
Sebulan berlalu.
Bayi lucu Dragon sudah dikenakan pakaian merah dengan rambut barunya. Ditya mencukur habis rambut putranya sebagai salah satu simbol di tradisi Man Yue atau pesta telur merah. Perayaan untuk bayi yang menginjak usia satu bulan. Di acara ini juga, Ditya mengundang beberapa sahabat untuk mengenalkan putra pertamanya.
Mama Lily tampak sibuk di dapur, merebus telur dan mewarnainya sehingga menjadi kemerahan pekat. Untuk cucu laki-lakinya, sesuai tradisi ia harus menyiapkan telur dalam jumlah jamak. Dan telur itu nanti akan dibagi-bagi bersama dengan bingkisan lainnya kepada para tamu.
Angella terlihat sibuk menggoda Dragon yang ditidurkan di box bayi, di ruang tamu. Bersama pacarnya yang tak lain adalah sahabat Ditya, keduanya menggoda baby Dragon yang tampak ceria sekali dengan penampilan barunya.
Dan Frolline, ibu muda itu berdiri di depan jendela apartemen, mengeratkan jaket tebalnya sambil menatap jalanan kota London yang sudah memasuki musim dingin. Belum tampak salju, tetapi suhu udara sudah membuat tulang ngilu. Perapian listrik pun sudah menyala di salah satu sudut ruangan.
“Fro, kenapa berdiri di sini?” tanya Ditya. Tiba-tiba pria itu sudah memeluk pundak Frolline dengan erat.
“Aku merindukan mama dan papaku. Sudah hampir setahun, aku tidak mengunjungi mereka lagi.” Frolline berkata lirih. Mata indahnya berkaca-kaca.
“Setelah Dragon bisa diajak terbang jauh, kita kembali ke Indonesia.”
Frolline mengangguk sembari mengusap pelan tangan Ditya yang sedang menguncinya.
“Aku juga merindukan mami, papi,” lanjut Frolline. Tatapannya menerawang jauh, memandang langit yang tertutup awan mendung dan atap bangunan bertingkat yang menjulang sepanjang jalan.
“Tidak merindukannya?” pancing Ditya. Ia yakin Frolline paham maksudnya.
Froline menggeleng. “Aku sudah memilikimu dan Dragon. Aku tidak berhak lagi merindukannya.”
Kalimat itu keluar dengan ringan dari bibir tipis Frolline. Tidak seperti sebelumnya, setiap mengucap nama Firstan, ada rasa yang tertinggal di dalam hati. Nama itu dulunya selalu membuat lidah kelu. Ada kenangan bersama yang memeluknya begitu erat sampai terkadang membuatnya sulit bernapas. Dan sekarang, tanpa Frolline sadari kenangan-kenangan itu menguap seiring waktu. Tersisa di hati, tetapi untuk dikenang, bukan untuk diharapkan lagi.
“Aku mencintaimu, Fro. Sangat! Sejak bertemu denganmu dan memastikan kalau kamu adalah gadis yang tepat, aku memberanikan diri melamar pada orang tuamu di kesempatan pertama.”
“Hah?” Frolline berbalik, menatap suaminya.
“Papamu langsung merestui di pertemuan pertama. Ia menceritakan banyak hal tentangmu padaku. Bahkan memintaku untuk segera menikahimu, agar rumah tangga Angella dan Firstan pada saat itu tidak berantakan.”
“Apa papaku mengetahui semuanya?” tanya Frolline.
“Papamu tahu jelas semuanya. Hubungan terlarangmu dengan Firstan. Untuk itulah ... papa memintaku untuk menikahimu secepatnya. Bahkan papa banyak membantuku untuk mendapatkanmu.”
__ADS_1
“Aku sudah berjanji pada papamu banyak hal. Terlampau banyak, sampai aku tidak tahu harus mulai memenuhi janjiku dari mana.” Ditya tergelak pelan.
“Termasuk mengurus pengobatan dan pemakaman papa?” cerca Frolline, mengingat Ditya menghabiskan banyak uang untuk itu.
“Ya ... termasuk mengurus mamamu dan Angella.” Ditya menambahi.
Bunyi dering ponsel dari saku Ditya mengejutkan sekaligus memutuskan obrolan keduanya. Ditya mengernyit saat mendapati daddy menghubunginya melalui sambungan video call.
“Daddy? Ada apa, ya?” ungkap Ditya menatap Frolline.
Frolline menggeleng.
“Ya, Dad ....” Ditya menyapa saat wajah sang daddy memenuhi layar ponselnya. Tidak tersisa untuk yang lain.
“Jin Long, apa kabarnya? Kenapa tidak mengirim videonya padaku?” Halim bertanya setelah hampir dua hari Ditya tidak menghubunginya. Ia sudah merindukan naga emas mungilnya.
“Aku dan Fro sedang sibuk mengurus acara satu bulanan Dragon, Dad.”
“Rambutnya sudah dicukur habis? Ah, berikan ponsel ini padanya. Aku tidak butuh melihat wajahmu, aku rindu cucuku.”
“Apa aku kirimkan Matt ke London. Khusus untuk membantuku memegang ponsel untuk cucuku.” Halim berkata pelan, sembari mempertimbangkan ide konyolnya.
“Hahaha ... tidak perlu, Dad.”
“Perempuan tidak tahu diri itu sedang apa? Apa dia menyusahkan cucuku? Kalau dia menyusahkan Jin Long, aku tidak keberatan kalau kamu melemparnya ke selat Inggris.” Halim menegaskan.
Hah?” Ditya mengerutkan dahi.
Mama Lily tiba-tiba menarik tangan putranya dan mengarahkan ponsel pada wajahnya sendiri.
“Hmm, aku sedang sibuk membuat telur merah.” Mama Lily menjawab dengan ketus. Sejak Dragon lahir, posisi Mama Lily di atas angin. Terkadang, ia tidak segan-segan lagi menentang Halim. Bayi mungil itu sanggup mengangkat statusnya secara tidak langsung.
“Bawa ponsel ini pada cucuku. Aku muak melihat wajah-wajah tidak penting kalian. Tidak terasa Jin Long sudah sebulan ....”
“Ya, karena kamu tidak mengurusnya, tidak mendengarnya menjerit setiap malam. Bagi kami di sini, sebulan itu rasanya setahun, Ko,” keluh Mama Lily.
__ADS_1
“Cepat tunjukan padaku, aku sudah merindukannya.” Halim memaksa.
***
Hampir setengah jam suara Halim menggema di ruang tamu apartemen. Pria tua itu tidak pernah bosan bicara sendiri, di saat cucunya bahkan tidak menanggapi karena belum mengerti sama sekali. Gawai Ditya akhirnya berpindah tangan ketika Halim puas berceloteh dengn Dragon.
“Ko, kapan kalian pulang ke Indonesia?” tanya Halim. Suaranya terdengar melemah dan berkaca-kaca. Melewati sembilan purnama terpisah dari putra tunggalnya, Halim merasakan hidupnya hampa.
Walau kepergian Ditya berbeda dengan kepergian Marisa dulu, tetap saja setengah jiwanya melayang. Usia semakin bertambah, egonya pun dituntut untuk semakin berkurang. Zaman sudah berubah, bukan hanya yang muda yang diharuskan mengalah. Ada saatnya, ia juga harus melemah di depan anak-anak. Dunia bukan lagi di dalam genggamannya, tetapi sebaliknya. Tubuh rentanya sudah di dalam genggaman dunia yang keras, yang sewaktu-waktu bisa menghempaskannya kapan saja.
Di usianya yang sudah kepala tujuh, ia sedang menikmati detik-detik yang tersisa. Pernah menyesal, tetapi ia cukup bangga dengan pencapaiannya. Di hari tua, ia tidak akan menyusahkan anak cucunya. Ia bahkan sudah menyiapkan semuanya, sampai ia meninggal nanti. Ia tidak mau membebani keturunannya.
Kedua tangannya berhasil menyiapkan masa depan untuk anak dan cucunya. Berharap keturunannya ke depan tidak mengalami kesulitan seperti yang dialaminya. Halim Group lebih besar lagi dari sebelumnya. Memang semua hasil usaha dan kerja kerasnya tidak dibawa mati, tetapi ia cukup bahagia saat bisa mewariskan semua pada anak dan cucu.
Mudah-mudahan dengan pendidikan, adab dan kesiapan mental yang diajarkan sejak diri pada anak-anaknya, keturunannya itu bisa membawa perusahaannya semakin mendunia dan namanya masih tetap diingat semua orang. Tidak hilang bersama dengan dirinya yang melebur bersama tanah basah dan rumput kering.
Karena saat nyawa tercabut dari raga, jasad Halim Hadinata hanyalah sebuah batu nisan dingin. Semahal apapun tanah kuburnya, semewah apa pun nisannya, ia sudah tidak jadi apa-apa. Harta dan nama besar yang selama ini dimilikinya, tidak akan berguna saat ia meninggal. Satu-satunya yang membuatnya tetap ada di dunia adalah saat anak-anaknya menjadi orang hebat dan membawa namanya di setiap prestasi dan pencapaian.
“Ko ....” Halim menyapa kembali saat tidak mendengar jawaban dari Ditya.
“Aku belum tahu, Dad.” Ditya menjawab singkat, pandangannya beralih pada Frolline.
“Setelah tahun baru China, First akan menikah. Aku berharap, kamu bisa kembali ke Indonesia dan menghadiri pernikahannya.” Halim bercerita.
Deg— Tatapan Ditya tertuju pada istri yang sedang duduk di sebelahnya. Tak ada perubahan sama sekali di wajah Frolline, tetapi Ditya tidak bisa menebak bagaimana perasaan istrinya saat ini.
“Kenapa mendadak sekali?” Ditya bertanya sembari melirik ke arah istrinya.
“First sudah tidak muda lagi. Aku menjodohkannya dengan cucu Wangsa, keponakan Sandra. Dan First tidak menolak. Mereka sudah bertunangan dua bulan lalu.” Halim melanjutkan.
“Pernikahan akan diadakan di Surabaya, Jakarta dan Pangkal Pinang. Aku beruntung, Wangsa tidak menarik panjang masalah pembatalan perjodohanmu dan bersedia memperbaiki hubungan kami yang sempat berantakan.
“Ya, aku akan pulang saat First menikah,” sahut Ditya menegaskan.
***
__ADS_1