
Entah siapa yang memulai duluan, pada akhirnya kedua anak manusia itu takluk pada nafsu dan gairah. Ditya melakukannya jauh lebih lembut dari biasanya. Ia ketakukan kalau penyatuan indah itu akan mempengaruhi buah hati mereka yang baru berusia beberapa minggu.
“Ich liebe dich.” Ungkapan cinta Ditya saat berada di puncak kenikmatan. Napasnya masih tersengal hebat. Detak jantungnya pun masih bergemuruh.
Mata elangnya menatap lekat pada wajah cantik berhias peluh yang begitu pasrah berbaring di bawah kungkungannya. Setelah melewati banyak waktu bersama, bibir manis Frolline belum pernah sekali pun mengucapkan kata cinta padanya, membalas pernyataan cintanya. Bahkan di saat calon anaknya sudah bersemayam di dalam rahim wanita yang dicintai dengan segenap hati, Ditya masih belum mendapatkan cinta yang sama besar dari istrinya. Cinta yang diperjuangkan selama hidup bersama Frolline, masih jauh dari harapannya.
“I love you, Schatzi,” ulang Ditya menyunggingkan senyuman. Jemarinya turut mengukir lekuk wajah cantik sang istri. Berlabuh pada bibir tipis merona yang sedang menahan nikmat tersisa di penghujung pertarungan mereka.
Seulas senyuman menjawab pernyataan cinta Ditya, Frolline memejamkan mata saat bibir sang suami menyapu bibirnya. Ia mengalungkan kedua tangan di leher pria yang sejak tadi berulang kali mengantarkannya terbang ke nirwana.
“Apa Koko membuat kalian kesakitan?” tanya Ditya menggulingkan tubuh telanjangnya di sisi ranjang. Ia tidak ingin terlalu lama menindih Frolline. Khawatir akan membuat istri dan anaknya terluka dan cedera tanpa disadarinya. Bayi mereka masih terlalu kecil, belum bisa diajak kerja lari maraton terlalu lama.
Frolline menggeleng. Buru-buru bangkit dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
“Terima kasih, Schatzi.” Ditya berbaring menyamping, menahan kepalanya dengan tangan kanan yang bertumpu di atas tempat tidur. Ia ikut menarik selimut menutupi tubuhnya, berbagi kehangatan yang sama. Dari posisinya sekarang, ia bisa menatap Frolline sepuasnya.
Hawa dingin kembali menyerang setelah deru napas keduanya mereda. Frolline mendekap erat selimut sebatas dada.
“Fro, apakah kamu bahagia menikah dengan Koko?” Ditya tiba-tiba melontarkan pertanyaan memecah keheningan.
Frolline yang masih menatap langit-langit kamar, seketika menoleh ke samping. Sorot matanya meredup, ia menelan saliva.
“Aku ....” Frolline mengatupkan bibirnya kembali, tidak mampu melanjutkan kata-katanya yang mungkin saja bisa melukai Ditya.
“Pernah menyesal menikah dengan Koko, Fro?” tanya Ditya, mengganti pertanyaan.
“Tidak pernah, Ko.”
Ditya merebahkan kembali tubuhnya, ikut memandang langit-langit kamar. Suasana kamar mewah Ditya terasa begitu hangat dengan cahaya lampu menguning keemasan. Meskipun begitu, semburan hawa dingin dari pendingin ruangan tetap saja membuat tulang-tulang terasa ngilu.
“Kemarilah Schatzi.” Ditya membawa Frolline ke dalam pelukannya, mendekapnya erat.
Sudah sejak lama pertanyaan ini menghuni hatinya. Ia tidak memiliki keberanian untuk bertanya. Selama ini ia khawatir jawaban yang keluar dari bibir Frolline akan membuat hatinya hancur. Namun sejak mengetahui istrinya hamil, ia jadi memiliki keberanian.
Mereka memiliki sesuatu yang bisa menguatkan ikatan pernikahan mereka. Ya, kehamilan Frolline menghempaskan ketakutannya perlahan. Ia jadi memiliki alasan untuk tetap bertahan dan berjuang demi mendapatkan cinta Frolline seutuhnya.
“Fro ....”
“Hmmm.”
__ADS_1
“Katakan pada Koko, apa masih ada First di dalam hatimu?” tanya Ditya menunjuk dada Frolline dengan ujung telunjuknya
Frolline tidak mau menjawab, sebaliknya ia berusaha menatap mata Ditya. Ia ingin melihat apa maksud dari pertanyaan suaminya itu melalui mata. Kalau bibir bisa berdusta, tetapi sorot mata itu selalu jujur.
Ditya terkekeh. “Koko hanya ingin mengetahuinya, Fro. Apa yang selama ini membuatmu begitu mencintainya. Sampai tidak rela mengeluarkannya dari dalam hatimu. Kamu memilih menyembunyikannya di bagian terdalam hatimu. Kamu menyimpannya begitu rapat sampai First sendiri sulit untuk melangkah pergi.”
“First ... cinta pertamaku.” Dua bulir air mata jatuh di pelipisnya. Frolline buru-buru menghapusnya.
“Lalu?”
“Kami tumbuh bersama, kami belajar mengenal dunia bersama. Kami belajar ... mengenal cinta bersama. Kami memiliki impian bersama yang tidak mungkin ....” Frolline terdiam. Ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Tangisnya semakin kencang, tubuh Frolline bergetar hebat. Diingatkan tentang Firstan, ia seperti diingatkan tentang impian-impiannya yang belum tercapai.
“Masih mencintainya?” tanya Ditya menggigit bibirnya. Hanya melempar pertanyaan saja, sakit itu sudah menusuk ke dalam hati. Bagaimana kalau ia harus mendengar jawaban itu keluar dari bibir Frolline sendiri.
Frolline bungkam, ia membenamkan wajah basahnya ke dalam pelukan hangat Ditya. Diingatkan kembali tentang cintanya pada Firstan, luka itu menganga kembali.
“Diammu ... Koko anggap sebuah jawaban, Fro.” Ditya berkata. Susah payah menyembunyikan hatinya yang terluka, tetapi kali ini luka yang digalinya sendiri.
“Fro, apa yang membuatmu jatuh cinta padanya?” tanya Ditya lagi. Mungkin ia bisa sedikit berubah demi membahagiakan Frolline.
“Apa yang ada di First? Apa yang ada di dirinya sampai bisa membuatmu mencintainya sedalam ini?” tanya Ditya.
Frolline menarik napas berat. “Semuanya. Semua yang ada di dirinya. Semua tawa dan air mata yang sudah kami lewati bersama, membuatku mencintainya,” jawab Frolline di sela tangisannya.
“Maafkan Koko, Fro.” Ditya hanya sanggup mengucapkan satu kalimat itu saja. Ditya memilih melampiaskan perasaan terlukanya lewat pelukan dan kecupan. Kalau ada yang harus disalahkan, tentu ia yang paling bersalah. Ia yang memaksa untuk menikahi Frolline dengan berbagai cara.
“Tidur sekarang, Fro. Besok pagi-pagi kita harus kembali ke Jakarta.” Ditya mengecup pelan kening Frolline, menyunggingkan senyum di tengah hatinya yang menangis.
“Sampai sejauh ini, Koko masih belum mampu menyingkirkannya. Koko hanya berharap, suatu saat kamu akan mengucapkan kata cinta itu pada Koko, Fro.” Ditya berkata dalam hati.
Ditya baru bisa menangis setelah melihat Frolline terlelap. Sejak tadi berusaha menguatkan diri, dan sekarang ia baru bisa mengekspresikan hatinya yang terluka.
***
Pagi hari di kediaman Halim Hadinata.
Frolline sedang mengeringkan rambut panjangnya saat Ditya keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di pinggang. Pria itu terlihat biasa, seolah tidak terpengaruh dengan pernyataan menyakitkan Frolline semalam.
“Ko, kita kembali ke Jakarta jam berapa?” tanya Frolline dengan pengering rambut di tangan.
__ADS_1
“Setelah sarapan, kita berpamitan dengan Daddy dan Mommy.” Ditya menjawab sambil mengenakan pakaiannya kembali.
“Kenapa? Kamu sudah tidak betah lagi, Fro?” tanya Ditya berjalan mendekat ke arah meja rias, menatap Frolline dari pantulan cermin. Kemejanya belum terkancing sempurna, celana panjangnya pun masih acak-acakan.
“Aku mau menemui Mami ... em Kak Marisa.” Frolline berbalik, duduk mengarah ke sang suami. Tanpa diminta, ia membantu mengancingkan kemeja Ditya.
“Aku belum mengabari Kak Marisa tentang kehamilanku,” jelas Frolline. Ia terlihat serius dengan kancing-kancing kemeja hitam Ditya.
“Sudah rapi.” Frolline mendongak, tersenyum menatap Ditya.
“Jangan pergi terlalu lama. Kamu akan menemui First juga?” tanya Ditya berusaha bersikap setenang mungkin. Menghadiahkan kecupan selamat pagi di pipi kiri dan kanan istrinya.
“Aku belum tahu, Ko. Kalau bertemu dengannya di sana, tentu aku harus menyapanya,” sahut Frolline mencoba jujur.
“Ya ....” Suara Ditya terdengar pelan, menyembunyikan cemburunya.
Bunyi dering ponsel di atas nakas menghentikan obrolan mereka. Ditya mengerutkan dahi saat mendapati sahabatnya Wira yang sedang menghubunginya saat ini.
“Siapa, Ko?” tanya Frolline.
“Wira.” Ditya meletakan telunjuknya di bibir, meminta Frolline berhenti berbicara saat ia menerima panggilan.
Obrolan singkat, hanya membahas proyek Halim Group dan turnamen di klub golf. Sambungan itu berakhir saat Ditya mengatakan kalau ia sedang di Surabaya, bersiap kembali ke Jakarta.
“Ko, Wira temanmu yang mana?” tanya Frolline bingung. Jujur saja, sejak menikah ia tidak pernah dikenalkan dengan rekan kerja maupun teman baik Ditya. Kalau ada, itu pun saat mereka tidak sengaja bertemu. Ditya tidak pernah mengenalkannya secara khusus pada lingkungan pekerjaan maupun pergaulannya.
“Duda tampan, mapan dan yang pasti menjanjikan. Koko berencana mengenalkannya pada Angella. Bagaimana menurutmu, Fro? Sepertinya Wira cocok dengan Angella,” ucap Ditya, meminta pendapat.
“Hah! Kak Angella? Koko memiliki kontak Kak Angell?” tanya Frolline heran. Selama ini mereka tidak pernah menyinggung masalah Angella sama sekali.
“Tentu saja. Angella di Inggris sekarang. Melanjutkan pendidikannya di sana. Ia menempati flat Koko di sana.” Ditya menjawab dengan santai.
“Bagaimana, Fro? Apa kamu setuju kalau Koko mengenalkannya pada kakakmu?” tanya Ditya sibuk menggeser layar ponselnya, kemudian menunjukan foto Wira yang memenuhi layar.
Frolline terbelalak, mulutnya terngaga. “Dia tampan sekali.” Tiba-tiba Frolline menutup mulutnya dengan kedua tangan setelah menyadari Ditya sedang menatap tajam ke arahnya. Pujiannya pada Wira membuat sang suami kesal.
***
Ich liebe dich artinya aku cinta padamu dalam bahasa Jerman.
__ADS_1