Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 89 : Hanya Daddy


__ADS_3

Frolline berdiri di depan pintu dengan kedua tangan menutup mulut. Menggigit bibir berusaha menahan isak itu tidak terdengar keluar, Frolline gemetar. Dia bisa mendengar jelas apa yang dibahas suami dan mama mertuanya. Tak ada satu kata pun lolos dari indra pendengarannya, semua tersimpan jelas, berputar-putar di otaknya.


Mata bening itu memanas, awan hitam menggantung di pelupuk mata dan siap luruh. Runtuh! Seperti pertahanan diri Frolline yang sudah tidak sanggup berdiri tegar, tetapi dipaksa untuk tetap kuat di tengah goncangan dan cobaan yang datang silih berganti.


Menyesal! Harusnya dia tidak perlu banyak bertanya mengenai selera mama mertua. Sehingga tidak perlu mendengar semua yang harusnya tidak perlu didengarnya. Selama ini dia berusaha kuat, hanya karena keadaan.


Dia tidak memiliki siapa-siapa lagi, rasanya terlalu cengeng harus mengeluh dan jadi lemah. Sejak ditinggal papa, mama, dia berusaha berdiri tegak di saat guncangan demi guncangan menghantamnya, hanya karena dia tahu. Dia sendiri. Menangis pun percuma.


Bahkan saat tertinggal Angella, kakak satu-satunya itu pun memilih pergi meninggalkannya. Menghilang tanpa pamit, tidak meninggalkan cerita sama sekali selain kenangan. Bahkan, sampai hari ini Angella tidak mau menerima panggilannya. Padahal dia tidak mempermasalahkan harta orang tua yang diambil semua tanpa menyisahkan sepeser pun untuknya.


Menyelesaikan memasak menu permintaan mertuanya, Frolline berusaha menahan tangis. Selama memasak, dia lebih memilih bungkam. Sempat melihat Ditya dan mamanya yang keluar dari ruang kerja. Keduanya diam, berpisah arah tanpa bicara, Ditya kembali ke kamar begitu pun dengan sang mama.


“Ko ....”


Frolline kembali ke kamar, setelah semua masakannya tersaji rapi di atas meja. Pemandangan tidak biasa menyambutnya begitu melangkah masuk. Tirai masih tertutup, dengan suasana kamar meredup tanpa penerangan. Satu-satunya cahaya, hanya semburat mentari yang malu-malu mengintip dari celah jendela.


Terlihat Ditya berbaring telentang dengan lengan kiri menutup setengah wajahnya.


“Ko ....” menyapa kedua kalinya, tetapi tetap tidak ada jawaban. Ditya bergeming. Bahkan pria itu masih setia menyembunyikan wajah tampannya.


“Ko, aku harus ke kantor sebentar lagi.” Frolline mengingatkan.


Tidak mendapat respon, Frolline berjalan menuju jendela. Menyibak perlahan tirai yang menjuntai jatuh menimpa lantai. Binar surya bagai kilatan, sekejap seisi kamar berpendar terang. Masih menggengam erat ujung gorden, Frolline membeku saat netra indahnya menangkap gedung-gedung pencakar langit yang berdiri gagah, menjulang tinggi.


Berada di sudut ini, Frolline merasa sendirian. Seperti tertampar, selama ini dia serasa bermimpi dan baru terbangun dari tidur panjang. Percekcokan Ditya dan mamanya kembali berputar ulang, ucapan-ucapan menyakitkan itu terngiang jelas.


Mata teduh itu kembali memanas. Mengingat dia yang hanya seorang diri, cairan bening itu tumpah lagi. Terisak pelan, mengusap dengan ujung telunjuk, Frolline berusaha menguatkan hati dan dirinya.


“Kamu kuat Fro! Kuat!” Membakar sisi tegarnya, supaya berhenti menangis, berhenti merengek, berhenti meratapi nasibnya yang sudah tidak memiliki siapa-siapa, pun tidak memiliki apa-apa.


Frolline masih berkutat dengan perasaannya sendiri. Terlalu terbawa rasa haru, sampai tidak menyadari derap langkah berjalan mendekat.

__ADS_1


“Schatzi, apa yang kamu pikirkan?” Tangan kekar tiba-tiba merambat di sisi kiki dan kanan pinggang rampingnya, Frolline baru tersadar saat tangan suaminya sudah mengunci erat di depan perutnya.


“Aku sudah terlambat, Ko,” cicitnya pelan, tanpa menoleh. Masih fokus dengan gedung-gedung tinggi yang berdiri kokoh, tanpa mengeluh saat diterpa hujan badai atau terik matahari.


“Lima menit lagi, koko bersiap. Izinkan Koko memelukmu sebentar. Koko sedang merindukanmu saat ini,” bisik Ditya, menjatuhkan kepalanya, bersandar manja di pundak istrinya. Berbagi kesedihan, berbagi masalah, berbagi beban hidup dalam kebungkamannya.


“Ko, kamu kenapa?” Frolline mencoba memancing Ditya.


“Kepala koko sedikit pusing, Fro.” Ditya beralasan.


“Kalau sakit ... apa sebaiknya koko di rumah saja. Aku bisa berangkat dengan Zoe.” Frolline memberi usul.


Tarikan napas berat itu mewakili perasaan Ditya saat ini. “Kita ke kantor bersama. Koko akan mengantarmu, kita berangkat dan pulang bersama, Fro.”


“Apa ada masalah dengan mama?” Frolline memancing.


“Tidak ada,” tegas Ditya.


“Koko tidak berbohong padaku, kan?” todong Frolline, memandang lurus ke depan. Sengatan sinar matahari begitu menyilaukan.


“Apa Koko boleh berbohong padamu, Fro?” Ditya bersuara tiba tiba. Nada bicaranya sedikit berbeda, seperti ada beban yang di tanggungnya.


Hening — keduanya tenggelam dengan pikiran masing-masing.


“Ko ....”


“Cium Koko sekarang, Fro,” pinta Ditya dengan nada lembut.


Frolline segera melepaskan diri, berbalik dan menatap wajah Ditya dari dekat, lekat. Menyusuri setiap sudut, setiap lekuk wajah tampan yang beberapa bulan ini mengisi pandangannya setiap memulai hari.


“Koko baik-baik saja?” tanya Frolline, memastikan. Saling berhadapan, dia bisa melihat wajah letih dirundung masalah.mRupa suaminya itu tidak bisa berdusta. Lelah dan beban terlihat jelas.

__ADS_1


“Koko tidak baik-baik saja. Koko lelah, Fro,” sahut Ditya, menggeleng. Pada akhirnya memilih berbagi setelah merasa dadanya hampir letup. Sejak tadi segala ras dan emosi menari di dalam hatinya. Sesak, sakit, semuanya mengumpul.


Mengalungkan kedua tangannya di leher Ditya, Frolline tersenyum. Berjinjit perlahan, menghadiahkan kecupan di bibir. Tipis dan begitu ringan, bahkan Ditya belum sempat menikmatinya, Frolline sudah menyudahi.


“Sekali lagi, Please. Koko belum menikmatinya.” Pria tampan masih dengan boxer tidur itu memohon.


Gadis manis dengan kemeja kerja itu menurut, kembali menyapu bibir tipis suaminya. Kali ini sedikit lebih lama, lebih dalam. Jari-jarinya ikut bermain di balik leher, menggelitik tengkuk Ditya sedemikian rupa. Bersamaan dengan itu, pelukan Ditya pun semakin erat dan posesif seiring kecupan yang makin hangat, memanas.


Dengan sekali sentak, Ditya berhasil menaikan tubuh berbalut rok mini itu ke dalam gendongannya.


“Aaaah!” pekik terkejut keluar dari bibir Frolline, tertahan. Ditya membungkam bibir dengan sapuan lipstik merah muda itu dengan panas. Membawa istri yang membelitkan kedua kaki di pinggangnya ke tengah ruangan, menjatuhkan Frolline tanpa perasaan ke atas tempat tidur.


Brukkk!


“Koko menginginkanmu sekarang, Fro! Tunda semua pekerjaanmu.” Menindih tubuh mungil, yang begitu pasrah di bawah kekuasannya.


Tanpa melawan, tanpa protes, tanpa banyak bicara seperti biasa, Frolline menurut. Mengangguk tanpa sadar dengan segaris senyuman tipis.


“Fro, Koko tidak tahu apa yang terjadi ke depannya. Tetaplah berdiri di samping Koko. Cukup menurut dan dengar kata-kata Koko.”


Frolline mengangguk.


“Ditya Halim Hadinata itu milikmu, meskipun di dalam dirinya mengalir darah Halim Hadinata.” Ditya memejamkan mata sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Koko harus katakan padamu ... mama dan mommy itu sama. Mereka berdua itu tidak ada bedanya. Di keluarga Halim Hadinata, Koko hanya bisa percaya pada Daddy. Bertahan di sini karena Daddy. Hanya Daddy yang tulus meskipun dia terlihat mengerikan.”


Frolline terkejut. Tentu saja wanita itu terkejut dengan apa yang diucapkan Ditya. Bukankah selama ini Daddy adalah orang yang membenci dan menentang hubungan mereka. Namun, kenapa suaminya begitu mempercayai sosok Halim Hadinata.


“Kenapa?” tanya Frolline, mengambang. Tentu saja terdengar aneh.


“Karena Daddy yang tidak pernah bermain drama.”

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2