Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 95 : Amarah Ditya


__ADS_3

“Sekarang masih, Ko?” tanya Frolline.


“Masih apa?” Ditya balik bertanya. Tidak paham arah pembicaraan istrinya.


Frolline tertegun, dia sepertinya salah memberi pertanyaan pada sang suami. “Koko masih menyimpan kontaknya? Masih mengintip akun media sosialnya? Masih membuntutinya?” Mencerca Ditya dengan beberapa pertanyaan sekaligus. Mengganti pertanyaan yang terlanjur diutarakan sebelumnya.


Ditya menjawab dengan gelengan kepala. Tanpa suara, tanpa penjelasan apa pun.


“Bagaimana kalian berpisah, Ko?” tanya Frolline lagi. Penasaran sedang menguasai hatinya, terselip setitik kecemburuan yang berusaha disembunyikan.


“Sampai sekarang tidak ada kata berpisah, karena kami tidak memulainya dengan sebuah kata. Tiba-tiba saling menjauh, dia menarik diri saat suaminya menggugat cerai. Dan Koko pun memutuskan mengambil kesempatan ini untuk menyudahi semuanya.”


Frolline mencoba mencari jawaban dari netra yang meredup. “Itu hanya masa lalu, kan?” tanya Frolline tiba-tiba. Menggenggam tangan Ditya, berburu kepastian untuk mengobati hatinya yang terluka saat mengetahui cinta suaminya di masa lalu pada wanita lain.


“Ya, dia masa lalu. Bahkan aku sudah menjual rumahku yang bersebelahan dengan rumahnya.”


“Serius? Koko memiliki rumah di sebelah rumahnya?” tanya Frolline, hampir tidak percaya.


Ditya mengangguk.


“Koko benar-benar gila!” Frolline masih tidak percaya akan semua ketidakwarasan Ditya saat mengejar cinta. Namun dia tahu, suaminya memang seperti itu. Bukankah saat mengejarnya, Ditya juga melakukan banyak hal yang tidak terduga. Sampai mengurusi kedua orang tuanya.


“Setelah dengan Kailla, aku sudah tidak dengan siapa pun.” Ditya berkata.


“Daddy tahu?” tanya Frolline, masih mencari tahu.


Ditya terkekeh. “Adakah yang daddy tidak tahu?”


“Apakah daddy sehebat itu?” tanya Frolline, penasaran.


“Daddy hanya memastikan semua berjalan di tempatnya, Fro,” sahut Ditya.


“Tidurlah, Fro. Besok Koko ke Semarang, harus berangkat pagi-pagi sekali. Ada pembukaan cabang baru di sana,” lanjut Ditya, merangkul pundak istrinya.


“Apa Koko menginap di sana?” tanya Frolline, menarik selimut menutupi tubuhnya.


“Tidak. Koko akan pulang ke Jakarta setelah semua acara selesai. Mungkin akan sedikit terlambat.” Ditya menyalakan lampu tidur keemasan di atas nakas, setelah mematikan lampu utama.


***

__ADS_1


Frolline terjaga saat pekat masih memeluk, gelap setia mendekap. Hari belum berganti, rembulan pun masih merangkak naik ke pucuk kepala. Tampak membulat sempurna dengan pendar jingga mengintip dari celah tirai jendela kamar.


Kepalanya berdenyut, dengan pandangan berkunang-kunang. Begitu kelopak mata membuka, dunia berputar.


“Ko ... jam berapa sekarang?” tanya Frolline, mengusik lelap pria dengan dengkuran lembut di sampingnya. Tangan memijat pelipis, Frolline mengerjap untuk beradaptasi dengan cahaya redup di kamarnya.


“Ko ....” Panggilan menyusul, setelah lima menit sebelumnya melempar panggilan perdana, tetapi Ditya masih belum terusik sedikit pun. Pria dengan wajah babak belur itu masih setia berkelana di alam mimpi.


“Ah ....” Frolline mendesah. Menikmati rasa yang menghantam tubuhnya. Kepalanya masih belum membaik, sekarang dadanya sesak.


Setelah gagal membangunkan lewat suara lembutnya, Frolline mengguncang tubuh kekar di sebelahnya dengan mata masih terpejam. Tidak sanggup membuka mata terlalu lama. Semua berputar, mulutnya terasa aneh.


“Ko, bangun. Kepalaku sakit. Bisa tolong ambil obat di dalam tasku.” Teringat akan obat sakit kepala yang dibelinya di apotik.


“Ko ....” Tepukan keras mendarat di pundak Ditya, kencang dan mengguncang. Sontak mengembalikan kesadaran Ditya, menarik pria itu kembali ke dunia nyata.


“Ya, Fro. Kenapa?” tanyanya dengan suara parau. Kepalanya pusing dengan mata mengerjap, beradaptasi.


“Ko, kepalaku sakit. Tolong ambilkan obat untukku. Aku tidak bisa bangun sekarang,” pinta Frolline, memelas.


“Bentar Sayang. Kamu letakan di mana obatnya?” tanya Ditya sesaat setelah berdiri.


“Di dekat meja rias. Tas yang biasa aku bawa setiap berangkat kerja,” lanjut Frolline menjelaskan.


Setengah berlari, Ditya segera mencari tas tangan istrinya. Membawa ke ranjang dan menumpahkan isinya. Semua isi dari tas tangan cokelat itu tercerai berai, berserakan di atas tempat tidur.


Senyum mengembang saat dia berhasil menemukannya. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia farmasi meskipun bukan ahlinya, tentu saja Ditya memiliki pengalaman saat melihat strip obat tanpa bertanya lebih jauh.


Sebagian istilah ilmiah untuk kandungan yang tertera di komposisi itu sering didengarnya di perusahaan. Walaupun dia tidak paham secara detail. Dia bukanlah seorang apoteker, tetapi ada banyak ahli farmasi yang bernaung di bawah Halim Group. Yang sering melontarkan bahasa asing itu di setiap rapat kerja, membuatnya mulai hafal.


“Ini obatnya, Fro.” ucap Ditya. Tangannya sudah menyerahkan sebutir obat sakit kepala yang baru dikeluarkannya dari kemasan. Menyodorkan beserta segelas air putih yang disambarnya dari nakas.


“Terima kasih, Ko. Kepalaku tiba-tiba sakit.” Frolline berusaha bangkit, duduk bersadar di tempat tidur. Meneguk obat dan menghabiskan air putih hingga tandas, Frolline tersenyum saat merasakan tangan Ditya sedang membantu memijat pelipisnya.


“Sudah enakan?” tanya Ditya, terselip khawatir dari sorot mata teduh pria itu. Memilih duduk di depan istrinya dengan raut mengantuknya.


Frolline menggeleng. “Aku tidak tahu, tiba-tiba terbangun dan sakit kepala, Ko.”


“Ya sudah. Tidur lagi sekarang,” pinta Ditya, terlihat menguap. Ekor matanya menatap jam meja di atas nakas. Waktu bahkan belum lewat tengah malam. Baru menunjukan pukul. 11.40 WIB.

__ADS_1


“Hmmm,” gumam Frolline, merebahkan dirinya. Baru saja akan memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar lagi suara Ditya. Lebih berat dan mengandung protes.


“Apa ini, Fro?” tanya Ditya, menatap punggung istrinya yang berbaring membelakanginya.


“Hmmm.” Gumam Frolline. Kepalanya terlalu sakit, tidak sanggup lagi membantah atau meladeni kegusaran Ditya.


“Fro, kamu berani membantahku sekarang?” tanya Ditya lagi, penuh ketegasan. Baru saja akan membereskan isi tas, pria itu mendapati obat lain yang bersembunyi di balik tumpukan barang lainnya. Tentu saja dia tahu obat apa itu, tanpa meminta penjelasan.


“Schatzi!” ulang Ditya sedikit keras, kantuknya hilang, berganti kecewa dan kesal.


“Ya, Ko. Kepalaku sakit, biarkan aku tidur,” pinta Frolline, memeluk gulingnya.


“FRO!”


Ditya menyentak kasar lengan istrinya. Untuk pertama kalinya, Ditya menyemburkan amarah pada sang istri. Beberapa bulan bersama, bahkan di saat Frolline melakukan kesalahan pun Ditya tidak pernah membentak dan menyentak sekasar ini. Baru sekali ini saja.


Berbalik, menatap sayu. Frolline memaksa kelopak matanya membuka di saat denyut yang melanda kepalanya masih enggan pergi. “Ada apa, Ko?” tanyanya pelan. Iris mata itu bisa menangkap gelombang amarah di netra Ditya.


Sebuah strip obat yang sudah dikosongkan sebanyak satu butir, sengaja dilempar Ditya tepat mengenai dada Frolline.


“Jangan pikir Koko tidak tahu! Koko tahu jelas itu obat apa. Kamu sepertinya lupa, Fro ... suamimu bekerja di mana!”


Deg—


"Aku tidak lupa Koko bekerja di mana, tetapi aku lupa kalau menyimpan pil KB di dalam tasku,” ucap Frolline dalam hati.


“Bangun! Kamu sudah berani membantah suamimu, Fro. Aku sudah katakan jangan pernah menunda kehamilanmu!” cerocos Ditya. Pria itu tersulut saat mendapati Frolline membantah semua ucapannya.


Frolline menurut. Tertunduk menyembunyikan ketakutannya. Duduk sambil memeluk guling, tidak berani menatap lawan bicaranya.


“Sudah berapa banyak yang kamu minum?” tanya Ditya, menginterogasi Frolline. Tidak pernah menduga kalau istrinya bisa bersikap selancang ini, seberani ini.


“Hanya sebutir. Itu baru dibeli, Ko,” jawab Frollie, ketakutan. Mata suaminya memerah, menyirat emosi yang tertahan.


Selama ini dia sering melihat kemarahan Ditya, tetapi ditujukan pada orang lain, bukan padanya.


“Maafkan aku, Ko,” ucap Frolline pelan setelah melihat Ditya tak kunjung melunak. Berdiri, bertolak pinggang. Menatap tajam padanya.


***

__ADS_1


TBC


__ADS_2