Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 125 : Jadilah pria bertanggung jawab


__ADS_3

“You menganggu saja!” gerutu Ditya sembari memungut pakaian Frolline. Pria itu berjalan ke arah tempat tidur, tersenyum menatap wajah istrinya yang bersemu merah menahan malu.


“Fro, tunggu aku di kamar mandi. Kita berendam bersama,” bisik Ditya, meletakan pakaian di atas pangkuan Frolline.


“Ko ....”


“Ssttt, biar aku membereskan pengacau ini dulu. Tunggu aku di bathtub,” bisik Ditya.


Hampir dua bulan meninggalkan Indonesia, meninggalkan tanggung jawab dan pekerjaan. Ditya memanfaatkan waktu untuk menikmati hidup dan bersenang-senang dengan istrinya. Membayar tangis, air mata dan kesedihan yang selama ini dihadirkannya untuk Frolline. Ditya berharap, masa-masa kehamilan Frolline menjadi masa-masa terindah.


Frolline menurut tanpa protes, bergegas mengikuti perintah Ditya. Ia tidak mau menanggung lebih banyak malu lagi saat harus beradu tatapan dengan ibu mertuanya.


Dua pasang mata itu mengikuti pergerakan langkah Frolline yang malu-malu menuju ke kamar mandi dengan selimut membungkus tubuh.


“Sampai kapan, Ko? Ini sudah hampir dua bulan. Manusia itu perlu bekerja bukan hanya karena tanggung jawab tetapi supaya otaknya tetap berfungsi sempurna. Mau dibawa ke mana? Mau jadi apa?” omel Mama Ditya setelah memastikan pintu kamar mandi tertutup sempurna.


“Tidak perlu dipikirkan. Aku tetap bekerja. Restoranku di England masih berjalan meskipun penghasilannya tidak sebesar uang saku saat menjadi putra Halim.


“Kehidupan seperti apa yang sedang kalian jalani sekarang, Ko.” Mama Ditya masih menggerutu. Ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Tanpa sengaja menduduki pakaian dalam milik Frolline yang tercecer di tempat tidur.


“Aku menikahinya dengan sederhana. Tidak ada resepsi, pesta mewah ataupun keluarganya. Hanya sebuah pengesahan di hadapan Tuhan dan hukum. Tidak ada prosesi lamaran dan aku menikahinya tanpa restu dari keluargaku. Yang lebih parah lagi, aku memaksanya. Dia tidak mencintaiku, Ma.” Ditya membuka pembicaran.


“Sebelum menikah, aku tidak memperlakukannya layak wanita terhormat. Kami sudah tinggal serumah sebelum aku menjadikannya istriku. Lebih parah lagi, aku meminta hak-ku tanpa memikirkan perasaannya. Waktu itu yang terpikir di benakku adalah aku harus mendapatkannya. Andai aku belum mendapatkan hatinya, aku harus mengambil hak-ku untuk mengikatnya. Bayangan penolakan Daddy membuatku harus mengambil langkah ini, tanpa mempertimbangkan perasaannya.” Ditya menjatuhkan tubuhnya di sebelah sang mama. Tatapannya menerawang jauh.


Mama Lily tersenyum getir. Teringat masa lalunya saat harus menikah dan hamil Ditya. Itu pun dilakukannya tanpa cinta. Sebelumnya, ia harus melakukan serangkaian tes, sampai pria tua itu menyetujui untuk membelinya. Awal pertemuan mereka, bahkan Halim begitu jijik padanya. Kalau saja bukan karena Meliana tidak melakukan histerektomi ( pengangkatan rahim ) dan masih bisa hamil, ia tidak akan masuk ke dalam keluarga Halim.


“Aku ingin membahagiakan Frolline, Ma. Aku sengaja mengambil kesempatan ini. Setelah anakku lahir dan mungkin saja kami mendapat restu Daddy. Kehidupan Frolline juga akan berubah. Kami mungkin tidak bisa melakukan hal-hal gila seperti ini lagi, Ma. Hidup kami pasti tidak akan sebebas sekarang.” Ditya menjelaskan.

__ADS_1


“Lalu ... apa yang kamu rencanakan?” tanya Mama Lily.


“Membuat Frolline tersenyum sebisaku. You know ... Frolline banyak berkorban untukku. Di tengah keterpaksaan, ia tidak pernah mengeluh atau meninggalkanku. Padahal jelas-jelas Daddy menolak mengakuinya. Namun, ia masih bertahan di sampingku, waIau tidak mencintaiku. Ia masih setia dengan komitmen pernikahan kami. Ia masih bertahan dengan pernikahan kami. Dan sekarang sedang hamil anakku. Tidak sekali pun, ia mengeluh. Kalau sekarang dia belum mencintaiku, aku memakluminya.”


Mama Ditya menyimak kalimat-kalimat yang keluar dari bibir putranya. Tubuhny menegang saat merasakan ada yang tidak beres di tempat tidur yang didudukinya.


“Ya Tuhan, apa ini?" tanya Mama Lily sembari menarik sesuatu yang mengganjal di bokongnya. Matanya terbelalak saat mendapati bra menantunya yang berantakan tidak berbentuk setelah didudukinya dalam waktu yang lumayan lama.


Membentang benda berenda dan bertali berwarna merah muda dengan ukuran standart perempuan Indonesia. Mama Ditya mengerutkan dahi, otaknya berpikir keras.


“Ko, sepertinya ini bukan seleramu,” ungkap Mama Lily berterus terang. Keusilannya muncul saat melihat wajah kesal sang putra


“Bukan urusanmu. Kemarikan!” Ditya menyambar pakaian dalam istrinya.


“Serius, Ko. Seleramu jauh lebih besar.” Mama Ditya terbahak sembari mengingat perempuan-perempuan yang sering menghabiskan waktu bersama anak laki-lakinya.


“You jangan membuat masalah. Istriku akan mengamuk setiap membahas masalah perempuan.”


“Aku tidak bisa berkutik. Setiap membahas perempuan, mood Frolline bisa berubah drastis."


Mama Lily masih tertawa kecil saat bola matanya tertuju pada penutup dada yang sekarang sudah berada di genggaman Ditya. Putranya banyak berubah. Pernikahan membuat anak laki-laki kesayangannya seperti orang lain.


Kalau dulu Ditya menilai wanita dari kecantikan dan keseksiannya, sekarang sudah berbeda. Kalau dulu Ditya bisa menghabiskan sepanjang malam dengan bermain-main dengan banyak wanita, sekarang sudah jauh berubah. Kalau dulu pernikahan tidak ada di dalan kamus hidup Ditya, sekarang pria muda itu akan segera menjadi calon ayah.


"Jadilah pria yang bertanggungjawab, Ko. Untuk semua orang," ucap Mama Lily.


***

__ADS_1


Selama tinggal di Berlin, Ditya pun mulai mengurus pengajuan visa UK. Seperti biasa, ia mengisi semua administrasi di web resmi Visa Application Centre (VAC) sembari melengkapi dokumen-dokumen miliknya dan Frolline. Inggris adalah salah satu negara yang menunjuk pihak ketiga untuk penerimaan berkas dan dokumen.


Siang itu, Ditya bersama Frolline mengunjungi TLScontact Berlin untuk menyerahkan kelengkapan dokumen sekaligus foto biometric dan pengambilan sidik jari.


Ibu hamil yang perutnya mulai terlihat membesar di kehamilan yang memasuki usia enam bulan itu tampak begitu bahagia. Tangannya terus menggandeng Ditya. Hampir sebulan menghirup udara musim semi di Jerman, Frolline sudah mulai membiasakan diri.


"Ko, kita ke supermaket asia lagi, ya?" pinta Frolline sesaat setelah keluar dari kantor TLScontact.


"Kamu tidak lelah, Fro?" tanya Ditya sembari mengusap perut Frolline yang tertutup mantel hangat.


"Aku rindu dengan mi goreng instan." Frolline berkata dengan jujur.


"Hahaha ... tidak ada makanan lain lagi yang kamu inginkan?" tanya Ditya menggeleng.


"Anakmu menginginkan itu, Ko."


"Anakku atau ibunya?" sindir Ditya. Meskipun begitu, pria itu menurut. Mengendarai mobilnya menuju salah satu supermaket Asia.


***


Go Asia Berlin - Schöneberg


Ditya baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran supermaket. Frolline yang turun lebih dulu sudah ingin bergegas masuk ke dalam. Rasanya sudah tidak sabar mengisi keranjang belanjaan dengan aneka ragam bahan makanan dari Indonesia. Terlalu lama tinggal di Eropa, ia sudah merindukan semua hal tentang Indonesia.


Baru saja Frolline melangkah, tiba-tiba suara feminim yang menyerukan nama suaminya membuat ibu hamil itu berhenti.


"Mr. Ditya Lim."

__ADS_1


***


TE


__ADS_2