Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 91 : Pria tampan mengejutkan


__ADS_3

Gadis manis itu duduk bersila dengan wajah lesu di depan pusara. Menatap teduh pada dua batu nisan berjajar rapi, terukir nama dua orang yang dikasihinya. Ya, Frolline menghabiskan sepanjang siangnya dengan berkeluh kesah di sana. Selepas dari apotek, gadis itu memilih pergi ke pemakaman kedua orang tuanya di pinggiran kota Jakarta.


Tadinya mau mengabari Ditya, tetapi sampai di pertengahan jalan layar ponselnya meredup. Belum sempat mengetik pesan dan mengirimkannya, ponsel pintar itu menggelap dan mati total kehabisan baterai.


Wajah sembab itu terlihat mengeluarkan air mata lagi. Cairan bening itu begitu bersahabatnya, sampai menolak meninggalkan Frolline seorang diri.


“Ma ... aku rindu kalian,” cicit Frolline, memangku tas tangannya yang terbuka. Menarik selembar tisu dan meremasnya pelan. Tampak sekotak pil KB yang baru dibelinya di apotek. Terpaksa memilih jalan ini, untuk berjaga-jaga setelah mendengar sendiri pertengkaran suami dan mertuanya tadi pagi.


Rindu itu semakin besar saat dia merasa sendirian menghadapi hidup. Penolakan keluarga Ditya membuatnya terpuruk di dalam kebungkaman. Belum lagi sejarah masa lalu, di mana dia tidak bisa terlalu mendekat pada Marisa yang hanya akan membuat suaminya cemburu buta. Frolline merasa sendirian di tengah dekapan hangat seorang Ditya Halim Hadinata.


Tidak bisa berontak, tidak bisa menolak, tidak bisa menunjukan rasa yang disembunyikannya di dalam hati. Dia merasa sendirian meski ada Ditya yang memeluknya dengan penuh cinta. Tak seperti saat bersama Firstan, dia bisa mengungkapkan semua rasa. Sedih, senang, tangis, bahagia, semuanya bisa dibaginya dengan Firstan tanpa sungkan.


Dengan Ditya, dia tidak bisa melakukannya. Ada batasan yang membuatnya tidak bisa melangkah lebih jauh. Ada tembok tinggi yang dibangunnya sendiri dan sampai sejauh ini tidak mau dilangkahinya.


Mungkin mereka sudah berbagi banyak hal, tetapi di dalam hati kecil jarak itu masih ada. Mengenal Ditya hanya dalam waktu singkat, dia diminta untuk menerima pria mapan, tampan yang sangat menawan itu tanpa bisa menolak. Ya, diakui Frolline, suaminya itu pasti jadi idaman para kaum hawa, tetapi sampai sejauh ini rasa perasaannya untuk Ditya belum sekuat perasaannya pada Firstan.


“Ma, mertuaku masih belum mau menerimaku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi,” cerita Frolline, menatap seikat bunga mawar merah yang dibelinya di perjalanan.


“Aku ingin pergi saja rasanya, tetapi aku juga tidak memiliki siapa-siapa di sini. Kak Angell pergi, bahkan Kak Angell memutus hubungan denganku,” ucapnya, tertunduk pelan.


Berkeluh kesah di sini sedikit membuat perasaannya jauh lebih baik. Beban yang disimpannya sendirian setidaknya bisa keluar meski hanya secuil.


“Ma, aku harus kembali. Ini sudah sore,” ucapnya lagi saat menatap jam di pergelangan tangannya, sudah hampir pukul empat sore.


Mengernyit menahan kakinya yang kesemutan karena duduk bersila terlalu lama. Perutnya kram, pinggangnya pun mulai protes.


***


Ditya mengamuk setelah mendapat kabar kalau istrinya menghilang. Berusaha menghubungi, namun selalu mendapat sambutan dari si gadis operator dengan suaranya yang lembut mengalun. Namun, tidak bagi Ditya, kelembutan itu terdengar memuakan.


Dengan langkah lebar-lebar, masuk ke gedung tempat di mana Frolline berkantor dengan diikuti Matt. Pria tampan itu menyimpan amarah dan khawatir. Itu tampak dari wajah tidak bersahabatnya, bahkan tidak mau menjawab saat disapa.


Begitu sampai di lobi, Ditya mendapati Zoe berdiri panik, menyembunyikan ketakutannya dengan terus menunduk. Asisten itu tahu kalau sebentar lagi dia akan benar-benar habis di tangan Ditya.

__ADS_1


Ini adalah kesalahan pertama yang dilakukannya, belum bisa menebak hukuman apa yang akan didapatkannya. Belum tahu juga bagaimana watak Ditya yang sebenarnya. Selama ini dia lebih banyak di Surabaya bersama Halim Hadinata. Demi untuk memberi segala informasi kepada Bos besarnya itu, dia dikirim Halim ke Jakarta, melalui Matt.


“Bagaimana bisa sampai kamu teledor?” tanya Ditya, masih bisa berusaha bersikap tenang.


“Maaf Bos, aku sedang di parkiran mengambil mobil. Nyonya menunggu di lobi,” jelas Zoe, tidak berani menatap Ditya.


“Tiba-tiba aku dikabari lewat sms kalau Nyonya sudah jalan dengan taksi. Aku mencoba menyusul, tetapi tidak menemukan apa-apa. Nyonya sudah pergi,” lanjut Zoe.


“Matt, tolong cek cctv. Setelah itu hubungi kantor taksinya, mereka pasti tahu ke mana sopir itu membawa istriku!” perintah Ditya, segera mencari solusi dan bergerak cepat.


Setengah jam berlalu, Matt terlihat berlari dengan wajah tersenyum bahagia. Tersimpan informasi penting di otaknya, yang akan meredam amarah Ditya. Matt bisa menghela napas lega.


“Bos ....”


“Bagaimana?” potong Ditya sudah tidak sabar.


“Nyonya ....” Ucapan Matt terputus saat ponsel di tangannya berbunyi. Matanya terbelalak dengan dahi berkerut menyimpan herannya.


“Boss besar ....” ucapnya, beralih menatap Ditya yang tidak kalah heran.


“Mana anak itu?” cerocos Halim, menolak berbicara dengan Matt.


“Bos ....” sodor Matt, menyerahkan ponselnya pada Ditya


“Ya, Dad. Ada apa?” Ditya menyapa, berusaha terdengar biasa, menyembunyikan kepanikannya.


“Tidak perlu mencari istrimu. Dia di pemakaman orang tuanya. Tidak perlu menyusulnya, dia sedang dalam perjalanan pulang,” jelas Halim. Tanpa basa-basi, pria tua itu membagi semua informasi tentang Frolline pada putranya.


Dia bisa apa, Ditya masih belum bisa menguasai perasaanya. Hanya seorang anak muda yang masih bisa terbawa perasaan dengan begitu mudah, bukan pria matang yang bisa memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan.


Ditya masih labil dan belum tamat dengan manajemen hatinya sendiri. Perasaan Ditya mempengaruhi mood anak muda itu dan akan berpengaruh dengan perusahaannya. Putranya belum pantas berada di posisi tertinggi Halim Group. Namun, dia bisa apa selain mengajari Ditya dengan caranya sendiri.


“Daddy memata-matai kami!” todong Ditya, kesal.

__ADS_1


“Hahaha ... Ko, apa ada alasan untukku tidak memata-matai perempuan yang kamu nikahi. Dia itu kunci untuk menjinakan singa jantanku yang sekarang lepas kendali.” Tawa terdengar jelas dari seberang sana.


“Dad! Kamu kelewatan!” omel Ditya.


“Aku tidak mau berdebat, Tuan Muda. Aku hanya mengabari kalau istrimu baik-baik saja. Aku juga tidak mau terjadi sesuatu pada istrimu. Aku butuh dia untuk menenangkanmu.”


Ditya semakin kesal mendengar kalimat-kalimat daddy-nya.


“Sudah jangan panik berlebihan. Ada dua orangku yang selalu mengikuti Fro. Aku harap ini sudah cukup membuatmu tenang. Fokus ke perusahaan! Jangan memikirkan masalah perempuan. Akan jadi apa puluhan ribu karyawan Halim Group, kalau pimpinannya cuma tahu cinta cinta dan cinta!” putus Halim tanpa memberi kesempatan Ditya menyela.


Tertunduk lesu, namun Ditya sudah jauh lebih tenang saat mengetahui kalau Frolline baik-baik saja.


“Bagaimana Bos?”


“Tidak ada, semua baik-baik saja,” sahut Ditya.


“Bos, Nyonya seharian ini ada di pema ....”


“Aku sudah tahu, kita kembali ke rumah!” potong Ditya, mengangkat tangannya meminta Matt berhenti bicara.


***


Pukul tujuh malam, Frolline baru tiba di penthouse mewahnya. Ditya bahkan sudah bersiap untuk makan malam. Khawatir itu masih menjadi milik pria menawan dengan setelan casual putih. Kaos simple dengan celana jeans putih selutut. Rambutnya masih basah, dengan beberapa tetes air jatuh di pundak.


“Matt, Fro belum sampai juga?” tanyanya saat melangkah keluar dari kamar tidurnya. Bertepatan dengan bunyi dentingan lift.


Netra keduanya segera tertuju pada pintu lift yang perlahan membuka.


“Fro! Kamu kenapa malam sekali? Koko mengkhawatirkanmu!” Berlari menghampiri dan memeluk erat. Menghujami ciuman di wajah lusuh Frolline yang tanpa ekspresi. Tenang itu menjalar di dalam hatinya saat memastikan istrinya yang datang.


“Kamu baik-baik saja, kan?” Ditya bertanya lagi.


Belum juga Frolline menjawab, dari arah kamar tidur mama Ditya muncul pria muda dengan ketampanan di atas rata-rata dan bertelanjang dada, mengejutkan pasangan suami istri itu. Tidak terkecuali Matt dan Zoe.

__ADS_1


***


TBC


__ADS_2