Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 72 : Fro, kamu baik-baik saja?


__ADS_3

Ditya masih menunggu dalam kecemasan. Meskipun dia merasa tidak bersalah, tetapi apa yang dikatakan mama dan mommy ada benarnya. Memang dia mengorbankan banyak hal demi Frolline, demi cinta, demi perasaan sampai mengesampingkan logikanya.


Ya, begitulah cinta. Tidak pandang usia, tidak pandang miskin kaya. Mau pria atau wanita, pasti luluh lantah saat cinta sudah merasuki jiwa. Laki-laki dengan setelan casual itu bersandar di kursi tunggu. Ragu memilih pulang untuk menemani istrinya atau tetap di sini tanpa bisa berbuat apa-apa. Kantuknya hilang, lelah pun kembali menyerang.


Matt yang duduk di sebelah hanya bisa menguatkan. Laki-laki itu juga tidak bisa berkata -kata indah untuk bosnya. Hanya sebuah kata sabar, berharap bisa membuat Ditya tenang.


“Matt, apa sebaiknya aku pulang saja. Kasihan Fro,” ucap Ditya pelan, mengusap kasar wajah letihnya.


“Kalau terjadi sesuatu dengan Bos besar, bagaimana?” Matt mengingatkan.


“Aku sudah meminta Zoe berjaga di lobi hotel. Pasti Nyonya Bos baik-baik saja,” ucap Matt lagi, menenangkan.


Napas panjang Ditya, tidak menggambarkan kelegaan sama sekali. Hatinya terbagi dua, antara istri dan daddy. Posisi yang sulit dan tidak ingin dihadapinya selama ini. Bertahun-tahun hidup sendiri, memang tetaplah pilihan terbaik di saat kita tidak mau menikmati keruwetan hidup yang tidak ada habisnya.


Laki-laki itu nyaris tertidur, saat derap langkah kaki tertangkap indra pendengarannya. Meski mata enggan terbuka, tepukan Matt yang berlabuh di pundaknya memaksa laki-laki itu terjaga.


“Bos, ada Cicimu.”


Mendengar panggilan Marisa disebut, Ditya membuka mata saat itu juga. Dari kelopak terbuka itu, Ditya bisa menangkap wajah amarah Marisa yang ditujukan padanya.


“Kak ....” cicit Ditya pelan dengan suara seraknya.


Tersenyum sinis sebelum membuka suara, raut kesal itu terlihat jelas di wajah cantik kakaknya.


“Ini akhir yang kamu inginkan. Sejak awal, sudah kukatakan. Pilih gadis mana pun, tetapi bukan Fro.”


“Kak ....” Lidah laki-laki itu keluh, otaknya tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.


“Kamu lihat sekarang, keluargaku terluka karena ulahmu. Tidak daddy, tidak juga Frolline. Dan apa kamu bahagia sekarang. Kamu bahagia?” tanya Marisa.

__ADS_1


“Kamu sudah tahu betapa kerasnya daddy, Dit. Kenapa harus memaksa. Kenapa harus Fro?” Marisa mengeluarkan semua rasa yang menyesak belakangan ini. Selama ini diam, tetapi sekarang tidak bisa tinggal diam.


“Mana Fro?” tanya Marisa mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


“Aku akan membawanya pulang ke rumahku,” lanjut Maris lagi.


“Tidak bisa begitu. Fro istriku. Tidak ada seorang pun yang berhak atas Fro selain aku, suaminya.”


Tatapan Ditya tertuju pada laki-laki muda yang berdiri santai di belakang Marisa. Musuhnya beberapa waktu yang lalu, tetapi sekarang tidak lagi. Frolline miliknya, Frolline istrinya.


“Keponakanku ....” Ditya tersenyum kecut, menatap Firstan sebelum akhirnya membuang pandangan.


“Daddy bagaimana?” tanya Marisa. Tengah malam, dia mendapat kabar dari sang suami kalau terjadi sesuatu pada keluarganya. Dan benar saja, saat membuka berita online, berita Ditya sudah menjadi headline dengan dilengkapi visual sang adik yang sedang berhadapan dengan Halim Hadinata. Mau percaya atau tidak, kenyataannya sang dadddy sekarang kritis di ruang ICU.


Ditya menggeleng.


Marisa akhirnya menjatuhkan tubuhnya tepat di samping adik satu-satunya. Ikut berbagi beban, mengulang kembali kisahnya dulu yang tidak jauh beda dengan kisah Ditya. Hanya saja, kalau dulu Halim Hadinata masih tangguh. Masih bisa mengusirnya dengan lantang saat kejadian. Masih menegakan kepala seolah terusinya Marisa tidak akan berpengaruh apa-apa. Saat itu, Halim masih memiliki Ditya. Putra satu-satunya, putra kesayangannya, putra mahkota penerus kerajaan bisnisnya.


***


“Sudah jam berapa?” bisiknya pelan menatap jak dinding, hampir jam enam pagi. Menahan nyeri yang mulai terasa di tenggorokan. Masih berusaha memaksa tubuhnya bangkit. Kepalanya pusing, dunia serasa berputar. Bangkit duduk, tetapi akhirnya dia ambruk kembali.


Tatapannya tertuju pada sisi ranjang dingin di sebelahnya. “Koko tidak pulang semalaman,” cicitnya pelan. Tersenyum, menertawai dirinya sendiri yang ditinggalkan dan didustai.


Mengingat ucapan sang suami “aku akan cepat kembali”, hanya seperti hembusan tanpa arti. Kenyataannya sampai pagi, jangankan Ditya, jejak dan bayangannya pun tidak ada.


Beruntung, masih ditinggalkan uang, setidaknya sang suami tidak menelantarkannya. Berbekal uang segepok, dia bisa membeli makanan. Setidaknya Ditya tidak meninggalkannya dan membuatnya kelaparan.


***

__ADS_1


Ditya sehari semalam menghabiskan waktu menunggu daddy. Baru bisa kembali ke hotel setelah Marisa dan Firstan datang untuk menggantikan. Bagaimana pun keadaan daddy masih belum lewat masa kritisnya, harus ada pihak keluarga yang berjaga di sana.


Tidak bisa mengandalkan mommy yang sudah renta. Wanita tua itu sebaliknya butuh seseorang yang menjaganya.


Ditya tiba di hotel saat hari menjelang senja. Hampir seharian dia meninggalkan istrinya di kamar hotel. Hanya bertukar kabar lewat ponsel, itupun tidak semua panggilan Ditya tersambung. Frolline lebih banyak tertidur dibanding terjaga. Dering ponselnya terlewati begitu saja.


“Fro, kamu sedang apa?” Ditya mengerutkan dahi saat mendapati kamar gelap gulita seperti tidak ada yang menempati.


Hening — Tidak ada sahutan sama sekali.


Melangkah mendekat ke arah tempat tidur, kakinya tersandung sesuatu yang menghalangi pergerakan langkahnya. Ditya menggelengkan kepala sembari berdecak heran saat mendapati gaun istrinya masih berantakan di lantai. Masih di posisi yang sama, saat dia meninggalkan kamar hotel.


Buru-buru menyalakan lampu untuk memastikan apa yang terjadi. Ditya terkejut saat kamar gelap itu seketika terang dengan lampu tidur menguning keemasan. Istrinya masih meringkuk di atas tempat tidur, tidak merespon kedatangannya.


“Fro, kamu sudah tidur?” tanya Ditya. Hatinya bagai terkena pecut saat mendapati mie instan di dalam cup plastik yang mendingin di atas nakas. Tak sampai di situ, ada obat penurun panas produksi pabrik mereka, yang sudah hilang sebiji dari kemasannya.


“Fro, kamu baik-baik saja?” Panik mendera saat tubuh tertidur itu seperti mati, tidak bergerak, tidak menjawab panggilannya sejak tadi. Terbaring diam dengan selimut membungkus sebatas leher. Tertinggal kepala dengan rambut tergerai berantakan.


“Fro ....” Ditya menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, membalikan tubuh Frolline yang memunggunginya.


“Fro, kamu sakit?” Panik semakin menjadi saat mendapati suhu tubuh Frolline yang panas. Dengan tubuh menggigil.


“Fro, kamu demam?” tanya Ditya kembali.


“Ko, kamu sudah pulang?” ucap Frolline masih dengan mata enggan membuka. Menelan saliva dan membasahi bibirnya yang kering.


“Badanmu panas, Fro. Kita ke dokter sekarang?” tawar Ditya. Menempelkan punggung tanganynya di dahi Frolline.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2