
Secerca sinar surya mengintip malu-malu dari celah tirai putih gading yang menjuntai dari langit-langit kamar. Di balik jendela kaca, terlihat semburat menguning tampak indah di ufuk timur, berpedar menghiasi cakrawala pagi. Binar kemerahan beranjak pergi, cahaya keemasan itu siap menjemput hari.
Gelembung kecil menari di pucuk daun keladi, perlahan menguap, terbang dan menghilang. Di sudut jendela, seuntai sirih gading menjulur keluar dari vas kaca, tampak cantik. Ya, beberapa hari tinggal di rumah karena sakit, Frolline menghabiskan waktu dengan hobi barunya.
Tertarik dengan home decor, istri Ditya Halim Hadinata itu memilih konsep tropical untuk penthouse tinggal mereka. Dalam waktu seminggu, hunian sudah disulap Frolline layaknya hutan tropis di tengah kota. Begitulah, Ditya berkomentar pertama kali saat pulang ke rumah, mendapati bertebaran sirih gading dengan berbagai varian memenuhi sudut rumah.
“Ini benar-benar rumahku, Sayang?”
“Astaga, Schatzi!
“Oh my God!”
“Fro, apa yang kamu lakukan pada rumahku?”
Ada banyak lagi ungkapan keterkejutan Ditya saat mendapati banyak sentuhan feminim di sudut rumahnya. Hunian yang awal disesuaikan dengan laki-laki single, simple, kekinian, dinamis tiba-tiba berubah dalam sekali kedipan mata.
Belum lagi pohon palem, adenium dan monstera raksasa duduk manja di tepian kolam renang dengan pot kaki berukuran jumbo. Ini belum termasuk tanaman lain yang bisa dijumpai di pojokan penthouse mewah dengan konsep awal rumah kaca modern.
Sayup-sayup terdengar suara berisik dari luar kamar. Terusik! Tentu saja Frolline terusik dengan bunyi-bunyi yang tak biasa. Dengan tubuh masih menempel, berpelukan layaknya pengantin baru setelah menyelesaikan ritualnya, Frolline bergeser menjauh dari tubuh sang suami yang sepolos dirinya.
“Schatzi ... kamu mau kemana?” Suara serak Ditya keluar, setelah terganggu dengan pergerakan kecil di atas ranjang. Tangan kekarnya yang tadi mendekap tubuh mungil istrinya tiba-tiba terhempas begitu saja.
“Sudah siang, Ko. Aku harus membuatkanmu sarapan.” Buru-buru bangkit, dengan tubuh telanjang, membungkuk meraih gaun tidur seksinya yang teronggok di lantai karena ulah Ditya semalam. Berjalan perlahan menuju kamar mandi.
Tidak sampai sepuluh menit, Frolline sudah keluar dengan rambut basah tergerai, berbalut bathrobe.
“Ko, mau sarapan dengan apa pagi ini?” tanyanya sembari mengusap mahkotanya dengan handuk kering.
Bukan menjawab, Ditya sebaliknya mencekal pinggang ramping istrinya dan menjatuhkannya kembali ke tempat tidur.
__ADS_1
“Aaaaahhh!” Jerit Frolline tiba-tiba, saat tubuhnya limbung, menimpa Ditya. Terjerembab dalam pelukan tubuh kekar, sedetik kemudiam keadaan sudah berbalik. Terbaring pasrah dalam kungkungan dua lengan perkasa yang mengunci di sisi kiri dan kanan tubuhnya.
“Koko mau sarapan ini, pagi ini, saat ini.” Mata bening Ditya membuka sempurna, menatap istrinya dengan pandangan menggoda, jari-jari panjangnya pun ikut menggelitik kulit tubuh Frolline yang terekspos. Bermula dari leher jenjang yang masih basah kian turun menuju dada.
"Dinner saja, Ko.” Frolline berbisik pelan, menolak halus.
“Koko mau breakfast, ditawari dinner. Masih lama, Fro. Koko harus puasa berapa jam? Sekarang saja sudah berasa lapar.” Ditya mengedipkan sebelah matanya, menggoda sang istri.
“Aku harus membuatkanmu sarapan, setelah itu harus ke kantor. Ada sedikit masalah di proyek, mungkin harus ke proyek juga, Ko.” Frolline mengungkapkan alasannya.
“Ah, sekarang aku baru merasakan tidak enaknya memiliki istri yang bekerja. Setiap mau dipakai, selalu saja punya alasan yang membuat Koko tak berkutik,” keluh Ditya. Meskipun begitu, tangannya tak berhenti berusaha. Merayap dan menyusup masuk di balik bathrobe, meremas si kembar yang sejak semalam sudah habis dilahapnya sampai memar kebiruan.
“Nanti malam ... aku ... akan mengenakan gaun yang lebih seksi, Ko. Aku janji ... sekarang ... izinkan aku membuatkanmu sarapan, ya,” pinta Frolline terbata. Jemari usil Ditya membuatnya susah berkata-kata. Lidah kelu, menahan desah. Frolline tahu, sekali saja desah itu meluncur keluar, Ditya tak akan melepaskannya lagi.
“Ada mama. Aku tidak enak, kalau sampai terlambat bangun, Ko.” Frolline kembali melempar alasan, menarik keluar tangan nakal yang menangkup dan meremas miliknya.
“Masak yang simple saja, Fro. Sejak kemarin, lambungku bermasalah, Honey.” Ditya berucap lembut, melepaskan istrinya dari kungkungannya.
“Ya, Ko. Kalau masih sakit, apa kita ke dokter saja,” ucap Frolline, berdiri di samping tempat tidur, merapikan kembali bathrobe yang berantakan. Punggung tangan sudah mendarat pelan di kening Ditya, memastikan suhu tubuh suaminya normal.
“Suhunya normal, tidak panas,” bisik Frolline, berjalan menuju walk in closet.
“Kita berangkat ke kantor bersama hari ini.” Ditya berkata pelan. Lenyap sudah kantuknya, berbaring telentang menatap langit-langit kamar.
“Aku mungkin mau ke proyek dulu, Ko,” sahut Frolline, setengah berteriak dari dalam walk in closet. Masih sibuk berpakaian
“Ada masalah apa di proyek, Fro?” tanya Ditya. Berbaring dengan kedua tangan menekuk menahan belakang kepala.
“Menurut First, ada yang tidak sesuai dengan gambar, Ko. Aku belum mengeceknya.”
__ADS_1
Mendengar nama First, sontak Ditya bangun dari posisi tidurnya. “Kamu tidak ....”
“Tidak Ko. Aku tahu di mana tempatku,” potong Frolline, sibuk mengancingkan kemeja kerjanya. Berjalan menuju meja rias, duduk manis dan mulai mengeringkan rambut pirangnya dengan hairdryer.
“Kamu serius dengan kata-katamu barusan?” Ditya tiba-tiba sudah berdiri di belakang Frolline, masih bertelanjang dada, hanya mengenakan boxer tidurnya. Melabuhkan kedua tangannya di pundak yang terbalut kemeja chiffon bermotif floral.
“Ya, Ko.” Tak hanya menjawab, Frolline mengirim jawaban pasti lewat pandangan mata yang terpantul di cermin meja rias.
“Danke.” Setengah membungkuk, Ditya mengecupkan pipi Frolline.
“Sini aku bantu mengeringkannya,” ujar Ditya, tanpa menunggu jawaban, laki-laki itu sudah meraih hairdryer dengan senyum tak henti menghiasi wajah tampannya.
***
Frolline melangkah keluar dari kamarnya, masih menenteng tas tangan dan meletakannya di atas meja sebelum menuju ke dapur. Kaki nyonya Ditya Halim Hadinata membeku di tempat, saat mendapati dapur rumahnya porak-poranda, hancur berantakan dalam semalam.
Matt sedang duduk di lantai menggenggam ulekan batu. Tepat di depannya sebuah cobek penuh dengan cabe rawit setengah hancur. Asisten itu menatap Frolline dengan wajah memelasnya. Di sisi lain, Zoe asistennya mengenakan celemek hitam putih miliknya sedang menyiapkan sayuran hijau di depan meja island. Ada beberapa papan petai dan jengkol juga menambah keramaian di sana.
“Ya Tuhan, apa yang terjadi?” cicit Frolline di tengah keterkejutan. Sekejap kemudian, wanita itu berteriak.
“KOKO!!!” pekik jerit Frolline terdengar begitu kencang. Rasanya ingin menangis melihat kehancuran di depan matanya.
“KOKO! Kamu lihat orangmu sedang membuat kekacauan di dapurku.” Kembali berteriak, berbalik menuju ke kamarnya, siap mengadu pada sang suami.
“Koko! Bangun sekarang? Seret orangmu dari dapurku!”
***
TBC
__ADS_1