
Halim mondar-mandir dengan tongkat di tangan kanan, wajahnya tampak cemas. Pria lanjut usia itu memaksa ikut ke rumah sakit di tengah malam buta demi menemani menantu kesayangannya melahirkan. Segala bujukan dan rayuan dari istri dan anak diabaikannya demi menyaksikan langsung kedatangan cucu kedua keluarga Lim ke dunia.
"Duduk saja, Ko." Meliana berkata. Perempuan itu kesal melihat ulah suaminya yang berlebihan. Beberapa jam yang lalu mereka berdebat karena Halim memaksa ikut menemani ke rumah sakit dan beberapa menit yang lalu, suaminya itu memaksa masuk ke ruangan bersalin. Sungguh orang tua tidak tahu diri. Di saat semua orang panik dengan kondisi Frolline, Halim juga membuat semua orang pusing dengan permintaannya yang kelewatan.
"Sudah. Duduk saja dulu. Puluhan tahun lalu, kamu tidak seperti ini, Ko. Waktu memang membuat orang berubah drastis. Dan sekarang panik membuat otaknya tidak waras lagi. Atau dia sudah pikun mendadak, mengira di dalam itu istrinya bukan menantunya." Meliana mendengus kesal. Keduanya sedang menunggu dengan cemas di depan ruangan bersalin. Tak jauh dari pasangan lanjut usia itu tampak tiga orang asisten berjaga-jaga.
Dulu, saat menanti kelahiran Marisa, Halim tidak pernah peduli. Sibuk bekerja dan hanya menunggu di pinggir pintu kamar bersalin. Yang menemaninya adalah mama dan mama mertuanya. Dan sikap berbeda ditunjukan Halim saat ini, memaksa masuk dan rela berdebat dengan Ditya walau akhirnya pria tua itu mengalah.
Di sisi lain, di dalam ruangan bersalin, tampak Frolline menggenggam tangan Ditya dengan kencang. Meremas dan sesekali mencengkeram kulit tangan suaminya saat kontraksi hebat menyerang. Pembukaan sudah sempurna, perjuangan Frolline tinggal selangkah lagi yaitu mendorong keluar bayinya.
"Saat kontraksi datang. Tarik napas dan dorong, Bu." Dokter wanita memberitahu. Tampak berdiri di ujung kaki Frolline yang melebar, ditemani beberapa petugas medis lainnya.
Ditya sejak tadi berdiri di samping Frolline, berusaha menguatkan dan menyemangati istrinya. Ia merelakan tubuhnya menjadi pelampiasan sejak beberapa jam yang lalu.
"Koko ...." lirih Frolline, menatap suaminya yang sedang cemas.
"Ya, Schatzi. Kamu pasti bisa." Ditya teringat perjuangan Frolline saat melahirkan Dragon. Lebih berat dari yang sekarang, di negeri orang dan tanpa didampingi keluarga.
Frolline menarik napas panjang, kemudian mendorong bayinya keluar saat merasakan kontraksi itu datang lagi.
"Ko ...." Memanggil suaminya sembari mencengkeram erat tangan kanan Ditya. Wajah Frolline memerah saat mengerahkan tenaganya yang tersisa untuk mendorong bayinya keluar. Terlihat urat-urat menonjol di pelipis, bulir-bulir peluh pun berhias di dahi Frolline.
"Ayo, Sayang. Sedikit lagi, bayi kita lahir." Ditya menyemangati di sela-sela kalimat penyemangat yang juga meluncur dari bibir sang dokter.
"Ayo, Bu. Sedikit lagi ... sudah kelihatan kepalanya."
Perjuangan Frolline terputus, ia berhenti mendorong. Beristirahat sejenak sebelum berjuang untuk ke sekian kalinya. Napasnya tersengal, pandangan pun mulai berkunang. Sudah berpengalaman melahirkan normal, tetap saja tidak semudah yang disangkakan.
"Ayo, Sayang. Aku mencintaimu ... sangat mencintaimu." Ditya menempelkan bibirnya di kening basah istrinya sembari mengumandangkan kata-kata cinta. Berharap semua itu akan semakin menguatkan Frolline di tengah kondisi yang kian menurun.
Berulang kali mendorong sejak tadi, Frolline hampir menyerah dan putus asa.
__ADS_1
"Ayo, Bu ... ayo, Bu." Beberapa petugas medis menyemangati Frolline. Ditya juga melakukan hal yang sama.
Di sisa tenaganya, Frolline memekik menyerukan nama Ditya saat berjuang mendorong keluar putra keduanya. Kelegaan bercampur kegembiraan saat ia bisa merasakan sesuatu tertarik keluar dari inti tubuhnya. Sedetik kemudian, terdengar tangisan kencang bayi merah yang masih berlumuran darah.
"Selamat, Bu. Bayinya laki-laki, sempurna." Suara dokter wanita itu bagai kidung indah. Frolline memaksa tersenyum di tengah napas tersengalnya.
"Akhirnya, Sayang." Ditya menghadiahkan kecupan di wajah kelelahan istrinya. Tatapannya tertuju pada bayi mereka yang dibawa ke wastafel, tak jauh dari tempat Frolline berbaring.
"Sayang, terima kasih," bisik Ditya di telinga Frolline.
***
Beberapa jam berlalu, Frolline yang tertidur pulas setelah berjuang melahirkan putranya membuka mata. Ia terlelap beberapa saat setelah bayi mereka menghirup napas pertamanya.
"Sudah jam berapa ini, Ko?" tanya Frolline dengan suara lemah.
"Delapan, Sayang. Kamu butuh sesuatu?" Ditya yang duduk di sofa menikmati koran pagi tampak menghampiri.
"Kamu mau sarapan?" tawar Ditya lagi.
"Sudah. Setelah bayi kita lahir, mereka pulang beristirahat di rumah. Tapi, sebentar lagi juga sudah ke sini lagi. Daddy tidak akan betah lama-lama di rumah." Ditya menjelaskan.
"Dragon ... apa kabar Dragon? Apa Drag mencariku?" tanya Frolline, teringat putra sulungnya.
"Drag akan ke sini bersama Daddy." Matt juga dalam perjalanan ke rumah sakit, Mama sudah tiba di Jakarta sejam yang lalu." Ditya bercerita.
***
Tampak Halim Hadinata tengah memangku Dragon duduk di sofa kamar perawatan menantunya. Tidak jauh dari tempatnya duduk, terlihat Meliana dan Lily tengah berebutan menggendong bayi Tiger Lim. Putra kedua Ditya Halim Hadinata dan Frolline Gunawan itu tengah menjadi pusat perhatian semua orang.
"Coba kamu lihat, Fro. Makin tua, keduanya makin tidak sadar diri." Marisa yang tengah menyuapi Frolline menikmati sup, menggeleng saat melihat keponakannya berpindah tangan berulang kali sejak tadi. Sebentar di gendongan Meliana, tak lama di dalam dekapan Lily.
__ADS_1
"Apalagi kalau bayi itu perempuan ... aku tidak bisa membayangkan bagaimana sibuknya kedua Nai nai."
"Tenang saja, Kak. Frolline belum 25 tahun. Masih bisa melahirkan banyak keponakan untukmu." Ditya yang baru keluar dari kamar mandi, tiba-tiba ikut bicara.
"Kamu tidak KB, Fro?" Sempat bertanya-tanya dalam hati saat mengetahui jarak usia kedua ponakannya begitu dekat. Frolline hamil Tiger Lim di saat Dragon Lim baru berusia 5 bulan.
"Koko tidak mengizinkan, Kak," sahut Frolline. Lidahnya mulai terbiasa memanggil Marisa sama seperti Ditya.
"Sebaiknya beri jarak dulu ... baru hamil lagi," ucap Marisa, menyuapkan sup ke dalam mulut Frolline.
"Aku malah mau menambah secepatnya. Begitu dokter sudah mengizinkan, Fro akan segera hamil lagi. Aku mau anak perempuan, mungkin kehamilan ke tiga akan diprogram. Setelah itu stop. Tutup pabrik, berhenti produksi. Waktunya ... aku dan Fro menikmati hidup. Mau membawa anak dan istriku keliling dunia, menikmati apa yang selama ini kami kejar. Menikmati hasil kerja keras."
"Ya Tuhan, Dit. Yang ini saja baru keluar. Dan kamu sudah berencana menghamili istrimu lagi." Marisa menggeleng.
"Aku tidak mau hidup seperti Daddy. Kerja, kerja dan kerja. Hidup itu harus seimbang antara bekerja dan menikmatinya." Ditya berdiri di samping Frolline dan menggengam tangan istrinya itu.
"Ya 'kan, Sayang?" Ditya mencari dukungan dari istrinya.
"Kalau bisa ... anak ketiga kamu saja yang hamil, Ko" Frolline merengut. Rasa sakit itu belum menghilang dari tubuhnya, Ditya sudah memintanya hamil lagi.
"Tidak bisa, Sayang." Ditya tergelak. Pria itu membungkuk dan menghadiahkan kecupan di dahi Frolline. Kecupan hangat dan dalam, sarat akan cinta.
"I love you, Fro. Jangan menolakku." Ditya berbisik pelan.
"Love you, too." Frolline menjawab dengan senyum tersungging di bibirnya, menatap penuh cinta pada Ditya Halim Hadinata. Papa dari anak-anaknya.
***
Terima kasih untuk dukungannya selama ini. Kisah cinta Ditya dan Frolline berakhir sampai di sini.
Ditya dan Frolline akan muncul di episode-episode terakhir kisah Pram & Kailla season 3. Di judul The Love Story of Pram and Kailla.
__ADS_1
Love you all,
Wety. S. Hartanto (Wety Sun)