
"Matt, kita pulang ke Jakarta sekarang!" perintah Ditya. Ia mengurungkan keinginannya bertemu mommy dan memilih kembali ke Jakarta untuk menemui Frolline.
Berbalik arah, Ditya bergegas kembali menemui daddy di kamarnya. Ia tidak mungkin kembali ke Jakarta tanpa berpamitan.
Tok ... tok ... tok.
"Dad, aku harus kembali ke Jakarta sekarang," ucap Ditya setengah berteriak di depan pintu kamar. Ia tidak mungkin masuk tanpa izin. Jadi memilih berpamitan dari depan pintu.
"Dad ...." panggil Ditya kembali setelah berdiri hampir lima menit di depan pintu, tetapi tidak mendapatkan jawaban.
"Ya sudah, aku akan mengabari daddy lewat pesan saja." Ditya bergegas keluar.
Perasaan pria tampan itu begitu gembira saat mendapat kabar dari Frolline. Itu terlihat dari sorot matanya yang berbinar. Bahkan sepanjang perjalanan, senyum tak lepas dari dari bibirnya. Berlama-lama menatap foto yang dikirimkan Frolline di ponselnya.
Perjalanan udara kembali ke Jakarta terasa lama sekali. Semenit bagi Ditya bagai berjam-jam. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan Frolline yang sedang mengandung calon anaknya.
"Matt, masih lama?" tanya Ditya. Sejak tadi sibuk mengamati foto hitam putih di ponselnya, membuat pria itu lupa diri.
"Kita baru lima belas menit terbang, Bos." Matt yang menemani di jet pribadi itu menahan tawanya. Ingin rasanya memukul kepala Ditya supaya majikannya itu lekas sadar dan kembali ke dunia nyata. Sejak dari kediaman Halim, Ditya sudah tidak fokus.
"Yang benar saja, Matt? Rasanya lama sekali!" gerutu Ditya menyimpan kembali ponselnya.
"Jangan dirasa-rasa, Bos. Memang suka lama kalau dirasa." Matt menjawab usil. Ia menyukai kepanikan bercampur bahagia yang dirasakan Ditya. Majikannya seperti anak kecil yang dibelikan mainan kesukaan, begitu bahagia sampai lupa segalanya.
***
Bunyi pintu lift terbuka, Ditya berlari masuk ke penthousenya dengan ponsel menempel di telinga.
"Fro, kamu sudah di mana?" tanya Ditya sudah tidak sabaran. Begitu menginjakan kakinya ke Jakarta, pria itu berulang kali menghubungi sang istri dan meminta untuk segera pulang.
"Aku masih di kantor, Ko. Ada beberapa dokumen yang harus aku tandatangani." Frolline menjawab dari seberang.
"Fro ...." Ditya baru akan protes.
"Ya, aku tahu. Sebentar lagi, Ko?" potong Frolline mulai lelah dengan kebawelan suaminya.
"Apa Koko jemput ke kantor sekarang?" tawar Ditya lagi. Pria itu begitu fokus dengan obrolan di telepon sampai mengabaikan mama yang sejak tadi ingin menyapa.
"Tidak perlu, Ko. Aku segera pulang setelah ini. Koko sudah sampai di mana?" Frolline balik bertanya.
“Baru sampai di penthouse. Apa Koko jemput saja, ya?" Kembali Ditya memaksa.
"Aku pulang sekarang, Ko. Tidak perlu menjemput. Koko istirahat saja dulu," putus Frolline tanpa memberi kesempatan suaminya mengoceh lagi.
Selepas panggilan telepon terputus, Ditya melempar pandangan pada mamanya. Wanita paruh baya itu terlihat sedang membersikan kutek kuku tangannya di sofa ruang tamu.
"Ada apa, Ko?" tanya Mama Ditya. Masih tetap fokus dengan aktivitasnya.
"Tidak ada apa-apa, Ma."
__ADS_1
"Daddy bagaimana kabarnya?" tanyanya lagi.
"Daddy sehat, masih sanggup melempar tongkat padaku." Ditya terkekeh.
"Oh, aku pikir tua bangka itu napasnya tinggal satu dua tiga," sahut Mama Ditya terbahak setelah menyumpahi suaminya sendiri.
"Ma!" protes Ditya.
"Ya, aku cuma bercanda. Aku juga belum rela dia meninggal begitu cepat. Aku masih belum siap hidup susah. Kalau dia sudah tidak ada, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan keluarga Halim Hadinata." Sang mama meraih sebotol kutek merah menyala dan mulai memoles di kuku panjangnya yang baru selesai dibersihkan.
"Apa kabar mommy?" tanyanya lagi.
"Aku tidak bertemu dengan mommy, Ma."
"Bagaimana bisa? Putra kesayangannya pulang ke rumah. Apalagi kalau pulang dengan membawa menantu. Lebih lagi dia menyukainya. Bukan begitu, Ko?" sindir Mama Ditya.
"Apa maksudmu, Ma? Bukankah kamu seharusnya senang kalau mommy menyukai Fro."
"Tentu saja aku senang kalau dia melakukannya dengan tulus, tetapi kalau ada tujuan di belakangnya bagaimana aku bisa tenang. Dia orang yang paling gembira kalau kamu pergi meninggalkan Halim Group demi Fro. Jadi dia bisa membawa putri dan cucunya kembali dan menguasai tempatmu, Ko." Mama Ditya berbicara panjang lebar.
"Aku malas berdebat dengan you. Kalau Fro sudah kembali, minta dia menemuiku di kamar, Ma."
***
Setengah jam menunggu dalam kegelisahan, Ditya bisa bernapas lega saat pintu kamar terbuka. Pria yang sedang berbaring telentang menatap langit-langit kamar itu seketika meloncat turun.
"Fro, aku mencintaimu." Ditya menghambur memeluk Frolline yang mematung di depan pintu.
"Ko, ini geli," protes Frolline, mengusap wajahnya yang basah karena kecupan sang suami.
"Koko sedang bahagia." Dengan sekali sentak, ia berhasil menggendong Frolline dan membawa wanita itu berputar-putar di udara.
Pekik jerit Frolline bercampur dengan ucapan-ucapan cinta Ditya. Keduanya terlihat bahagia menyambut kedatangan malaikat kecil hasil kolaborasi dan kerja sama keduanya. Hadiah istimewa yang ditunggunya sejak mengikat Frolline dalam pernikahan. Ia jadi punya alasan membawa Frolline pulang ke Surabaya dan meminta restu kembali pada sang daddy.
"Kenapa tidak memberitahu Koko?" tanya Ditya setelah menurunkan Frolline.
"Aku juga sebenarnya tidak yakin, Ko. Kita menikah belum lama. Bahkan belum genap sebulan, masih kurang beberapa hari lagi. Apalagi aku tidak merasa ada yang aneh denganku. Semuanya tampak biasa saja. Hanya saja haidku sudah terlambat " Frolline memulai kisahnya.
"Lalu?" Ditya membelit pinggang istrinya begitu posesif.
"Mama dan Mami ... em maksudku Kak Marisa mengingatkanku. Jadi aku pikir tidak ada salahnya juga memeriksa ke dokter," jelas Frolline.
"Ah, kamu mencurangi Koko, Fro. Harusnya kamu mengabari Koko terlebih dulu. Kita bisa ke dokter berdua," protes Ditya.
"Ceritakan pada Koko, apa yang disampaikan dokter." Tanpa diduga-duga, Ditya meraih tubuh Frolline dan menggendongnya menuju ke ranjang empuk mereka.
"Katakan pada Koko, apa yang dokter katakan," pinta Ditya menurunkan tubuh istrinya. Tangannya tampak terampil menumpuk bantal dan menyadarkan punggung Frolline di sana.
"Dokter mengatakan kalau kandungannya sehat. Tidak ada masalah apa-apa. Usia kandunganku lima minggu." Frolline bercerita.
__ADS_1
Ditya tersenyum. Dengan jemari tangan kirinya mengukir wajah cantik istrinya sembari mencerna semua informasi. Sesekali melabuhkan kecupan ringan di bibir tipis Frolline.
Deg--
Otak Ditya tiba-tiba mengirim signal ketidakberesan. Ada kejanggalan yang membuat tanda tanya besar di pikirannya.
"Fro ... kamu hamil lima minggu?" tanya Ditya memastikan sekali lagi.
"Ya, Ko."
Kamu tidak salah dengar, kan?" tanya Ditya.
Frolline menggeleng.
"Bagaimana kamu bisa hamil lima minggu sedangkan kita menikah saja belum genap sebulan." Ditya terlihat menghitung dengan jemari tangannya. Bola matanya berpindah dari kiri ke kanan.
"Kita menikah baru 27 hari. Dan kamu hamil em ... 5 minggu dikali tujuh hari jadi 35 hari. Bagaimana bisa, Fro?" tanya Ditya. Senyum di wajahnya menghilang seketika.
"Hah?" Frolline tidak kalah herannya. Ia melupakan masalah ini. Pendapat Ditya ada benarnya juga.
***
Tbc
Nb : Bagi yang merasa nikahnya sudah berbulan-bulan, bisa discroll dan dihitung ulang ya. Bagi yang malas hitung, aku akan coba memberi gambaran secara garis besar saja.
Bab 39 : Menikah dan langsung terbang ke Surabaya. Di Surabaya selama 2 hari ( Bab 39 - Bab 54 )
Bab 55 - Bab 61 : Setelah pulang dari Surabaya, keesokan harinya Frolline langsung bekerja di perusahaan baru.
Bab 61- 62 : Keesokan harinya, mereka bertemu Kailla di San Diego.
Selang beberapa hari kemudian, ulang tahun perusahaan.
Bab 63 - 68 : Perayaan ulang tahun perusahaan.
Bab 69 - 78 : Malam perayaan, Halim masuk rumah sakit, dirawat beberapa hari.
Frolline sakit dan istirahat di rumah selama seminggu.
Bab 79 - 86 : Masuk kerja setelah seminggu istirahat. ( berangkat kerja dan malamnya kedatangan Mama Ditya dari Jerman. bab-bab ini hanya terjadi dalam satu hari)
Bab 87 -96 : Keesokan harinya, bab-bab ini kejadian dalam satu hari. Ingat kan, Mama Ditya bawa masuk brondong ke rumah.
Bab 97 - 103 : Keesokan harinya, Frolline sadar dia telat seminggu. Ditya keluar kota dan bertengkar dengan Firstan setelah pulang dari luar kota, Ditya ke klab malam, kejadian ini dalam satu hari.
Bab 104 - 107 : Keesokan harinya, Frolline memutuskan ke dokter kandungan dan positif hamil lima minggu. Ditya ke Surabaya karena Daddy sakit.
Jadi bagi yang merasa nikahnya sudah lama, bisa dihitung sendiri, ya.
__ADS_1
Terima kasih.