
“Sandra..”
Ditya terkejut. Tentu saja lelaki itu tidak menyangka, gadis cantik berambut pendek yang berulang kali dihindarinya dengan berbagai upaya, tiba-tiba muncul kembali di tengah acara santai keluarga, dimana daddynya sangat menolak kehadiran orang luar.
“Honey, apa kabar?” sapa Sandra.
Gadis itu terlihat langsung berdiri menyapa. Tanpa malu-malu, berjalan mendekat dan memeluk Ditya seperti biasa. Ciuman di kedua pipi, tanpa merasa sungkan. Sedangkan Ditya hanya mematung, tidak membalas pelukan sama sekali. Mematung dengan masih menggengam tangan istrinya.
“I’m fine,” sahut Ditya, setelah Sandra melepas pelukannya. Basa-basi seperti biasanya. Mereka memang tidak dekat, bahkan tidak saling mengenal satu sama lain, selain nama dan berbagi nomor ponsel. Ditya dengan kehidupannya demikian juga Sandra dengan kehidupannya, meskipun sebenarnya ada satu alasan yang mengharuskan mereka bersama.
Pandangan gadis itu beralih pada Frolline. Sedikit mengerutkan dahi dan heran dengan tangan saling mengenggam antara Ditya dan Frolline.mNamun, dia tidak mau ambil pusing. Bukan urusannya juga.
“Kenalkan ini Fro, istri...” Ditya tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Sang daddy sudah menyela terlebih dulu.
“Bawa wanitamu duduk dan menikmati tempatnya,” ucap sang daddy. Suaranya sudah terdengar kencang kembali, berbeda dengan pagi tadi saat terkulai lemas setelah perdebatan.
Sandra masih terheran-heran, tetapi dia sudah mulai mengerti setelah menangkap apa yang diucapkan lelaki tua yang dipanggilnya Om Halim, teman bisnis, teman baik dan teman bermain golf papanya saat menetap di Surabaya.
Sandra kembali duduk di kursinya, bersebelahan dengan Nyonya Halim. Tidak jauh dari ketiganya, terlihat Joe, asisten Halim berdiri untuk memastikan kalau majikannya itu baik-baik saja.
“Aku yang mengundang Sandra. Dia baru saja kembali dari Amerika,” jelas Halim, menyeruput teh hangatnya.
“Bagaimana kabar papimu, San?” tanya Halim.
“Baik Om. Papi baru pulang dari Penang. Biasa cek up rutin. Sejak jantungnya dipasang ring, papi harus rutin melakukan pemeriksaan,” jelas Sandra, berusaha bersikap sopan.
“Kenapa tidak ke Singapura?” tanya Halim. Masih saja berbincang dengan gadis yang di dalam hatinya sudah dianggap menantunya sendiri. Mengabaikan Ditya dan Frolline, termasuk istrinya.
“Pas operasi pemasangan ring, koko membawa papi ke Penang. Jadi pemeriksaannya dilanjutkan disana,”jelas Sandra. Halim mengangguk, beralih menatap Frolline.
Wanita itu terlihat menunduk menahan gugup, menggengam erat tangan kanan suaminya di bawah meja. Untuk pertama kali berada di tengah acara keluarga yang sejujurnya bahkan tidak menginginkan keberadaannya.
Dia cukup bersyukur, walaupun ayah mertuanya menolak merestui, tetapi pria tua itu masih menghargai keberadaannya. Masih mengizinkannya duduk semeja. Tidak seperti yang ditontonnya di sinetron-sinetron. Diperlakukan semena-mena layaknya pembantu.
Beberapa jam di istana Halim, dia mendapat perlakuan manis dan sopan. Bahkan dilayani bak nyonya rumah oleh para asisten rumah.
__ADS_1
“San, calon suamimu itu berselingkuh,” ujar Halim tiba-tiba, menatap tajam ke arah Ditya, bicara langsung ke intinya. Tangannya sedikit gemetar, meletakan kembali cangkir ke atas piring keramik.
Baik Sandra dan Nyonya Halim mengalihkan pandangannya pada Ditya. Termasuk Frolline, ikut menatap suaminya yang terlihat santai, menikmati kue lemper di atas piring dengan garpu keemasan di tangan kirinya.
“Gadis yang disebelahnya itu, dikenalkannya pada Om sebagai istri, tetapi jujur saja, Om bahkan tidak tahu kapan mereka menikah. Tidak meminta restu sama sekali,” ucap Halim menyindir.
Hening sejenak. Tidak ada percakapan sama sekali. Semuanya tenggelam dengan pikiran masing-masing.
“Tuan muda Ditya, kamu tidak mengenalkan calon istrimu pada wanitamu ?” tanya Halim dengan tegas.
Frolline tersentak. Menatap Ditya nyaris tidak percaya. Melihat Ditya bungkam, Halim akhirnya membuka suara.
“Nona Frolline Gunawan, kenalkan ini Sandra Wangsa. Tunangan sekaligus calon istri Ditya Halim Hadinata,” kenal Halim, tersenyum menatap Frolline. Mengambil alih tugas Ditya.
Tidak sampai disitu saja, tampak Halim memanggil Joe, asistennya. Berbisik sesuatu ke telinga lelaki itu. Tidak lama, sang asisten pun bergegas pergi.
“Begini Nona Frolline. Beberapa waktu yang lalu, Ditya sempat pulang ke Surabaya dan kami sudah membahas pernikahannya dengan Sandra. Sedikit pun, lelaki yang kamu anggap suamimu itu tidak menolak atau mengiyakan. Bahkan dia tahu, keluarga besar kedua belah pihak sudah mengatur pernikahan yang hanya menghitung bulan,” jelas Halim, sepeninggalan asistennya.
“Aku yakin, anak nakal ini tidak berterus terang padamu kalau dia sudah memiliki tunangan. Bukan hanya sebulan-dua bulan. Bahkan perjodohan ini sudah terjadi sejak sepuluh tahun yang lalu.”
Amarah Frolline terpancing kali ini. Bukan kepada papa mertuanya tetapi lebih kepada suaminya. Dia merasa dibohongi, ditipu dan diperlakukan tidak adil.
Ya, dia tidak mencintai Sandra. Beribu cara digunakannya untuk menolak pertunangan ini, tetap saja dia harus takluk pada sang daddy. Bahkan kalau bukan karena memikirkan kondisi fisik daddynya yang sakit-sakitan, dia tidak akan mau pulang dan menetap di Indonesia, meneruskan perjodohan konyol ini.
Dan salah satu alasan kenapa dia begitu ingin segera menikahi Frolline secepatnya adalah untuk menghindari pernikahannya, selain tentunya dia sangat mencintai wanita yang sekarang menjadi istrinya itu.
Sandra, wanita yang terpaut umur lima tahun dengannya. Sekarang berusia 30 tahun adalah calon istri pilihan daddynya. Putri tunggal pengusaha asal Bangka Belitung, yang memiliki perusahaan pertambangan timah. Selain memiliki usaha di bidang pertambangan, keluarga Sandra juga memiliki bisnis perkebunan sawit, transportasi laut dan layanan pelabuhan di kepulauan Bangka Belitung.
Kakak Sandra yang tertua, mengeluti bisnis perhotelan di Surabaya. Sedangkan kakak keduanya memiliki maskapai penerbangan nasional yang melayani penerbangan domestik dan internasional di bawah bendera Wangsa Group.
Sandra sendiri lebih banyak menghabiskan waktu dengan bersenang-senang dan melakukan perjalanan keliling dunia dengan komunitasnya. Sesekali mengurus bisnis fashionnya di salah satu kota kecil, di Amerika Serikat. Usaha kecil-kecilan yang dirintis bersama teman kuliahnya.
“Fro, maafkan aku, tetapi jangan dipikirkan. Aku tulus mencintaimu dan akan memperjuangkanmu dan hakmu,” bisik Ditya, mengeratkan genggaman tangannya.
Frolline sudah ingin menangis. Bukan terharu dengan kata-kata Ditya, tetapi menangisi nasibnya yang salah memilih jalan hidupnya sendiri. Kalau dia tidak mengiyakan lamaran Ditya, sudah pasti tidak akan terjebak dalam lingkaran kerumitan hidup Ditya.
__ADS_1
Tak lama Joe, sang asisten kembali. Menyodorkan sebuah amplop coklat pada majikannya.
“Tolong tunjukan pada Nona Frolline,” perintah Halim.
Sang asisten menurut, bergegas menghampiri wanita yang dimaksud. “Ini Nona,” ucapnya dengan sopan.
Frolline menerima amplop itu dengan penuh tanda tanya dan kebingungan.
“Bukalah!” perintah Halim.
Dengan ragu, tetapi akhirnya Frolline membuka amplop coklat di tangannya. Terlihat beberapa lembar foto pertunangan Ditya tercetak jelas disana. Tidak hanya itu saja, sebuah undangan pernikahan tertera nama Ditya Halim Hadinata dan Sandra Wangsa yang akan digelar sebulan lagi. Di salah satu hotel ternama di Jakarta.
Deg—
Dua bulir air mata Frolline turun memberi jejak di wajah sederhananya. Mulutnya terkatup, tidak bisa bersuara. Otaknya buntu tidak bisa berpikir lagi.
“Aku tidak memintamu berpisah dari putraku. Aku tahu, Tuan muda Ditya ini sangat mencintaimu, sampai rela menentangku seperti ini,” ucap Halim, pandangannya beralih menatap Sandra dan istrinya.
Menghela nafas, berusaha bersikap tenang. Tidak marah-marah seperti tadi pagi dan akan mempengaruhi kesehatannya.
“Dia putraku satu-satunya, pewaris Halim Group. Aku hanya memintamu sedikit mengalah dan aku juga akan mengalah, menerimamu di tengah keluarga kami. Izinkan Ditya menikahi Sandra. Karena seharusnya perempuan inilah yang menjadi menantu keluarga Halim Hadinata.”
Jeda sejenak.
“Kamu sudah merebut tempat yang seharusnya menjadi milik Sandra. Bisakah mengembalikan tempat itu kepada pemilik sebenarnya?” tanya Halim.
Ditya sejak tadi memilih diam dan menyimak. Dia belum tahu jelas apa yang diinginkan daddynya. Jadi belum bisa berpendapat. Dan tentunya dia akan menentukan sikapnya saat sang daddy menyelesaikan bicaranya.
“Kamu tetap bisa memiliki suamimu, menikmati semua fasilitas keluarga Halim Hadinata sama seperti Sandra. Bahkan aku juga akan mengakui anak-anak yang nanti terlahir dari rahimmu sebagai penerusku, tetapi bersembunyilah dari dunia. Tinggalah dimana pun yang kamu mau. Kamu tidak akan kekurangan.”
“Karena di luar sana aku hanya akan mengakui Sandra sebagai menantuku. Dan dunia hanya akan mengenal Sandra sebagai menantu dari Halim Hadinata,” tegas Halim.
***
T b c
__ADS_1
Love you all
Terima kasih.