
Gugup, panik dan malu itu berkolaborasi, menciptakan semu merah merona di wajah cantik Frolline. Bagaimana tidak? Berdiri mempertontokan tubuhnya yang hampir telanjang. Sungguh sangat memalukan.
Mematung, pikirannya kosong, saat netra beradu tatap dengan mama mertua. Butuh beberapa detik untuk menyadari kondisinya yang sungguh tidak pantas dipandang mata.
Buru-buru menarik turun gaun malam tipis yang melekat rapat di tubuh. Dingin! Tentu saja, gaun itu tidak sanggup memberi kehangatan. Seperti yang diucapkan Ditya, gaun itu diciptakan bukan untuk menutupi tetapi memancing lelakinya memberi kehangatan dengan sukarela.
Frolline masih berusaha menutupi paha mulusnya yang terekspos sempurna di sisa kepercayaan diri. Namun sayang seribu sayang, paha tertutup rapat, area dada sebagai gantinya terbuka. Si kembar hampir melompat keluar, lengkap dengan puncak kembar yang tercetak jelas di gaun satin tipis.
“Harusnya aku tidak menuruti Koko.” Mendengus kesal, Frolline hampir patah arang. Tak bisa berbuat apa-apa. Wajah cantik itu merona, menahan malu dan kesal dalam waktu bersamaan. Memutar tubuh dan menunduk.
Sang mama mertua masih menatap dengan mulut terngaga, lidah wanita itu kelu saat menyadari telah masuk ke kamar putranya dengan status yang sudah tak sama lagi. Beberapa bulan yang lalu, Ditya masih single. Sebagai seorang mama, tentu saja memiliki kebebasan keluar masuk kamar putra kesayangannya tanpa permisi.
Bahkan tidak jarang berbagi tempat tidur berdua, menghabiskan malam berbagi kisah. Karena mereka memang hanya berdua, sebelum gadis manis bernama Frolline mencuri masuk di dalam hati dan hidup Ditya.
Semua jadi berbeda kisah, sekarang Ditya sudah mengikat diri dengan gadis pilihannya. Menjadikan cinta sebagai alasan. Ditya benar-benar berubah. Dan mama terlambat menyadari. Terlalu terbiasa dengan kehidupan mereka sebelumnya.
“Maaf, mama lupa.”
Dengan senyuman, Ditya segera berdiri, meraih kemeja bekas pakai yang tadi dilempar ke keranjang pakaian kotor, menyusul istrinya.
“Maaf Fro, aku tidak tahu mama akan masuk.” Ditya berkata lembut, sembari menyelimuti tubuh istrinya dengan kemeja kerja.
Hanya raut asam, Frolline menutup rapat bibirnya.
“Jangan malu, mama tidak akan marah,” lanjut Ditya, memasangkan kancing pada kemeja putihnya.
“Ikut aku. Lebih baik begini daripada bersembunyi. Bahkan mama bisa tampil lebih terbuka dibanding ini. Jangan malu, kamu istriku. Sah-sah saja, Sayang. Andaikan kita melakukan lebih dari ini, harusnya mama yang malu. Ini kamar tidurmu, kamar kita, privacy kita, Schatzi,” bisik Ditya pelan, menautkan jemarinya pada jari-jari lentik istrinya.
Bergandengan tangan, Ditya membawa istrinya bergabung. Paha itu masih terbuka, tetapi lebih baik dari sebelumnya. Dengan ragu-ragu, Frolline ikut duduk di atas ranjang.
“Fro, mama memberimu semua ini.” Ditya membuka suara, berusaha menghilangkan canggung di antara menantu dan mertua. Meraih sekotak perhiasan, membuka dan menunjukannya.
“Ini ... untuk apa?” tanya Frolline. Sempat terkejut memandang perhiasan mahal yang konon katanya diperuntukan untuk dirinya.
“Untukmu, untuk siapa lagi?” Mama Ditya menjawab dengan santai. Wanita itu sudah mengambil posisi nyaman, duduk bersila di atas tempat tidur empuk putranya, melupakan apa yang dilihat tadi.
“Ko ....” panggil Frolline, mengambang.
“Terserah padamu. Kamu berhak menerima atau menolak.” Ditya merebahkan diri di atas ranjang. Dengan manja, meletakan kepalanya di paha tersingkap istrinya tanpa malu-malu. Menjadikannya bantal, tanpa permisi.
__ADS_1
“Aku tidak pernah menggunakan perhiasan, Ko. Kamu tahu itu, kan.” Setengah menolak, Frolline menunduk.
“Ma, istriku menolak. Silakan simpan kembali.”
“Baiklah tidak masalah. Aku bisa memberikannya pada menantuku yang lain.” Sang mama tersenyum licik.
“T-tunggu! Maksud you ... menantu yang mana lagi?” cerocos Ditya. Menahan tangan mama yang sedang menyusun kembali kotak-kotak perhiasan berlapis beludru biru.
“Putraku ada berapa?”
“Hanya aku saja!” Ditya mengarahkan telunjuk pada dirinya sendiri.
“Lalu apa lagi yang mau kamu tanyakan. Sudah tahu jawabannya, kan?”
“Ambil semua Fro! Jangan sisakan. Untukmu semua.” Ditya merebut kotak-kotak itu. Dengan kode lirikan mata, meminta istrinya menyimpan ke dalam lemari.
“Ada lagi? You jangan curang!” tanya Ditya.
“Kenapa lagi? You mau merampok semuanya?” tanya sang mama terkekeh saat melihat sikap Ditya barusan.
“Kalau masih ada, aku akan mengambil semuanya, Ma. Sampai tak bersisa, jadi tak ada lagi yang bisa you bagikan untuk calon menantumu yang lain.” Ditya tergelak, saat ekor matanya mendapati gurat cemburu di wajah istrinya.
“Kalau you sudah miskin, aku yakin tak ada yang mau menjadi menantumu.” Ditya terbahak.
“Suami dari mana? Dia mungkin daddy-ku, tetapi jelas sekali sebenarnya dia bukan suami you.” Ditya menyindir.
“Malas berdebat denganmu, Ko! Mama mau tidur dulu.” Wanita itu sudah meluncur turun dari ranjang. Baru saja melangkah, tetapi kembali berbalik.
“Ko, mama baru tiba di Indonesia ... masih jet lag.”
“Lalu?”
“You ... mainnya jangan terlalu berisik, mama tidak mau sampai terganggu!” Gelak tawa keluar dari bibir bergincu merah menyala. Menatap putra dan menantunya bergantian. Menyindir lebih tepatnya. Lagi-lagi tergelak, saat rona malu-malu dari wajah sang menantu kembali muncul.
“Kurang ajar!!” Sebuah bantal berbulu angsa mendarat di punggung mama Ditya. Lemparan jitu dari sang putra mahkota Halim itu sanggup menghentikan langkah kaki wanita paruh baya yang hampir tiba di ambang pintu.
“Buatkan si tua bangka itu cucu laki-laki yang banyak. Supaya mulutnya bisa berhenti mengoceh. Mama capek tiap hari disalahkan."
Bunyi pintu tertutup, nyanyian sunyi menyapa kembali. Tertinggal Ditya dan Frolline saling berpandangan, melempar tanya melalui tatapan mata.
__ADS_1
“Mama memang seperti itu. Jangan terkejut, Fro. Mamaku dari kalangan biasa, berbeda dengan mommy.” Ditya melempar turun satu persatu kotak perhiasan yang belum sempat disimpan istrinya. Membiarkan perhiasan mahal itu menghuni lantai kamar.
“Mama ... bagaimana bisa menikah dengan daddy?” Frolline memberanikan diri bertanya. Sejak awal, Frolline menyimpan banyak tanya mengenai mama mertuanya.
“Dibeli daddy untuk melahirkanku,” sahut Ditya, menggigit bibir.
Bola mata yang tadinya meredup, membulat tiba-tiba. Frolline hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Jawaban Ditya terlalu berat untuk dicerna otaknya. Begitu mudahnya Ditya menjawab, seakan itu hal biasa.
“Bukankah mereka menikah?” Tanya itu kembali terlontar.
Ditya menggeleng. “Siapa yang tahu? Hanya daddy, mommy dan mama yang tahu.” Laki-laki bertelanjang dada itu merebahkan tubuhnya kembali.
“Koko ... terdata sebagai putra kandung daddy dan mommy. Bukan mama. Tak ada seorang pun yang mengenal mama. Bahkan saat koko di luar, koko tidak diizinkan memanggilnya mama.”
Frolline menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia benar-benar tidak tahu banyak tentang suaminya.
“Kalau di luar sana, kami seperti teman baik. Kami mengobrol tanpa sapaan mama dan anak. Jadi jangan heran kalau kami mengobrol tidak seperti orang tua dan anak pada umumnya.” Ditya menjelaskan.
Frolline mengangguk.
“Mama menikah dengan daddy saat berusia 17 tahun. Usia 18 tahun, aku lahir ... di Australia. Setelah itu, kami pindah ke Jerman sampai sekarang.”
“Mama tidak pernah pulang ke Indonesia?”
Ditya menggeleng. “Sejak menikah sampai sekarang, baru ini mama menginjakan kaki kembali ke Indonesia.”
“Bagaimana bisa?”
“Itu pilihan hidupnya, Fro.”
“Mama memang kelihatan sembarangan, seenaknya tetapi dia lebih tulus dibandingkan mommy. Menikah denganku, kamu masuk ke dalam kehidupan yang penuh drama. Keluargaku ... bukan seperti keluarga kebanyakan. Yang kamu lihat baik, belum tentu baik. Yang kamu lihat jahat, belum tentu jahat.”
Frolline memandang Ditya dengan tatapan penuh tanya.
“Jangan mudah percaya 100% pada siapa pun, penampilan itu bisa menipu. Hati orang tidak ada yang tahu, Fro.”
Frolline masih mencerna semua kalimat Ditya, meneliti garis wajah tampan yang menghangatkan.
"Cukup percaya pada Koko, Fro. Koko tidak pernah main-main dengan perasaan dan cinta Koko padamu. Koko sebenarnya bebas memilih wanita mana pun yang Koko mau. Koko bisa tidur dengan wanita mana pun tanpa pusing memikirkan status, tetapi Koko memilih mengikat diri padamu. Dengan resiko yang Koko tahu jelas, tidak mudah saat memilih untuk bersamamu. Tidak mudah untukmu, tidak juga untuk Koko." Mata terpejam itu diam-diam menautkan jemarinya pada jemari istrinya.
__ADS_1
***
TBC