
“Koko ....” Frolline memeluk erat pinggang Ditya. Baru saja panggilan itu terputus, Frolline sudah menghambur ke arah suaminya dengan mata berkaca-kaca. Perut besarnya beradu dengan perut rata berkotak milik sang suami. Belitan itu begitu erat dan hangat dengan kepala bersandar di dada bidang Ditya. Frolline bisa merasakan detak jantung pria yang sudah menemaninya hampir setahun belakangan, mengikatnya di dalam pernikahan enam bulan terakhir ini.
“Kamu kenapa, Schatzi?” tanya Ditya. Tangan kokoh itu ikut membelai punggung Frolline. Jemarinya dengan lembut membelai rambut panjang terurai bak sutra milik ibu dari bayinya.
Senyum di bibir tipis ibu hamil itu sudah cukup menjawab segalanya. “Aku bahagia. Daddy masih mengingatku, Ko.”
“Hahaha. Daddy belum pikun, Sayang. Bagaimana bisa dia melupakanmu. Di dalam dirimu ada asetnya yang paling berharga. Bahkan semua harta miliknya dan Halim Group tidak sebanding dengan apa yang ada di perut besarmu itu,” ungkap Ditya mengeratkan pelukannya.
“Jangan bersedih lagi. Ibu hamil itu harus tersenyum seperti ini setiap hari. Nanti anakku lahir dalam kondisi merengut kalau terlalu sering menangis. Restu itu memang butuh perjuangan dan kesabaran, Sayang,” jelas Ditya.
“Ya.” Jawaban singkat, Frolline berjingkat dan mencium bibir Ditya. Lembut, dalam dan memabukan. Tidak biasanya Frolline berlama-lama mengecup bibir suaminya. Seakan ada yang ingin disampaikannya melalui pertautan itu.
Kecupan dan suara decapan itu menyatu. Mama Lily yang baru keluar dari dalam kamarnya segera berbalik dan melangkah masuk kembali. Ia tidak mau menjadi pengganggu. Bukan hal langka untuknya menonton adegan seperti itu. Di Eropa bukan pemandangan aneh saat sepasang anak manusia saling berbagi rasa melalui ciuman. Hanya saja ia tidak menyangka, menantu yang terlihat kalem bisa seberani itu pada putranya. Terlihat dari ciuman itu, Frolline lebih mendominasi.
***
Menghabiskan sisa waktu dengan berkeliling negara-negara Eropa lainnya, seperti Spanyol, Swiss, Austria dan Italia. Ditya dan Frolline benar-benar menikmati perjalanan mereka. Mengunjungi berbagai tempat, menghabiskan musim panas yang sebentar lagi akan beralih ke musim gugur. Iklim dan cuaca yang berbeda jauh dengan di Indonesia, membuat Frolline begitu bersemangat menyambut peralihan dari musim ke musim.
Setelah menikmati perjalanan mereka di beberapa kota besar di Eropa, akhirnya Ditya memboyong Frolline ke London. Destinasi terakhir mereka, sekaligus akan menjadi tempat kelahiran bayi laki-laki keluarga Halim Hadinata.
Bertolak dari Berlin menuju ke London, Ditya berpamitan dengan mamanya yang berpesan banyak hal, terutama mengenai kandungan Frolline. Di negeri matahari tak pernah tenggelam, demikianlah julukan untuk United Kingdom atau sering disebut juga Britania Raya itu, Ditya hanya akan tinggal berdua di salah satu apartemen miliknya. Meskipun Angella, kakak Frolline juga menetap di London, Ditya memutuskan untuk tinggal berdua dan tidak direcoki orang lain.
Menempuh perjalanan udara kurang lebih dua jam menggunakan British Airways, burung besi raksasa itu mendarat mulus di bandar udara Heathrow. Menjejaki kaki di London, Frolline yang mulai kelelahan membawa perut besarnya tampak bersandar di lengan Ditya.
“Koko, aku mengantuk.”
“Ya, sebentar lagi kita sampai rumah.” Ditya menenangkan.
__ADS_1
“Kakiku kesemutan.” Frolline kembali mengeluh dengan tangan mengusap perut besarnya di kehamilan yang memasuki tujuh bulan.
“Ya, nanti Koko akan memijatnya untukmu.” Ditya menjawab dengan sabar. Mereka harus mengurus ke bagian imigrasi terlebih dulu sebelum melenggang keluar dari bandara.
***
Menembus jalanan kota London, Ditya mengulang kembali masa lalunya. Selepas menamatkan kuliahnya, ia memilih menetap di sini. Memulai usaha kulinernya bersama salah seorang sahabat semasa kuliah. Tentu saja selain Jerman, Inggris adalah negara kedua untuknya. Ia sendiri baru
menetap di Indonesia dua tahun lebih. Setelah daddy mengamuk dan mengancamnya.
Tangan saling menaut, Ditya merebahkan kepalanya menumpang di kepala sang istri yang juga menumpang di pundaknya. Duduk di kursi penumpang, keduanya benar-benar menikmati kebersamaan. Mengabaikan sopir taksi yang sesekali mengintip dari spion mobil.
Bangunan-bangunan dengan desain yang jauh berbeda dengan di Indonesia, mata Frolline mulai terbiasa. Beberapa bulan meninggalkan tanah kelahirannya, terkadang terbersit rindu di sudut hatinya. Ia rindu rumahnya, ia rindu kamarnya, ia rindu kedua orang tuanya.
Hampir setengah jam menjelajah jalanan, akhirnya taksi yang ditumpangi keduanya berhenti di depan sebuah bangunan bertingkat di tengah kota.
“Kita sampai, Fro.” Keduanya berdiri di depan bangunan bertingkat.
Frolline mengangguk, berjalan mengekor suaminya.
“Tempat tinggal kita dua lantai. Lumayan luas untuk kita berdua. Ada tiga kamar tidur.” Ditya menjelaskan sembari menyeret koper masuk ke dalam gedung.
“Mobil kita masih di tempat teman Koko, nanti dia akan mengantarnya ke sini,” cerita Ditya.
“Ya.”
Keduanya masuk ke dalam lift yang membawa menuju ke hunian mereka. Terlihat Ditya memasukan kode di pintu sebelum akhirnya mendorong dan melangkah masuk ke dalam.
__ADS_1
Frolline terpana. Meskipun apartemen mereka tidak sebesar apartemen di Indonesia, tetapi ini sangat nyaman. Ruang tamu menyatu dengan ruang makan dan dapur berbentuk melengkung. Dengan full kaca di sisi lengkungan. Ia bisa menikmati pemandangan kota London dari tempat tinggalnya.
“Aku suka, Ko,” seru Frolline, menghambur memeluk Ditya. Kantuknya hilang, lelahnya menguap dan kesemutannya lenyap seketika.
“Kamar di lantai atas. Ada tiga kamar.” Ditya menjelaskan.
“Aku suka dapurnya. Luas dan nyaman,” ungkap Frolline. Berjinjit dan mengecup bibir suaminya.
Belakangan Frolline sudah tidak malu-malu mengungkapkan perasaannya. Terkadang, ia bisa memeluk, mendekap dan mencium Ditya di saat merasakan sesuatu. Tidak seperti awal pernikahan, Frolline terkesan kaku dan sungkan. Perjalanan ke Eropa ini membawa perubahan positif di dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Ciuman keduanya terhenti saat bel pintu apartemen mereka berbunyi. Ditya mengerutkan dahi, setelah melepas ciuman.
“Siapa?” Ditya berbicara sendiri sembari berjalan menuju ke arah pintu. Begitu daun pintu itu terbuka lebar, muncul sosok yang tidak disangka-sangkanya.
“Angell? Dengan siapa ke sini?” tanya Ditya heran. Ia tidak pernah memberikan alamat tinggalnya, tiba-tiba kakak iparnya sudah berdiri di depan pintu rumah.
“Fro ....” pekik Angella menerobos masuk tanpa permisi. Meninggalkan Ditya mematung di depan pintu dengan banyak pertanyaan.
“Kak Angell?” Frolline nyaris tidak percaya.
“Wah, kamu sudah hamil sebesar ini?” Angella berteriak histeris. “Sudah berapa bulan?” tanya Angella lagi.
“Tujuh bulan.”
Ditya baru saja akan menutup pintu saat seseorang menahannya dari luar. “Hi, Bro. How are you?” Ditya terbelalak saat melihat sahabatnya sudah berada di depan mata. Netranya beralih menatap Angella.
“Apa mereka memiliki hubungan?” batin Ditya. Teringat, sewaktu Angella terbang ke Inggris, ia meminta sahabatnya itu untuk mengurus semua kebutuhan dan membantu kakak iparnya.
__ADS_1
***
TBC