Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 106 : Suka Ditya di tengah duka Halim


__ADS_3

Frolline keluar dari ruang praktek dokter dengan senyum bahagia. Menggenggam erat foto hitam putih yang tadinya disematkan perawat di dalam buku pengecekan kehamilan yang diberikan pihak rumah sakit.


Tentu saja sebagai seorang perempuan, ia sangat gembira menyambut kehamilan pertamanya. Berjuta rasa sulit diungkapkan calon ibu muda itu saat dokter menyatakan kalau ia benar-benar hamil sembari menunjukan kantong janin yang bersemayam di rahimnya melalui pemeriksaan usg, yang ditampilkan di layar besar tergantung di dinding. Dari posisi berbaring, ia bisa melihat jelas meskipun tidak paham sama sekali.


Berjalan menuju ke bagian administrasi sekaligus menunggu vitamin yang diresepkan dokter selesai disiapkan, Frolline memilih duduk. Netranya kembali menatap foto calon anaknya.


“Apa aku kirimkan pada koko saja, ya.” Frolline terlihat berpikir. Sedetik kemudian kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia sedang menduga, bagaimana reaksi Ditya saat menerima pesan gambar darinya.


“Em ... aku tidak akan menulis keterangan apa-apa. Biarkan dia menebak sendiri.” Frolline meletakan kertas hasil usg itu di atas pangkuan. Meraih ponsel pintar dari dalam tas dan mulai mengambil foto yang paling terang dan menarik.


Ada beberapa jepretan, Frolline terlihat bingung. “Yang ini saja. Hem ....” Menghembuskan napas kasar, Frolline menekan tombol kirim setelah yakin.


“Ok ... send and done!” ucap Frolline berbisik pelan. Bersiap menunggu reaksi sang suami.


***


Surabaya.


Menempuh perjalanan udara kurang lebih 1,5 jam Jakarta - Surabaya, Ditya yang ditemani Matt akhirnya tiba di kediaman Halim Hadinata dengan selamat. Sepanjang perjalanan diliputi kecemasan, Ditya bisa bernapas lega saat melihat sendiri kondisi daddy yang masih tertidur pulas setelah sempat sesak napas dan tensinya melonjak naik.


Ditemani sang mommy, Ditya memilih merebahkan diri di kamarnya setelah memastikan daddy baik-baik saja.


“Apa yang terjadi, Mom?” tanya Ditya sembari menggenggam gagang pintu. Mengayunkannya, kemudian melangkah masuk ke dalam kamar begitu pintu terbuka. Tubuhnya lelah, letih dan tentu saja kurang tidur, Ditya memutuskan membersihkan diri dan beristirahat sejenak sambil menunggu daddy bangun dari lelapnya.


“Papi Sandra berkunjung ke sini beberapa hari yang lalu.” Mommy membuka suara, memulai cerita. Perempuan yang masih terlihat cantik di usia senjanya itu, ikut mengekor masuk. Terlihat Nyonya Halim Hadinata itu menjatuhkan tubuh rentanya di atas sofa kamar.


“Lalu?” Ditya baru saja akan melempar pakaian kotornya ke keranjang, tetapi pernyataan mommy membuatnya urung.


“Papi Sandra mengungkapkan kekecewaannya pada keluarga kita, terutama pada daddy.”


Ditya ikut duduk di sofa dengan bertelanjang dada, mengabaikan penampilan acak-acakannya. Saat ini, ia lebih tertarik dengan informasi yang akan dibagi sang mommy.

__ADS_1


Merapikan rambut dengan jemarinya, Ditya menegakan duduknya. “Apa yang terjadi, Mom?” tanya Ditya masih menunggu.


“Nanti daddy akan menceritakan langsung padamu apa yang terjadi. Mommy tidak bisa ikut campur terlalu jauh urusanmu dengan daddy.”


“Persiapkanlah dirimu menghadapi kemarahan daddy. Em ... tolong jangan membuat sakit daddy semakin parah,” ucap mommy memperingati Ditya. Ia tidak ingin sampai terjadi hal buruk pada suaminya. Keluarga mereka sudah tercerai berai sejak dua puluhan tahun lalu. Ia tidak ingin mengulang kejadian yang sama.


Setelah mommy berpamitan, Ditya melanjutkan niatnya yang sempat tertunda.Membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuh lelahnya sejenak. Ada banyak tanya yang mengganggu pikirannya, ditambah kerinduannya pada Frolline semakin membuat matanya enggan terpejam.


“Baru saja pergi sebentar, tetapi Koko sudah merindukanmu, Schatzi.” Ditya meraba-raba nakas di sisi ranjang. Berusaha mencari ponsel miliknya. Pergi ke kantor atau pergi ke Surabaya sama-sama harus berpisah dengan Frolline, namun rasanya jauh berbeda. Ketika saat ini, ia merasa jauh dan kehilangan.


"Astaga, aku lupa. Aku titipkan pada Matt sejak di pesawat." Ditya menepuk keningnya sambil terkekeh.


***


Bolak balik di tempat tidur empuk sembari melamunkan istrinya. Ditya terlelap juga pada akhirnya. Entah sudah berapa lama tertidur pulas. Matahari pun sudah merambat di pucuk ubun-ubun. Ditya berbangun saat Matt menguncang tubuhnya dengan kasar, berteriak tanpa jeda.


"Bos, bangun sekarang!" Matt membangunkan majikannya dengan panik.


"Ada apa, Matt?" tanyanya dengan suara serak.


"Bos, dipanggil Bos besar sekarang!" ungkap Matt dengan raut panik.


"Hah! Daddy sudah bangun? Jam berapa sekarang?" tanya Ditya, meloncat turun dari tempat tidur. Masih sempat menguap lebar, membuang jauh kantuk yang enggan pergi.


Wajahnya masih acak-acakan, tampang khas bangun tidur. Tanpa menunggu lebih lama, ia berlari menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Ditya bisa mendengar suara Matt yang sedang memberinya informasi.


"Sekarang sudah hampir tengah hari. Sebentar lagi makan siang, tetapi Bos besar meminta Bos menemuinya dulu di kamar. Sudah ditunggu sejak tadi." Matt menjelaskan.


“Seperti biasa, Bos. Marah-marah!” cerita Matt.


"Brengse'k kamu, Matt! Kenapa tidak membangunkanku sejak tadi?" gerutu Ditya kesal.

__ADS_1


Mendengar umpatan Ditya, Matt hanya bisa mengelus dada. Sudah sejak tadi membangunkan Ditya, tetapi majikannya itu begitu lelap. Walaupun begitu, tetap saja ia yang disalahkan.


"Selalu saja! Dia yang tidur seperti orang mati tetapi selalu saja aku yang disalahkan. Kalau bukan putra Halim Hadinata, sudah kusiram pakai air seember tadi," gerutu Matt pelan. Tidak mau omelannya terdengar Ditya.


Buru-buru mengganti pakaian, Ditya berlari memasuki lift sambil merapikan kaos yang dikenakannya. Ia tidak mau terlambat menemui daddy. Bisa saja pria tua itu mengamuk lagi di tengah kondisinya yang sedang tidak stabil. Meski mereka berbeda pendapat dan pandangan, Ditya tidak mau daddy sakit. Cinta dan baktinya pada Halim tidak akan berubah, meskipun daddy sampai sekarang masih belum mau merestui pernikahannya dengan Frolline.


"Dad, ada apa?" Ditya melangkah masuk ke dalam kamar daddynya. Namun langkahnya terhenti saat sebuah tongkat kayu terlempar ke arahnya, hampir mengenai pelipis.


"Dad ...." Ditya menyapa sekali lagi. Suaranya terdengar biasa sembari menatap tongkat kayu yang tergeletak pasrah di dekat tempatnya berdiri.


"Apa yang kamu ceritakan pada papi Sandra, Tuan muda? Kenapa dia sampai marah-marah datang padaku?" tanya daddy dengan wajah penuh amarah.


"Aku tidak tahu apa-apa, Dad." Ditya berusaha menjawab setenang mungkin. Tidak ingin jawabannya membuat kemarahan Halim semakin menjadi.


"Kamu puas sekarang? Wangsa datang menemuiku dengan amarahnya. Memutuskan sepihak perjodohan yang telah disepakati kedua keluarga," sembur Halim.


Pria lansia itu duduk di sisi tempat tidur. Padangannya berapi-api dengan kedua tangan mengepal. Bola mata memerah dengan napas naik turun. Terlihat Joe, sang asisten berusaha menenangkan. Berdiri di samping Halim sambil mengusap lengan atas pria renta itu.


"Apa maumu sekarang? Setelah Wangsa memutuskan pertunanganmu dengan Sandra secara sepihak, kamu pikir aku akan merestui hubunganmu dengan gadis itu!" todong Halim dengan napas tersengal. Ia sampai harus meremas dadanya untuk mengontrol emosinya supaya tidak semakin menjadi. Nyeri tiba-tiba menyerang ulu hati setiap mengingat ucapan-ucapan teman baiknya itu.


Berteriak sejak tadi, napasnya pun ikut sesak. Seakan tidak puas melampiaskan kemarahannya pada orang serumah, ia memaksa Ditya datang dengan berbagai cara. Tentu saja ia akan menyemprotkan amarahnya pada Ditya juga. Si biang masalah.


"Dad, aku tidak tahu apa-apa," sahut Ditya menjelaskan. Ia masih berusaha membela diri. Namun, secercah bahagia membuncah di dada saat mengetahui pertunangan dan pernikahannya dengan Sandra yang seharusnya diadakan sebentar lagi sudah dibatalkan.


"Tidak tahu? Aku yakin ini bagian dari rencanamu," tuduh Halim dengan wajah tidak bersahabat. Suaranya terdengar nyaring menggelegar.


"Dad, aku mohon. Apa salah Frolline? Dia harus berubah seperti apa, baru kamu mau menerimanya," tanya Ditya berjalan mendekat.


Halim terkekeh, menatap sinis pada putra satu-satunya. Melihat ekspresi dan kemarahannya saat ini, siapa pun tidak akan menyangka kalau pria tua ini sedang sakit.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2