
Ditya masih meradang. Pria yang jarang terlihat marah itu masih kesal. Bahkan semua permohonan maaf Frolline diabaikannya.
“Ko, jangan marah lagi. Aku minta maaf.” Frolline mengambil posisi duduk, meraih lengan Ditya yang berdiri tanpa ekspresi di sebelahnya.
Ditya menoleh pun tidak, pria itu masih menyimpan kecewanya. Bukan masalah pil yang diminum, dia tahu jelas itu tidak berpengaruh apa-apa. Namun, ini masalah kepercayaan. Kalau pernikahan tanpa kepercayaan, mau dibawa ke mana rumah tangga mereka.
Padahal sejak kemarin-kemarin, Ditya sudah menegaskan pada istrinya kalau dia tidak mengizinkan Frolline menunda kehamilan. Masalah ini sudah dibahas sebelumnya, bahkan Ditya sudah menolak tegas keinginan Frolline.
“Untuk apa kamu menunda kehamilanmu, Fro?” tanya Ditya, mengusap kasar wajah kusutnya.
Frolline bergeming.
“KATAKAN!” bentak Ditya. Suaranya terdengar menggelegar. Beruntung kamar tidur mereka kedap suara, kalau tidak bisa dipastikan pertengkaran mereka akan terdengar mama Ditya di kamar sebelah.
“Maaf Ko ....”
“Cukup katakan apa alasanmu. Koko akan mencoba mempertimbangkan untuk memaafkanmu atau tidak, Fro.”
“Aku ... aku takut hamil. Em ....” Frolline tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Kalau dia berterus terang, Ditya akan tahu kalau dia menguping pembicaraan suami dan mama mertuanya.
Berdiri kaku, Ditya menatap tajam. Menunggu jawaban apa yang akan keluar dari bibir istrinya. Penjelasan apa yang akan Frolline katakan padanya.
“Maafkan aku, Ko. Ayo kita tidur sekarang,” bujuk Frolline dengan penuh kelembutan. Ikut berdiri dan menarik tubuh kekar suaminya agar berbaring bersamanya. Hal yang tidak pernah dilakukannya selama ini, tetapi demi meredam amarah Ditya, dia melakukannya.
Frolline tersenyum lega, saat Ditya menurut. Suaminya ikut merebahkan tubuh di sisinya. Namun, senyum indah itu tidak berlangsung lama, seketika lenyap saat Ditya berbalik, membelakanginya.
“Ko, jangan marah lagi. Aku minta maaf,” bisik Frolline, mendekat dan berucap pelan di telinga Ditya.
Hening —
Ditya bahkan tidak peduli, Frolline hanya bicara seorang diri. Tidak ada tanggapan dari suaminya sama sekali. Hanya punggung kekar yang menjadi saksi bisu.
“Ko, jangan marah lagi,” bujuk Frolline.
Kali ini Ditya bisa sedikit tersenyum, saat Frolline merebahkan kepalanya di lengan Ditya yang sedang berbaring menyamping. Meskipun begitu, pria tampan itu masih mempertahankan sikap dinginnya. Bersiap menunggu reaksi Frolline selanjutnya. Berharap istrinya akan semakin berani. Tidak biasanya Frolline mau mendekatinya terlebih dulu. Biasanya, dialah yang harus berjuang meluluhkan istrinya lebih dulu.
“Ko ....”
Tidak mempan dengan semua kalimat permintaan maafnya yang mengalun lembut, Frolline menyusuri lekuk pinggang Ditya dengan kedua tangannya dan memeluk erat.
“Jangan marah lagi, ya. Aku minta maaf,” bisik Frolline, menempelkan diri di punggung sang suami.
Deg—
__ADS_1
Ditya sedang menikmati detik-detik keintiman yang dibagi Frolline untuknya. Pria itu bisa merasakan tubuh istrinya yang menempel erat padanya, kuncian tangan yang mengerat di perut roti sobeknya. Ingin rasanya berbalik dan menghambur memeluk. Mengecup seluruh wajah Frolline demi semua hal manis yang baru saja dihadiahkan Frolline padanya.
“Ko, jangan ma ....”
“Jangan meminumnya lagi!” potong Ditya, menahan nada bicaranya supaya terdengar tegas. Dia tidak mau Frolline tahu kalau saat ini dia sedang tersenyum bahagia. Masih bertahan di posisi semula.
“Ya ....”
“Awas kalau Koko melihatmu meminumnya lagi! Kamu ingat, jangan berani melakukannya lagi!” ancam Ditya.
“Ya, Ko.” Frolline pasrah. Hanya bisa mengiyakan tanpa sanggup membantah. Semua ucapan Ditya saat ini harus diturutinya.
“Hamil secepatnya. Kalau tidak hamil bulan depan, Koko anggap kamu meminumnya!” Kalimat ancaman itu berlanjut lagi.
“Ko, bagaimana bisa begitu. Kalau aku tidak hamil ....”
“Koko anggap kamu diam-diam meminumnya lagi di belakang Koko,” seru Ditya memotong ucapan sang istri. Tawanya hampir pecah saat kalimat itu meluncur mulus dari bibirnya.
“Tidak bisa begitu Ko.” Frolline melepaskan belitan tangannya di pinggang Ditya.
“Koko tidak mau tahu, kamu harus hamil Fro. Harus!” tegas Ditya.
Merasakan pelukan Frolline melonggar, Ditya kembali mengancam. “Peluk Koko sekarang, Fro!” perintah Ditya, sembari menahan tawa. Hampir tergelak saat merasakan belitan di pinggangnya kembali erat.
“Berusaha untuk hamil, Fro. Kalau tidak aku akan menuduhmu macam-macam.” Ditya berkata.
“Bagaimana bisa begitu, Ko.”
“Dibisa-bisakan saja. Ayo sekarang, berjuang untuk hamil, Fro.” Ditya memancing.
“Bagaimana berjuangnya, Ko.” tanya Frolline dengan polosnya.
“Pikirkan saja, Fro. Koko mengantuk. Mau tidur, besok harus bangun pagi-pagi sekali,” ucap Ditya, memejamkan mata dengan senyum terukir indah di bibirnya.
“Ko, kamu sudah memaafkanku?” tanya Frolline dengan polosnya.
“Belum, Fro. Koko masih marah padamu,” ucap Ditya, melanjutkan tidurnya.
***
Pagi itu, Frolline terbangun dengan kepala terasa berat dan berdenyut. Memaksa menatap jam di atas nakas, waktu baru menunjukan pukul enam pagi. Baru saja dia memejamkan matanya kembali, tetapi tangannya tanpa sengaja menyentuh ranjang kosong di sisinya. Seprai itu dingin, seperti sudah lama ditinggalkan. Tidak tersisa hangat tubuh di permukaan seprai sutra ungu itu.
Deg—
__ADS_1
Matanya membuka lebar, otaknya sedang merangkai kisah. “Koko?” bisiknya pelan. Kembali teringat dengan pertengkaran mereka semalam. Mengingat bagaimana amarah Ditya saat mengetahui dia mengkonsumsi pil KB tanpa permisi.
Tanpa pikir panjang, Frolline meraih ponselnya. Bagaimana pun dia harus menghubungi Ditya dan meluruskan semuanya. Pasti suaminya masih marah, sampai pergi sepagi ini, tanpa pamit sama sekali.
Bunyi nada sambung itu terdengar begitu menyesakan. Frolline tampak gugup dan tidak sabar menanti suara maskulin yang akan menyambutnya di seberang panggilan. Panggilan pertama berakhir dengan gadis penunggu kotak suara. Tak putus asa, Frolline melakukan panggilan ulang.
Duduk di sisi ranjang dengan tidak sabar, Frolline melupakan sakit kepala yang sedang menyerangnya. Tidak ada yang terpenting saat ini kecuali maaf dari Ditya.
“Hallo ....” sapa seseorang di ujung panggilan.
Frolline melemas saat memastikan bukan suara suaminya yang menjawab panggilan.
“Matt, Koko di mana?” tanyanya.
“Bos, sedang tidak bisa diganggu, Nyonya.” Matt menjawab singkat.
“Kalian sedang di mana ini? Jam berapa tadi jalan dari rumah?” tanya Frolline.
“Di hotel, Nyonya. Bos sedang dipijat. Katanya sedang pusing, butuh sesuatu untuk menenangkan. Bos mengatakan butuh kehangatan. Sudah lama tidak mendapatkan kehangatan di rumah,” jelas Matt, menahan tawanya. Asisten itu benar-benar bahagia di saat berkesempatan mengerjai sang Nyonya.
“Hah! Sepagi ini dipijat? Maksudnya pusing bagaimana Matt?” Frolline memberondong dengan banyak pertanyaan.
“Ya, Nyonya. Kebetulan fasilitas hotel ini menyediakan spa dan pijat plus-plus,” jelas Matt semakin menjadi.
“Pas sekali, Bos juga butuh kehangatan yang plus-plus,” lanjut Matt.
Sudah tidak terkira bahagianya Matt, saat mendapati nada cemburu dari sang Nyonya. Kalau dia berhasil membuat Frolline bertekuk lutut dan menunjukan perhatian pada Ditya, Matt yakin akan mendapatkan tambahan bonus. Tabungannya akan semakin membengkak, pundi-pundi uangnya pun akan semakin bertambah. Bukan tidak mungkin, cita-citanya melamar Rania semakin dekat.
“Ayah daddy mertua, tolong doakan menantu kesayanganmu ini. Aku berjanji akan segera membawa kedua orang tuaku untuk melamar Ran-Ran. Aku tidak akan membiaran putri kesayangan ayah daddy mertua menunggu terlalu lama dan menjadi perawan tua,” batin Matt.
Matt tersentak dari lamunannya saat mendengar suara teriakan Frolline dari seberang. “MATT!!” pekik Frolline memekakan telinga.
“Berikan ponselnya pada Koko!” perintah Frolline.
“Bos benar-be ....”
“Berikan sekarang!” perintah Frolline dengan amarah bercampur cemburu yang menyatu.
“Ba-baik Nyonya.” Terlihat Matt, menutup rapat ponselnya supaya pembicaraannya dengan Ditya tidak terdengar.
“Bos, telepon dari Nyonya. Kalau bisa ... setiap berbicara dengan Nyonya disertai desahan, ya.” Matt memberi ide sembari tertawa. Ditya yang sejak tadi duduk di kursi belakang hanya bisa menatap heran. Mereka sedang dalam perjalanan menuju bandara.
***
__ADS_1
TBC