Crazy Rich Mencari Cinta

Crazy Rich Mencari Cinta
Bab 88 : Restu


__ADS_3

“Koko!” Suara yang biasanya lembut, mendayu, mengalun bahkan sesekali mendesah, saat ini terdengar berbeda. Aura kemarahan terdengar jelas dari intonasi dan nada bicaranya.


Frolline menapaki ubin berlapis parkit, bermotif Austin Oak dengan langkah lebar-lebar, kemeja kerja yang dipadankan dengan rok mini hitam terlihat melambai-lambai, seakan mengibas emosi yang terpendam.


“Koko ....” Nada itu melembut, berdiri dengan wajah memelas bercampur murka tepat di sisi tempat tidur. Kesalnya semakin menjadi saat mendapati Ditya masih bersantai, menikmati ranjang empuknya. Tertelungkup, menutup tubuh kekarnya hanya dengan sehelai boxer.


“Koko .... tolong urusi asistenmu. Mereka menghancurkan semuanya,” adu Frolline, menarik salah satu lengan Ditya yang terdekat dengannya.


“Ada apa, Fro?” Suara serak Ditya terdengar, menjawab rengekan Frolline yang mengganggu lelap.


“Ko, Matt dan Zoe, menghancurkan rumah! Kamu harus bangun, Ko. Aku tidak mau wilayah teritorialku dikuasai orang asing,” jelas Frolline, sembari menarik paksa lengan Ditya agar segera bangkit dari posisi tidurnya.


“Sebentar, Fro.”


“Ayo, Ko. Cepat! Aku tidak bisa menunggu lagi. Bahkan Zoe berani memakai milikku!” adunya dengan manja dan tak biasa.


“Milikmu? Apa itu? Berani-beraninya, Zoe!” Ditya tersentak. Segera bangkit, dengan langkah tak kalah lebar, menggengam tangan istrinya, membawa Frolline keluar.


Masih setengah terjaga, Ditya belum sepenuhnya menyadari. Kepalanya masih berdenyut, berusaha beradaptasi. Baru saja tertidur tiba-tiba dipaksa bangun, laki-laki itu butuh waktu untuk menyesuaikan diri.


“Ko, kamu lihat sendiri. Itu!” Frolline menunjuk pada Matt, yang sedang memukul ulekan ke atas cobek sambil meringis. Berulang kali percikan cabai itu mengenai ke matanya.


“Matt! Zoe! Apa yang kalian lakukan di sini?” Ditya ikut terbelalak saat melihat kedua asisten yang sudah berganti profesi, mengotori dapur yang biasanya rapi mengkilat.


“Kamu lihat, Ko. Celemek itu ... aku baru saja membelinya. Bahkan baru sekali pakai, Ko.” Frolline menunjuk pada Zoe.


“KELUAR!!” Ditya yang mulai memahami situasinya segera bertindak. Namun, perintah laki-laki itu ternyata tidak ada seorang pun yang mendengar.


“Ma-maaf Bos, se ... sekarang kami tidak bisa ... mendengarmu lagi.” Matt menjawab dengan terbata.


“Apa maksudmu?” Bola mata Ditya hampir keluar, membulat dan tidak percaya dengan apa yang diucapkan asistennya.


“Kamu dengar sendiri, Ko. Mereka tidak ada takut-takutnya.” Frolline semakin memanasi.


“Begini Bos. Sekarang di rumah ini sudah ada Bos baru, kami tidak bisa terus-terusan menurut padamu.” Matt berdiri dengan ulekan yang terus saja digenggamnya erat.


“Maksudmu?” Ditya terbelalak.


“Bos itu memang majikanku, tetapi di atas Bos masih ada lagi yang lebih berkuasa,” jelas Matt, dengan raut tak bersalah.


“Apa-apan ini? Kenapa kalian berhenti?” Tiba-tiba terdengar suara lembut penuh ketegasan dari arah belakang. Baik Ditya maupun Frolline segera berbalik.


“Mama ....” suara Ditya mengambang. Terkejut melihat mamanya dengan tampilan seksi sepagi ini. Wanita berusia setengah abad itu berjalan santai dengan bikini hitam yang mempertontonkan lekuk tubuh bak gitar spanyol tanpa dawai.


“Mam! Are you ok?” tanya Ditya hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tidak menyangka mamanya akan seberani ini, di depan menantu dan asistennya.

__ADS_1


“Yes, Ko. Mama mau berenang. Ruangan gym-mu terkunci, Matt tidak bisa membukanya. Mama pikir, mama berenang saja. Berat badan mama naik 500 gram.” Sang mama mengeluh.


“Oh my God, Mam. Ini Indonesia, not Germany!” cerocos Ditya. Meremas rambutnya, menahan kesal dengan kelakuan mamanya.


“Lihat dirimu sendiri. Tidak jauh berbeda, Ko,” dengus mama Ditya masih tidak mau kalah.


“Mam, I”m a man!” Ditya ikut menatap tubuh telanjangnya yang hanya berbalut boxer tidur.


“You berlebihan, Ko.” Mama Ditya melenggang menuju ke dapur dengan tampilan seksinya, mengurai rambut pirang bergelombangnya kemudian menguncirnya ulang. Tanpa malu sama sekali. Di Jerman, dia sudah terbiasa melakukannya.


“Matt, sudah selesai dengan sambal terasinya?” tanya Mama Ditya dengan langkah gemulai. Mengecek pekerjaan asisten yang diminta membantunya.


Asisten itu berdiri menunduk, tidak berani menatap tampilan sang nyonya yang luar biasa. Walau bagaimana pun, ini adalah Nyonya kedua Halim Hadinata, diakui atau pun tidak.


“Hampir, Nyonya.” Matt baru saja akan melanjutkan mengulek sambal, tetapi Ditya sudah memberi perintah.


“Matt, Zoe, bisa tinggalkan kami? Ada yang harus aku bicarakan dengan mamaku.”


“Berani melangkah sebelum menyelesaikan semuanya, kalian pasti tahu pintu menuju neraka ada di mana!” ancam mama Ditya.


Langkah kaki Matt terhenti seketika saat diingatkan akan neraka yang artinya kalau dia membantah akan mendapatkan masalah.


“Mam! You kelewatan! Tidak bisa begini. Kamu cuma tamu di sini. Ini rumahku, Ma.” Ditya bertolak pinggang dengan ketidaksukaan yang nampak jelas. Merasa diinjak-injak harga dirinya oleh sang mama, di depan istri dan asistennya.


“Mam!” Ditya berusaha mengatur napasnya, emosinya terlanjur terbakar karena ulah mama yang muncul berbikini di pagi buta.


“Lagipula, tidak mungkin meminta istrimu. Kenapa tidak mempekerjakan koki saja, seperti di Jerman. Kenapa mau makan saja harus susah seperti ini!” keluh mama Ditya.


“Ya, aku akan mempekerjakan koki kembali setelah ini. Sebelumnya, Frolline selalu memasak sendiri, jadi aku memberhentikan koki yang biasa menyiapkan makanan untukku.”


“Lalu, ini bagaimana? Mama mau makan tetapi tidak ada yang memasak,” gerutuan itu masih jelas terdengar.


“Aku akan memasak untuk mama. Mama mau makan apa?” tanya Frolline, tampak biasa.


“Panggil nama saja, Fro. Panggil Lily,” ucap Mama Ditya, menolak disapa mama.


“Ma, ini Indo, bukan Jerman. Semua mertua di sini dipanggil mama, kenapa you jadi semakin kelewatan sekarang,” tegas Ditya.


"Kalau aku ... masih punya alasan kenapa tidak memanggilmu mama, tetapi Frolline ... aku pikir tidak masalah kalau istriku memanggilmu mama," lanjut Ditya.


“Biarkan aku yang melanjutkan memasak.” Frolline kembali menengahi. Tidak mau pertengkaran Ditya dan mertuanya semakin menjadi.


“Itu! Sambal terasi dan lalapan. Ikan asin dan sayur asem.” Mama Ditya menjelaskan panjang lebar, sembari menunjuk ulekan dan meja yang berantakan.


“No! Aku akan meminta Matt memesan di restoran!” Ditya memberi ide. Tidak mungkin membiarkan Frolline memasak.

__ADS_1


“Ko, aku bisa memasaknya. Tidak apa-apa.” Frolline melangkah menghampiri Zoe, meminta celemeknya dan mulai memasak.


“Mam, ayo kita bicara. Sepertinya ada banyak hal yang harus kita luruskan berdua.” Ditya mengalah, setelah melihat Frolline mulai sibuk.


***


“Apa maksudmu datang ke Indonesia? Jangan katakan tanpa maksud apa-apa!” tuding Ditya. Laki-laki itu mengambil posisi duduk di sofa ruang kerjanya. Sejak semalam menyimpan penasarannya, baru pagi ini memiliki waktu berbincang berdua untuk membahas masalah keluarga mereka.


“Tidak ada!” Mama Ditya memilih duduk santai, tepat di seberang putranya dengan kaki kiri menumpang indah di kaki kanannya.


“Sepertinya aku harus mengajak Frolline ke salon,” cicit mama Ditya, menatap kuku telunjuknya yang patah tadi pagi. Tak sengaja saat membuka kopernya.


“You tidak perlu mengalihkan topik. Aku tahu seperti apa daddy. Katakan padaku, daddy mengirim you untuk apa?” todong Ditya.


“Tidak ada, Ko. I miss you, hanya itu. Tidak ada alasan apa-apa.”


“Bullshit! You bisa berbohong dari orang-orang, tetapi tidak bisa berbohong dariku, Ma.” Ditya masih menuduh.


“Katakan apa maumu?” Ditya bertanya dengan tegas.


“Ko, you kelewatan sekali!” Mama Ditya ikut meninggikan suaranya.


“You yang kelewatan. Sejak you datang ke sini, aku sudah tahu ada maksud di balik semua ini. Seumur hidup, aku tahu jelas bagaimana daddy yang tidak mengizinkan you pulang ke Indo. Bukankah aneh, tiba-tiba daddy mengizinkanmu pulang.” Ditya masih saja belum puas, sebelum mendapat jawaban.


“Apa ini ada hubungan dengan pernikahanku? Frolline?” tuduh Ditya.


“Disebut pernikahan itu kalau direstui, Ko. Kalau tidak direstui, apa pantas disebut pernikahan. Jangankan pada daddy, pernah you meminta restu padaku?”


“Pernah, Ko?” tekan mama Ditya, mengingatkan.


“Aku anggap dia sama seperti mama dan tantenya. Aku akan menganggapnya seperti itu. Harusnya sebelum membawanya naik ke ranjangmu, you harus cari tahu siapa gadis yang kamu tiduri, Ko.”


“You?! Keluar dari rumahku atau ....”


“Sebelum mendapat restu si tua bangka itu, sebisa mungkin jangan sampai istrimu hamil. Silakan menikmati permainan suami dan istri ini sampai puas, tetapi jangan biarkan Frolline hamil. Pilihan ada dua, kamu yang terbuang dari Halim Grup atau istri dan anakmu yang terbuang. Aku yakin, daddy tidak akan membuatmu turun dari kursi tertinggi Halim Grup. Dan itu artinya istrimu harus bersiap ....” potong mama Ditya, terlihat melunak setelah mendengar ancaman Ditya.


“Keluar dari rumahku!” usir Ditya.


Mama Ditya bergeming.


Tanpa disadari keduanya, sepasang mata berdiri di depan pintu yang tidak tertutup rapat, ikut melihat dari celah pintu dan ikut mendengar semua pembicaraan.


***


TBC

__ADS_1


__ADS_2