
“Akan tetapi, pernikahan ini ada untuk menjaga nama baikmu, harga dirimu sebagai wanita. Dan membuatmu memiliki hak untuk menguasaiku,” jelas Ditya tersenyum.
Frolline tidak membantah, tidak juga mengiyakan. Menelan semua ucapan Ditya dalam kebungkamannya.
Sebaliknya Ditya, menanggapi kebisuan Frolline sebagai persetujuan. Tidak bertanya lebih jauh lagi. Sejak bersamanya, Frolline banyak berubah. Yang terlihat nyata adalah jiwa pembangkang yang jauh lebih surut dan lebih banyak menurut.
Begitulah, keduanya terpisah dengan sebuah kecupan selamat malam di pintu kamar. Tidak ada perayaan dengan wine seperti kebiasaan Ditya. Sejak bersama Frolline, Ditya harus membuang sementara kebiasaan minumnya demi sang kekasih. Frolline sudah memberi ultimatum padanya meskipun ada kelonggaran di beberapa situasi.
Frolline duduk termenung di kamar mewah yang mulai detik ini menjadi miliknya. Cincin yang melingkar di jari manisnya itu seperti sebuah pengesahan, kalau sekarang dia juga pemilik penthouse seharga puluhan milyar rupiah ini.
Bulir-bulir air mata yang disembunyikannya sejak tadi turun juga pada akhirnya. Setelah beberapa bulan yang lalu kehilangan papa, sekarang kehilangan mama. Seperti kehilangan penopang dan harapan hidup. Kalau bisa menangis meraung-raung, dia akan melakukannya.
Namun, saat ini Frolline sudah tidak bisa membagi kisah sedihnya pada siapa pun. Hanya bisa diam-dia menangis, berbagi cerita dukanya dengan airmata.
Ditya adalah sosok terdekat dalam hidupnya saat ini, tetapi lelaki itu terasa jauh. Hatinya belum menyatu, masih ada jarak dan batas. Berbeda dengan Firstan, dia bisa berbagi apa pun. Bersama Ditya, dia hanya bisa menangisi nasibnya seorang diri sampai tertidur.
***
Sinar matahari pagi menembus masuk dari gorden putih yang menjuntai hampir di sekeliling kamar. Semburat putih itu menerjang masuk dan menyorot panas langsung ke wajah Frolline yang masih terpejam rapat.
Bisikan lembut dan guncangan kecil juga ikut menyerukan Frolline yang terlelap untuk kembali ke alam nyata, meninggalkan dunia mimpi yang begitu indah.
“Guten Morgen, Schatzi,” bisik Ditya, pelan mengalun di telinga Frolline.
“Ini sudah pagi, Fro,” bisik Ditya kembali, menguncang tubuh yang memeluk guling dengan erat.
Kelopak mata indah itu mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbuka sempurna. Pemandangan yang dilihatnya pertama kali adalah Ditya. Wajah lelaki itu hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
Ditya sedang berbaring disamping Frolline, sudah lengkap dengan setelan kerjanya, menatap lekat gadisnya sembari tersenyum.
“Bangun, Schatzi. Aku harus ke kantor sebentar lagi,” bisik Ditya, menarik tubuh Frolline agar segera bangkit.
“Cuci muka dan gosok gigi. Sebelum aku ke kantor, aku harus mengenalkan beberapa orang padamu,” lanjy Ditya.
“Ada apa ini?” tanya Frolline dengan suara serak khas bangun tidur. Rasanya masih mengantuk, belum puas tidur.
“Kamu boleh membolos dari pekerjaanmu hari ini, dan melanjutkan tidurmu nanti. Tapi suamimu ini harus ke kantor dan sebelum berangkat kerja, aku harus menjelaskan beberapa hal padamu,” lanjut Ditya.
Frolline mengalah, menurut semua permintaan Ditya tanpa banyak protes atau pun bertanya balik.
__ADS_1
“Tunggu aku diluar. Aku akan menyusul,” pinta Frolline bergegas menuju kamar mandi.
Tidak membutuhkan waktu lama, Frolline yang sudah berganti pakaian, mencuci muka dan menggosok gigi keluar dari kamarnya sembari menguncir kuda rambut panjangnya.
Terlihat Ditya duduk di sofa dengan kaki terlipat, fokus tertuju pada ponsel di tangannya. Lelaki itu terlihat tampan dan menawan pagi ini. Begitu mendengar derap langkah kaki, Ditya menaikan pandangannya.
“Fro, kemarilah!” pinta Ditya menepuk sofa kosong di sebelahnya.
Frolline menurut, menjatuhkan bokongnya tepat di sebelah Ditya. Saat duduk, dia baru melihat jelas dua orang lelaki asing yang berdiri tegak dengan kedua tangan menggengam di depan. Tidak jauh dari lelaki asing itu, tampak Matt mengulum senyuman.
“Fro kenalkan ini Zoe, asistenmu. Dia yang akan menemanimu. Kemana saja kamu pergi, wajib membawanya bersamamu,” jelas Ditya menunjuk ke salah satu lelaki asing di depannya, sontak membuat bola mata Frolline membulat.
“Selamat pagi, Nona,” sapa Zoe.
Frolline diam, tidak mau menanggapi lelucon pagi yang disuguhkan Ditya untuknya.
“Yang satunya, bodyguard sekaligus sopirmu, yang akan mengantarmu kemana saja pergi,” jelas Ditya, menunjuk ke arah lelaki asing yang berbadan besar dan tegap.
“Selamat pagi, Nona,” sapa sang bodyguard.
Kali ini Frolline bukan hanya melotot, tetapi mulai marah. Tidak menjawab sapaan keduanya.
“Apa-apaan ini!” omel Frolline kesal, menatap Ditya dengan tatapan mematikan.
“Matt, minta mereka keluar sebentar. Aku ada urusan dengan Fro,” perintah Ditya, tersenyum dengan santai meladeni kemurkaan Frolline.
Kedua orang asing itu keluar mengekor langkah kaki Matt.
“Aku tidak mau diikat seperti ini,” tolak Frolline, langsung berdiri dengan emosi.
“Ini kunci mobilmu,” ucap Ditya. Tidak meladeni perkataan Frolline, sebaliknya menambah kejutan baru.
“Aku punya mobil sendiri!” Lagi-lagi Frolline menolak.
“Itu milik keluargamu, Fro.”
“Kamu sekarang tanggung jawabku. Aku yang akan memenuhi semua kebutuhanmu. Ambil kunci mobilmu. Mulai sekarang, jangan mengendarai mobil sendirian. Bawa sopir bersamamu,” perintah Ditya.
Frolline bergeming. Tidak bereaksi sama sekali. Berdiri tepat di hadapan Ditya dengan tangan terlipat di dada. Wajah cantik itu cemberut dan asam kecut.
__ADS_1
“Hahaha..! Kalau kamu tidak cocok dengan mobilnya. Minta Matt membawamu ke dealer, pilih mobil yang kamu sukai,” jelas Ditya.
“Aku tidak mau semua ini!” tolak Frolline.
Lagi-lagi Ditya tidak merespon penolakan demi penolakan yang dilontarkan Frolline. Sebaliknya, pria tampan itu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.
“Ini akses masuk apartemen. Parkiran dan akses masuk ke private lift.” Ditya menyodorkan sebuah kartu, meletakan ke atas meja.
“Ini untuk memenuhi kebutuhanmu. Kamu bisa belanja apa saja yang kamu inginkan,” ucap Ditya menyodorkan kartu kredit unlimited, kembali meletakan ke atas meja.
“Ini kartu debit, kalau kamu harus menggunakan uang cash, kamu bisa memanfaatkan kartu ini,” lanjut Ditya.
Setelah menjelaskan segala sesuatunya, Ditya kembali menatap Frolline.
“Ayolah, jangan seperti ini,” ujar Ditya. Berdiri dan mendekap Frolline. Gadis itu masih saja marah dan cemberut.
“Aku harus ke kantor,” bisik Ditya, di telinga Frolline dengan lembut.
“Jangan marah-marah seperti ini,” lanjut Ditya, mengusap lembut punggung Frolline.
“Aku tidak mau semua ini!” tolak Frolline lagi.
“Nanti malam kita lanjutkan perdebatan ini. Saat ini tolong menurut padaku,” bujuk Ditya.
“Oh ya, Matt akan menjemputmu nanti siang. Kita akan melangsungkan pernikahan secara agama dan hukum negara.”
“Bagaimana bisa secepat ini, bukankah Matt baru mengurusnya semalam. Bahkan data-data milikku saja masih di tanganku,” tanya Frolline heran.
Tawa Ditya pecah. Ingin menertawai kepolosan calon istrinya.
“Aku sudah mendapatkannya dari papamu. Bahkan papamu sudah menyetujui hubungan kita, tepat di saat pertama kali aku memberitahu keinginanku padanya untuk memperistrimu,” cerita Ditya.
“Aku sudah melamar dan memintamu langsung pada Gunawan, papamu,” lanjut Ditya.
“Bahkan papamu sudah melengkapi semua persyaratan administrasi yang aku butuhkan untuk menjadikanmu Nyonya Ditya Halim Hadinata,” jelas Ditya lagi.
***
T b c
__ADS_1
Love you all
Terima kasih.