Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 123 : Etretat Beach, Normandie, France


__ADS_3

France.


Selama berkeliling Prancis, sudah banyak tempat yang dikunjungi keduanya. Perjalanan mereka di awali dengan mengunjungi Eiffel tower sekaligus menikmati steak di Le Jules Verne yang terletak di lantai dua menara Eiffel. Mereka juga mengunjungi beberapa tempat seperti Museum Louvre, Museum Orsay, Istana Versailles.


Tidak ketinggalan, Ditya juga membawa Frolline mengunjungi Arc The Triomphe, sebuah monumen bersejarah yang juga merupakan ikon lain dari Prancis. Selain memgunjungi tempat-tempat wisata yang memiliki history sejarah, Ditya juga menyempatkan menemani Frolline berbelanja. Sudah menjejaki kaki di pusat mode dunia, tentu saja tidak sempurna kalau tidak berbelanja tas, parfum, perhiasan dan pakaian.


Selama menikah, Frolline tidak banyak menuntut. Di kesempatan ini ia ingin memanjakan Frolline dengan semua hal yang disukainya. Ditya ingin kehamilan Frolline ini menjadi hal paling indah di dalam hidup istrinya. Menikah dengan sederhana, tidak ada resepsi dan bulan madu, dihadapkan dengan dunia yang tidak sesuai dengan impian. Kehilangan banyak hal di dalam hidup termasuk kedua orang tuanya, Ditya ingin membuat istrinya bahagia di tengah kesedihan hidupnya.


Dan sesuai dengan permintaan Frolline, mereka pun menyempatkan mampir di Normandie. Jangan ditanya bagaimana perasaan Frolline saat menginjakan kaki ke tempat ini. Pantai Etretat, sudut mengagumkan di garis pantai Alabaster di Selat Inggris. Dengan pemandangan tebing terjal melengkung dipadu hembusan kencang angin laut. Desiran ombak pantai yang tenang menghantam tebing dengan aroma laut yang begitu pekat.


Tertatih-tatih, Frolline menatapi tangga batu menuju ke puncak tebing. Pemandangan di atas tebing lebih indah lagi. Ibu hamil itu serasa masuk ke dalam impiannya. Berawal dari sebuah serial drama televisi di awal tahun 2000an, sampai akhirnya ia mengungkapkan keinginannya mengunjungi tempat ini bersama Firstan. Dan sekarang, ia benar-benar berada di sana, berdiri di salah satu tebing tinggi di Etretat, menginjakan kaki di Normandie. Hanya saja tidak bersama Firstan, ia di sini bersama Ditya, suaminya. Ya, Ditya mengabulkan salah satu impiannya.


“Ya Tuhan, ini indah sekali, Koko.” Frolline berdiri di pinggir tebing. Dengan ponselnya mengabadikan setiap sudut. Hembusan angin kencang meniup rambut cokelatnya yang panjang tergerai. Berkibar indah tertiup angin bersama gaun chiffon panjang bermotif floral yang menutup sampai mata kaki.


“Kamu menyukainya? Ini lebih indah dari makan malam di Eiffel?” tanya Ditya, tiba-tiba memeluk erat pinggang Frolline dari belakang.


“Ya,” jawaban singkat beserta anggukan.


“Mau tinggal di sini?” tawar Ditya lagi.


“Bisa?”


“Tentu. Kita bisa membeli rumah di daerah sini. Jadi kamu bisa sering-sering berkunjung ke sini.”


“Benarkah?” tanya Frolline. Ia bisa merasakan pelukan erat Ditya bersama hembusan napas pria itu menyusuri tengkuk telanjangnya.


“Ya,” sahut Ditya sembari mengecup leher istrinya. Keduanya menatap laut yang luas terbentang. Sepanjang mata memandang hanya lautan biru berbatas dengan cakrawala.


“Koko merasa di ujung sana Indonesia,” canda Ditya. Tangannya menunjuk ke arah batas langit dan lautan yang seperti garis melintang.


“Aku mengenal tempat ini dari serial drama televisi. Apa Koko tahu? Si pemeran wanita menyatakan cintanya di sini. Itu romantis sekali, Ko.” Frolline begitu excited menceritakannya. Wajahnya berseri-seri menggemaskan dengan kedua tangan saling menggenggam di depan dada.

__ADS_1


“Hmm ... begitu, kah?” tanya Ditya. Pria itu menjatuhkan dagunya di pundak Frolline. Belitan tangannya pun semakin erat mengunci erat perut istrinya.


“Dan ... kapan Koko seberuntung itu, Fro. Koko juga berharap ada wanita yang bersedia mengungkapkan cintanya padaku di tempat ini,”ucap Ditya pelan. Mengecup pundak Frolline dengan sorot mata tertuju pada pipi bersemu merah istrinya. Entah karena kelelahan atau karena rayuan gombalnya.


“Maksudnya, Ko?” Frolline menoleh ke samping. Memandang sang suami yang sedang menatapnya penuh harap.


Ditya menarik napas dalam. “Kapan kamu akan menyatakan cintamu pada Koko. Ini sudah terlalu lama. Apa kamu tidak kasihan pada pria tua ini.” Dekapan di tubuh Frolline semakin mengerat.


Blush! Rona merah di pipi Frolline semakin menyala. Ungkapan terus terang Ditya membuatnya malu.


“Aku ... aku ... em ... bahagia bersamamu, Ko.” Frolline terbata. Tadinya ia ingin mengucapkan perasaannya lebih jauh lagi, tetapi lidahnya keluh. Rasanya sangat memalukan.


“Aku merasa beruntung memilikimu. Aku ... tidak pernah menyesal menikah denganmu, Ko.”


“Lalu ... apa lagi?” todong Ditya, menunggu kata-kata manis istrinya.


“Kamu yang terbaik selama ini.”


“Hanya itu?” tanya Ditya dengan raut memelas.


“Ko ....” Frolline tersipu malu.


“Ya, Koko tahu. Cinta itu tidak bisa dipaksa. Bahkan harta dan ketampanan tidak bisa membeli cinta. Koko akui itu. Koko bersyukur, sampai sejauh ini kamu masih bertahan di sisi Koko. Setidaknya sampai sejauh ini kamu masih jujur pada Koko. Apa yang kamu ungkapkan tadi sudah cukup membuat Koko bahagia. Setidaknya lebih baik jujur, dibandingkan berpura-pura mencintai Koko. Itu lebih menyakitkan.”


“Koko masih menunggumu, Fro. Menunggumu mencintaiku bersama buah hati kita.” Tangannya mengusap pelan perut rata Frolline.


“Bayi ini hadir bukan karena cinta, tetapi Koko berharap dia bisa menjadi salah satu alasanmu untuk mencintai Koko,” bisik Ditya.


Frolline tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk dan menggengam tangan Ditya yang sedang mengunci perutnya.


***

__ADS_1


Berlin, Germany.


Puas berkeliling Prancis, meskipun belum semua tempat mereka kunjungi, akhirnya Ditya memboyong sang istri ke Jerman. Ada berbagai pertimbangan yang akhirnya membuat Ditya mengambil langkah ini, termasuk laporan Matt tentang mamanya yang diusir dari Indonesia karena kepergiannya.


Kalau sebelumnya Ditya membawa Frolline mengelilingi Belanda, Belgia dan Prancis dengan mobil. Kali ini pria itu memutuskan menggunakan penerbangan udara menuju ke Berlin, ibu kota Jerman sekaligus tempat mamanya tinggal selama ini. Jarak Paris - Berlin kurang lebih 1048.18 kilometer dengan waktu tempuh lebih dari sepuluh jam dengan mobil, membuat Ditya mengambil keputusan ini.


Kehamilan Frolline yang masih rentan membuat pria itu tidak mau mengambil resiko. Bertolak dari bandara international Paris Charles de Gaulle, hanya butuh satu jam empat puluh menit, keduanya sudah bisa menghirup udara musim semi di Jerman. Begitu tiba di bandar udara Berlin Brandenburg, Ditya menggengam erat tangan istrinya. Sebagai suami, ia paham sekali apa yang dirasakan Frolline saat ini.


“Semua pasti baik-baik saja, Fro. Koko akan selalu bersamamu,” bisik Ditya sesaat setelah duduk bersisian di dalam taksi.


Kurang lebih tiga puluh menit menjelajah jalanan kota, taksi yang mereka tumpangi masuk ke sebuah kawasan perumahan. Tak lama, taksi itu berhenti tepat di sebuah rumah dua lantai berwarna krem kecoklatan. Rumah besar dengan dua garasi mobil di sisi kiri dan kanan rumah itu terlihat sepi. Bunga-bunga di pekarangan pun mulai mekar setelah lama tertutup salju musim dingin.


“Ayo. Ini rumah masa kecilku, Fro,” cerita Ditya.


Bunyi bel di pintu, beberapa menit kemudian muncul mama Ditya menyambut keduanya dengan raut datar.


“Ma, aku datang. Minta asisten rumah membawa koperku dan Fro ke dalam kamar. Oh ya, mobilku tertinggal di Paris, minta orangmu mengurusnya,” pinta Ditya menyeret istrinya masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Bahkan ia tidak memberi waktu untuk Frolline berbasa basi.


“Kenapa di saat seperti ini, dia mirip sekali dengan si tua bangka itu!” gerutu Mama Ditya.


“Anggap rumah sendiri, Fro. Kalau mama macam-macam, kita angkat kaki. Aku masih memiliki rumah di Frankfrut,” ucap Ditya sembari mengancam mamanya. Wanita paruh baya itu berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada.


“Puas bermain, pulang ke Indonesia, Ko. Kamu beruntung Daddy masih waras, tidak mendepakmu dari keluarga,” gerutu Mama Ditya. Meneliti anak dan menantu yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


“Pulang ke mana, Ma? Rumahku itu ada bersama anak dan istriku.” Ditya menjawab dengan yakin sambil bersandar melepas lelahnya.


“Kurang ajar. Mama serius, Ko. Daddymu itu sudah tua, napasnya sudah tersengal. Hidupnya saja sudah hitungan hari. Pulang secepatnya. Jangan sampai hakmu dan anakmu diserobot orang lain.” Mama Ditya mengingatkan.


“Dan kamu!” Kali ini ucapan Lily ditujukan pada Frolline.


“Seorang istri itu harus mendukung suami. Bukan menyusahkan suami. Pernikahan memang seperti itu. Kita sebagai wanita masuk ke keluarga orang lain, harus mengikuti aturan yang sudah ada di sana. Tidak bisa seenaknya. Mau jadi apa rumah tangga seperti ini. Anak kalian mau jadi apa kalau ibu bapaknya seperti ini. Bagaimana kalian mendidik anak kalian nanti,” lanjut Mama Ditya menggeleng kepala. Menatap sinis pada keduanya.

__ADS_1


“Aku memang tidak berpendidikan. Aku bukan terlahir dari keluarga terhormat seperti daddy dan mommy-mu, tetapi aku berusaha untuk menurut pada suamiku. Mengabdi dan mendukung suami dengan caraku sendiri. Mungkin aku tidak bisa membantu Halim seperti Meliana, tetapi aku juga tidak mau menyusahkannya.”


***


__ADS_2