Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Extra part 8


__ADS_3

Setelah sekian purnama menunggu, akhirnya detik-detik kelahiran pun tiba. Frolline sedang sibuk membahas penataan rumah barunya dengan tim design interior di kediaman mertuanya saat merasakan kontraksi dari bayi di dalam kandungannya.


"Aduh!" Frolline mengusap pelan perut buncitnya.


Tampak Zoe, sang asisten berdiri tak jauh darinya. Sejak kandungan Frolline semakin besar, asisten itu diminta Ditya untuk menemani istrinya di mana pun sang nyonya muda berada. Kesibukan Ditya sebagai pucuk pimpinan Halim Group, membuatnya tidak bisa berada di samping Frolline 24 jam. Apa lagi Frolline sesekali masih ke kantor untuk mengawasi perusahaannya.


"Nyonya, baik-baik saja?" tanya Zoe setelah menangkap aura kegusaran di wajah Frolline. Pandangan Zoe beralih pada beberapa anggota tim yang sedang meeting dengan majikannya.


"Ada kontraksi, tetapi sepertinya bukan." Frolline yang tidak merasakan lagi denyutan di dalam perutnya memilih mengabaikan dan melanjutkan rapatnya.


"Apa perlu saya panggilkan Bos Ditya?" tawar Zoe lagi.


"Tidak perlu, Zoe. Jangan membuatnya khawatir. Aku tidak apa-apa." Frolline berusaha berpikiran positif.


Hampir satu jam duduk mendengar ide-ide dari tim, Frolline bisa bernapas lega saat rapatnya selesai. Kakinya kesemutan, perut besarnya juga terasa kencang. Satu persatu anggota tim keluar dari ruangan. Frolline baru saja hendak berdiri menyusul saat merasakan kontraksi kedua.


"Aduh!" keluhnya. Tubuhnya terhuyung, kedua tangan bertahan di atas meja.


Dari arah pintu, terdengar suara Dragon berteriak kencang sambil berlari menghambur dan memeluk mamanya


"Mamama." Celotehan bayi lucu yang sudah lancar berjalan. Terlihat pengasuhnya menyusul masuk untuk menjaga Dragon supaya tidak terjatuh.


"Drag, kamu sudah makan?" tanya Frolline pada bayi 14 bulan itu. Waktu sudah menunjukan jam makan siang.


"Sudah, Nyonya. Tadi makan siang ditemani Yé yé."


"Oh ... anak pintar. Papa sudah pulang?" tanya Frolline, mengusap dagu putranya yang terlihat menggemaskan.


"Belum, Nyonya. Tuan Ditya mungkin tidak akan makan siang di rumah. Ada rapat penting di perusahaan dan tidak bisa diwakilkan." Zoe menjelaskan apa yang diketahuinya.

__ADS_1


"Baiklah. Drag temani Mama dan adik bayi makan siang, ya." Frolline mengelus perut buncitnya sambil menggandeng putranya menuju ruang makan.


***


"Dad, Mom." Frolline menyapa kedua mertuanya yang lebih dulu mengisi kursi di meja makan.


"Ditya tidak pulang makan siang?" tanya Halim


"Tidak, Dad." Frolline menghempas tubuhnya ke kursi. Baru saja mencari posisi nyaman, Frolline kembali merasakan kontraksi. Kali ini lebih terasa, wajah ibu hamil itu terlihat pucat sembari meremas pinggiran meja makan.


"Fro, are you okay?" Meliana bertanya setelah merasa ada yang tidak beres dengan menantunya.


"Perutku sakit, Mom."


Halim baru saja membentang piring, sontak melepaskannya kembali.


"Mau melahirkan?" tanyanya panik. Kegugupan tercetak jelas di wajah rentanya.


"Tenang. Nanti, bukan cucumu yang datang ke dunia. Bisa-bisa Yéyé yang dipanggil pulang karena serangan jantung," gerutu Meliana kesal melihat tingkah suaminya.


"Kamu tidak tahu rasanya. Jantungku sudah berdetak kencang. Bergemuruh." Halim mengusap dadanya. Ia tidak merasakan ini saat menyambut kelahiran Marisa dan Ditya, namun saat cucunya akan lahir, ia menjadi tidak karuan. Perasaannya kacau, ini juga yang dirasakannya saat Frolline melahirkan Dragon tahun lalu.


"Joe, Zoe! Cepat! Kita harus ke rumah sakit! " titahnya.


"Hah, untuk apa ke rumah sakit?" tanya Frolline bingung. Pengalaman melahirkan Dragon di Inggris, ia tidak langsung berangkat ke rumah sakit. Masih menunggu sampai detik-detik akan melahirkan.


"Aku masih baik-baik saja, Dad." Frolline menenangkan. "Sakit perutku pun sudah hilang," lanjut Frolline.


"Tidak, pergi sekarang saja. Lebih cepat lebih baik." Halim menegaskan, tangannya menunjuk ke arah luar rumah.

__ADS_1


Pria tua itu begitu bahagia. Bahkan ia sudah bersiap menyambut cucunya. Laparnya hilang dalam sekejap. Terbayang cucu kedua keluarga Lim akan segera berada di dalam gendongannya.


***


Frolline berbaring di atas ranjang rumah sakit dengan wajah kebingungan. Ia dipaksa mertuanya rawat inap di rumah sakit milik keluarga mereka. Halim duduk di sofa bersama Meliana, menunggu sang menantu yang akan segera melahirkan. Itu yang dikatakannya pada dokter kandungan yang dimintanya untuk memeriksa.


"Maaf, Pak. Ini sepertinya belum ada tanda-tanda melahirkan." Dokter kandungan yang tergabung di rumah sakit milik Halim Group menjelaskan.


"Hah! Belum? Kamu sekolah kedokteran di mana? Jelas-jelas menantuku sakit perut. Itu artinya mau melahirkan. Bagaimana bisa tidak ada tanda-tandanya." Halim memarahi sang dokter.


"Sakit perut itu termasuk tanda-tanda akan melahirkan. Ya, kan?" Halim meminta pembenaran dari istrinya.


"Ya, tapi belum ada pembukaan sama sekali. Bisa saja kontraksi palsu. Ini normal pada wanita hamil, persiapan rahim untuk menghadapi persalinan. Dan akan sering muncul di saat waktu melahirkan makin dekat." Dokter menjelaskan dengan sabar. Ia maklum akan ketidaktahuan Halim akan hal ini.


"Kontraksi palsu, palsu! Ijazahmu yang palsu. Lalu ... kamu pikir menantuku menipu. Aku melihat jelas-jelas kalau menantuku kesakitan." Halim masih tidak terima. "Sudah, kamu boleh keluar. Panggilkan dokter kandungan yang lain!" titah Halim seenaknya.


"Ko, sudah. Jangan bersikap seperti ini, dokter lebih paham tentang kondisi Frolline. Mungkin saja belum secepat ini. Bisa saja melahirkan dalam beberapa hari lagi. Kita tidak tahu jelas. Kalau Koko tidak percaya dengan dokter kandungan, lalu harus percaya dengan siapa?" Meliana mulai kesal melihat tingkah laku suaminya yang berlebihan dan memalukan.


Tak lama, bunyi pintu dibuka kasar mengejutkan semua orang di dalam kamar perawatan. Ditya masuk dengan napas memburu. Ia sedang rapat dan dihubungi Halim kalau istrinya akan melahirkan. Dengan pikiran kacau, Ditya berlari menemui Frolline dan melepas pembahasan proyek puluhan miliar pada Firstan.


"Schatzi, maaf ... aku terlambat. Apa kata dokter?" tanya Ditya penasaran.


"Masih belum ada tanda-tanda, Ko. Aku diminta pulang. Nanti kalau memang sudah tanda-tanda melahirkan, baru diminta kembali." Frolline menjelaskan dengan wajah tenang. Sejak kontraksi terakhir di meja makan, ia tidak merasakan kontraksi lagi.


"Dokter kandungan apa yang kamu pekerjakan! Beraninya dia mengusir menantuku pulang ke rumah. Ini rumah sakitku. Aku mau tinggal di sini, mau camping di sini ... terserahku!" omel Halim.


"Dad, tidak bisa begitu. Bagaimana pun kita harus bersikap profesional. Walau ini rumah sakit milik keluarga kita. Ada aturan yang harus kita taati. Sudah ada ketentuannya, itu tidak boleh dilanggar. Walaupun ini milik keluarga, kita tidak bisa seenaknya. Dan ...." Ditya menghela napas.


"Dokter kandungan itu sudah ahli di bidangnya. Mereka lebih paham kondisi istriku. Kalau memang mereka meminta Frolline kembali ke rumah, artinya memang belum saatnya Frolline melahirkan." Ditya melanjutkan.

__ADS_1


"Istrimu itu sudah kesakitan. Malah dokter mengatakan belum ada tanda-tandanya." Halim berkata dengan lantang. Kesalnya belum hilang sepenuhnya.


***


__ADS_2