Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 78 : Menikah lagi, meringankan tugas istri


__ADS_3

“Katakan sekali lagi, Koko mau menikahi siapa?” pinta Frolline dengan wajah cemberut.


Tawa Ditya pecah saat melihat cemburu itu nyata di manik mata istrinya. “Katakan dulu apa hukumannya, baru Koko akan menjawab!” Ditya memancing kembali.


“Berani menikah lagi, perkututmu akan aku mutilasi. Aku akan menjadikannya daging cincang!” ancam Frolline, berucap kesal.


Cemberut itu terlihat indah saat ini di mata Ditya. Ingin rasanya menggulingkan istrinya dan melanjutkan pekerjaan malam yang tertunda beberapa hari ini.


“Fro, kalau koko menikah lagi, bukannya kamu harus berterimakasih. Jadi tanggung jawabmu sebagai istri jauh lebih ringan dan berkurang.”


Frolline terbelalak, menghentakan tubuhnya dengan kasar di atas perut Ditya.


“Awww! Fro, jangan begini. Sparepart di dalam keluar semua nanti!” canda Ditya. Dengan sekali sentak tangannya berhasil bebas dari cekalan sang istri. Kalau dia mau, dia sangggup menggulingkan Frolline dalam hitungan detik, tenaga istrinya itu tidak ada apa-apanya.


“Kalau koko menikah lagi, tugasmu jadi lebih ringan, Fro. Seminggu, kamu cukup membuatkan sarapan tiga hari saja, yang tiga hari sisa ada istri koko yang lain bisa mengerjakannya. Kita bisa enak-enakan di kamar sepanjang hari.” Ditya memulai kembali.


“Kita bisa fokus pada proyek bersama kita. Mencetak keturunan Halim Hadinata selanjutnya.” Ditya mengedipkan matanya, menggoda sang istri.


“Kalau kamu capek mengurus rumah, ada istri yang satunya. Kalian bisa berbagi dan bekerja sama. Dijadwal saja. Bukankah dengan begini pekerjaanmu jadi lebih ringan, Fro. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,” lanjut Ditya, sontak mendapat tatapan tajam dan mematikan dari Frolline.


“Nah, kalau malam juga begitu, kalian bisa berbagi tugas. Terserah siapa yang mau melayani duluan. Dibagi Senin, Rabu, Jumat juga tidak masalah, agar tidak rebutan. Atau bisa juga dibagi rata. Tidurnya denganmu, nanti bangunnya dengan istri yang satunya.” Ditya semakin menjadi, Frolline semakin cemberut.


“KO!” pekik Frolline kesal sendiri. Ucapan Ditya semakin memancing amarahnya. Bagaimana Ditya dengan mudahnya membahas masalah ini.


“Ya, apalagi? Jangan takut tidak adil. Warisan Halim Hadinata itu banyak. Jangankan satu istri, selusin pun, Koko masih sanggup. Dijamin tidak akan terlantar dan Koko pastikan adil untuk semua sesuai dengan pancasila, sila ke lima. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia."


Kedua tangan Frolline sudah menangkup dada kekar suaminya, meremas kasar sampai laki-laki itu memekik kesakitan.


“Aduh sakit, Fro!” keluh Ditya, menahan tawa. Semakin Frolline cemburu, semakin lagi Ditya menjadi.


“Seperti saat ini, Koko ingin sekali mendaki gunung lewati lembah, tetapi istri satu-satunya sedang sakit. Coba kalau istri Koko ada dua, kepala Koko jadi tidak cenat cenut seperti sekarang. Menahan hasrat dan gairah yang terlanjur membuncah di dada.”

__ADS_1


Kedua tangan Frolline segera menutup mulut Ditya. Wajahnya bersemu merah, menahan malu. Ditya dengan terus terangnya, mengungkapkan keinginannya.


“Jangan bicara sembarangan. Kalau terdengar mami bagaimana!” omel Frolline.


“Bukannya kalau mamimu masuk, dia akan tahu seberapa nakal putrinya. Pasti selama ini mamimu tidak tahu seberapa hebat putrinya ini saat berlayar diatas ranjang,” goda Ditya lagi, setelah berhasil menyingkirkan tangan sang istri dari mulutnya.


Pukulan kencang mendarat di pundak Ditya. Semakin laki-laki itu bicara, semakin terdengar mengesalkan.


“Coba kamu lihat ke cermin, apa tidak nakal posemu sekarang.” Ditya terbahak saat melihat Frolline benar-benar menatap ke cermin lebar yang terpasang di dinding.


“Seksi, Sayang,” desah Ditya memberi kecupan jarak jauh dan mengedipkan matanya.


Setelah puas memandang pantulan dirinya di cermin, Frolline kembali ke topik utama.


“Katakan lagi, kalau tidak benar Koko mau menikah lagi. Aku tidak percaya dengan Tuan Halim itu,” ancam Frolline, mengarahkan telunjuknya di kening Ditya.


“Ssstttt! Jangan melakukan ini di depan Kak Marisa. Tidak sopan,” ucap Ditya meraih telunjuk istrinya dan menggigit kecil.


Frolline melongok, perasaan di keluarganya tidak ada aturan seperti ini. Kalau mama dan papanya sedang bertengkar, mulut mamanya akan seperti sepur, mengoceh sepanjang hari tanpa henti. Sampai papanya dan semua orang di rumah bosan mendengar. Di ulang-ulang sampai satu rumah hafal semua isi ocehannya.


Dan papanya memilih pergi atau diam-diam pergi ke kamar, membaca koran atau menonton televisi. Terkadang mengobrol dengan tetangga sebelah rumah, pulang-pulang saat hari menjelang petang. Dan omelan itu akan berlanjut kembali di meja makan.


“Rezeki istri itu ada di pundak suami, rezeki suami itu ada di restu istri,” ungkap Ditya.


“Jadi maksudnya aku tidak boleh mengomel Koko?” tanya Frolline.


Ditya terkekeh. “Mengomel tentu saja boleh. Itu hak setiap orang, tetapi jangan kelewatan dan merendahkan. Apalagi sampai terlihat di depan orang banyak. Itu memalukan, Sayang. Suamimu seperti tidak ada harganya, padahal dia kepala keluarga,” jelas Ditya dengan sabarnya.


“Sudah, jangan cemberut lagi, aku hanya bercanda.” Ditya menyudahi perdebatan mereka. Lelaki itu menarik tubuh istrinya supaya telungkup menimpa tubuhnya.


“Aku tidak akan menikah lagi, Fro. Satu ini saja, perjuangannya sudah setara pahlawan pejuang kemerdekaan saat merebut Batavia dari tentara VOC.”

__ADS_1


“Apalagi ini? Apa hubungan pejuang kemerdekaan dengan Batavia dan VOC.” Frolline mengerutkan dahi. Bahasa Ditya terlalu tingkat tinggi.


Lama keduanya terdiam, Ditya sedang menikmati tubuh istrinya yang telungkup manja menempel di tubuh kekarnya. Sedangkan Frolline, sedang menikmati detak jantung sang suami yang terdengar teratur dan menenangkan.


“Ko, aku tidak mau Koko menikahi Sandra. Bagaimana pun, aku tidak mau diduakan,” ucap Frolline tiba-tiba.


“Hmmm ....” gumam Ditya, mengunci tubuh Frolline dengan erat. Lelaki itu sedang melepas kantuknya, sudah beberapa malam tidak tidur dengan benar.


“Ko, kamu mendengarkanku, kan?” tanya Frolline lagi. Mata suaminya terpejam, tidak ada pergerakan sama sekali.


“Hmmmm ....” Kembali terdengar gumaman tak jelas dari bibir Ditya.


“Ko ....” Kali ini alunan suara Frolline terdengar lebih manja dari biasanya.


“Kenapa? Minta divaksin?” tanya Ditya. Seutas senyuman usil tampak di wajah tampannya.


“Bukan!” Buru-buru Frolline menjawab.


“Minta diinjeksi?” tanya Ditya lagi, masih dengan mata terpejam.


“Bukan, Ko.”


“Lalu, kenapa merengek sejak tadi. Koko mengantuk, Fro. Sudah dua hari tidak bisa tidur. Sudah, diam saja. Jangan bergerak lebih. Koko mau tidur sebentar. Semakin kamu bergerak, semakin adik kecilku tidak mau tidur.” Otak mesum Ditya mulai merambah kemana-mana.


“Ko .... kamu boleh kembali ke perusahaan, kita juga akan pulang ke penthouse, tetapi ... Koko tidak boleh menikah sedang Sandra.” Frolline mengungkapkan isi hatinya.


“Ya ....” Dengan sekali sentak, Ditya berhasil menggulingkan istrinya untuk berbaring di sampingnya. Tidak nyaman tidur dengan Frolline menindih perutnya.


“Istirahat sekarang, Fro. Jangan mengoceh terus-terusan, nanti aku berubah pikiran.” Kedua tangan kekar itu merengkuh tubuh Frolline masuk ke dalam pelukannya.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2