
Dengan segala perdebatan, akhirnya Halim menurut. Demi cucu kedua keluarga Lim, pria renta itu melunakan hatinya setelah melihat keberatan yang tercetak jelas di netra menantunya.
Dan, malam harinya Frolline bisa bernapas lega. Ia tidak perlu camping di rumah sakit seperti ungkapan ayah mertuanya. Ia bisa merasakan ranjang empuk di kediaman mewah Halim Hadinata bersama suami dan Dragon.
"Ko ...." Frolline memanggil suaminya sebelum tidur. Seperti biasa, Ditya akan memijat kedua kakinya sampai ibu hamil itu tertidur.
"Sebentar, Fro. Aku memindahkan Dragon dulu. Dia sudah terlelap," ungkap Ditya. Dengan ilmu meringankan tubuh yang dipelajarinya beberapa bulan terakhir, Ditya sudah mahir memindahkan tubuh mungil Dragon dari kamar mereka menuju kamar Dragon tanpa membangunkan si pemilik kamar.
Frolline mengulum senyuman, saat Ditya berjalan dengan langkah pelan dan mengendap-endap. Bahkan Ditya tidak berani bernapas dengan leluasa, khawatir helaan napas bisa mengusik tidur si putra sulung. Bunyi pintu kamar terbuka sempat membuat Dragon terganggu. Rengekan pelan batita itu membuat Ditya harus menimangnya sambil bersenandung pelan. Ia tidak mau sampai Dragon terbangun dan mengusik istirahat Frolline.
Tak sampai sepuluh menit, Ditya sudah masuk kembali ke kamarnya. Langkahnya jauh lebih ringan dan tanpa beban.
"Ko, Dragon sudah tidur?" tanya Frolline sesaat setelah Ditya mulai memijat kedua kakinya.
"Sudah. Apa belum ada tanda-tanda, Fro? Daddy bertanya terus padaku. Tiap menit, tiap detik. Dia lebih siaga dariku." Ditya tersenyum membayangkan ulah Halim Hadinata. Pria renta yang dulunya sangat tidak menyukai istrinya, dan sekarang berbalik jadi tergila-gila. Bahkan, selama kehamilan kedua, hampir bisa dikatakan Halim mendampingi walau tidak seratus persen. Pria berusia senja itu mondar-mandir Jakarta-Surabaya demi menantu dan cucu tercinta.
"Belum, Ko. Sejak siang tadi, sudah tidak ada kontraksi lagi." Frolline menjelaskan.
"Oh ya ... Mama besok tiba di Jakarta." Ditya bercerita mengenai kedatangan mamanya dari Jerman untuk menyambut cucu kedua yang masih meringkuk di dalam rahim Frolline.
"Oh ... Mama menginap di sini?"
"Tidak. Sementara rumah kita belum selesai direnovasi, Mama tinggal di apartemen." Jemari Ditya dengan lincah menggelitik betis dan mulai merambah ke paha Frolline
"Koko ...." protes Frolline saat merasakan tangan Ditya sudah masuk ke area terlarang. Pijatan yang berganti usapan, membuat sensasi kenikmatan berbeda dengan sebelumnya.
"Ko ...." Nada bicara yang tertahan, Frolline berusaha terlihat biasa dan tidak mau terbawa arus permainan Ditya. Ia paham, saat ini suaminya sedang memancing.
__ADS_1
"Fro, ayo kita terapkan yang dokter anjurkan tadi siang. Siapa tahu ... setelah jalannya terbuka, bayi kita segera lahir. Koko kasihan pada Daddy. Andai bayi kita belum menatap dunia, hidup Daddy tidak akan bisa tenang." Ditya beralasan.
Frolline cemberut di tengah gairah yang mulai terpancing. Ditya seakan tidak peduli, ia sudah tidak bisa mundur lagi. Terlanjur larut dalam desahan dan pergerakan Frolline yang mulai menggila. Di mata pria itu istrinya selalu tampak menggoda dengan perut ramping maupun besar. Bahkan di usia kehamilan sembila bulan, hasrat Ditya makin menjadi.
"Ko ...." Frolline menyerukan nama suaminya dengan manja. Tangan meremas rambut hitam Ditya, napas Frolline tersengal.
Ditya tersenyum, pria itu tidak butuh persetujuan. Sejatinya, sang istri sudah setuju untuk terlibat di dalam permainannya. Ia bisa merasakan gairah Frolline seiring dengan sensasi remasan tangan di kulitnya saat ia berhasil menguasai bibir istrinya.
***
Frolline baru saja kembali dari kamar mandi sesaat setelah pergulatan panasnya dengan sang suami. Ia bisa melihat wajah kelelahan Ditya yang berbaring telentang dalam keadaan polos. Napas pria itu masih naik turun, terlihat jelas di dada telanjangnya. Bulir-bulir peluh masih menghiasi tubuh kekar Ditya, tampak mengkilap saat disorot cahaya lampu kamar.
"Ko, kamu tidak bersih-bersih?" Frolline keluar dari dalam kamar mandi dengan balutan bathrobe. Perut buncitnya begitu kentara, jalan di depan setiap kaki mungilnya melangkah.
"Hmm ...." Ditya bergumam, menutup mata dengan lengannya.
"Ko, bangun. Aku harus membereskan seprainya. Aku tidak bisa tidur dengan kondisi berantakan seperti ini." Frolline beralasan.
"Koko lelah, Schatzi." Ditya masih bermalas-malasan. Bahkan saat Frolline menariknya turun dari ranjang, pria itu masih enggan berpindah.
"Aduh!" seru Frolline, melepas genggaman tangannya dari pergelangan Ditya. Berganti mengusap perutnya yang tiba-tiba sakit.
Ditya bangkit, buru-buru memastikan apa yang sedang dialami Frolline. Pria yang masih dengan tampilan polos itu terkejut saat melihat wajah pucat bercampur ketakutan istrinya.
"Fro, duduk dulu, Fro. Koko ke kamar mandi, bersih-bersih dulu." Perasaan Ditya tidak tenang. Raut wajah Frolline berbeda.
Berlari menuju ke kamar mandi, Ditya panik saat mendengar jeritan Frolline.
__ADS_1
"Ko ... tolong aku. Ada yang turun!" teriak Frolline, ketakutan saat melihat cairan bercampur darah tiba-tiba merembes turun melewati paha, betis dan mengumpul di lantai. Ini pengalaman pertamanya, sewaktu melahirkan Dragon, ia hanya mengalami sakit perut.
"Ko ...."
"Ko ...." Tertatih-tatih, Frolline menggapai pintu kamar mandi dan menggedornya keras.
"Ko, cepat keluar. Aku ... aku sepertinya mau melahirkan. Ada yang keluar. Aku takut bayiku keluar." Frolline berteriak ketakutan sembari menahan kesakitan.
"Ada apa?" Ditya terkejut saat membuka pintu kamar mandi dan menemukan istrinya dalam keadaan kacau, memeluk perut dan merapatkan kedua kakinya.
"Tunggu Koko di sini. Koko akan membangunkan Mommy." Ditya berlari keluar, masih bertelanjang dada. Hanya mengenakan celana tidur.
Baru melangkah keluar, pria itu kembali lagi dan menuntun Frolline untuk duduk di tempat tidur.
"Tunggu Koko." Ditya berlari keluar.
Tak lama, Meliana dan Halim ikut bersama Ditya untuk memastikan kondisi Frolline. Pasangan lanjut usia itu tak kalah paniknya. Bahkan Halim sampai sesak napas saat melihat kondisi menantunya yang meringis kesakitan.
"Cepat bangunkan para asisten. Segera ke rumah sakit!" Halim memerintah di tengah kepanikan. Terselip kesal karena semua orang yang mengabaikan permintaannya tadi siang. Andai Ditya menurut, malam ini mereka tidak perlu mengalami hal ini.
"Sudah aku katakan, sejak tadi siang ... sebaiknya menginap di rumah sakit." Halim menggerutu sambil menggenggam erat tongkat kayu di tangan kanannya.
***
Terima kasih.
Tadinya berharap ini chapter terakhir, tetapi harus menambah satu bab lagi menuju ending sebenarnya.
__ADS_1