlu berpura-pura."
“Aku menyukai dirimu yang dulu, Ma.”
“Hahahaha ... jangan berlebihan, Ko.”
“Aku serius, Ma.”
Mama Ditya mengangkat gelas anggurnya. “Congrats, Ko. Sekarang kamu sudah memiliki segalanya. Mama bahagia sekali. Pengorbanan mama tidak sia-sia selama ini.” Membenturkan gelas berkakinya pada gelas kaca berisi air putih milik putranya.
“Sampai kapan mama di sini?” tanya Ditya lagi. Ada banyak tanya menyesak di dadanya sejak tadi, butuh jawaban dan penjelasan.
“Daddymu sudah mengizinkan mama kembali ke Indonesia, untuk apa mama tetap di sana. Mama juga rindu dengan sambal terasi dan lalapan pete, Ko.” Kembali menyesap sisa anggur merah di gelas kristalnya.
“Jangan katakan mama akan tinggal bersamaku di sini?” Ditya menatap tajam pada mama yang tersenyum lebar di hadapannya.
***
TBC
__ADS_1