Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 129 : Kw super premium


__ADS_3

Perasaan Frolline semakin bahagia setelah bertemu dengan Angella. Bahkan ia hampir tidak mengizinkan kakaknya itu pulang dari apartemennya. Memohon Angella menginap di tempat mereka. Bahagia itu benar-benar menjadi milik Frolline. Setelah mendapatkan sedikit perhatian dari ayah mertuanya, Angella menyempurnakannya hari ini. Rindunya pada keluarga satu-satunya yang tertinggal di dunia ini terbayar dengan kunjungan Angella.


"Fro, kamu kenapa?" tanya Ditya, menjatuhkan bokongnya di atas sofa setelah mengantar sahabatnya dan Angella di ambang pintu. Duduk di sebelah istri yang sedang cemberut. Meskipun begitu, di dalam hati kecil Frolline sangat bahagia. Penampakan dan isi hati yang jauh berbeda.


"Kak Angel ... aku memintanya menginap." Frolline bercerita dengan wajah asam sepeninggalan kakaknya itu.


"Angel harus kuliah, Schatzi." Ditya membelai perut buncit istrinya.


"Aku belum puas, Ko."


"Nanti, kita akan mengunjunginya." Ditya berjanji.


"Ngomong-ngomong, Angel pacaran dengan teman Koko, ya?" tanya Ditya berusaha mengulik lebih jauh setelah gagal mencerca sahabatnya sendiri.


"Sepertinya begitu. Koko tidak memperhatikan pandangan mata keduanya. Pandangan penuh cinta," sahut Frolline.


“Ya, pandangan Angel sama seperti saat kamu memandang Koko, Fro.” Ditya tergelak, setelah menembak Frolline dengan pernyataannya.


Frolline tersenyum, tetapi kata yang keluar dari bibirnya jauh berbeda dari arti senyumannya. “Tidak.”


"Baguslah kalau mereka pacaran. Setidaknya teman Koko itu orang baik. Dia tidak mungkin mempermainkan Angel." Ditya berkomentar.


Kedua tangan Frolline segera memeluk pinggang Ditya. Kepalanya bersandar manja di pundak kekar sang suami. Saat ini, perasaan Frolline campur aduk. Batas bahagia dan kesedihan itu hanya selembar kertas tipis. Ia bahagia bisa berkumpul dan bertemu dengan keluarga yang tertinggal satu-satunya di dunia ini, tetapi ketika bertemu Angella ingatan tentang kedua orang tuanya muncul kembali. Sedih itu hadir lagi.


Seburuk apa pun hubungannya dengan Angella, mereka adalah saudara. Kenyataan itu tidak bisa berubah, walau apa pun yang terjadi.


Hampir lima menit menyandarkan tubuh lelahnya, mata indah Frolline perlahan terpejam. Tarikan dan hembusan napas ibu hamil itu terdengar teratur. Perut besarnya pun ikut naik turun.


"Fro, kamu tidur, Sayang?" tanya Ditya lembut. Menjatuhkan dagunya di pucuk kepala istrinya.


Hening—


Frolline bergeming, menikmati tidur pertamanya di kota London.


Sebentar lagi masuk musim gugur. Tak terasa, mereka sudah melalui musim semi dan panas di Eropa. Tidak pernah terbayang di benak Ditya, kisah cintanya akan berakhir seperti ini. Menjelajah separuh Eropa demi mendapatkan cinta dari perempuan yang sudah menjadi istrinya sendiri.

__ADS_1


“Mungkin kami bukan yang pertama hadir di dalam hidupku, tetapi aku berharap kamu yang terakhir, Fro ....”


***


Musim panas di London, suasana dan kondisi awan hampir sama seperti di kebanyakan negara tropis. Menghabiskan waktu dengan berkeliling kota London, menikmati festival musim panas. Ada banyak hal yang dilakukan Ditya dan Frolline, termasuk mengikuti kebiasaan masyarakat lokal, yang berjemur di taman kota untuk menikmati sengatan matahari.


London yang selalu open, dengan banyaknya imigran datang dari penjuru dunia dibanding kota-kota lain di Inggris. Hal ini sedikit banyak bisa membantu Frolline beradaptasi. Mereka tidak kesulitan mencari supermaket asia setiap merindukan menu Indonesia. Ada banyak restoran asia di sini, membuat Frolline tidak terlalu kesulitan saat menginginkan sesuatu yang berbau Indonesia.


Tidak hanya menikmati hari-harinya memasak dan mengurus rumah, rutinitas Frolline pun semakin bertambah dengan melakukan pengecekan kehamilan terjadwal di sela kesibukannya menemani Ditya mengunjungi restoran. Ya, di London, Ditya bukan lagi pemimpin dari sebuah perusahaan raksasa dengan ribuan pekerja. Ditya hanya seorang pemilik beberapa restoran di pinggiran kota London.


Tinggal berdua, melewati hari-hari bersama. Frolline semakin menyelami dan memahami karakter Ditya. Ia mulai merasakan keberadaan Ditya di dalam hidupnya. Ada banyak hal-hal kecil dari Ditya yang tidak pernah diperhatikannya selama ini, dan ditemuinya sekarang, saat mereka tinggal berdua.


Dan di sini, Frolline mengalami culture shock, berbeda saat menghabiskan liburan di beberapa negara Eropa sebelumnya. Ada banyak hal yang membuatnya harus beradaptasi dengan semua kebiasaan masyarakat Inggris. Ada banyak hal yang menurutnya aneh dan ia harus mulai membiasakan diri dengan kebudayaan Eropa. Banyak protes yang dilayangkannya pada Ditya, banyak juga pertanyaan yang dilontarkannya setiap mengunjungi atau bertemu dengan sahabat-sahabat Ditya.


Waktu berlalu, musim pun berganti. Frolline bisa melihat dedauan yang berwarna kemerahan beterbangan jatuh ke tanah dari jendela apartemennya. Angin musim gugur yang begitu nyaman dan menenangkan. Suhu udara pun mulai menurun. Mungkin dibandingkan musim panas, Frolline lebih menikmati musim gugur. Setidaknya ia tidak perlu mengeluh kepanasan setiap malam.


Tidak seperti tempat tinggal mereka di Indonesia, apartemen di London tanpa pendingin ruangan. Sebaliknya, hampir di setiap sudut ruangan selalu ditemukan penghangat ruangan. Ini menjadi alasan Ditya harus mencari apartemen lain untuk mereka ke depannya, andai masih ingin menetap lebih lama di Inggris.


Pertengahan musim gugur, kandungan Frolline sudah memasuki usia sembilan bulan. Di detik-detik menunggu kelahiran bayi laki-laki mereka, Ditya mengurangi aktivitasnya dan lebih banyak di rumah untuk menemani Frolline.


"Koko tidak bisa membuatnya, tetapi besok kita akan berkeliling mencarinya." Ditya meletakan dua piring nasi goreng ke atas meja makan.


"Kenapa? Kakimu sakit lagi?" tanya Ditya sembari melepas celemeknya.


Frolline mengangguk.


"Kita makan malam. Setelah itu, Koko akan memijatnya untukmu."


"Ya ...." Frolline mengulurkan kedua tangannya ke arah Ditya. Dengan manja meminta suaminya itu membantunya berdiri.


Aroma nasi goreng menggoda cacing di dalam perut. Seketika nafsu makannya terpancing. Kedua sudut bibir Frolline tertarik ke atas saat mendapati dua porsi nasi goreng dengan peralatan makan berbeda.


"Ini pasti milikku." Frolline mengambil posisi duduk di depan nasi goreng dengan sendok dan garpu di samping piring. Ia tahu, Ditya lebih nyaman menggunakan garpu dan pisau saat menikmati makanannya. Sendok hanya digunakan saat bertemu dengan menu berkuah.


Ini adalah hal yang baru diketahuinya saat mereka tinggal di Eropa. Suaminya besar di Eropa, budaya mereka berbeda dengan budaya Indonesia. Bahkan ia terkejut saat Ditya tidak bisa makan menggunakan tangan langsung seperti masyarakat Indonesia umumnya. Terlihat canggung dan aneh saat Ditya melakukannya.

__ADS_1


"Ayo habiskan makananmu, Fro."


Ditya mengibaskan kain lap putih dan membentangkannya di pangkuan Frolline. Membungkuk, Ditya berbisik pelan di perut besar Frolline sambil mengusapnya. Mengucapkan kata cinta pada sang putra.


"Apa kamu merasakan sesuatu pada kandunganmu, Fro?" tanya Ditya setelah duduk dan menyantap nasi gorengnya. Terlihat ia memotong telur goreng dengan pisau dan garpu, kemudian memasukannya ke dalam mulut.


"Tidak ada rasa apa-apa, Ko."


"Besok kita jalan-jalan ke taman. Mama memintaku membawamu berjalan-jalan. Itu bagus untuk kehamilan dan membantu proses kelahiranmu.” Ditya menjelaskan. Sesuai dengan yang dianjurkan dokter dan midwife (bidan), Frolline akan melahirkan secara normal. Bahkan ia sudah diajarkan bagaimana menangani dirinya sendiri, saat sakit perut itu datang tiba-tiba.


Satu hal yang membuat Frolline heran di awal-awal pengecekan kandungan di Inggris. Ia harus menjalani tes menyeluruh, tes urine, tes darah, dll. Dan di sini pemeriksaannya sangat detail sekali, sampai ke psikologi si ibu.


"Mama, apa kabarnya?" tanya Frolline.


"Baik. Mama berencana datang ke sini saat kamu melahirkan. Ia sedang mengurus dokumennya." Ditya menjelaskan.


"Kita juga akan membeli baju hangat lagi untukmu. Sebentar lagi masuk musim dingin. Dan pada saat bayi kita lahir, kita tidak akan memiliki waktu untuk hal itu." Ditya menjelaskan.


"Ya."


"Ko, aku merindukan Kak Angel. Kenapa dia tidak mengunjungiku lagi?" Awan mendung bergelayut di mata Frolline.


"Dia sibuk belakangan ini. Angella memutuskan bekerja part time di sela kuliahnya. Ia akan mengunjungimu saat melahirkan." Ditya menjelaskan. Uang dan aset yang dimiliki Angella setelah menjual aset keluarga mereka tidak ada apa-apanya saat dibawa ke London. Angella tetap jadi orang biasa, memulai dari nol lagi.


"Koko tahu dari mana? Aku menghubunginya beberapa hari ini, tetapi Kak Angel tidak menanggapinya," adu Frolline.


"Pacarnya yang memberitahu, kemarin."


"Jadi Kak Angel benar-benar pacaran dengan pria itu?" Frolline memastikan.


"Ya."


"Ah, beruntung sekali. Kak Angel mendapatkan David Beckham kw super premium." Frolline berkomentar.


***

__ADS_1


TE


__ADS_2