Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 85 : Like me


__ADS_3

“Jangan katakan mama akan tinggal bersamaku di sini?” Ditya menatap tajam pada mama yang tersenyum lebar di hadapannya.


Wanita itu memainkan kedua alis kecoklatan yang baru saja disulam ulang. “You mau membuang mamamu di mana, kalau tidak menampung di sini.”


“Jangan memintaku tinggal di istana si tua bangka itu. Walau aku tahu, kamar di rumahnya membuat sakit kepalaku sembuh. Bukan hanya bintang lima, bintang tujuh, Ko,” lanjut mama tergelak.


Mamamu ini sudah tua, Sayang. Tidak sanggup lagi harus jambak-jambakan dengan mommymu, rebutan Halim Hadinata. Walaupun mama yakin, mama akan menang kalau diadu. Umur mommy dan daddymu itu tinggal menghitung sobekan kalender.” Mama Ditya tersenyum penuh kemenangan.


“Ma ... jangan begitu. Dia daddyku,” ucap Ditya, tersenyum kecut


“Ya, aku tahu. Kalau tak ada daddymu, mana bisa kamu berdiri di sini. Sudah, mana kamar mama?”


Mata Ditya hampir meloncat keluar saat mamanya dengan lancang mengatur semuanya tanpa meminta izin darinya.


Yang ditatap bukannya sungkan, sebaliknya malah menyodorkan gelas kristal kosong ke hadapan putranya, menunggu gelas itu diisi kembali.


“Ma, enough! You ... tidak muda lagi.” Ditya keberatan.


Perempuan dengan atasan hitam itu tergelak saat mendapat perlakuan seperti ini. Bukannya menurut, malah menuang sendiri anggur merah dari botol kaca. Kembali terkekeh saat mendapat gelengan kasar dan tatapan tajam putranya.


“Sedikit saja, Ko. Kenapa sekarang jadi perhitungan sekali, sih!” gerutu sang mama, tersenyum.


“The last! Aku tidak mau mama kenapa-kenapa. Mama itu sudah tidak muda lagi. You almost 55 years old, Mam.” Ditya masih saja kesal sendiri. Sejak dulu, mamanya susah untuk di cegah.


“No, Ko. I’m 53 years old.” Terjadi tawar menawar umur di antara ibu dan anak yang diakhiri dengan gelak tawa keduanya


Wanita paruh baya itu menghela napas, kembali menatap menantunya yang malam itu tampak cantik dan terlihat sederhana dengan celemek motif hitam putih.


“Apa yang membuatmu jatuh cinta padanya, Ko?” tanya Mama Ditya, menyesap anggur merahnya. Tatapannya seakan menelanjangi Frolline dari kejauhan.


“Semua! Aku mencintai semua yang ada padanya.” Ditya mengusap dagu dan ikut memandang ke titik yang sama. Secercah bahagia menyelimuti hatinya, setiap melihat Frolline, cinta itu semakin tumbuh dan berkembang setiap saat.


“Dia cantik, terkadang manja, tidak selalu menurut, sesekali memberontak. But, dia dewasa, meskipun sering kali seperti anak kecil. It’s okey, I love it.” Ditya masih menatap lekat istrinya dengan mengulum senyuman.


“Apalagi ... em ... ketika dia mencintai seseorang, dia akan mencintainya dengan gila. Total dan hanya melihat dari satu sisi. Dia bisa mencintai seseorang dengan caranya sendiri. Daddy pasti cerita banyak padamu. Aku merebutnya dari keponakanku sendiri.” Ditya bercerita tanpa malu-malu.

__ADS_1


Pukulan berat mendarat di lengan Ditya. “You memang putraku. Ditya Halim Hadinata!” ucap mama dengan penuh kebanggaan.


“Ma, you know ... aku butuh seseorang yang bisa strong, bisa bertahan di sisiku. Wanita lembek tidak akan sanggup berada di sampingku. Kehidupan kita keras, berbeda dengan orang kebanyakan. Dan ... Frolline sangat kuat, terbukti sampai sekarang dia masih menyimpan cintanya untuk First meskipun sudah menjadi istriku.”


“Like me!” Mama Ditya mengucap dengan bangganya.


Ditya mengangguk.


“Fro sering menangis, sering merajuk padaku. Dia lemah lembut, tetapi ... dia punya satu sisi kuat, yang membuatku yakin memilihnya. Ketika dia mencintai seseorang, dia sangat yakin dan percaya. Dia setia dan memiliki prinsip dalam cinta meskipun, cinta itu menyakitinya. Aku butuh cintanya yang seperti itu, aku butuh kepercayaan darinya yang seperti itu.”


Mama Ditya mengangguk.


“Daddy ... mama pasti tahu seperti apa kehidupanku, aku butuh wanita yang seperti itu untuk bertahan di sampingku, mengenggam tanganku. Aku tidak butuh wanita yang pintar dan mandiri sebenarnya, hanya butuh wanita seperti itu.”


“Aku butuh istri sekuat dirimu. Yang bisa bertahan, meskipun aku tidak tahu apa alasanmu selama ini bertahan di belakang daddy, Ma.”


Tawa nyaring terdengar dari bibir wanita yang menyesap anggur merahnya terus-menerus.


“Jahat sekali kamu, Ko. Tidak perlu diingatkan kalau tempatku di belakang daddymu. Aku cukup tahu diri, karena di sampingnya sudah ada mommymu, Meliana Hadinata. Wanita yang bukan hanya sekedar partner, mommymu mengubah dirinya menjadi seorang Hadinata. Berbeda dengan mama,” ucapnya tertunduk.


“Aku ingin Frolline bisa sekuat mama dan bisa setangguh mommy. Masuk ke keluarga Halim Hadinata, mau perempuan atau laki-laki harus dituntut memiliki sesuatu, mau tidak mau aku harus membuat istriku strong dalam arti yang berbeda. Harus bisa mandiri, memiliki karir dan sesuatu yang bisa dibanggakan. Daddy tidak butuh menantu yang pintar memasak dan hebat mengurus suaminya, meskipun pada akhirnya dia butuh cucu laki-laki dari menantunya.”


“Ko, makan malammu sudah siap.”


“Kemarilah!” Ditya menarik tangan istrinya dan memeluk pinggang ramping yang masih diikat celemek. “Mama berbeda dengan mommy. Jadilah dirimu sendiri di depannya. Dia memang sedikit gila, kamu harus terbiasa dengannya, Sayang.” Ditya menjelaskan.


Frolline terkejut, memberanikan diri menatap mertuanya. Saat ini, dia bisa melihat kecantikan wanita itu dari jarak dekat. Berbeda dengan mommy yang terlihat sederhana dengan tampilan mahalnya, mama Ditya tampak glamour dan gemerlap dengan make-up tebalnya.


***


Setelah menyelesaikan makan malam, Frolline dan Ditya kembali ke kamar. Laki-laki tampan itu terlihat membuka pakaiannya dan membuangnya ke keranjang pakaian kotor, menatap istrinya yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuh.


“Fro, kamu mau menggoda Koko sekarang?” tanya Ditya, sudah bertelanjang dada. Celana kain masih melekat di pinggangnya.


“Tidak, aku sedang tidak berminat denganmu, Ko.” Berjalan menuju walk in closet untuk mencari pakaian ganti. Gaun malam kesukaannya.

__ADS_1


“Fro, kenapa sejak tadi diam?” tanya Ditya, mengekor masuk ke dalam walk in closet. Kehadiran mamanya yang tiba-tiba, membuat keduanya tidak leluasa mengobrol di meja makan.


“Tidak ada. Aku memberi kesempatan padamu dan mama melepas rindu.” Frolline sudah berjingkat mengeluarkan gaun malamnya dari dalam lemari.


“Kenakan yang ini. Koko ingin melihatmu dengan gaun seksi ini!” Ditya mendahului, meraih sebuah gaun tidur satin tipis dengan belahan dada rendah.


“Yang benar saja, Ko. Apa yang bisa aku tutupi dengan gaun aneh ini?” tanya Frolline, melihat gaun yang panjangnya hanya beberapa jengkal. Frolline bisa memastikan gaun ini tidak akan bisa menutup asetnya dengan sempurna.


“Apa yang mau ditutupi? Karena gaun ini dirancang bukan untuk menutupi tetapi untuk memancing kucing garong beraksi.” Ditya terbahak. Terbayang istrinya dengan gaun pendek ini akan tampil menawan malam ini.


“Matt luar biasa. Paling pintar menyenangkan tuannya. Aku mau memberinya bonus lebih. Semakin seksi gaun tidur istriku, bonus tahunannya makin melimpah.” Ditya berkata sambil menarik tubuh istrinya supaya berdiri di depannya.


“Kenakan ini saja! Jangan pakai dalaman,” perintah Ditya lagi, semakin membuat Frolline terbelalak.


“Astaga Ko. Kenapa otakmu jadi semesum ini.” Frolline protes,


“Laki-laki itu harus mesum, Sayang. Kalau tidak, harusnya kamu meragukan identitasku, Fro. Sudah kenakan sekarang, aku menunggumu di ranjang. Aku penasaran Fro.”


***


Baru saja Ditya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, pintu kamar terbuka lebar. Sang mama muncul dengan daster tidurnya tanpa mengetuk, tanpa permisi. Melangkah masuk, membawa setumpuk kotak perhiasan di dekapannya.


Brukk!! Kotak-kotak beludru itu jatuh di atas tempat tidur, berserakan.


“Ma, apa-apaan ini?” Sontak Ditya bangkit duduk, menatap tajam mamanya. Masuk tiba-tiba. Terbayang kalau dia sedang melakukan sesuatu dengan istrinya, Frolline akan malu setengah mati.


“Ini semua untuk istrimu. Mama tidak mau lagi menyimpannya. Modelnya sudah kuno. Mama juga tidak sanggup memakai perhiasan-perhiasan ini. Berliannya terlalu besar, bisa dicopet di tengah jalan.” Mama Ditya bicara dengan santainya.


“Apa ini?” Ditya meraih salah satu kotak dan membukanya. Mata Ditya membulat saat melihat satu set perhiasan bertabur berlian. Ada kalung, gelang dan giwang. Bukan hanya sekotak, ada belasan kotak tergeletak di atas tempat tidur.


“Untuk apa ini, Ma?” tanya Ditya heran, melihat perhiasan mahal yang tersimpan rapi di kotaknya. Nilainya lebih dari ratusan juta, kalau ditotal semuanya bisa mencapai miliaran.


“Itu dari daddymu. Dulu sewaktu menikah, daddymu memberi semua ini. Buat istrimu saja, mama hanya menyimpan seperlunya, yang sering mama kenakan.” Wanita itu duduk santai, menikmati ranjang empuk putranya.


“Kenapa tidak mengenakan atasan? Kalian ....” Mama Ditya tidak melanjutkan kata-katanya, terkejut dengan kemunculan Frolline di ambang pintu dengan tampilan hampir telanjang.”

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2