
“Bisakah aku tidak menggunakan Zoe dan tukang pukul itu?” tanya Frolline, mengemukakan keberatannya. Dia tidak bisa membayangkan hidupnya di bawah pengawalan.
Dia bisa menerima semua yang diutarakan Ditya untuk hidupnya, tetapi hidup dibatasi seperti sekarang benar-benar tidak bisa diterimanya. Dia yang sudah terbiasa bebas lepas, dan sekarang dipaksa harus terkurung di sangkar emas.
Oh tidak! Dia tidak bisa menerima diperlakukan seperti seorang tawanan.
“Kamu bisa memintaku untuk hal yang lain, tetapi tidak menawar untuk pengawal dan asisten. Di dalam kehidupan kita, itu yang terpenting,” jelas Ditya.
“Itu yang utama, Schatzi,” lanjut Ditya.
“Kamu dan aku berbeda Dit!” seru Frolline masih saja bersikeras.
Ditya menghela nafas, pekerjaan berat untuknya menjelaskan betapa kehidupan mereka berbeda. Dan pria itu tahu jelas, kalau memang tidak mudah untuk membawa orang biasa masuk ke dalam kehidupannya.
“Aku juga mau memberimu kebebasan itu. Apa kamu pikir aku juga tidak mau hidup bebas seperti orang normal, tetapi hidup kita tidak bisa seperti itu. Tolong jangan bandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Akan terdengar tidak adil,” ucap Ditya.
Frolline terbelalak. “Maksudmu, aku harus menerimanya sebagai keharusan?” tanya Frolline tidak mau terima.
“Ya Tuhan, aku tidak mau diperlakukan seperti ini,” bisik Frolline kesal.
Ditya masih berusaha menahan sabarnya. Perlahan menjelaskan kehidupan mereka yang berbeda dari orang kebanyakan. Dengan mengeluarkan ponsel pintar dari saku celananya. Jemari tangan itu dengan cekatan mengetik namanya sendiri di kolom pencarian dan muncul beraneka macam pemberitaan tentang dirinya. Dari berita baik sampai berita buruk, dari fakta yang sebenarnya sampai gosip murahan. Semua terpampang nyata di sana.
“Untuk inilah kamu membutuhkan Zoe dan tukang pukul itu,” ucap Ditya, menyerahkan ponselnya ke tangan Frolline.
Mata membulat dengan mulut terkatup, Frolline nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Berita Ditya dengan banyak wanita, dari yang berjauhan sampai pelukan dan menempel. Dari yang mengenakan gaun malam, sampai yang berbikini, bahkan ada yang hanya mengenakan pakaian tidur.
“Oh Tidak! Ya Tuhan, suami seperti apa yang kamu kirimkan padaku ini,” keluh Frolline.
Frolline melempar kasar ponsel Ditya, membentur dada bidangnya lelaki itu dan terjatuh ke lantai.
__ADS_1
“Aku tidak bisa menikah dengan lelaki sepertimu! Kamu tidur dengan banyak wanita,” gerutu Frolline.
“Tidak seperti yang terlihat, Fro. Aku tidak pernah tidur dengan wanita mana pun? Foto itu tidak bisa menunjukan kebenaran apa pun,” tegas Ditya, menatap ponsel miliknya yang tergeletak di lantai, memamerkan fotonya bersama tiga wanita dengan telanjang dada di atas tempat tidur.
“Lalu? Kamu pikir aku percaya kalau kamu bilang sedang bermain injit-injit semut dengan para wanita murahan itu!” gerutu Frolline, masih tidak terima.
Rasanya dia ingin menampar Ditya melihat kenyataan yang terpampang nyata di depan mata.
“Aku tidak tidur dengan mereka. Itu di pesta temanku. Bukan hanya aku saja, disana banyak teman-temanku yang lain. Tetapi kenapa selalu aku yang disorot kamera,” keluh Ditya, meremas kesal rambutnya sendiri.
“Jangan bilang kamu cemburu, Fro?” tanya Ditya balik bertanya. Perasaannya bahagia hanya dengan dicemburui Frolline. Setidaknya gadis itu masih peduli.
“Tidak. Aku tidak peduli,” ucap Frolline, menahan perasaannya. Kalau ditanya cemburu, dia sendiri tidak bisa menjawab, tetapi melihat foto itu, dia kesal sendiri.
“Itu foto lama. Sejak bersamamu, aku tidak sedekat itu lagi dengan para wanita. Aku sudah tidak bermain-main dengan wanita lagi,” jelas Ditya. Tidak menyangka keinginannya menjelaskan bagaimana kehidupannya berbuah petaka seperti ini.
“Jadi, percaya padaku, Fro. Kita akan tetap menikah bukan meskipun kamu melihat foto-foto bersama banyak wanita?” tanya Ditya memastikan. Sedikit ciut dengan penampakan Frolline yang sedang menahan amarah. Berdiri di hadapannya dengan bertolak pinggang.
“Kalau aku bilang tidak, kamu mau mendengar?” tanya Frolline.
“Tidak, aku akan memaksa menikahimu,” sahut Ditya, menghela nafas kasar.
“Mohon mengertilah, Fro,” pinta Ditya.
“Kita membutuhkan bantuan bodyguard dan asisten itu untuk menghindari berita-berita tidak jelas seperti ini. Kita tidak bisa pergi bebas kesana kemari, untuk menghindari pemberitaan negatif. Kita tidak bisa bersikap seenaknya di luar sana, di tempat terbuka untuk menghindari dari pemberitaan yang seperti ini,” jelas Ditya.
“Foto-fotoku itu contohnya. Kalau ada bodyguardku disana, mungkin tidak akan muncul foto itu,” jelas Ditya.
Frolline memijat pelipisnya. Sudah bisa merasakan betapa rumit hidupnya ke depan.
__ADS_1
“Tidak bisakah kamu sedikit berbaik hati padaku, Dit?” bisik Frolline.
“Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, Schatzi.” Ditya merengkuh Frolline, memeluknya erat.
“Maafkan aku, Fro membawamu ke dalam hidupku yang rumit.”
“Kamu tahu alasan kenapa aku masih belum menikah sampai sekarang? Inilah alasannya.”
“Tidak mudah bagiku mencari wanita yang benar-benar tulus mau hidup di dalam lingkungan sepertiku.”
“Bersamaku kamu bebas berkeliling dunia, bebas mengenakan pakaian dan perhiasan ratusan juta bahkan miliaran rupiah, bebas membeli apa saja tanpa takut suamimu tidak sanggup membayarnya. Kamu bisa menunjuk fashion, perawatan kecantikan kelas dunia sekalipun.”
“Namun, ada harga yang harus dibayar untuk semua itu. Kita tidak bebas bergerak sesuka hati. Kita tidak bisa seenaknya. Apa yang kita kerjakan dan apa yang kita lakukan akan jadi sorotan bahkan tontonan semua orang,” jelas Ditya.
“Aku tidak mau hidup seperti ini,” bisik Frolline pelan.
“Sudah, aku harus ke kantor. Nanti siang aku akan menjemputmu,” pamit Ditya. Sebuah kecupan mendarat di kening Frolline.
“Oh ya, aku lupa memberitahumu. Aku juga memiliki apartemen di lantai yang sama. Zoe, Matt dan barisan tukang pukul itu biasanya menunggu disana. Jangan mencuri keluar, karena mereka akan tahu,” jelas Ditya lagi, sebelum meninggalkan Frolline yang berdiri mematung meratapi nasibnya.
“Aku tidak yakin mau menikah dengannya setelah apa yang aku lihat tadi,” ucap Frolline setelah kepergian Ditya, mengedar pandangannya. Mencari titik-titik kamera tersembunyi yang mungkin saja digunakan Ditya untuk mengawasinya.
***
T b c
Love you all
Terima kasih.
__ADS_1
Maaf singkat, aku up seadanya dulu. Karena ada pekerjaan di RL.