
Brussels, Belgia.
Seminggu mengeksplor kota Brussels, akhirnya Frolline merengek pada Ditya untuk secepatnya pindah ke tempat lain. Kebosanan mulai melanda, mood ibu hamil itu naik turun seiring kerinduannya pada tanah air. Melewati tujuh kali rotasi bumi, Frolline menyerah. Keinginannya sudah tidak bisa dibendung lagi. Seindah apa pun tempat yang ditunjukan Ditya, ia tidak bisa menikmati lagi.
Duduk merenung di atas ranjang empuk hotel, Frolline memandang pergerakan suaminya. Keduanya baru saja selesai makan malam di salah satu restoran Jepang, di sekitar hotel. Ya, selama di Belgia, Ditya memilih tinggal di salah satu hotel, di kota Brussels.
“Ko, besok kita jadi ke Prancis, kan?” tanya Frolline memastikan. Ibu hamill itu duduk memeluk kedua kakinya yang bertekuk dengan dagu bertumpu di atas lutut.
“Kenapa? Kamu sudah puas berjalan-jalan di sini?” tanya Ditya. Kedua tangannya baru saja meloloskan tubuh kekarnya dari kaos polo hitam. Seketika tubuh telanjang Ditya terpampang nyata, dengan otot dada yang begitu menantang.
Aku mulai bosan, Ko,” sahut Frolline menjawab jujur. Seminggu berada di salah satu negara termakmur dan termaju di dunia itu, Frolline sudah tidak betah.
Ada beberapa tempat yang mereka kunjungi seperti Royal Palace of Brussels dan beberapa museum di sekitar istana kerajaan Brussels itu. Selain itu, Ditya juga mengajak Frolline mengunjungi atomium, yaitu sebuah tempat wisata berbentuk seperti untaian atom yang terletak di utara Kota Brussels, sebuah ikon baru ibu kota Belgia itu.
Berburu cokelat dan kuliner khas negara yang memiliki tiga bahasa resmi, Belanda, Prancis dan Jerman itu. Mereka juga sempat menikmati festival musik dan mengunjungi desa Durbuy, desa terkecil sedunia. Sebuah desa dengan populasi 500 orang, desa ini sudah ada sejak abad pertengahan. Namun entah kenapa, Frolline tidak begitu menikmati acara jalan-jalannya. Rekaman video yang dikirim seseorang padanya saat hari terakhir mereka di Belanda membuat Frolline terganggu. Belum lagi cerita Ditya tentang kehidupan keluarganya sempat membuat wanita hamil muda itu didera rasa bersalah.
“Ada apa lagi, Fro?” tanya Ditya duduk di samping istrinya. Tangan kekarnya mengusap lembut rambut panjang Frolline yang tergerai indah.
“Aku mau pulang saja, Ko.” Frolline berkata lirih.
“Sabar ya, Fro. Setelah melahirkan, kita pulang. Untuk saat ini ... cukup nikmati saja liburan kita.”
“Ya ....” Tak bisa terlalu berharap banyak. Sejak awal kepergian mereka, Ditya sudah merencanakan semuanya.
“Sudah cek di google ... di Prancis mau jalan-jalan ke mana saja?” tanya Ditya menyemangati.
“Sudah. Aku mau ke Normandia.” Frolline menjawab singkat.
Ditya terbahak. Di saat pasangan lain bermimpi mengunjungi menara Eifell, Frolline malah tidak menjadikan La Tour Eifell sebagai destinasi yang paling ingin dikunjunginya saat di Perancis.
“Baiklah, aku akan mengajakmu ke Normandie.” Ditya tiba-tiba memeluk erat istrinya. Sebagai suami, ia sudah mulai paham dengan semua tingkah laku Frolline.
“Apa kamu baik-baik saja, Fro. Kenapa bersedih seperti ini?” tanya Ditya. Pelukan itu semakin erat, berusaha untuk menguatkan. Bahasa tubuh istrinya itu tidak bisa berbohong, ada beban yang disimpan di dalam hati.
“Ya, aku baik-baik saja. Aku rindu rumah kita, rindu kamar kita,” ucap Frolline. Saat masih di Indonesia ia tidak merasakannya, tetapi saat berada jauh seperti ini, barulah ia menyadarinya.
“Hahaha ... merindukan kamar kita. Ayo Fro! Bagian dari kamarmu ada di sini. Kamu bisa memeluk dan menyentuh Koko sepuasnya di saat rindu itu menyerangmu. Koko tidak keberatan,” goda Ditya. Pelukannya semakin erat, sesekali mengecup pucuk kepala istrinya.
Perlahan, Ditya memposisikan tubuh Frolline supaya menghadap ke arahnya. Tanpa permisi, bibir pria itu menyesap manis dari bibir tipis istrinya dengan penuh perasaan. Cinta dan gairah menyatu di kala kecupan itu saling berbalas. Kedua tangan Frolline bergelayut manja di leher suaminya, sesekali membelai tengkuk Ditya seakan menuntut lebih.
__ADS_1
“Schatzi, aku mencintaimu ....” ungkap Ditya di sela ciumannya. Bunyi kecupan bercampur letupan hasrat, memecah keheningan di kamar hotel yang berhias cahaya temaram kekuningan.
Setengah pikiran Frolline menguap ke udara bersama sentuhan dan kecupan penuh cinta yang dihujamkan Ditya. Sensasi berbeda dirasakannya, dibanding percintaan mereka selama ini. Kali ini, ada rasa berbeda tatkala kulit tubuh mereka menyatu, saat napas beradu.
Entah siapa yang memulai, Frolline tanpa sadar sudah berbaring pasrah di bawah kendali prianya yang mulai mendominasi. Ia hanya bisa menikmati semua kemanjaan yang Ditya bagi dengan sukarela. Ia hanya bisa takluk pada sorot mata penuh cinta yang tampak begitu memuja.
Helaian-helaian benang di kulit tubuh mulai terlepas, terhempas jatuh ke lantai kayu. Tangan Ditya pun mulai mengurai simpulan demi simpulan yang mengganggu. Pria itu tersenyum penuh kemenangan saat jemarinya menggelitik kulit mulus istrinya. Mengabsen setiap lekuk hingga memancing desah.
"Fro, Koko akan hati-hati. Koko janji tidak akan mengusik bayi kecil kita," bisik Ditya sebelum memulai.
Anggukan dan senyuman Frolline bagai penyemangat. Ditya membalasnya dengan kecupan hangat di kening.
Tepat saat pria itu akan melabuhkan kecupan kembali di bibir merah istrinya, ponsel di saku celananya berteriak kencang. Mengganggu sekaligus meminta perhatian.
"Siapa lagi!" gerutu Ditya sesaat setelah Frolline mendorong pelan tubuhnya supaya menyingkir. Ditya berguling ke samping, menenangkan napasnya yang masih memburu sebelum memastikan siapa penganggu kesenangannya malam ini.
Pria tampan itu mengumpat kesal saat mendapati Matt yang sudah mengacaukan segalanya. Menghancurkan semua keindahan yang sebentar lagi akan menjadi nyata.
"Breng'sek! Mengganggu saja." Ditya memalingkan wajahnya menatap Frolline. Napas istrinya masih naik turun menahan gairah yang sempat membuncah. Sekarang redup kembali seiring mata indah yang terpejam rapat.
"Siapa Ko?" tanya Frolline di sela napasnya yang tersengal.
Dengan terpaksa, Ditya menggeser icon hijau di layar ponselnya. "Ada apa? Mau cari mati? Kamu tahu Matt, kamu menghancurkan segalanya," omel Ditya, tidak memberi kesempatan Matt berbicara.
"Maaf Bos ... aku tidak bermaksud mengganggu." Matt berkata dengan suara memelas.
"Ada apa mencariku? Ada masalah di perusahaan?" tanya Ditya.
"Tidak Bos. Perusahaan Halim Group aman. Perusahaan istrimu juga aman."
"Lalu untuk apa menggangguku kalau semuanya aman?" tanya Ditya dengan nada kesal.
"Hidupku yang tidak aman, Bos," adu Matt.
"Apa yang terjadi?" tanya Ditya heran.
"Be-begini, Bos. Aku terpaksa berterus terang pada Bos besar. Bos Halim sudah mengetahui keberadaanmu, Bos," ungkap Matt.
"Bagaimana bisa?"
__ADS_1
"Ma-maaf, Bos. Aku terpaksa mengaku. Bos besar mengancamku menggunakan Ran-Ran," jelas Matt.
"Maksudmu?"
"Beberapa hari setelah Bos dan Nyonya Bos pergi, Bos besar memanggilku."
"Lalu?" tanya Ditya tidak sabaran.
"Bos besar mengancam akan menghancurkan hubunganku dengan Ran-Ran, putrinya Pak Barata."
"Ya Tuhan, Matt. Kamu berkhianat hanya karena cintamu yang bahkan belum jelas mau dibawa ke mana!" omel Ditya.
"Bos Besar mengancamku ... kalau tidak mau memberitahu keberadaan Bos, dia akan meminta ayah daddy mertua untuk tidak merestui hubunganku dengan Ran-Ran," adu Matt. Suaranya terdengar menyedihkan.
"Tanpa dikomporin Bos Besar saja hubunganku dengan Ran-Ran sudah sulit. Apalagi kalau sampai Bos Besar turun tangan, ayah daddy mertua akan semakin mempersulitku."
"Maaf Bos." Matt merasa bersalah. Apalagi saat mengingat dengan mudahnya ia memberi nomor ponsel Frolline demi hubungannya dan Ran-Ran tidak terancam putus di tengah jalan.
"Jangan khawatir. Setelah aku kembali ke Indonesia, aku akan melamar gadis itu untukmu. Aku pastikan Bara tidak akan berani menolak," ucap Ditya.
"Bukan hanya itu saja, tongkat sakti Bos Besar juga hampir meremukan tubuhku karena kepergianmu, Bos. Untung kemampuan menghindarku setara dengan kemampuanku bersilat lidah, tetapi ya itu ... kelemahanku hanya di harta, takhta dan wanita."
"Ketiganya aku tidak punya, setidaknya di saat aku bisa mencintai seorang wanita, aku akan memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan."
"Dia bukan wanita, Matt. Dia masih anak ingusan. Pantas saja Bara ingin membunuhmu. Apa tidak ada gadis lain? Walaupun buaya, setidaknya jangan sembarangan memangsa." Ditya menyindir Matt.
Frolline yang sejak tadi berusaha menyimak, akhirnya bersuara. Tanpa malu-malu, ia menempelkan telinganya di punggung gawai suaminya.
"Ada apa, Ko?" tanya Frolline. Kedua tangannya memeluk erat Ditya yang berbaring di sisinya.
"Kita ketahuan, Daddy," bisik Ditya.
"Lalu bagaimana?" tanya Frolline panik.
"Biarkan saja." Ditya menjawab dengan santainya.
***
TE
__ADS_1