Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 135 : Aku masih mencintaimu


__ADS_3

Function hall yang terletak di rooftop kediaman Halim Hadinata mulai dipenuhi oleh para petinggi perusahaan, kolega, kerabat dan sahabat dari Halim Hadinata. Pria berusia senja itu sengaja mengundang orang-orang terdekatnya sehari setelah kepulangan Ditya kembali ke Indonesia.


Pesta penyambutan sang putra mahkota, sekaligus memperkenalkan cucu kesayangan pada semua sahabat dan kerabat. Acara sederhana mengundang sekitar 100an tamu undangan. Mengingat cucunya masih terlampau kecil, Halim memutuskan mengadakan acara di rumah.


Ruangan yang memang dibangun Halim di bagian teratas kediamannya itu sudah didekorasi indah. Halim dengan wajah bahagia duduk di meja bundar didampingi istrinya Meliana. Tampak Ditya yang mengenakan jas hitam duduk di sisi lainnya dengan ditemani Frolline yang memangku Dragon.


"Mana cucuku?" Halim tiba-tiba meminta Dragon yang hampir tertidur di dekapan sang mama.


"Dragon mengantuk, Dad. Biarkan saja dia tidur sebentar." Ditya menjelaskan.


"Aduh! Aku membuat acara ini khusus untuknya. Mana boleh membiarkannya tidur. Aku ingin memperkenalkannya pada orang-orang," jelas Halim sembari merapikan dasi kupu-kupunya.


"Dad, aku mohon."


"Masih banyak waktu untuk tidur. Setelah pesta, Jin Long bisa tidur sepuasnya. Ayo kemarikan ... biarkan Ye ye memangkunya." Halim meminta dengan paksa.


"Dad ...." Ditya merasa tidak enak. Sejak tiba di Indonesia, Frolline diam-diam protes padanya mengenai permintaan Halim yang terkadang berlebihan. Bahkan sebagai mamanya, Frolline merasa tidak dihargai.


Halim mengibaskan tangannya pertanda tidak mau mendengar penjelasan Ditya.


"Fro, tolong bawa ke sini. Biarkan aku saja yang menggendongnya." Halim meminta langsung kepada menantunya.


Meliana yang duduk di sebelahnya terbelalak. Di acara seperti ini, suaminya malah menginginkan Dragon. Tidak biasanya Halim melakukan hal seperti ini. Teringat saat Marisa masih kecil, Halim bahkan tidak mau anak-anak ada di sekitarnya dan mengganggu obrolannya. Apalagi sekarang Dragon yang masih bayi.


"Supaya aku mudah mengenalkannya pada teman-temanku," jelas Halim beralasan.


"Suamiku hampir gila!" Meliana menggerutu dalam hati.


Dengan berat hati, Frolline menurut. Membawa Dragon mendekat, dan meletakannya perlahan di dalam dekapan Halim. Bayi lucu itu langsung terjaga dan menangis kencang. Sontak mengalihkan perhatian para tamu. Namun Halim tetaplah keras seperti biasa. Ia bahkan tersenyum bahagia, saat pandangam semua orang tertuju pada cucunya.


"Jin Long, Yé ye membuat acara ini untukmu. Nanti baru tidur, ya."

__ADS_1


Ditya hanya sanggup menggelengkan kepala sembari menggenggam tangan Frolline di bawah meja. Ia tahu, saat ini istrinya sedang kesal, marah dan ingin mengumpat.


"Sudahlah, Fro. Jangan kesal. Mungkin masih baru, jadi Daddy bersikap seperti itu," bisik Ditya berusaha menenangkan. Ia tidak mau bertengkar lagi karena sikap pemaksa Daddy.


"Aku kesal, Ko. Anakku sedang menjerit, menangis ... dan Daddy malah tersenyum bahagia, memamerkannya pada semua orang,” gerutu Frolline dengan wajah cemberut.


"Jangan seperti ini, Fro. Dandananmu sudah cantik, gaun sudah cantik, masih kurang senyuman. Nanti Koko buatkan satu lagi, jadi kita tidak perlu berebutan dengan Daddy. Satu lagi anak laki-laki, kita namakan Tiger Lim." Ditya tergelak membayangkan semua nama anak-anaknya yang begitu sangar dan menakutkan.


“Aku yakin kalau aku melahirkan lagi, Daddy akan bersikap sama. Dua-duanya bisa naik ke atas pangkuan Daddy,” gerutu Frolline tak berkesudahan.


Di tengah bisik-bisik keduanya, muncul Firstan menggandeng seorang gadis cantik. Melihat penampilannya, usia sang gadis jauh lebih muda dari Frolline.


"Wài gõng."


"Wài pó." Firstan menyapa Halim dan Meliana, diikuti oleh sang gadis menyapa dengan panggilan yang sama.


"First, kamu belum mengenalkannya pada ...." Halim belum sempat menyelesaikan kalimatnya, tetapi Firstan sudah berjalan menghampiri Ditya.


"Cia-Cia, kenalkan ini adik mamaku, dan di sebelah itu ... istrinya Jiùjiù," Firstan mengenalkan Ditya dan Frolline pada gadis cantik yang bersamanya.


"Jiùjiù, kenalkan ini ... Felicia Wangsa, calon istriku." Firstan berusaha tersenyum.


Acara perkenalan itu berlangsung datar. Hanya salaman dan menyebutkan nama saja. Perang dingin setahun yang lalu antara Om dan keponakan belum mereda sampai sekarang. Bahkan di saat keduanya sudah memiliki kehidupan sendiri dan pasangan hidup masing-masing. Terlihat jelas dari tatapan dan bahasa tubuh Firstan yang terkesan kaku dan memendam sesuatu.


***


Di puncak acara, tampak Halim berdiri di atas podium. Ia sudah berencana mengumumkan pengunduran dirinya, dan menyerahkan pucuk pimpinan kembali pada Ditya. Ini adalah salah satu caranya untuk menahan sang putra.


Ia tidak mau Ditya pergi lagi. Perusahaan masih bisa meminta orang lain mengurusnya, tetapi Dragon tidak ada duanya. Cucu laki-laki kesayangan dan satu-satunya keturunan Halim Hadinata. Ia tidak mau lagi sampai kehilangan Dragon.


Firstan hanya memberi tepuk tangan dengan wajah datar saat Ditya maju ke depan dan menyapa para tamu sebagai pucuk pimpinan Halim Group yang baru. Setahun berjuang di perusahaan keluarga Halim, Firstan harus puas di posisi wakil direktur, menggantikan Marisa yang memilih berada di luar perusahaan.

__ADS_1


***


Frolline mengangkat ujung gaun panjangnya sembari mencari keberadaan Ditya. Dragon yang terlelap, terlihat tidur di gendongan pengasuh barunya.


"Ko, aku ke toilet sebentar," pamit Frolline setelah berhasil menemukan keberadaan sang suami. Ditya sedang berbincang dengan suami Marisa.


"Ya, jangan lama-lama. Nanti Dragon menangis." Ditya menoleh ke arah istrinya sekilas. Putra mereka belum terlalu dekat dengan pengasuh barunya. Dan di saat bayi itu terjaga bisa dipastikan akan menangis kencang.


"Ya, Ko. Aku titip Dragon." Frolline berjalan ke arah toilet dengan ekor gaun yang diangkat ke atas supaya tidak mengganggu langkah kakinya.


Hampir lima menit di dalam toilet, Frolline terkejut begitu pintu terbuka dan menemukan Firstan berdiri menunggunya. Bersandar di dinding dengan kedua tangan terlipat di dada.


"First ...." Frolline belum sempat berpikir, Firstan sudah mencekal pergelangan tangannya dan mendoronganya kembali masuk ke dalam toilet dan buru-buru mengunci pintu toilet.


"First, apa yang kamu lakukan?" tanya Frolline heran. Ia masih belun begitu paham dengan jalan pikiran mantan kekasihnya itu.


“Jangan berteriak, atau semua orang akan tahu skandal kita. Di luar sana banyak orang penting. Ada juga orang media atau mata-mata yang menyamar. Biasanya seperti itu,” bisik Firstan, membungkam mulut Frolline dengan tangannya. Tidak membiarkan Frolline berteriak meminta bantuan.


“Kamu bisa bayangkan, apa yang terjadi andai suamimu melihat kita berdua di dalam. Dan ketika semua orang mengetahuinya, suamimu yang paling hancur dan malu,” lanjut Firstan.


“First, kamu kenapa?” tanya Frolline setelah berhasil menghempaskan tangan pria itu dari mulutnya.


"Aku masih mencintaimu ...." bisik Firstan, menatap Frolline.


"Kamu sudah gila, First. Sebentar lagi kamu akan menikah, kan?" todong Frolline mulai panik saat Firstan kembali menggengam erat pergelangan tangannya.


"Aku menikah karena semua orang memintaku menikah. Bukan karena mencintainya. Aku masih mencintaimu. Tidak berkurang sedikit pun ...."


“Apa maumu? Jangan mendekat! Ditya akan membunuhmu,” ancam Frolline di tengah ketakutannya. Jantung berdetak kencang, dadanya bergemuruh. Untuk pertama kalinya, ia merasa takut pada Firstan.


***

__ADS_1


__ADS_2