
“Mami kapan pulang?” tanya Frolline, menjatuhkan tubuh lelahnya ke atas sofa. Dengan lancang, tanpa permisi gadis itu sudah mengambil posisi nyaman, bersandar di sofa sembari memejamkan mata.
“Kamu dari mana? Suamimu mana?” tanya Firstan.
“Kami sudah berpisah,” sahut Frolline dengan santainya.
“First, mami masih lama? Aku mau menumpang mandi,” jelas Frolline, mulai merasa kegerahan dan berkeringat sejak tadi.
Deg—
Kata berpisah yang diucapkan Frolline, bagi Firstan bagai angin segar yang berhembus di tengah kekeringan, seperti mata air di padang pasir.
Lelaki itu tersenyum, ikut menghempaskan diri di samping Frolline. “Silakan mengunakan kamar mandi di kamarku, seperti biasa,” sahut Firstan memberi ide.
Frolline terlihat berpikir, sebelum memberi jawaban. Mempertimbangkan ide Firstan, apakah akan menguntungkan atau malah menjatuhkan posisinya. Tepat saat di akan melangkah pergi menuju kamar Firstan, terdengar langkah kaki dari teras rumah disertai obrolan dengan suara yang sangat familiar di telingan Frolline.
“Mamiiiii,” pekik Frolline, berbalik menyambut Marisa. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok yang ikut masuk bersama Marisa.
Deg—
Niat yang tadinya ingin memeluk perempuan 48 tahun itu, terhenti. Kaku dan membeku di tempat saat melihat Ditya dengan santainya melenggang masuk. Ada suami Marisa juga ikut berjalan di belakang keduanya. Lelaki itu langsung masuk ke dalam, tidak ingin terlibat lebih jauh dengan permasalahan keluarga yang bukah ranahnya.
Wajah cerah Frolline, berubah drastis. Berganti cemberut dan meredup. Kelelahan bergabung dengan kekesalan terlihat begitu kontras dengan wajah suaminya yang bersih dan berseri seolah tidak terjadi apa-apa.
“Wah, adik iparku datang,” seru Marisa, masih sempat-sempatnua menggoda Frolline. Tentu sebagai kakaknya Ditya, dia sudah tahu semuanya. Ditya sudah bercerita banyak tentang kejadian yang baru saja mereka dilewati selama di Surabaya.
“Mami, aku kesini mencari Kak Angell,” terang Frolline, setelah menguasai keadaan.
“Angell baru tadi siang terbang ke London,” sahut Marisa menarik tangan Frolline, duduk di sofa.
“Rumah dan perusahaan serius dijual?” tanya Frolline mencari kebenarannya. Masih belum yakin dengan apa yang diceritakan Firstan.
Marisa mengangguk. Pundak Frolline terkulai lemas, dengan wajah kusut yang semakin terlihat berantakan. Terbayang bagaimana hidupnya. Dia baru lulus kuliah, bekerja pun belum lama. Itu pun dengan Ditya. Selama ini menumpang hidup dengan orang tua. Berbeda dengan Angell yang sejak awal membantu mengurus perusahaan.
“Dan itu pemilik barunya,” jelas Marisa, tersenyum menunjuk ke arah Ditya.
“Dia membeli rumah dan perusahaan Angell, hadiah untuk istrinya. Begitu ceritanya,” lanjut Marisa, menjelaskan.
Frolline tertegun, mengurai kisah yang baru saja disampaikan untuknya. “Mi, aku boleh menginap disini malam ini?” tanya Frolline.
“Tanyakan pada suamimu, dia yang berhak menjawab boleh atau tidak bolehnya,” sahut Marisa tersenyum.
Wajah Frolline kian kaku, berulang kali diingatkan tentang statusnya dan Ditya. Dia kesini untuk menghindari Ditya, tetapi malah terjebak bersama laki-laki itu lagi.
“Aku tidak mau,” tolak Frolline.
__ADS_1
“Schatzi..,” sapa Ditya. Laki-laki itu bersuara, setelah sejak tadi memilih menutup rapat bibirnya. Tersenyum getir melihat istrinya.
Melihat pasangan suami istri yang membutukan ruang dan tempat sendiri, Marisa menarik putranya masuk ke dalam. Memberi area untuk Frolline dan Ditya berbincang.
“Maafkan aku,” ucap Ditya dengan suara pelan. Berjalan mendekat, memangkas jarak antara keduanya.
Tangan kekar itu, baru saja terayun hendak membingkai wajah cantik yang kelelahan, tetapi Frolline sudah menghempaskannya terlebih dulu.
“Tidak! Aku ingin berpisah saja,” tegas Frolline, menolak kontak fisik di antara keduanya. Gadis itu memilih berdiri menjauh.
“Apa yang kamu inginkan? Apa yang kamu tidak suka? Setidaknya kamu harus mendengarkan pembelaanku dan aku harus mendengar keberatanmu,” tanya Ditya.
“Come on! Kamu bukan anak kecil lagi. Semua masalah harus diselesaikan dengan cara dewasa,” lanjut Ditya.
Frolline terdiam.
“Daddy yang menghina dan menginjak harga dirimu?” tanya Ditya.
“Atau mommy yang memintamu bersabar?” lanjut Ditya lagi.
“Suamimu yang diam saja karena melihat istrinya dihina. Seperti itu?” todong Ditya.
Lagi-lagi Frolline menutup bibirnya rapat-rapat.
“Memutuskan hubungan dengan kedua orang tuaku?” tawar Ditya.
“Dan setelah itu kita akan hidup bahagia selamanya. Tapi tunggu, apa kita bisa bahagia seperti itu,” lanjut Ditya lagi.
Frolline memberanikan diri menatap suaminya kali ini.
“Kalau ada cara yang lebih baik, kenapa harus menggunakan cara seperti itu.”
“Daddymu sudah menghinaku, menginjak-injak harga diriku,” tegas Frolline, akhirnya.
“Lalu, pergi tengah malam buta seperti pencuri, apa pantas disebut terhormat? Sikap seperti itu apa pantas, kalau sekarang minta dihargai. Kamu yang memberi celah untuk orang lain menghinamu!” todong Ditya.
“Disaat kamu tidak melakukan kesalahan dan orang lain menginjakmu, tentu aku akan membelamu. Namun, aku tidak diajarkan membela diri dengan cara kasar dan tidak sopan. Ada waktu dan tempatnya untuk memberi pembelaan. Ada saatnya aku berbicara, ada waktunya aku mendengar,” tegas Ditya.
“Tidak semua orang tahu, bagaimana sikap daddy yang telah menginjak-injak harga dirimu, tetapi semua orang tahu kalau istriku kabur tengah malam. Bahkan tukang kebun saja tahu, seberapa kerennya istriku. Bagaimana aku membelamu sekarang?”
Ditya memberanikan diri merengkuh tubuh istrinya yang memberontak.
“Lepaskan!” tegas Frolline, berusaha mendorong kasar tubuh suaminya.
“Dengarkan aku,” pinta Ditya, berusaha menenangkan Frolline yang sekarang berada di pelukannya.
__ADS_1
Lelaki itu menghela nafas, menunjukan seberapa berat beban yang dipikulnya saat ini.
“Daddyku usianya sudah 70 tahun lebih. Mungkin nafasnya tinggal menghitung hari atau bulan. Jujur saja, kalau aku mau melawannya, daddy bukan tandinganku. Seperti aku menikahimu, daddy bisa apa.”
“Daddy hanya bisa mengumpat dan akhirnya kesal sendiri. Sakit sendiri. Untuk apa aku melawannya. Menikahimu tanpa restunya saja, itu sudah bentuk perlawananku padanya.”
“Daddy menghinaku dan kamu sedikit pun tidak membelaku!” ungkap Frolline geram.
“Aku membelamu tidak dengan cara seperti itu. Kamu mau aku ikut mengebrak meja dan melawannya di depan Sandra, di depan orang banyak, mempermalukan daddy, seperti dia mempermalukanmu.”
“Membuat jantungnya tiba-tiba kumat atau bisa saja langsung meninggal di tempat. Apa kita bisa bahagia dengan menanggung penyesalan seumur hidup, daddy meninggal karena ulah kita. Ayolah Fro,” ungkap Ditya.
“Apa yang tidak daddy tahu, kamu gadis seperti apa, daddy tahu jelas. Daddy hanya mengungkapkan kecewanya karena tidak bisa berbuat lebih dari itu,” ungkap Ditya.
“Aku tetap tidak terima!” cerocos Frolline, berusaha melepaskan diri.
“Daddy tidak seburuk yang kamu pikirkan. Kalau daddy benar-benar tidak mengizinkanku menikahimu, bisa saja daddy menahanku tetap di Surabaya dan memaksaku menikahi Sandra saat itu juga.”
“Bahkan aku pamit baik-baik. Aku terus terang mengatakan pada daddy kalau aku menyusul istriku,”
Frolline terdiam.
“Lalu apa maumu sekarang?” tanya Ditya.
“Aku mau tetap tinggal disini, sambil mencari pekerjaan baru. Setelah itu, aku ingin kita bercerai,” tegas Frolline.
“Fro, jangan begini, please..,” bujuk Ditya.
“Kamu mau aku memutuskan hubunganku dengan kedua orang tuaku. Dengan begitu, kamu baru bisa puas?” tanya Ditya.
Ditya melepaskan pelukannya. Lelaki itu memilih duduk di sofa untuk menenangkan diri.
“Bukan masalah uang, bukan masalah harta. Seburuk-buruknya Halim Hadinata, dia orang tuaku. Aku tidak bisa memutuskan hubunganku dengan orang tuaku. Seandainya keadaan berbalik, aku juga tidak akan membuatmu memutuskan hubunganmu dengan kedua orang tuamu.”
“Aku pasti selalu di pihakmu. Kamu istriku, kalau bukan aku yang membelamu, siapa lagi. Namun bukan dengan menggebrak meja dan kabur. Bukan seperti itu, bukan pula dengan emosi. Ada cara yang lebih baik untuk membela diri.”
Itu bukan membela diri, itu mempermalukan diri sendiri. Memberi celah untuk orang lain menertawai dan menghina kita,” jelas Ditya.
***
T b c
Love You all
Terima kasih.
__ADS_1