
“Koko ....”
“Koko ....”
“Koko ....”
Frolline berjalan tak tentu arah sembari mengucapkan satu kata yang sama berulang-ulang, memanggil suaminya tanpa henti. Cairan bening menghiasi wajah cantiknya, berjejak di pipi putih mulus bak pualam. Separuh jiwanya pergi, menghilang bersama pikiran buruk yang menguasai tanpa permisi. Ia hanya bisa menguatkan diri bersama lantunan doa yang dikumandangkan di dalam hati. Berharap Ditya baik-baik saja.
Pikirannya kalut. Dengan tangan gemetar, ia mengusap layar ponsel dengan ujung telunjuk. Nomor kontak yang biasanya keluar dan masuk di daftar panggilan, entah kenapa di saat genting seperti ini terasa sulit dicari. Frolline putus asa sesaat setelah menempelkan gawai di telinga. Jangankan nada sambung, bahkan panggilannya tidak terhubung sama sekali. Hanya senyap beberapa detik disusul nada terputus-putus dan semuanya berakhir.
Ponsel Ditya tidak aktif, semakin membuat ibu hamil itu panik. “Ya, Tuhan ... Koko ....”
“Koko ....” ucapnya lirih.
Melangkahkan kaki tanpa sadar, ia berjalan semakin menjauh. Pikiran Frolline kosong, pemandangan mobil mewah berwarna merah yang ringsek itu terlihat semakin nyata di pelupuk mata. Bulir bening mengkristal mulai mengaburkan pandangan, berita kecelakaan itu pada akhirnya membuat kedua kaki Frolline tidak sanggup menopang berat tubuhnya. Frolline melemas, tubuhnya ambruk.
Tepat saat ibu hamil itu luruh menyentuh lantai, tiba -tiba ada dua tangan membelit tubuh lemahnya dari belakang. Menguatkannya di saat tubuh lemas itu merosot jatuh.
“Schatzi ....” Suara berat yang sangat dikenalnya. Suara pria yang beberapa menit terakhir begitu dirindukannya. Rasa kehilangan sesaat yang membuatnya hampir hilang akal. Ya, Frolline hampir gila saat mendapati Ditya terkena musibah. Ia hampir putus asa, saat mengetahui suaminya kecelakaan.
“Sayang, are you okay?” tanya Ditya panik. Belitan tangan di pinggang Frolline semakin erat. Tidak ingin istri dan anaknya terluka.
“Sayang ....” panggil Ditya lagi, mendekap erat tubuh Frolline yang masih diam seribu bahasa.
Butuh waktu beberapa detik untuk Frolline menguasai diri. Ia masih tertegun, berdiri membeku berusaha merasakan kalau dekapan yang menghangatkannya saat ini adalah nyata, bukan sekedar bayangan karena dirinya yang hilanh akal saat kehilangan Ditya.
“Ko, ini kamu, kan?” Frolline berbalik dan mendekap wajah Ditya yang tertutup topi. Menepuknya berulang kali dengan kencang, air matanya menghambur keluar.
“Ya, ini Koko. Kamu kenapa?” tanya Ditya bingung. Apalagi saat melihat wajah cantik istrinya yang berantakan, basah oleh air mata. Rambut tergerai itu pun acak-acakan.mPanik menyapa, pria muda itu buru-buru memeluk dan menenangkan.
“Ada masalah apa, Fro? Ayo kita masuk dan menunggu di dalam.” Ditya buru-buru menyeret. Sadar akan situasi yang mungkin saja tidak menguntungkannya. Ia dan Frolline harus secepatnya masuk ke dalam. Secepatnya terbang, kalau tidak bisa saja semua rencananya gagal total.
Tangan Ditya tak pernah melepas genggamannya pada sang istri. Sampai tiba di dalam pun, Ditya tetap melakukan hal yang sama. Keterkejutan di dalam diri Frolline yang belum sirna sepenuhnya, membuat ia tidak membantah. Mengikuti setiap pergerakan Ditya tanpa banyak bicara apalagi protes.
Pandangan Frolline tertuju pada Ditya, tanpa beralih sedikit pun. Sulit untuik diungkapkan, bagaimana perasaan dan kelegaannya saat ini. Beberapa menit yang lalu, ia baru saja meratapi kehilangan yang mendalam dan sekarang ia sedang merayakan kebersamaanya dengan Ditya. Ternyata semua hanya mimpi buruknya. Ini nyata, tidak seperti yang ditakutkannya.
Tepat setelah Ditya menyelesaikan semuanya dan bersiap menuju ke ruang tunggu, barulah Frolline tersadar. Tanpa malu-malu, ia memeluk erat pinggang Ditya. Menumpahkan tangis yang tertahan sejak tadi.
__ADS_1
“Koko ....” isaknya membenamkan wajah di dada bidang Ditya yang terbalut kaos hitam dan jaket jeans biru. Puas menangis, tanpa malu-malu ia berjinjit dan mengecup bibir Ditya.
“Aku tidak mau kehilanganmu, Ko, Aku menyayangimu,” bisik Frolline pelan, kembali membenamkan wajahnya, menikmati aroma parfum bercampur keringat Ditya. Malu dan bahagia itu datang bersamaan. Frolline sendiri kaget kenapa bisa mencium Ditya tanpa berpikir panjang.
“Sudah, Fro. Jangan menangis lagi,” hibur Ditya.
“Koko ....” Frolline menatap suaminya yang saat ini tampil berbeda dari biasanya.
Ia nyaris tidak mengenali. Tidak ada setelan jas bermerk dengan berbagai akseoris mahal melekat di tubuh Ditya. Tidak ada jam mahal dengan sepatu kulit keluaran terbaru seperti biasanya. Pakaian yang dikenakan Ditya sekarang, seakan-akan menggambarkan kalau dirinya bukanlah orang yang sama. Bukan seorang putra konglomerat tetapi hanya seorang biasa. Frolline terpana memandang Ditya. Tas hitam berukuran sedang tergantung di lengan lengkap dengan topi biru yang menutupi separuh wajahnya.
“Apa, Sayang?” tanya Ditya.
“Apa yang terjadi? Aku melihat mobil Koko menghantam tiang listrik,” tanya Frolline meminta penjelasan dengan wajah yang sudah berubah cerah. Wanita dengan jaket putih itu menyodorkan ponselnya. Menunjukan berita kecelakaan yang terpampang nyata hampir di semua berita online.
“Jelaskan padaku, Ko. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Frolline, memandang Ditya yang sedang sibuk membaca isi berita di ponsel.
“Nanti Koko akan menjelaskan padamu, Schatzi.” Ditya tersenyum.
“Koko baik-baik saja sekarang,” lanjut Ditya.
“Maafkan Koko, pasti kamu cemas sekali,” ungkap Ditya meraih pundak Frolline, mendekat padanya.
“Hmmm,” gumam Frolline dengan manjanya.
“Koko berhutang penjelasan padaku,” lanjut Frolline.
“Ya, nanti di pesawat Koko akan menjelaskannya padamu. Ayo jalan. Nanti kita ketinggalan pesawat. Kita tidak terbang dengan jet pribadi.” Ditya terkekeh, menikmati tangan Frolline yang merangkul pundaknya dengan mesra.
***
__ADS_1
Satu jam menunggu di ruang tunggu bandara, akhirnya Ditya bisa bernapas lega saat dirinya dan Frolline sudah duduk tenang di dalam pesawat.
“Kita transit di Singapura, Sayang,” ucap Ditya sambil mengenakan safety belt. Sejak di ruang tunggu, ia memilih diam dan tidak banyak bicara. Sebenarnya ia menyembunyikan ketakutannya. Khawatir orang-orang Daddy akan menemukan mereka dan menggagalkan rencananya dan Frolline. Ia baru bisa bernapas lega, saat burung besi itu mengudara.
“Ya.”
“Maaf, harusnya Koko mengambil penerbangan tanpa transit, jadi kita tidak menghabiskan waktu terlalu banyak di perjalanan.” Terdengar Ditya menghela napas sebelum melanjutkan penjelasannya.
“Aku tidak masalah, Ko.”
“Koko mengkhawatirkan kalian,” ucap Ditya, mengusap perut data Frolline. “Apa semua baik-baik saja, Fro?”
“Aku baik-baik saja, Ko. Ayo ceritakan padaku. Apa yang terjadi, Ko?” tanya Frolline. Ia sudah tidak sabar mendengar penjelasan Ditya.
“Koko menabrakan mobil kesayangan Koko sesaat setelah keluar tol,” cerita Ditya.
Frolline terkejut. “Koko baik-baik saja?”
“Ya. Hanya mobilnya hancur.”
“Kenapa harus seperti itu?” tanya Frolline menyayangkan. Ia belum paham tujuan Ditya yang sebenarnya.
“Daddy mengikuti kita sepanjang waktu. Kalau Koko tidak melakukan itu, Daddy pasti akan mencegah kepergian kita. Koko terpaksa melakukannya.” Ditya menjelaskan.
“Lalu kenapa harus mobil kesayanganmu, Ko?”
“Karena mobil itu lebih mencolok. Begitu kecelakaan terjadi pasti semua media akan mengenalinya. Akan memancing keramaian, jadi Koko punya kesempatan kabur dari sana dan mengecoh orang-orang daddy.”
“Aku takut ... aku pikir itu Koko.” Frolline mencurahkan perasaannya.
“Mulai sekarang, lupakan kalau Koko adalah Ditya Halim Hadinata. Koko bukan siapa-siapa lagi. Mari kita menikmati hidup seperti yang ada di mimpimu, Fro. Kita akan memulai kisah kita dari Schiphol.” Ditya meraih tangan Frolline dan menggengamnya erat.
Penerbangan udara dari Jakarta - Singapura menjadi titik awal hubungan keduanya. Ditya melepas semua yang dimilikinya, dan memilih hidup bersama Frolline. Keputusan terberat yang harus diambil pria 35 tahun itu, saat harus meninggalkan Daddy-nya. Hidup tidak memberinya banyak pilihan. Ia tidak bisa menjadi anak dan suami yang baik dalam waktu bersamaan. Ia harus memilih di antara istri dan keluarganya.
“Koko hanya berharap, Tuhan sedikit berbaik hati, Fro. Tetap membuat Daddy sehat dan kuat sampai Koko kembali suatu saat nanti. Kalau tidak, seumur hidup Koko akan menyesali keputusan Koko ini.” Ditya berkata pelan. Membuang pandangannya ke luar jendela pesawat, menatap hamparan mega putih yang memenuhi cakrawala.
***
__ADS_1
TE