
Ditya berdiri dan segera menghampiri mamanya. Tamu istimewa yang tidak pernah diduga sama sekali. Di dalam 35 tahun hidupnya, ini adalah pertama kalinya sang mama menginjakan kaki ke kediaman Halim Hadinata. Berada di satu ruangan dengan Daddy dan Mommy.
"Du bist schön." ( Kamu cantik ).
Ditya memuji sang mama dalam bahasa Jerman. Kemudian, mengecup kedua pipi mamanya sebelum memeluk wanita paruh baya itu dengan erat. Penampilan yang tidak biasa, Mama Ditya malam ini terlihat berkelas dengan gaun shanghai. Tidak kalah dengan Nyonya Meliana Hadinata.
"Danke." ( Terima kasih )
Mama Ditya menepuk pelan pipi putranya setelah pelukan mereka terlepas. Bahagia tentu saja dirasakan wanita itu, bisa duduk bersama dan semeja dengan Halim Hadinata dan Meliana Hadinata. Ia merasa dihargai.
Mama Ditya beralih menyapa Halim Hadinata yang masih duduk dan tersenyum padanya dari kejauhan.
"Terima kasih untuk undangannya, Ko." Mama Ditya berjalan mendekati Halim. Memeluk dan menempelkan pipinya di kedua pipi keriput Halim untuk menjaga kesopanan.
"Apa kabarnya, Ko?" tanya Mama Ditya dengan lembut. Sikap yang sangat jauh berbeda dengan kesehariannya. Bahkan wanita itu mengecat ulang rambutnya. Terlihat dari rambut hitam pekat yang disanggul sederhana.
"Baik." Jawaban singkat Halim, menepuk pelan pundak Mama Ditya.
"Ci, apa kabarmu?" Mama Ditya beralih menyapa Meliana Hadinata. Wanita itu sejak tadi sudah berdiri, bersiap menyambut.
Pelukan yang sama diberikan Mama Ditya pada Meliana Hadinata, menempelkan kedua pipi seperti kebiasaan keluarga Halim menyambut orang-orang terdekatnya. Sejak masuk ke lingkungan Halim Hadinata, tentu saja ia belajar banyak hal. Termasuk hal-hal sederhana seperti ini.
"Kabar baik. Kamu masih secantik dulu." Meliana menjawab dengan ramah dan mempersilakan Mama Ditya yang bernama asli Lily itu untuk duduk di sebelahnya.
Melihat itu, Ditya buru-buru menghampiri dan menarik kursi untuk mamanya duduk.
"Aku senang you bisa bergabung di sini bersama kami," ucap Ditya dengan mata berbinar-binar.
Setelah semuanya duduk, terlihat Halim menatap Frolline. Bahkan menantunya tidak berdiri dan menyapa ibu mertuanya. Frolline hanya mengirim seutas senyuman yang dibalas dengan senyuman yang sama oleh Mama Ditya.
Acara makan malam itu berjalan lancar tanpa ada hambatan. Tidak ada perbincangan, Halim baru membuka suara setelah bunyi denting sendok dan sumpit tidak terdengar lagi. Baru ada obrolan sederhana ketika tidak ada lagi aktivitas di atas meja makan.
"Ko, aku khusus mengundang mamamu malam ini, karena ia adalah wanita terpenting di dalam hidupmu. Dan ini hadiah dariku atas kehamilan istrimu." Halim berkata sambil menautkan jari-jari keriputnya di atas meja makan.
"Kalau ditanya siapa paling bahagia saat mendengar istrimu hamil, tentu mamamu salah satunya. Dia sebentar lagi akan menjadi Nai-nai untuk anak yang ada di dalam kandungan istrimu."
__ADS_1
Pria itu berhenti mengoceh sejenak. Dengan kode lambaian tangan, ia meminta Joe mendekat.
"Ini Tuan," ucap Joe, menyerahkan kotak perhiasan berukuran kecil, berlapis beludru merah.
"Kamu boleh pergi sekarang." Halim memberi perintah dengan mengibaskan tangannya.
Tak ada obrolan atau sekedar bisikan di meja makan. Semua orang memilih diam dan menunggu sang kepala keluarga bersuara. Halim menatap kedua wanita yang duduk bersebelahan tak jauh darinya.
Meliana Hadinata, istri yang sudah menemaninya selama hampir lima puluh tahun dan Lily, ibu biologis dari putranya Ditya Halim Hadinata. Tentu saja dua wanita itu sama berarti di dalam hidupnya.
Tatapan pria berusia tujuh puluh tiga tahun itu beralih ke sisi kanan meja. Ada Ditya yang duduk sambil menggenggam erat tangan istrinya.
"Ko, ini untukmu." Halim menyodorkan kotak perhiasan yang baru saja diserahkan Joe itu kepada Ditya tanpa membukanya terlebih dulu. Dengan tangan kiri diam-diam menggenggam tangan keriput Meliana, Halim tidak mau ada perpecahan di tengah keluarga hanya karena masalah sepele ini. Ia tidak ingin istrinya cemburu untuk hal kecil tetapi itu adalah tradisi keluarga mereka. Ia tidak bisa mengacaukan semua aturan yang ada di keluarga besarnya, aturan yang sudah ada sejak generasi sebelumnya.
"Wariskan nanti pada putra tertuamu. Karena anak laki-lakimu yang akan membawa nama dan marga keluarga kita. Putra tertuamu juga yang akan menduduki posisi puncak Halim Group ke depannya." Halim berpesan sambil melirik ke arah Meliana. Ia tidak ingin istrinya merasa terlangkahi atau terabaikan. Walau bagaimana pun, wanita itu yang selama ini mendampinginya.
"Ya, Dad."
"Aku berharap ... bersamamu Halim Group akan semakin kuat dan besar. Harapanku hanya itu saja."
"Ya Dad."
"Jangan sampai terjadi perpecahan di keluarga kita. Mengenai Marisa, aku sudah mengaturnya. Anak itu tentu harus pulang ke tempatnya setelah puluhan tahun membangkang. Hak dia tetap ada meskipun aku sudah mengeluarkannya dari keluarga kita" Halim berpesan kembali.
"Ya Dad."
"Aku lelah. Aku mau berisirahat sekarang." Halim menatap ke araha Lily.
"Joe akan mengurus semuanya untukmu. Sebentar lagi dia akan meminta orang mengantarmu ke hotel." Halim berpesan pada istri keduanya sebelum memanggil Joe untuk membawanya ke kamar.
***
Hawa dingin menyeruak di kamar mewah Ditya. Sepasang suami istri itu masih terjaga. Duduk bersisian di tempat tidur sambil bersandar di tumpukan bantal yang tersusun, menatap kotak perhiasan yang terbuka di tangan Ditya.
Sebuah cincin giok dengan model sederhana tersimpan rapi di dalam kotak. Entah apa yang membuatnya menjadi begitu istimewa. Tampilannya biasa-biasa saja, tetapi ketika mendapatkan itu seluruh Halim Group langsung berada di dalam genggaman.
__ADS_1
"Ko, aku tadi melihat wajah Mommy saat Daddy menyerahkan kotak perhiasan ini padamu," ucap Frolline bersandar dengan nyaman di pundak Ditya.
"Hmmm."
"Aku kasihan pada Mommy."
"Hmm ... Mommy sudah tahu hari ini pasti terjadi. Sejak menikah dengan Daddy, pasti Mommy sudah paham sekali dengan semua aturan keluarga. Sudah menyiapkan hatinya. Bahkan hal-hal seperti ini aku sudah mengetahuinya sejak dulu. Anak laki-laki di keluarga Halim itu begitu berharga. Bahkan Daddy rela menikah lagi untuk mendapatkan anak laki-laki." Ditya menjelaskan.
"Andai aku tidak memiliki anak laki-laki, lalu apa aku harus merelakan Koko menikah lagi seperti Mommy?" tanya Frolline lagi.
Ditya tersenyum.
"Memang kamu mengizinkan Koko menikah lagi?" Ditya balik bertanya. Tersenyum mengusili Frolline yang terlihat cemberut.
Frolline menggeleng. "Tidak, Koko tidak boleh menikah lagi," tegas Frolline.
"Ya sudah. Kalau tidak boleh menikah lagi, berjuanglah untuk melahirkan anak laki-laki untuk Koko." Ditya menutup kotak perhiasan dan meletakannya di atas nakas.
"Kalau tetap tidak bisa ... aku harus bagaimana?" tanya Frolline.
"Kita program bayi tabung." Ditya menjawab dengan santai.
"Ko, aku serius!" gerutu Frolline.
"Hahaha ... jangan dipikirkan Schatzi. Waktu berganti, zaman pun akan berubah. Saat itu terjadi, semua aturan ada di tanganku. Terserah aku mau memberikan Halim Group pada siapa. Aku tidak mempermasalahkan anakku perempuan atau laki-laki. Apapun gendernya, mereka anak-anakku. Yang lahir dari rahim wanita yang aku cintai," tegas Ditya. Tangannya meraih pundak Frolline dan mendekapnya erat.
"Daripada pusing dengan kata-kata Daddy, sebaiknya izinkan aku memastikan kalau anakku yang sekarang ada di dalam rahimmu itu laki-laki atau perempuan," ucap Ditya usil.
"Bagaimana bisa?"
"Ya harus dilihat. Diintip dulu, Fro. Aku bisa melakukannya, kamu cukup pasrah dan jangan banyak protes. Kalau di dalam sedang bermain bola berarti anakku laki-laki. Kalau sedang bermain boneka berarti anakku perempuan." Ditya terbahak.
"Kalau ada boneka dan bola di dalamnya, Ko?"
"Hah?" Ditya terbelalak.
__ADS_1
***
Nai-nai adalah panggilan untuk nenek dari pihak ayah.