
Frolline duduk termenung, selepas kepergian Ditya. Bimbang dengan keputusannya sendiri. Kalau masalah cinta, jujur ia belum bisa cinta dengan Ditya, namun ada hal lain yang harus dipertimbangkannya lagi. Jasa dan semua pengorbanan Ditya untuk keluarganya. Apalagi, Ditya sudah mengantongi restu dari sang papa.
Lama merenung dan termenung, Frolline dikejutkan dengan bunyi lift yang terbuka. Muncul Marisa, maminya dan Firstan ditemani Zoe, asisten barunya.
“Nona, tadi saya diminta Matt untuk mengantar dua tamu ini,” jelas Zoe. Asisten baru itu segera mohon diri begitu tugasnya selesai.
“Mami,” pekik Frolline.
“Mana Ditya?” tanya Marisa, mengedarkan pandangannya, mencari adiknya.
“Ke kantor, Mi,” sahut Frolline.
“Ada apa, Mi?” tanya Frolline heran.
“Kemasi barangmu, kita pulang ke rumah Mami,” ajak Marisa.
Mendengar ucapan Marisa, gadis itu tertegun. Bahagia tentu saja, seperti ada yang mendukung pemikiran yang baru saja melintas di otaknya.
Namun, semangatnya menciut kembali saat teringat papa dan mamanya. Mengingat jasa-jasa Ditya untuk kedua orang tuanya. Bola mata berbinar itu meredup seketika.
Apalagi mengingat bagaimana mengerikannya kehidupan Ditya, Frolline merasa akan melangkah menuju medan pertempuran.
“Aku akan tetap menikah dengan Ditya,” ucap Frolline akhirnya, dengan tatapan terarah pada Firstan. Rasanya berat mengatakannya, tetapi di harus melakukannya.
Tepat saat Frolline berucap, pintu lift terbuka. Pandangan ketiganya beralih pada sosok yang melangkah keluar dari dalam lift. Ditya berdiri tegak dengan Matt mengekor di belakang.
“Kak, kenapa berkunjung mendadak seperti ini,” ucap Ditya tersenyum sinis, melangkah pasti dengan tangan kiri terselip di kantong celananya.
“Aku belum sampai ke kantor, harus putar balik kembali karena kedatangan tamu penting pagi ini,” lanjut Ditya.
“Schatzi, kenapa tidak mempersilakan kakak ipar dan keponakanmu duduk,” ucap Ditya, mengenggam tangan Frolline dan menarik gadis itu duduk mengikutinya.
“Silakan!” ujar Ditya, mempersilakan kedua tamunya duduk.
“Fro, buatkan minuman untuk tamu kita,” bisik Ditya di telinga Frolline, namun mata elangnya menatap tajam pada Firstan dan beralih ke kakaknya. Ia tahu jelas, tujuan kedatangan tamu tidak diundangnya pagi ini.
Begitu Frolline beranjak ke dapur, Ditya langsung membuka suara. “Kami akan menikah nanti siang. Kebetulan Kak Marisa datang, setidaknya bisa merestui kami,” cerita Ditya pelan.
Ibu dan anak yang duduk di depan Ditya terbelalak, sedikit pun tidak menyangka kalau akan mendapat kejutan sepagi ini. Ia tahu Ditya tidak main-main, tetapi tidak menyangka akan secepat ini.
“Kamu tidak bisa melakukan ini, Dit!” tegas Marisa.
“Bagaimana dengan Daddy dan Mommy ?” lanjut Marisa, menggelengkan kepala.
__ADS_1
Ditya tersenyum, melempar balik ucapan Marisa.
“Sewaktu Kak Marisa menikah dengan kakak ipar, pernah memikirkan Daddy dan Mommy?” todong Ditya.
“Kita berbeda Dit. Aku anak perempuan. Buat mereka tidak penting kehadiranku di tengah keluarga. Berbeda denganmu,” ujar Marisa.
“Kalau aku begitu berpengaruh untuk keluarga besar Halim, Daddy tidak mungkin menikahi mamamu untuk melahirkan anak laki-laki, penerus kerajaan bisnis keluarga kita,” lanjut Marisa.
“Maaf, aku tidak bisa mundur lagi. Kami sudah tinggal bersama. Aku tidak mau Fro hamil tanpa suami,” ucap Ditya berbohong. Berharap kata-katanya akan memukul mundur niat kakaknya.
Deg—
Marisa memandang adik satu-satunya itu dengan tatapan menyelidik. Berusaha mencerna kata-kata yang baru saja dilontarkan Ditya padanya. Firstan yang duduk di dekat mamanya, tidak banyak bersuara. Lebih banyak diam dan menatap ke arah dapur.
Kalau bukan karena mereka berada di rumah Ditya, tentu ia tidak akan banyak bertanya. Akan tetapi langsung membawa pergi Frolline. Di sini ia tidak bisa berbuat banyak, apalagi statusnya kini bukan kekasih Frolline lagi.
“Aku tidak percaya dengan ucapanmu. Aku akan bertanya dengan Frolline sendiri. Untuk apa memaksa menikah dengan gadis yang bahkan tidak mencintaimu!” tegas Marisa.
“Kamu tidak kekurangan wanita. Kenapa harus memaksa putriku!” protes Marisa.
“Fro tidak keberatan,” sahut Ditya.
Tidak lama Frolline muncul dengan dua cangkir teh hangat di tangan. Ia tidak bisa menyajikan apa pun, hanya itu yang ditemukannya di dapur dengan bantuan asisten rumah tangga Ditya.
“Firstan ...."
Frolline memilih duduk kembali di samping Ditya. Menatap tiga orang yang terdiam begitu melihatnya bergabung kembali.
“Ayo, Fro. Ikut Mami pulang. Masalah Ditya, Mami akan mengurusnya untukmu,” ucap Marisa, melancarkan upaya terakhirnya. Entah kenapa, dari awal ia tidak setuju dengan semua ini. Dari pertama Ditya menyatakan keinginannya pada Marisa, sudah ada penolakan.
Marisa tahu jelas bagaimana kehidupan Ditya, ia pernah mengalaminya sendiri. Kehidupan yang akan terasa mengerikan sekaligus menyenangkan.
“Aku akan tetap menikah dengan Ditya,” tolak Frolline, mengulang kembali penegasan yang sebelumnya sempat diucapkan.
Marisa benar-benar terkejut, tidak bisa berbuat apa-apa lagi setelah mendengar sendiri jawaban Frolline yang diulang kedua kalinya.
“Kamu yakin, Fro?” tanya Marisa memastikan, beralih memandang putranya.
Frolline mengangguk. Kedua tangan saling menaut di atas pangkuannya. Dengan berat hati, akhirnya ia menentukan jalan hidupnya sendiri. Entah jawaban itu akan membawanya pada kebahagiaan atau kesengsaraan. Ia sendiri tidak tahu.
“Kak Marisa dengar sendiri, kan. Aku tidak memaksanya. Aku akan menikahinya sebentar lagi, jadi kalau kakak bersedia menghadirinya, aku tidak keberatan. Kalau tidak juga tidak apa-apa,” tegas Ditya, meraih tangan Frolline dan menggenggamnya sembari tersenyum.
Tatapan elangnya beralih menghujam ke arah Firstan, Ditya tersenyum menatap keponakannya itu.
__ADS_1
“Kalau sudah tidak ada urusan, kami masih harus bersiap-siap,” ucap Ditya setengah mengusir.
Marisa memandang Frolline dengan tatapan sedih. Entah apa yang dipikirkannya.
“Mami pulang, tetap kabari mami apa pun itu,” ucap Marisa, beranjak dari duduknya dan memeluk Frolline. Rasanya ingin menangis, mengingat bagaimana ia sudah berjanji pada almarhumah Mama Frolline akan menjaga putrinya, tetapi ia gagal menjaga amanat itu.
“Mami akan menghadiri upacara pernikahanmu,” bisik Marisa lembut.
“Terima kasih, Kak,” ucap Ditya, tersenyum.
“Terima kasih, Mami,” sahut Frolline, memeluk kencang sembari menangis. Entah kenapa ia ingin menangis. Teringat dengan mamanya atau meratapi keputusannya sendiri.
***
Pernikahan sederhana, yang hanya dihadiri beberapa orang saja. Tidak ada perhelatan mewah, tidak ada dekorasi indah. Semuanya berjalan dengan cepat di bawah penjagaan ketat orangnya Ditya.
Setelah pengesahan secara agama, mengucapkan janji sucinya di hadapan Tuhan. Ditya membawa Frolline ke sebuah tempat . Untuk mencatatkan pernikahan mereka secara hukum negara.
Dan setelah itu, keduanya resmi menjadi suami istri. Sah secara agama maupun secara hukum, Matt dan Zoe yang mendampingi kedua majikannya tampak tersenyum. Sesuai dengan rencana, sebentar lagi mereka akan terbang ke Surabaya.
Marisa yang ikut menghadiri semua prosesi, hanya bisa tersenyum. Tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
“Kamu akhirnya menikah juga,” ucap Marisa memeluk adiknya.
“Terima kasih, Kak. Aku akan ke Surabaya, sore ini. Kak Marisa tidak mau ikut pulang?” tanya Ditya.
“Tidak sekarang. Aku tidak mau menambah masalah. Jangan terlalu keras pada Daddy, dia sudah terlalu tua untuk menerima pukulan berat ini. Jaga putriku,” bisik Marisa, di sela pelukannya.
“Ayolah, Kak. Dia adik iparmu sekarang. Bukan calon menantumu lagi. Berhenti memintanya memanggilmu Mami,” protes Ditya.
“Aku sudah menganggapnya seperti putriku sendiri,” tolak Marisa.
“Aku tidak mau memiliki mama mertua sepertimu,” canda Ditya, tersenyum.
***
t b c
Love you all
Terima kasih.
__ADS_1